September 01, 2006

BAYIKU SEHAT ATAU SAKIT?

September 01, 2006 0 Comments

Rating:★★★★
Category:Other

Jika Anda ragu mana gangguan “normal” dan abnormal pada bayi, jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter.
Orang tua mana yang tak cemas jika bayinya sakit? Apalagi kalau hasil pemeriksaan dokter sudah mengarah ke salah satu jenis penyakit yang akhirnya mengharuskan si kecil menjalani rawat inap. Wah, bisa ketar-ketir perasaan kita. Di sisi lain, adakalanya apa yang kita sebut-sebut sebagai penyakit, sebenarnya bukanlah penyakit. Gangguan yang dialami si kecil kadang tidak sampai harus dikhawatirkan karena toh biasanya ada yang hilang dengan sendirinya tanpa perlu diobati. Kalau begitu, bagaimana cara membedakan antara penyakit yang sebenarnya dengan gangguan kesehatan yang sebe-lumnya kita anggap penyakit? Bukankah seringkali gejala yang muncul itu serupa. Nah, untuk lebih jelasnya, berikut pembahasan secara lengkap seputar gang-guan “normal” dan abnormal yang dapat dijumpai pada bayi dan penting diketahui orang tua.


BISUL DI SELURUH TUBUH

* Normal:
Sekitar 50 persen bayi yang lahir cukup bulan sering mengalami bisul-bisul kecil atau jerawat yang dikelilingi oleh warna kulit yang kemerahan. Gangguan ini bisa timbul di seluruh tubuh bayi, entah itu di wajah, badan, punggung, tangan, kaki, dan tempat-tempat lainnya. Kalangan awam menyebut kondisi seperti ini dengan sebutan sarap.
Puncak terjadinya bisul-bisul ini umumnya saat bayi berusia dua hari dan biasanya dialami selama kurang lebih dua minggu. Akibat adanya bisul-bisul ini, orang tua enggan memandikan bayinya karena takut kondisinya akan memburuk. Padahal dengan begitu, justru bisa mengundang infeksi kulit karena kulit si kecil berdaki atau kotor akibat tidak dimandikan. Jadi solusinya sederhana saja, tetap mandikan bayi seperti biasa.
Sayang, penyebabnya belum diketahui secara pasti. Walaupun demikian, tak usah terlalu khawatir karena gangguan yang dalam bahasa kerennya Erythema Toxicum ini akan hilang dengan sendirinya tanpa perlu diobati.

* Abnormal:
Lalu apa bedanya dengan bisul-bisul karena penyakit kulit? Erythema Toxicum biasanya merupakan suatu gangguan pada kulit bayi yang berdiri sendiri. Artinya, tidak ada gejala lain selain dari gejala yang sudah diterangkan sebelumnya.
Bila orang tua menemukan bisul-bisul disertai dengan adanya demam, gatal, bernanah dan lain sebagainya, si kecil mungkin mengalami penyakit kulit. Bisa saja penyakit kulit tersebut berupa infeksi, jamur atau bahkan alergi.

BERCAK MERAH DI WAJAH

* Normal :
Pada bayi sering juga ditemui kelainan kulit lainnya berupa bintik-bintik/bercak/noda merah di bagian wajah, terutama pipi. Terjadinya gangguan ini ada yang menghubungkannya dengan ASI yang meleleh keluar dari mulut ke pipi bayi saat menyusui. ASI diduga mengiritasi kulit di pipi bayi tersebut.
Selain gejala di atas, biasanya dapat juga disertai dengan gejala gatal, sering berulang, dan ada riwayat alergi dalam keluarga. Berbicara tentang alergi, dikatakan bahwa lebih dari 50 persen bayi yang mengalami kelainan kulit ini, yang bahasa medisnya Dermatitis Atopic, akan berkem-bang menjadi asma dan jenis alergi lainnya di kemudian hari.
Salah satu cara yang sederhana yang dapat dilakukan untuk menghindarinya adalah dengan membersihkan pipi si kecil dengan air hangat dan mengeringkannya secara lembut setiap kali setelah bayi diberi ASI.

* Abnormal:
Kulit bayi relatif tipis dengan ikatan antarsel yang longgar. Oleh karena itulah kulitnya menjadi lebih rentan terhadap infeksi, iritasi, dan alergi. Secara struktural pun kulit bayi belum berkembang dan berfungsi optimal.
Bila orang tua menemukan tanda-tanda infeksi atau lainnya pada kulit bayinya, segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.


KUNING

* Normal:
Gejala kuning yang tampak pada kulit dan mata bayi biasanya terjadi karena meningkatnya kadar bilirubin indirek dalam darah. Banyak hal yang dapat menyebabkan kadar biliribun indirek ini meningkat. Pada bayi baru lahir, misalnya, kadar protein yang kurang, kerja hati yang belum optimal, kurang minum, dan lain-lain.
Kuning pada bayi dianggap masih normal bila timbulnya kurang lebih pada hari ketiga setelah lahir. Untuk menghindari atau mengurangi kuning yang terjadi, bayi dianjurkan untuk tetap diberi ASI dan dijemur di bawah sinar matahari pagi, sebelum jam 10 selama kurang lebih 10-15 menit.
Selain kuning akibat hal di atas, ada juga kuning pada bayi yang disebabkan justru karena ASI, yang disebut juga sebagai breastmilk jaundice. Kuning yang terjadi akibat ASI biasanya timbul pada saat bayi berusia 7 hari dan berkurang dengan sendirinya dalam waktu 2 hari setelah ASI dihentikan. Hal ini diduga karena ASI mengandung enzim glukoronidase.

* Abnormal :
Kuning pada bayi yang harus diwaspadai adalah kuning yang timbul dalam 24 jam pertama setelah bayi lahir. Kuning yang seperti ini disebut sebagai kuning yang patologis. Penyebabnya antara lain bisa karena ketidakcocokan antara golongan darah atau rhesus ibu dan bayi, kurangnya enzim glukosa 6 fosfat dehidrogenase, dan lain-lain. Kelainan-kelainan tersebut harus segera mendapat penanganan dokter di rumah sakit.

DIARE

* Normal:
Dalam 4 hari pertama, ASI banyak mengandung kolostrum yang sifatnya seperti pencahar. Akibatnya, jangan heran bila bayi-bayi yang mendapat ASI eksklusif sejak awal buang air besarnya sering, seolah-olah menderita diare. Ada yang baru selesai menyusui, langsung buang air besar.
Di dalam sebuah literatur bahkan dikatakan ada bayi yang buang air besar dalam 1 hari mencapai 20 kali, namun tetap normal. Orang tua yang tidak mengerti keadaan ini tentunya akan menganggap bayinya diare atau mencret.
Bagaimana membuktikan atau membedakan keadaan ini diare atau bukan? Bila di rumah punya timbangan bayi, timbang saja berat badan si bayi. Kalau berat badannya tak anjlok tetapi tetap naik, berarti bukan diare. Selain itu, perhatikan keadaan si kecil, bila tidak rewel, anteng-anteng saja, tidak gelisah, kemungkinan besar juga bukan diare.
Selain karena kolostrum, buang air besar yang sering pada bayi juga bisa terjadi akibat enzim pencernaan yang belum bekerja secara optimal. Salah satu enzim yang dapat menyebabkan keadaan ini adalah enzim laktase yang bertugas memecah laktosa menjadi gugus gula yang mudah diserap di usus.

* Abnormal:
Bayi yang mengalami diare biasanya terjadi karena kontaminasi kuman pada susu yang diminumnya. Bisa karena ibu tidak atau lupa mencuci tangan sebelum membuat susu, tidak merebus botol susu si bayi, dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan kebersihan.
Jika diare yang terjadi memang karena kuman, pada kotoran bayi biasanya akan dijumpai darah atau lendir. Selain itu, jika ditimbang, berat badan bayi akan terlihat merosot dibanding berat badannya sebelum mengalami diare.
Orang tua yang menjumpai gejala atau tanda-tanda tersebut pada bayinya, segera bawa ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

SEMBELIT

* Normal:
Hampir 100 persen ASI diserap oleh usus bayi sehingga tidak perlu heran bila ada bayi yang kadang dalam satu hari tidak buang air besar. Orang tua sering menganggap keadaan bayinya yang seperti ini sebagai sembelit. Pasalnya, kebanyakan orang tua masih menganggap bahwa bayi itu harus buang air besar setiap hari.
Saat buang air besar, bayi biasanya akan mengejan kuat dan mukanya kadang bisa berubah menjadi merah. Sekalipun kotoran yang dikeluarkannya normal atau dengan kata lain tidak keras. Kondisi seperti ini merupakan hal yang normal dijumpai pada bayi-bayi usia di bawah tiga bulan yang sehat. Orang tua tak perlu cemas melihat keadaan ini dan cepat-cepat menganggapnya sebagai sembelit.
Di dalam sebuah literatur bahkan dikatakan bahwa pada tahap ini justru orang tua sering bereksperimen dengan mencoba mengobati bayinya sendiri dengan memberikan obat-obatan yang melunakkan kotoran. Padahal itu sebenarnya tidak perlu, karena kotorannya memang tidak keras.
Untuk membedakan apakah normal atau tidak, lakukan perabaan pada perut bagian kiri. Jika tidak teraba adanya benjolan, berarti memang tidak ada yang harus dikeluarkan dari tubuh si bayi.
Sembelit yang "normal" ini juga tidak ada hubungannya dengan makanan yang dimakan ibu. Ada penelitian yang membuktikan bahwa sekalipun ibu makan banyak sayur-sayuran, tetap saja ada waktu-waktu tertentu dimana si bayi tidak buang air besar sama sekali dalam satu hari. Pada perabaan perut bagian kiri juga tidak dijumpai adanya benjolan yang biasanya merupakan kumpulan kotoran si bayi di dalam ususnya.

* Abnormal :
Sembelit yang harus diwaspadai adalah sembelit yang terjadi sejak bayi lahir, yang terjadi akibat tidak dijumpainya ganglion-ganglion saraf pada usus besar bayi. Akibatnya, kotoran bayi di dalam usus tidak bisa tersalurkan sampai ke anus dengan baik. Kotoran bayi akan berkumpul dan bertambah banyak secara kumulatif di dalam usus.
Bayi terlihat gelisah dan pada perabaan perut biasanya akan terasa adanya benjolan yang merupakan kumpulan dari kotoran bayi yang tidak bisa disalurkan, atau dengan kata lain mampet. Kelainan ini disebut sebagai penyakit Hirschprung atau Megacollon.
Bila orang tua menemukan keadaan ini, jangan berpikir panjang lagi, segera bawa ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Lagi pula sembelit yang terjadi karena kurang makan sayur atau buah-buahan biasanya terjadi pada anak dengan usia lebih besar, tidak pada bayi, apalagi bayi baru lahir.

PENTING DIPERHATIKAN

Ada beberapa hal lain yang patut diperhatikan orang tua, di antaranya adalah:
1. Jika orang tua ragu apakah gangguan yang dialami bayinya tergolong "normal" atau abnormal, konsultasikan segera ke dokter guna mendapatkan jawaban yang tepat untuk mengatasi keraguan tersebut.
2. Jangan mencoba untuk mengobati sendiri bila orang tua sendiri masih ragu terhadap gangguan yang dialami bayinya. Pemberian obat yang tidak sesuai indikasi justru akan menimbulkan masalah. (Hilman Hilmansyah
Konsultan Ahli: dr. Edi S. Tehuteru, Sp.A, MHA


Sumber : Milis Sehat

"KOK BELUM PUP JUGA?"

September 01, 2006 2 Comments


Ada beberapa alasan mengapa bayi tidak pup setiap hari.

Ternyata, frekuensi buang air besar masing-masing bayi tidaklah sama. Ada yang 4-8 kali sehari, atau malah 1 kali setiap 3-4 hari. Sesudah bulan pertama usianya, frekuensi itu lantas mulai berkurang menjadi 3-4 kali per hari atau hanya 1 kali setiap 3-4 hari. Hal ini normal-normal saja.

Warna tinjanya pun bervariasi karena sangat dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi. Namun umumnya, tinja pada bayi dengan ASI eksklusif terlihat lebih lembek, berair, berwarna kuning tua dan berbiji-biji. Sedangkan tinja pada bayi dengan susu formula lebih berbentuk dan berwarna kecokelatan.

Umumnya, bayi yang mendapatkan ASI lebih jarang mengalami sembelit (konstipasi). Selain karena ASI mengandung zat laktasif yang mampu mengencerkan tinja, juga ASI lebih mudah dicerna ketimbang susu formula. Itulah mengapa, bayi dengan susu formula, kemungkinan mengalami sembelit lebih besar.

Jenis susu formula yang dikonsumsi si kecil juga ikut menjadi penyebab sembelit, yakni bila kandungan zat besinya terlalu tinggi. Ini khusus bayi yang berusia di bawah 6 bulan karena umumnya jumlah zat besi dalam tubuhnya masih tinggi, sehingga bila berlebih dapat menyebabkan sembelit. Kebutuhan akan zat besi pada bayi 0-6 bulan adalah 0,5 mg per hari. Lebih baik konsultasikan dengan dokter anak Anda sebelum memilih susu formula yang tepat untuk si kecil.

Kenali pula tanda-tanda sembelit dan langkah-langkah penanganannya, serta bagaimana pencegahannya.

TANDA-TANDA SEMBELIT

Bayi dinyatakan sembelit bila:

* Tinja yang dikeluarkan terlihat keras, kering dan berbentuk butiran kecil-kecil.

* Ada darah pada tinja.

* Si bayi mengerang kesakitan dan menjadi rewel.

* Ada cairan yang keluar di antara tinja dan rektum.

FUNGSIONAL & PATOLOGIS

Penyebab sembelit dibedakan menjadi 2, yakni:

* Fungsional

Ada ketidakseimbangan dalam mengonsumsi makanan. Umumnya sembelit terjadi karena kurangnya komposisi serat, air dan buah-buahan. Karenanya sembelit kerap pula dialami bayi yang mulai diperkenalkan makanan tambahan. Perubahan pola makan cenderung dapat mengubah keseimbangan komposisi makanan sehingga menyebabkan terjadinya sembelit.

* Patologis

Ada kelainan pada sistem metabolisme tubuh. Penyebabnya antara lain:

- Kelainan pada persarafan sebagian segmen usus atau lebih dikenal dengan hirschsprung.

- Gangguan pada persarafan usus besar paling bawah, dari anus hingga ke bagian usus di atasnya, termasuk ganglion parasimpatis yang mengatur pergerakan usus.

- Gangguan perkembangan neurologis, yaitu kelainan pada saraf-saraf usus bayi sehingga menyebabkan gerakan peristaltiknya menjadi kurang sempurna.

- Kelainan sistem endokrin, yaitu pada bayi yang metabolisme hormon tiroidnya kurang (hipotiroid). Salah satu gejalanya yang ditunjukkan adalah konstipasi.

PENANGANAN PERTAMA

* Bantu bayi mengeluarkan tinjanya agar perut tidak terasa kembung atau nyeri di wilayah anus, sehingga bayi menjadi rewel.

* Pada bayi di bawah 6 bulan, bantulah dengan menggunakan obat-obatan kelompok stimulan laksatif yang mengandung laktulose atas rekomendasi dokter. Biasanya berupa gel yang dimasukkan ke dalam anus. Penggunaannya lebih praktis. Atau, cara lainnya dengan menggunakan sabun bayi batangan yang dibentuk menyerupai pensil dengan ujung mengerucut, tapi tidak tajam. Masukkan sabun berbentuk pinsil ini ke dalam anus sebagai pelicin.

* Bla si kecil tidak minum ASI, pilihlah susu formula dengan kandungan bahan yang dapat memperbaiki fungsi motilitas, seperti laktulosa. Kandungan zat ini dapat dikenali dari kemasannya.

* Untuk bayi di atas 6 bulan yang mulai mendapat makanan pendamping ASI (MPASI) berikan buah-buahan kaya serat, seperti, pepaya, plum dan pir, serta berikan lebih banyak air putih.

* Cairan yang terbuat dari campuran brown sugar dengan air atau susu formula juga dapat melembekkan tinja. Caranya, satu sendok teh brown sugar dicampur dengan 200 gram air atau larutan susu formula, lalu minumkan.

* Langkah selanjutnya yang paling penting adalah membangun kesadaran orangtua akan pentingnya gizi seimbang, bahwa serat berperan penting untuk menghindari sembelit. Sertakan selalu bahan berserat dalam menu makanan bayi selain bahan-bahan lainnya.

KAPAN HARUS KE DOKTER?

Bila si kecil terus-menerus tidak BAB sampai lebih dari 3 hari atau selalu tampak kesakitan saat BAB, hendaknya segera konsultasikan ke dokter. Dikhawatirkan sembelit yang dialami si kecil bukanlah disebabkan gangguan fungsional, melainkan patologis yang membutuhkan observasi dan penanganan serius. Umumnya, sembelit yang diakibatkan gangguan fungsional akan segera sembuh setelah memperbaiki pola makan. Biasanya setelah 1-2 hari mengonsumsi makanan dengan kandungan serat tinggi atau pola makan gizi seimbang, maka frekuensi BAB si kecil normal.

Yang patut diwaspadai justru pada bayi baru lahir. Bila mekonium (kotoran berwarna kehitaman yang pertama kali keluar) tak keluar setelah 48 jam kelahiran atau bayi mengalami sembelit pada satu minggu pertama kelahiran, harus dipikirkan kemungkinan adanya kelainan anatomi, yakni hirschprung (tak ditemukannya persarafan pada sebagian segmen usus). Tidak adanya sistem saraf tersebut mengakibatkan gerakan usus jadi terganggu sehingga tinja akan tertahan di situ.

Pada bayi dengan kelainan hirschprung ini, pemberian obat-obatan pencahar tidak akan menunjukkan reaksi yang memuaskan. Kecuali usus yang tak ada persarafannya itu hanya pendek, semisal cuma 1 cm, maka pemberian obat pencahar dari anus umumnya masih bisa mengeluarkan kotoran. Kotoran bayi dengan hirschprung umumnya lembek dan kemampuan BAB-nya semu. Untuk membedakan hirschprung dengan sembelit biasa harus dilakukan rontgen. Atau cara mudahnya, masukkan sedikit jari kita ke anus bayi. Jika kotorannya keluar menyemprot dan jari terasa dijepit oleh lubang anusnya ini berarti sembelit karena hirschprung.

JIKA TERPAKSA MINUM SUSU FORMULA

Jangan pernah menggantikan ASI dengan susu formula. Kecuali pada kondisi tertentu dimana tidak memungkinkan memberikan ASI. Contoh, gangguan metabolisme bawaan, menggunakan obat-obatan terlarang atau obat-obatan tertentu seperti kemoterapi. Inilah tip memilih susu formula:

1. Ketahui lebih dulu ragam susu formula yang dijual di pasar.

Mayoritas susu formula biasanya terbuat dari susu sapi yang diramu dengan berbagai bahan sehingga lebih mudah dicerna bayi dibanding susu sapi yang belum diformulasikan. Di antara bahan-bahan yang menjadi "ramuan" susu formula ini adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral seperti vitamin A dan B6 (yang penting untuk meningkatkan sistem kekebalan), zat besi serta asam lemak omega-3 (penting untuk perkembangan otak dan sistem saraf).

2. Tak ada salahnya mengonsultasikan dengan dokter.

Untuk memilih susu formula yang sesuai dengan bayi Anda, lakukan konsultasi dengan dokter yang sudah biasa menangani si kecil. Umumnya, ia bisa memberikan saran mengenai susu formula untuk bayi Anda. Lebih baik Anda jangan dulu bereksperimen dengan sejumlah susu formula di pasaran.

3. Sesuaikan dengan kondisi keuangan.

Dewasa ini banyak susu yang dibuat untuk antialergi, antara lain susu hypoalergi dan susu kedelai. Masing-masing digunakan tergantung indikasinya. Konsultasikan dengan dokter anak Anda dalam memilihnya. Bila Anda atau pasangan memang memiliki riwayat alergi, sebaiknya ceritakan ke dokter anak Anda sejak si bayi lahir, sehingga sejak awal sudah dapat dipilihkan susu formula yang tepat (bila diperlukan, sebab pilihan utama tetaplah ASI).

4. Cepat tanggap terhadap reaksi bayi Anda.

Kewaspadaan ini untuk cepat mendeteksi apakah susu formula yang Anda pilihkan untuknya (walaupun berasal dari resep dokter) cocok atau sebaliknya. Adapun tanda-tanda kalau susu formula yang diberikan padanya tidak cocok, yaitu bayi sering menangis bila akan/sedang diberi susu formula, sering memuntahkannya, dan terjadi sembelit.

Sumber : Tabloid Nakita

Follow Us @tutiarien