January 06, 2010

BERMAIN SAMBIL BELAJAR

January 06, 2010 0 Comments
Apakah anak-anak kita merasa lelah sehabis bermain seharian? jawabannya bisa  ya, bisa  tidak. Jika permainannya sangat menyenangkan hatinya tentu anak-anak akan berkata "tidak". Dan mungkin dia akan berkata ingin sekali lagi bermain hal yang sama. Tetapi ketika permainannya tidak menyenangkan dia akan menyatakan "iya".

Bermain mempunyai arti sangat penting bagi anak, yaitu untuk memenuhi kepuasan fisik, emosi, sosial dan perkembangan mental, sehingga anak dapat mengekspresikan perasaan tentang kekuatan, kesepian, fantasi ataupun menunjukkan kreatifitasnya.

Teringat ketika saya masih kecil, semua permainan kanak-kanak sudah saya mainkan bersama teman-teman sebaya. Dulu permainan anak-anak beragam sekali, dari mulai lompat tali, main gala asin, mainan rumah-rumahan, masak-masakan, jualan, naik pohon jambu, bermain peran (waktu itu lagi jamannya film 5 sekawan di TVRI), coret-coret jalan beton dengan batu bata, main engkle, dampu...wuahhh kayaknya kenyang banget.

Gedean dikit, mulai jualan beneran. Caranya dengan patungan dengan teman-teman mengumpulkan uang untuk modal. Uangnya untuk modal buat pempek atau asinan. Saat itu kita beneran belajar wirausaha. Lumayan hasilnya untuk berenang. Siapa yang menyuruh??? tidak ada...semua dilakukan karena keinginan spontan anak-anak yang sedang eksplorasi. Satu saat saya juga membantu ibu/nenek untuk berjualan keroket dan kue ali, hasilnya untuk menambah uang jajan atau membeli barang yang diinginkan.

Hasilnya sekarang, jiwa wirausaha sampai detik ini masih aja nempel. Ingin usaha di rumah karena sudah punya 4 buntut yang selalu setia menanti bermain dengan umminya. Juga punya toko online untuk sampingan bunda, sekalian ngumpulin buku-buku bacaan berkualitas untuk anak-anak.

Kembali kepada masalah permainan anak-anak. Hari ini anak-anak masih liburan, sepanjang libur ada saja yang dikerjakan mereka. Seperti ahad kemarin, karena tidak jadi pergi jalan-jalan, mereka memutuskan untuk bermain kemah-kemahan dengan memakai bedcover dan selimut sebagai kemahnya. Mereka berimajinasi saat itu sedang berada dalam suasana diluar rumah. Banyak perlengkapan yang dibawanya, mulai baju ganti, buku bacaan, bentou dan air minum tidak lupa bantal untuk tidur. hmmm...cukup kreatif...

Sayangnya saat ini jarang sekali anak-anak bisa bermain berkelompok seperti saat saya kecil. Tidak bisa menikmati suasana yang menyenangkan ketika berteman dengan cara berkelompok, karena kadang ada akurnya ada berantemnya. Kurang bisa berbagi dengan teman. dirumah mereka bermain berempat. Tapi kakak yang mendominasi semua permainan. kadang juga jadi ada kubu anak Indonesia dan kubu anak jepang. Karena kebetulan anak saya ada yang lahir di jepang dan di Indonesia...:)

Bermain bersama mereka, sama artinya belajar menjadi seorang ibu yang sabar dan bijaksana. Konflik saudara senantiasa mewarnai cara bermain dan belajar mereka. Bahagia jika mereka sedang akur, biasanya ketika bermain suatu permainan yang semua sepakat itu adalah permainan yang seru, misalanya baca buku, main sekolah-sekolahan, melihat CD Cerita Berima Pelangi Mizan, Bermain boneka paus dan ular hadiah dari CERBIN pelangi Mizan, baca Ensiklopedi Bocah Muslim , atau baca CERBIN,...kadang umminya juga jadi ikutan seru, paling keras nyanyinya...hehehe...


Menyenangkan sekali jika rumah kembali kepada fungsinya. Rumah bukan hanya tempat untuk berteduh dan melepas lelah setelah kesibukan harian yang penuh kepenatan. Bagi anak-anak rumah menjadi sarana untuk tumbuh dan berkembang , banyak hal yang anak pelajari dan menjadi sebagai bekal pada tahapan berikutnya. Menyiapkan rumah untuk memenuhi kebutuhan sensori bertujuan membantu orang tua dan anak-anak  memaksimalkan potensi yang dimiliki disamping segala usaha  yang dilakukan diluar rumah.


Tuk 4SN love U all
*Bundanya 4SN*

Pendidikan Sepanjang Hayat

January 06, 2010 0 Comments
Manusia dikaruniai akal dan nafsu, karena itulah manusia membutuhkan pendidikan untuk mengarahkan potensi akalnya dan mampu mengendalikan nafsunya dengan ilmu yang didapatnya.

Pendidikan adalah rangkaian proses yang tak berpangkal ujung, kecuali manusia itu sudah mati. Manusia bisa terus berada dalam proses pendidikan sepanjang ia hidup, entah dengan mendidik dirinya atau  mendidik
generasi penerusnya. Tak peduli ia sekolah ataupun tidak, setiap orang sesungguhnya seorang edukator jika ia menyadarinya dan mau mengemban tanggung jawab itu.

Namun pendidikan kini menjadi kian sempit ruang lingkupnya. Hal itu, diakui atau tidak, adalah karena pendidikan telah dikemas dalam kotak-kotak kecil terbatas, sehingga potensi akal manusia juga tanpa sadar menjadi kian terisolasi dalam bingkai yang terlalu sempit.

Banyak hal yang seharusnya menjadi bagian dari proses pendidikan, akhirnya tereliminasi dari ranah pendidikan.

Apa yang dimaknai sebagai proses pendidikan saat ini faktanya hanya bercerita tentang "Ayo Kita Baca Buku Bersama-Sama Lalu Uji Hasil Bacaanmu" Siapa saja yang paling banyak mengingat bacaannya, dialah yang akan mendapat nilai tinggi.

Usai semuanya, anak-anak yang telah diuji itu pun berhamburan mencari pekerjaan, untuk membiayai hidup dan membiayai anak-anaknya memasuki kotak yang sama. Kotak yang mungkin akan semakin kecil, karena harga ruangan kotak kian mahal hingga harus disekat-sekat lagi supaya terjangkau harganya atau keuntungan pembuat kotak berlipat.

Andai pendidikan tetap mengusung maknanya sendiri yang hakiki, di manapun, setiap orang akan mendapati sumber belajar itu berlimpah tanpa batas di sekelilingnya. Ia bisa mendidik dirinya , mendidik orang-orang di sekitarnya, dan mendidik generasi penerusnya, entah rupiah bertumpuk di sakunya ataupun tidak sama sekali.

Tidak mudah mengubah arah pandang pikiran manusia, namun pendidikan bisa melakukannya. Mari kita didik diri kita dan generasi penerus kita, sehingga hakikat pendidikan kembali pada tempatnya. Pendidikan adalah
kebutuhan manusia sepanjang hidupnya, sadarkanlah setiap orang akan hal itu, dan sadarkanlah bahwa setiap orang bisa mempelajari banyak hal meski dalam keterbatasan.... Kalau ia mau melakukannya!

Follow Us @tutiarien