October 27, 2012

# Bunda Menulis # once upon in japan

Halal dan Baik

credit. pinterest.com
Beberapa waktu yang lalu di tivi jepang diberitakan ditariknya segala macam makanan, dari jenis kue/pastri, makanan ringan (snack) dll dari produk Fujiya co.
Dampak dari skandal ini tidak hanya ditariknya produk-produk hasil produksi Fujiya, tetapi juga tutupnya semua pabrik, toko dan restaurant yang mengusung nama Fujiya. Begitu juga dengan president Fujiya (sacho Fujiya) Rintaro Fujii, beliau mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawabannya terhadap kasus ini.

Kasus ini terungkap setelah dilaporkannya bahwa Fujiya disalah satu pabriknya menggunakan  susu yang sudah kadaluarsa.
Begitu juga dengan sanitasi kebersihan dalam pengolahannya sangat buruk sekali. Tikus-tikus pun banyak menghuni pabrik tersebut.

Walhasil setelah pemberitaan ini convenient store dan supermarket menengah dan besar telah menarik semua produk Fujiya. Kelas menengah meliputi Maruetsu (191 toko), Raibu koporeshon (195 toko), Izumiya (l.k. 80 toko). Sedangkan convenient store besar yang melakukan aksi serupa adalah Family Mart (6880) dan CircleK SunKus (6300 toko). Family Mart bahkan terjun langsung ke pabrik Fujiya untuk melakukan pemeriksaan proses produksinya. Bentuk protes terhadap Fujiya pun bertebaran, seperti di Japan Probe, dalam satu artikelnya mengajak masyarakat untuk Don't Eat At Fujiya

Hmm..kibishi ...tentu saja!!!!!..ini menyangkut makanan yang layak dimakan oleh ribuanorang.
Sempat juga membantin sendiri, jika makanan khas Indonesia dijual disini, gimana yah???. Karena standar keamanan makanannya sangat tinggi, tidak bisa bersaing dengan makanan disini, walaupun makanan khas Indonesia enak tenannnnnn....

Ingat kue kastengel/keju, yang di kasih trick ditambah garam, biar kejunya tetep terasa tetapi harganya agak murah dikit...karena harga keju selangit. Kuning telur untuk olesan kue yang diganti dengan sipuhan kuning. Goreng pisang ditambah sipuhan biar kelihatan menarik, kuning garing.....
Inget tahu, ikan, bakso yang pake pengawet. Saos tomat berpewarna, dll...

Belum lagi makanan tersebut halal atao tidak...karena ternyata untuk membuat sertifikat halal sangat..sangat mahal...(ini kabar dari keponakan seorang yang membuat sertifikat halal di Ind). Katanya, sebenernya harga selembar sertifikatnya tidak begitu mahal, tetapi harga orang yang membuat sertifikatnya yang mahal. Itu tidak hanya satu atau dua orang dalam satu tim, biasanya 4 orang. Jika di daerah, maka orang yang meneliti ke dalam pabrik/home industri harus diganti biaya akomodasinya. Dari ongkos, hotel, makan dll. Wallahu'alam.
(Sayangnya di website LPPOM-MUI tidak dicantumkan besarnya biaya pembuatan sertifikat ini. Jika hal tersebut dicantumkan, saya kira dapat memudahkan perusahaan dalam mengalokasikan biaya dalam pembuatan sertifikat halal).

Mungkin biaya akomodasi bisa ditekan lebih ringan jika saja semua orang sadar akan arti pentingnya makanan halal. Karena makanan halal akan sama dengan makanan yang baik/thoyib. Dari proses pemilihan bahan, pengolahan dan pengemasan.
Mungkin akan lebih efektif jika ada campur tangan pemerintah dalam hal ini memberikan subsidi silang untuk pembuatan sertifikat halal pada produk makanan di Indonesia.


Di bandingkan jepang, mungkin Indonesia paling banyak kasus penyalahgunaan bahan-bahan makanan yang membahayakan tubuh manusia. Tetapi hal ini tidak mudah untuk memberantasnya, karena kesadaran masyarakat untuk membuat dan mengkonsumsi makanan halal dan baik belum seragam. Hal ini menjadi kasus yang dilematis.

Ayo kita tingkatkan gaya hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan halal dan baik saja. Yuk kita mulai dari rumah kita. Jangan sampai ketika ada kasus keracunan makanan, baru kita sadar akan makanan halal dan sehat.

Utsunomiya, 23 Januari 2007



titileksono wrote on Jan 23, '07
apa bener mbak bikin sertifikat halal di indo mahal ???
kok kalau dipikir2 ..Indonesia adalah negara mayoritas penduduknya muslim...tapi kita malah kayak orang asing dinegeri sendiri ya...cari makanan halal susahnya minta ampun !!!
semoga tulisan mbak tuti di baca orang LPPOM MUI...siapa tahu bisa sebagai masukan bagaimana cara bikin sertifikat halal yang murah dan mudah ....amin

ummusalma wrote on Jan 23, '07, edited on Jan 23, '07
apa bener mbak bikin sertifikat halal di indo mahal ???
kok kalau dipikir2 ..Indonesia adalah negara mayoritas penduduknya muslim...tapi kita malah kayak orang asing dinegeri sendiri ya...cari makanan halal susahnya minta ampun !!!
semoga tulisan mbak tuti di baca orang LPPOM MUI...siapa tahu bisa sebagai masukan bagaimana cara bikin sertifikat halal yang murah dan mudah ....amin
 
Wallahua'lam..mbak. Iya miris juga mendengar kenyatannya seperti itu. Karena saya tulis di situ, biaya sertifikatnya sebenernya tidak begitu mahal. Cuman biaya operasional dalam mengaudit perusahaan saja yang mahal. Kalau saja benar mungkin "oknum" aja kali yah.

Semoga saja mbak...siapa tahu ada yang malah memberikan pencerahan disini...:)

aya0910 wrote on Jan 23, '07
ayuk teh Tuti kita mulai...Indonesia...menanti....( sebentar lagi aku pulang)

ummusalma wrote on Jan 23, '07
aya0910 said
ayuk teh Tuti kita mulai...Indonesia...menanti....( sebentar lagi aku pulang) 
Haik...gambarimashyou...^_^

yang masih di LN..jangan lupa sama produk dalam negeri yah....:)

rinrinjamrianti wrote on Jan 23, '07
ayoooo mbak... semangat nih, karena di Ina banyak yg masih kurang peduli dg yg halal dan thoyib ini.... !!!

nesiari wrote on Jan 23, '07, edited on Jan 23, '07
hehehe... barangkali di Jepang ini cuma orang Indonesia yang bikin ketupat pakai bungkus plastik... mending kalau plastik yang biasa dijual di toko itu (yang itupun sebenarnya tidak direkomendasikan untuk jadi kemasan makanan untuk pengolahan pemanasan suhu tinggi), dulu malah ada ibu-ibu yang pakai plastik payung gratisan disediakan di toko bila hujan... katanya, soalnya plastiknya panjang dan ... mumpung gratis... ooowww... :D :D... padahal, yakin banget deh prinsip "halalun tayyiban" ini sangat dikenal oleh masyarakat kita... jurang antara pengetahuan dan praktek kesehariankah? :D :D

rinrinjamrianti wrote on Jan 23, '07
pingin sedikit share tentang LP-POM, kebetulan ada temen2 yg kerja disana dan sy sendiri pernah mengurus sertifikat halal... sy sendiri sering mendengar isu miring temtang LP-POM, wallahualam betu apa ngaknya... tapi keberadaan lembaga tersebut kita harus dukung.... malah pinginnya ada lagi lembaga lainnya sehingga ada second opinion/second choice buat produsen....

tentang biaya, alhamdulillah saya dikenakan biatya 500 rb all in, ngak ada biaya akomodasi dll, mungkin karena perusahaan sy di bogor ya... kalo masalah kasih makan/minum audit yg datang sepenuhnya kebijakan kita produsen, ngak ada kewajiban harus... nah biaya akomodasi ini yg sering dikeluhkan oleh produsen, karena kadang ada raw material mereka yg belum bersertifikat halal, sehingga diperlukan cek n rechek ke perusahaan suppliernya... nah kalo suppliernya dari LN ini yg kadang bikin masalah... emmm tapi kalo industri kecil biasanya raw material mereka sumbernya ngak jau2 jadi tdk tll masalah... hal ini bisa didiskusikan dg pihak LPPOM-nya... saya yakin mereka mau membantu, kalo ngak mau bantu dilaporin aja :)

sebenarnya, dulu saat pa anton (mentan, red), belum menjadi menteri.... sempet mengaktifkan yayasan halalan thoyiban, yg ingin juga membantu dalam hal ke-halal-an ini.. tapi sayang skrg belum jalan.... semoga suatu saat jalan, dan akan tumbuh lagi lembaga lainnya selain LPPOM... aamiin

untuk diskusi tentang halal dan menanyakan tentang sertifikasi bisa mungkin gabung di milis HBE (halal-baik-enak)
gomen ne kepanjangan.... makasih ya mbak ceritanya, biar kita konsumen semakin `sadar` akan kualitas produk dan halal tentunya...

nzarno wrote on Jan 23, '07
iya ayoo kita mulai dengan makanan yg baik berusaha menghindar yg instant2.....makasih infonya mbk tuti sebenar ikutan juga nonton acara ini cuma ngk ngerti2 banget maklum nihonggonya masih payah...

4adnan wrote on Jan 23, '07
Jazakillah atas infonya,musti tetep hati2x nih walau sdh ditanah air nanti krn halal belum tentu baik ya.

haloazka wrote on Jan 24, '07
iya mba Tuti.. sy pernah ke suatu toko ramen di Jkt.. ternyata smua pake pork.. untung belum sempet mesen.. krn aga khawatir..tanya ke pelayannya.. akhirnya ga jadi.. di Ina juga tetep mesti hati2.. makasih artikelnya mba Tuti..

No comments:

Post a Comment

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @ceritaummi

Follow Us @tutiarien