October 27, 2012

# Bunda Menulis

Kisah dari Kota Puing


Pagi di hari ini sangat cerah sekali. Burung-burung bernyanyi dengan riangnya, seperti sengaja ingin ikut menyemarakan suasana pagi yang cerah. Tidak ada sedikitpun awan yang menutupi langit yang biru…… indah.

Perempuan itu memandang sekeliling taman yang baru saja didatanginya. Taman yang hijau itu ada dipusat kota, dengan air mancur ditengah-tengahnya memancar indah, menyegarkan siapa saja yang memandangnya. Lengkap dengan taman bermain anak-anak. Taman ini terletak di sebelah masjid besar di kotanya. Sangat strategis sekali karena di pusat kota.

“Taman yang indah” desisnya takjub.

Dipandangnya kedepan, kedua anaknya sedang bermain pasir dengan asyiknya. Tiba-tiba tatapannya berhenti di segerombolan anak-anak usia belasan tahun, mereka sedang asyik bermain sambil bercanda, dipandangannya candaan mereka sangat keterlaluan. Dan memang kemudian timbul keributan kecil diantara mereka.

“Ooh..tidak, sepertinya akan ada perkelahian pagi ini…” pikirnya.

Dan benar saja, seorang anak lelaki memungut batu-batu sebesar kepalan untuk dilemparkan kepada temannya, satu meleset, dua meleset dan mereka tertawa terbahak-bahak sambil meledek temannya. Tetapi kemudian perkelahian sudah mulai serius, kedua belah pihak masing-masing mengambil batu-batu itu……

“Aku harus bertindak…” bergegas dihampirinya sekelompok anak yang sedang siap “perang” tersebut.

“Jangan nak……jangan…..tahukah engkau, dahulu batu-batu itu dipergunakan oleh ayah dan saudaramu hanya untuk dilemparkan kepada yahudi durjana, mereka merampas kemerdekaan kita Nak…jangan engkau lemparkan batu-batu itu kepada saudaramu sendiri Nak…..” jeritnya dari kejauhan.

Anak-anak itupun berlarian menghindari perempuan tadi. Entah kemana mereka perginya.
Perempuan itu kemudian kembali ke tempat duduknya yang semula sambil memperhatikan kedua buah hatinya bermain. Tiba-tiba ada sepasang muda-mudi berjalan melewatinya. Mereka asyik berpegangan tangan sambil bercerita dengan riangnya. Dengan masih memakai seragam sekolah mereka menghabiskan waktu di taman.

“kenapa mereka ada disini? Bukankah seharusnya jam segini mereka sedang mendengarkan gurunya mengajar? yang wanitanya memakai baju muslimah yang ketat sekali, sudah di simpan dimanakah harga dirinya?
Sudah lupakah kedua anak remaja itu, tanah ini merdeka dengan keringat dan darah ibu, ayah serta saudara-saudaranya. Wanita-wanita saat itu turut berjuang dan tidak melupakan belajar, banyak sudah yang hafal al qur’an dengan baik dan ikut andil dalam peperangan. Ayah dan saudara-saudara mereka adalah pejuang-pejuang yang tangguh….
Ya Allah……kemana perginya kesadaran mereka, kemerdekaan ini diperjuangkan………bukan sebuah hadiah….” Tak terasa airmata menetes di kedua kelopak matanya.

Dibukanya tas kecil tempat bekal yang dibawanya dari rumah, diambilnya sehelai sapu tangan didalamnya. Perempuan itu menghapus airmata yang semakin deras meleleh di kedua belah pipinya. Matanya tertumbuk pada selembar koran yang tadi pagi dibelinya di tukang koran. Ia pun membacanya untuk menepis kegundahannya.
Dibacanya pelan-pelan halaman utama koran tersebut, “Anggota DPR tertuduh selingkuh”, “Kasus korupsi dalam pemerintah makin meluas”, “Masyarakat masih kekurangan makanan”, ….dan……dan….

“Oooh…tidak….apakah ini yang namanya merdeka, tidak…oohh..mengerikan sekali……..aku harus bangun…….bangun……”teriak perempuan itu galau.

“Astaghfirullah……” Perempuan itu duduk diatas pembaringannya dalam subuh yang hening. Peluh membasahi sekujur tubuhnya dan nafas yang memburu. Dilihatnya kesebelah tempat tidur yang tidak bisa disebut tempat tidur, kedua anaknya masih tidur dengan nyenyak pagi ini. Dilihat kesekelilingnya, rumah yang tidak bisa disebut rumah, karena sebagian sudah menjadi puing-puing dihantam mortir yahudi laknatullah.

“Alhamdulillah…hanya sebuah mimpi” desisnya lirih, “Ya Allah aku lebih suka hidup dalam keadaan seperti ini, tidak ada ketakutan yang hinggap didiriku dan semua saudaraku kecuali takut tidak mendapatkan ridlo darimu….” ucapnya lirih dalam keheningan.

“hayya alassholah…hayya alassholah, hayya alal falah…hayya alal falah ….Allahu akbar……Allahu Akbar…laa ilahaillallahu……”sayup-sayup terdengar suara azan subuh menggema dari sebelah rumahnya.

“Allahu akbar……ya…..kemenangan yang hakiki suatu saat nanti akan datang dari Allah…semoga kemenangan ini tidak menjadikan manusia lupa kepada Allah Rabbul izzati…”lirih do’anya sambil bergegas mengambil air wudlu.

penghujung malam, 14 muharam 1428H


No comments:

Post a Comment

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @ceritaummi

Follow Us @tutiarien