Oktober 27, 2012

# Bunda Menulis # once upon in japan

Menggapai pengampunan Allah dengan bersegera bertaubat (Hikmah kisah Nabi Adam Alaihisalam)

Menggapai pengampunan Allah dengan bersegera bertaubat
(Hikmah kisah Nabi Adam Alaihisalam)


”Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi” (QS Al A’raf : 23)

Allah SWT menciptakan manusia dengan segala keterbatasan dan kelemahannya disamping kelebihan dan kekuatannya. Manusia diciptakan berdasarkan fitrahnya. Manusia yang dapat memelihara fitrahnya dengan Islam akan berhasil dunia dan akhirat. Sebaliknya yang tidak dapat memelihara fitrah tersebut serta tidak menjalankan amanahnya akan termasuk orang-orang yang merugi.

Kalau kita perhatikan diri kita sebagai manusia, ternyata kita tidak pernah luput dari kesalahan dan dosa. Manusia bukanlah seperti malaikat yang ma'shum dari segala kesalahan, tidak pernah sekalipun mereka meninggalkan perintah-perintah Allah ataupun melanggar larangan-laranganNya.

Karena terlalu banyak dosa dan kesalahan yang kita lakukan, sudah menjadi kewajiban bagi kita kaum muslimin untuk bertaubat atas segala kesalahan yang pernah kita lakukan dan senantiasa meminta ampun kepadaNya. Banyak sekali dalil yang menunjukkan kewajiban bertaubat.

Sebagaimana Nabi Adam as, yang telah Allah SWT jadikan dia dengan tangan-Nya dan meniupkan ke dalam dirinya secercah dari ruh-Nya, memerintahkan malaikat untuk sujud kepadanya, mengajarkan kepadanya seluruh nama-nama, serta menampilkan keutamaannya atas malaikat dengan ilmu pengetahuannya. Namun Adam yang selamat dalam ujian ilmu pengetahuan, tidak selamat dalam "term pertama" ujian iradah (mengekang hawa nafsu). Allah SWT mengujinya dengan beban pertama yang ditanggungkan kepadanya. Yaitu melarang untuk memakan buah dari pohon keabadian. Di sini tampak ia tidak dapat menahan keinginan pribadinya, serta melupakan larangan Rabbnya dengan dipengaruhi bujuk rayu syaitan dan tipu dayanya, sehingga dia pun memakannya dan dia pun terjatuh dalam kemaksiatan. Namun secepatnya dia mencuci dan membersihkan dirinya dari bekas-bekas dosa itu, dengan taubat dan istighfar.



Makna Taubat dan Urgensinya

Menurut Dr. Yusuf Qordhowi dalam bukunya At Taubah ilallah, taubat dari akar kata "t-w-b" dalam bahasa Arab menunjukkan pengertian: pulang dan kembali. Sedangkan taubat kepada Allah SWT berarti pulang dan kembali ke haribaan-Nya serta tetap di pintu-Nya.

Taubat ialah kembali daripada melakukan maksiat, orang yang berdosa itu seolah-olahnya meninggalkan Allah SWT, dengan tidak taat kepadanya dan melanggar perintahnya. Maka apabila ia meninggalkan maksiat, seolah-olah ia kembali semula kepada Allah SWT.

Allah SWT memerintahkan supaya kita melakukan taubat sebagaimana firmannya didalam surah An-Nur ayat 31: ”Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah SWT wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung”

Dalam ayat ini, Allah SWT memerintahkan kepada seluruh kaum mu'minin untuk bertaubat kepada Allah SWT, dan tidak mengecualikan seorangpun dari mereka. Meskipun orang itu telah demikian taat menjalankan syari'ah, dan telah menanjak dalam barisan kaum muttaqin, namun tetap ia memerlukan taubat. Di antara kaum mu'minin ada yang bertaubat dari dosa-dosa besar, jika ia telah melakukan dosa besar itu. Karena ia memang bukan orang yang ma'shum (terjaga dari dosa). Di antara mereka ada yang bertaubat dari dosa-dosa kecil, dan sedikit sekali orang yang selamat dari dosa-dosa macam ini. Dengan bertaubat diharapkan akan mendapatkan keberuntungan, dan hanya orang yang bertaubat yang berhak mengharapkan keberuntungan itu.

Rasulullah SAW bersabda: ”Hai sekalian manusia bertaubatlah kalian kepada Allah dan mintalah ampunan darinya, sesungguhnya saya bertaubat dalam sehari seratus kali”. (HR: Muslim).

Bersegera dalam bertaubat adalah keniscayaan. Sebelum ajal menjemput, taubat kita akan senantiasa diterima oleh Allah SWT. (QS An-Nisa: 17-18)

Nabi Adam as disebut sebagai pemimpin orang-orang yang bertaubat (QS. Thaaha: 121-122). Ketika Nabi Adam as dan istrinya memakan buah dari pohon yang dilarang oleh Allah swt, maka terbukalah aurat mereka. Nabi Adam as langsung menyadari kesalahannya dan menyesal telah melanggar larangan Allah SWT. Dan segera memohon ampun, dalam do’anya yang mashyur, ”Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi” (QS Al A’raf : 23). Dan Allah berkenan menerima taubat mereka dan menjadikan Nabi Adam as sebagai khalifah dibumi dan mengamanahkan risalah-Nya.

Selain itu juga ada Nabi Musa (QS. al Qashash: 15-16) dan Nabi Nuh (QS. al Anbiyaa: 87-88) yang bersegera bertaubat setelah melakukan kesalahan kepada Allah SWT dan Allah berkenan mengampuni mereka dan memilih mereka sebagai pengemban risalah Allah SWT.


Hakikat Istighfar dan Taubat

Dari penuturan Al Gazhali dan ulama lainnya, pada hakikatnya taubat yang diperintahkan Allah SWT bertaubat dengan taubat nasuha, terdiri dari tiga unsur. 

Yang pertama adalah unsur pengetahuan, yang dengannya manusia mengetahui bahwa kebenaran adalah dari Rabb mereka. Dan itu akan menyebabkan mereka mengimaninya. Dengan demikian, ilmu pengetahuan adalah petunjuk dan pemimpin keimanan. Kemudian keimanan itu akan mengantarkan pada ketundukan dan khusyunya hati (QS. Ali Imran: 135) .

Unsur kedua dalam taubat adalah: unsur jiwa, yang berhubungan dengan hati dan keinginan diri. Atau dengan kata lain: emosi dan inklinasi.

Di antara bentuk penyesalan adalah: mengakui dosa, dan tidak lari dari pertanggungjawaban dosa itu, serta meminta ampunan dan maghfirah dari Allah SWT.

Penyesalan ini juga dilakukan oleh Nabi Adam as dan istrinya, dalam kisah Adam setelah beliau dan istrinya memakan buah dari pohon yang dilarang Allah SWT, (QS. al A'raf: 23)

Dalam kisah lain, Al Quran telah mendeskripsikan sisi jiwa ini bagi beberapa orang yang melakukan taubat, dengan deskripsi yang amat bagus. Yaitu dalam kisah tiga sahabat yang absen dari mengikuti perang yang besar bersama Rasulullah Saw, yaitu perang Tabuk. Yang merupakan peperangan pertama Rasulullah Saw dengan negara yang paling kuat di dunia saat itu: negara Romawi. Mereka tidak mengungkapkan alasan bohong seperti kaum munafik, maka Rasulullah Saw memerintahkan untuk mengucilkan mereka. Kemudian mereka menyesali perbuatan mereka itu dengan sangat, dan dilukiskan oleh Al Quran sebagai berikut:

"Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat ) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang". (QS. at-Taubah: 118)

Unsur yang ketiga adalah unsur praktis/amal. Bertaubat tidak hanya dilakukan oleh lisan saja. Tetapi setelah bertaubat kepada Allah sudah selayaknya kita meninggalkan perbuatan dosa/maksiat yang pernah dilakukan, memperbanyak beristihgfar kepada Allah, mengubah lingkungan dan melakukan perbuatan baik.

Dalam beristighfar kepada Allah, ada beberapa adab yang harus diperhatikan karena ini menjadi syarat istighfar yang diterima oleh Allah SWT ,antara lain:

1. Niat yang benar dan ikhlas semata ditujukan kepada Allah SWT. Karena Allah SWT tidak menerima amal perbuatan manusia kecuali jika amal itu dilakukan dengan ikhlas semata untuk-Nya. [QS. Al Bayyinah: 5].

Sabda Rasulullah Saw :"Seluruh amal perbuatan manusia ditentukan oleh niatnya. Dan orang yang beramal mendapatkan balasan atas amalnya itu sesuai dengan apa yang diniatkannya". Hadits muttafaq alaih.

2. Kesamaan antara hati dan lidah secara serempak melakukan istighfar. Sehingga tidak boleh lidahnya berkata: aku beristighfar kepada Allah SWT, sementara hatinya ingin terus melakukan maksiat. 

Dari Ibnu Abbas r.a. diriwayatkan, ia berkata: "orang yang beristighfar kepada Allah SWT dari suatu dosa sementara ia masih terus menjalankan dosa itu maka ia seperti orang yang sedang mengejek Rabbnya!"
Rabi'ah berkata: istighfar kita butuh kepada istighfar lagi! Jika istighfar kita hanya dengan lidah saja, tidak disertai dengan hati.

3. Bersuci
Rasulullah Saw bersabda:
"Tidak ada seseorang yang berbuat dosa, kemudian ia bangun dan bersuci serta memperbaiki bersucinya, kemudian ia beristighfar kepada Allah SWT, kecuali Allah SWT pasti mengampuninya"

4. Khauf wa Roja’. Berada dalam kondisi takut dan mengharap

Allah SWT menyifati diri-Nya dengan firman-Nya:"Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras hukuman-Nya" [QS. Ghafir: 3].

5. Memilih waktu yang utama
Seperti saat menjelang subuh, firman Allah SWT :" Dan yang memohon ampun di waktu sebelum fajar" [QS. Ali Imran: 17]. 

"Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)" [QS. adz-Dzariaat: 18].

Para mufassir berkata: beliau menunda istighfar itu hingga waktu menjelang subuh, karena pada saat itu, doa lebih dekat untuk dikabulkan, jauh dari ria, lebih bersih bagi hati, dan ia adalah waktu tajalli Ilahi pada sepertiga terakhir dari waktu malam.

6. Banyak ber-istighfar dalam shalat. Pada saat bersujud, sebelum salam atau setelah salam.

Rasulullah Saw telah mengajarkan Abu Bakar untuk mengucapkan sebelum salam: "Wahai Allah, sesungguhnya aku telah berbuat zalim kepada diriku dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau, maka ampunilah daku dengan ampunan dari-Mu, dan kasihilah aku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi ampunan dan Maha Penyayang ".

7. Berdo'a bagi dirinya sendiri dan bagi kaum mu'minin, sehingga ia masuk dalam kelompok mereka, semoga Allah SWT menyayanginya dan mengampuninya dengan berkah mereka dan dengan masuk dalam kelompok mereka.

Oleh karena itu kita dapati para nabi tidak hanya ber istighfar kepada diri mereka. Namun juga bagi diri mereka, bagi kedua orang tua mereka, serta bagi kaum mu'minin dan mu'minat seperti terdapat dalam do'a Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim serta nabi-nabi lainnya. Atau bisa berdo’a juga dengan memakai panduan Al Matsurat (do’a-do’a pilihan Rasulullah saw) yang dirangkum oleh As Syahid Hasan Al Banna.

8. Berdo'a dan ber istighfar dengan redaksi yang disebutkan dalam al Quran dan sunnah. Karena ia adalah redaksi yang terbaik, paling besar nilainya, paling luas maknanya serta paling merasuk dalam hati. Berbeda halnya dengan redaksi-redaksi doa dan wirid lain yang dibuat oleh manusia, di sana tidak ada kemanusiaan susunan kalimat al Quran serta keindahan kata-kata yang digunakan dalam hadits.

Ber-istighfar dan berdo'a dengan al Quran dan hadits itu mendapatkan dua balasan:
1. Balasan doa dan istighfar.
2. Balasan mengikuti al Quran dan sunnah.

Di antara redaksi-redaksi doa al Quran adalah; doa yang diucapkan oleh Nabi Adam (QS. al A'raaf: 23), Nabi Nuh (QS. Nuuh: 28), Ibrahim (QS. Ibrahim: 41)
dan nabi-nabi serta rasul-rasul yang lain. 

Atau disurat2 yang lain, QS. al Mumtahanah: 4-5, QS. Ali Imran: 147, QS. Al Hasyr: 10, QS. Ali Imran: 193. 

Di dalam sebuah hadits antaranya adalah:
"Ya Allah, jauhkanlah daku dari kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara Timur dan Barat. Ya Allah, sucikanlah aku dari kesalahanku dengan air, salju dan embun. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahan seperti baju yang putih dibersihkan dari kotoran". Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abi Hurairah dan diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dari A'isyah. Dan adalah Rasulullah Saw berdo'a dengan do'a itu setelah takbiratul ihram dalam shalat, serta sebelum membaca surah Al Fatihah.


*********

Itulah sekelumit menggapai ampunan Allah SWT dengan bersegera bertaubat. Begitu banyak pelajaran dari kisah2 yang terdapat dalam Al Qur’an seperti kisah Nabi Adam diatas, bahwasanya manusia walaupun ia telah dikaruniai kecerdasan berfikir dan kekuatan fisik serta mental yang kuat tetap saja mempunyai beberapa kelemahan pada dirinya seperti sifat lalai, lupa dan khilaf. Hal mana telah terjadi pada diri Nabi Adam yang walaupun ia telah menjadi manusia yang sempurna dan dikurniakan kedudukan yang istimewa di syurga ia tetap tidak terhindar dari sifat-sifat manusia yang lemah itu. Ia telah lupa dan melalaikan peringatan Allah kepadanya tentang pohon terlarang dan tentang Iblis yang menjadi musuhnya dan musuh seluruh keturunannya, sehingga terperangkap ke dalam tipu daya dan terjadilah pelanggaran pertama yang dilakukan oleh manusia terhadap larangan Allah.

Pelajaran yang bisa kita petik adalah bahwa seseorang yang telah terlanjur melakukan maksiat dan berbuat dosa tidaklah ia sepatutnya berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah SWT asalkan ia sadar akan kesalahannya dan bertaubat tidak akan melakukannya kembali. Rahmat Allah dan maghfirah-Nya dapat mencakup segala dosa yang diperbuat oleh hamba-Nya kecuali syirik bagaimana pun besar dosa itu asalkan diikuti dengan kesadaran bertaubat dan pengakuan kesalahan.

Jika taubat itu berkaitan dengan manusia, hendaknya ia membebaskan diri dengan memenuhi hak orang tersebut. Jika berbentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengembalikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau sejenisnya maka ia harus memberinya kesempatan untuk membalasnya atau meminta maaf kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf.

Di pertengahan Ramadhan ini, ijinkanlah saya mengucapkan : Taqoballahu minna wa minkum, Mohon maaf lahir bathin. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang di ridhoi Allah dan kembali fitri.

Wallahu’alaam.


Maraji:
- Tuntunan Bertaubat kepada Allah SWT/ At Taubah ilallah, Dr. Yusuf Qordhowi,

- Kisah Nabi Adam as :
http://www.dzikir.org/b_ceri01.htm
- Kepribadian Muslim, Dr. Irwan Prayitno, Pustaka Tarbiyatuna

Utsunomiya, 11 Oktober 2006
18 Ramadhan 1427 H



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @ceritaummi

Follow Us @tutiarien