Oktober 27, 2012

# curhat bunda # once upon in japan

Nihon no Keisatsu wa kibishi datta.....

Pernah gak sih ngerasain dituduh seorang kriminal disini...? atau jadi saksi sebuah kejadian kriminal...pokoknya berurusan sama polisi jepun deh.....Pasti perasaan takut...deg-deg-an...sedih...ada kali yah......

Saya memang gak pernah ngalamin langsung sih...tapi partner hidupku yang pernah ngalamin...suamiku tersayang....
Kejadiannya memang sudah berlalu sebulan yang lalu, tapi sangat membekas sekali.

Ceritanya begini....,2 tahun yang lalu, karena beasiswa suami distop dari pemerintah jepang (karena beliau harusnya kan selesai tahun 2004 tuh....tapi ternyata belum selesai juga...maka sesuai kebijakan maka setelah 3 tahun disini, maka uang sekolah dll di tanggung sendiri...). Maka untuk mengurangi beban apato, kami pun berusaha mencari rumah/apato yang murah. Alhamdulillah...dengan proses yang lumayan panjang juga...kami mendapatkan rumah yang murah, fasilitas dari kampus. Walaupun rumahnya tua, tapi besar, halamannya luas, dan mencirikan khas rumah orang jepang....
Saya bersyukur sekali bisa merasakan tinggal di rumah itu, style-nya jepang banget deh....
Fyi, katanya sih usia rumah itu dah 30 tahun. seusia saya...kadang mikir juga..aman gak yah kalo ada jisin... tapi sampai saat ini sih Alhamdulillah aman...

Anak-anak juga suka sekali dengan rumah itu, seperti rumah totoro katanya. karena dibawah rumah ada fentilasi udara, anak-anak kadang ngelongok ke bawah sekedar ikut-ikutan tokoh dalam cerita totoro...sambil teriak..."makuro-kuro dette oide..." sambil tertawa-tawa riang. Dan mereka puas sekali bisa berlari-lari didalam rumah, karena memang didalam rumah itu banyak pintu dan ruangannya besar sekali. Lantainya juga beralaskan full tatami (kecuali dapur dan koridor), tidak mengkhawatirkan kalo anak2 jatuh.

Demikian sekilas info tentang rumah kami 
...
Nah...cerita kriminalnya gini nih..... Didepan rumah kami, karena itu rumah bekas ditempatin oleh gakuin/pegawai Udai dan beberapa mahasiswa, maka ada 4 sepeda bagus disana. Tidak berpenghuni. Sebagiannya memang terkunci, tapi ada juga yang tidak dikunci.

Suamipun sempat melaporkan keberadaan sepeda dirumah kami, kakunin punya siapa sepedanya. Staff ryugakusei sentanya gak tahu..jadi menyerahkan semuanya kepada kita.

Kebetulan, di bulan April yang lalu, ada temen Muslim dari Mauritania datang untuk menyelesaikan tugas belajar di Udai. Suamipun memberikan bantuan sekedarnya, seperti alat-alat makan dan sebuah sepeda didepan rumah. Brother dari Mauritania ini kebetulan memilih sepeda yang memang paling
bagus .
Lagipula kan ajaran dalam Islam kalo ngasih-ngasih barang kan harus yang bagus yah. Jadilah Brother itu memakai sepeda itu untuk keperluan sehari-harinya ke kampus.

Waktu pun berlalu, selama ini sih aman aja...kita pun tidak curiga kalau salah satu sepeda yang ada di depan rumah saya itu adalah sepeda curian. Ketika brother cherif sedang mampir di penyewaan buku dan CD,
sepedanya di ciduk polisi. Dan dia pun di intrograsi seperlunya oleh polisi.
Akhirnya Brother itu mengaku bahwa sepedanya berasal dari suami saya.

Setelah itu suamipun di telpon polisi untuk mengurus sepeda curian itu. Dan menolong brother cherif dari tuduhan pencurian. Suami saya memang kurang begitu baik bahasa jepangnya. Karena beliau datang belajar di jepun tuk menyelesaikan program doktor yang notabene gak begitu menggunakan bahasa jepang.

Ketika polisi tanya apakah benar sepeda itu suami saya yang kasih, suami saya mengiyakan, bahwa dirinya yang memberikan sepeda itu ke Brother cherif (tanpa ada pransangka sama sekali). Itulah awal polisi menuduh suami saya mencuri sepeda curian. Kesalahan pengucapan satu kata saja dalam bahasa jepang ternyata berakibat sangat fatal sekali. Seharusnya suami ku gak bilang bahwa dia memberikan sepeda itu (Ageru..) tapi mempersilahkannya untuk memakai sepeda itu karena memang tidak berpenghuni..begitu katanya sih...tapi kan..mana tahu..bahasa jepang aja minim banget....

Akhirnya brother cherif dibiarkan pergi, sememntara suami saya yang menjadi tertuduh kriminal..yaitu dengan tuduhan memberikan sepeda curian kepada temannya
(walaupun pada kenyataannya suami saya tidak melakukannya)

Suamipun di introgasi di koban selama kurang lebih 5 jam. Alhamdulillah masih boleh pulang untuk shalat magrib dan mengantarkan tamu-tamunya pulang (kejadiannya sore hari dan kebetulan suami sedang dikunjungi beberapa temannya).

Ketika suami di panggil untuk menjelaskan semua itu ke koban dekat rumah, saya sudah merasakan ada yang tidak beres. Anak-anak pun merasakannya dan menangis melihat Abinya gelisah dan tergesa-gesa untuk menuju tempat kejadian. Akhirnya saya hanya bisa berpesan, agar suami tidak menjelaskan segala sesuatu itu memakai bahasa jepang. Pergunakan saja bahasa Inggris, akrena itulah yang paling bisa difahami saat ini. Masalah polisinya ngerti atau gak...itu urusan lain.....
Alhamdulillah suamipun mau menuruti nasihat saya.

Waktu dalam penantian sangat berat sekali...tidak ada hbungan telpon sama sekali, bagaimana kelanjutan kasus tersebut...tidak ada berita...resah aja yang ada...

Saya pun berinisiatif untuk mencarikan transleter, kebetulan ada muslimah jepang yang bersuamikan orang Pakistan, beliau bisa berbahasa jepang dan Inggris dengan baik. Akhirnya saya menelpon sister itu dan Alhamdulillah dalam hitungan 20 menit, mereka sudah meluncur ke Koban. Memang benar ada berita acara yang harus ditulis. Alhamdulillah dengan bantuan brother itu, suami saya menjelaskan kembali hal ihwal pemberian sepeda itu. Tapi..polisi tetap polisi, walaupun terbukti bahwa suami saya tidak bersalah, tetap saja dijadikan honin atau tersangka....dan tetap akan diproses sesuai
hukum keadilan jepang....

Ketika suami pulang kerumah, kondisinya sudah lelah sekali, dan seperti yang enggan
berbicara. Sangat mengkhawatirkan sekali deh...
Tapi aku gak tahan kalo gak nanya hasilnya, suamipun hanya menjawab....."tetap akan diproses, Abi sebagai tersangka...hari Rabu di foto di kepolisian besar. insyaAllah besok akan coba konsultasi dengan Goto sensei (senseinya yang merekomendasikan beliau posdok disini, Fyi, suami sudah selesai program doktornya, sekarang sedang menjalani tugas posdok setahun).

Saya hanya bisa mengomel.......kenapa sih polisi sini begitu..kalo memberikan sepeda
keorang lain yang bukan punya kita keorang lain adalah kriminal, kenapa tidak
disosialisasikan ke ryugakusei senta di universitas. Suamipun sudah menjelaskan ,
sudah melaporkan sepeda-sepeda itu ke rugakusei senta, polisinya malah berdalih,
 ryugakusei senta bukan kepolisian...hu..uh..sebel banget deh...

Malam itu berubah menjadi malam yang panjang, suamipun tidak bisa tidur dengan nyenyak....kasihan sekali...akupun ikut merasakan sekali kesedihannya dan kekhawatirannya...

Esok harinya, suami masih belum mau makan....tidak ada selera makan katanya....sedih banget....biasanya melihat makannya banyak..sekarang tidak ada sepotong makanan pun yang masuk kedalam perutnya.....
Sore bertemu dengan suami, masih dalam keadaan yang sama. Saya tanya giman hasil pembicaraannya dengan Goto sensei? jawabannya..sensei masih sibuk, tapi sudah laporan. selesai.

Menjelang hari Rabu, suami bilang, mungkin besok akan ada mobil polisi datang kerumah dengan sirine yang mengaung-ngaung...kemudian suami saya dibawa dengan mobil polisi ke koban terdekat..kemudian dibawa ke kepolisian besar, di foto sebagai tersangka pencurian sepeda....ya Allah...bener2 hal yang gak pernah terlintas dalam fikiran akan menanggung beban seberat itu.....suamiku..gambare ne...sahutku dalam hati.

Dalam mobil, ketika menjemput anak-anak dan belanja keperluan sehari-hari, kamipun asyik berdiskusi untuk rabu besok. Saya sarankan untuk menelpon polisi yang kadang-kadang datang kerumah kami. tapi ternyata suami tidak menyimpan nomer telponnya di HP tapi di kertas dan mungkin sudah hilang..entah kemana....

Akhirnya saya hanya bisa memberikan dukungan kepadanya lewat sms di ketai, "Abi, jangan takut yah...walaupun kita tidak ada backingan dari polisi-polisi itu tapi kita punya backingan yang jauh lebih kuat, yaitu Allah Yang Maha Kuasa".  Yah...saya hanya bisa berdo'a semoga Allah memberikan yang terbaik bagi keluarga kami . Mana lagi hamil gede , kalau tiba-tiba suami harus "nginep" di penjara sini bagaimana?
Sudah tergambar aja dalam kepala seperti drama-drama jepang di tivi, suamiku di giring ke kantor polisi, dibawa dengan mobil polisi dengan sirine mengangung....ya Allah apakah saya sanggup....

Diantara do'a-do'aku, aku berdo'a kepada Allah sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah saw, ....wala taj'al mushibatana fiy dinina...." dan janganlah Engkau jadikan musibah kami menimpa agama kami....". Yah..tahu sendiri kan polisi jepang suka curiga sama yang namanya orang asing, apalagi kita kan muslim, dan minoritas disini. Curiga aja..khawatir disalahgunakan untuk kepentingan yang lain..misalnya menfitnah suami saya melakukan hal kriminal yang lain..karena ada foto dirinya....ya Allah..tolong lah kami dan agama kami.......(aku pun mulai menangis...
)

Hari Rabu pun tiba...saya standby dirumah.....kata suami...jam 3 akan kerumah. Ternyata sampai jam 3 belum mungcul juga tuh raungan sirine..suami juga belum pulang kerumah. Saya pun tidak tahan untuk tidak menelpon, tapi ternyata telpon suami rusuban. Akhirnya telpon yang ditunggu2 datang juga...akupun langsung gak sabar nanya segala macem. Kata suami, polisi sudah ditelpon sama goto sensei, dan kami janjian langsung ke koban. wah..lega...raungan sirine pun batal aku saksikan...Alhamdulillah...
Suami hanya berpesan, mungkin besok polisi akan datang dan mencek 3 sepeda lainnya yang ada dirumah. Jadi tugas saya hanya ngempesin ban sepeda yang sering dipakai suami. akhirnya saya dnegan perasaan deg-degan ngempesin tuh sepeda. dan berdo'a mudah2an hujan lebat turun agar sidik jari saya tidak ada di pentil sepeda itu. Alhamdulillah hujan memang kemudian turun....
Ya..Allah...Alhamdulillah cucuran rahmat mu datang dan menyejukan sekali hati yang gundah ini. Semoga kabar baik yang akan menghampiri keluarga kami setelah ini. Doaku dalam hati....

Malam, menunggu kepulangan suami hati masih deg-degan menunggu penjelasan  dari mulut suami saya. Alhamdulillah melihat senyumnya merekahpun saya sudah tahu kalau semua berjalan baik-baik saja. Akupun bertanya hasil pertemuannya dengan polisi kali ini. Alhamudlillah kata suami, dia datang bersama dengan Goto sensei dan seorang staff ryugakusei senta Udai. Pembicaraannya pun berlanjut santai dan berita acara suami bisa dirubah, suami juga bebas dari harus di foto di kepolisian besar. Dan ternyata polisi yang sering datang kerumah kami...Nozawa Keisatsu pun datang ke koban tersebut.
Ya Allah ...pertolongan-MU memang sangat dekat...

Diakhir pembicaraan Nozawa Keisatsu pun menyalami suami, simpai nai ne...katanya. Alhamdulillah semua sudah berakhir dengan baik.

Hari Kamisnya, polisi datang untuk mencek ketiga sepeda, melihat nomer registrasi dan melaporkannya lewat handy talki. Ternyata ketiga sepeda yang masih ada dirumah saya bukan sepeda curian. Dan sesuai perjanjian hari rabu, maka sepeda tersebut menjadi tanggungjawab
ryugakusei senta (kampus)

Begitu..ceritanya....tegang banget kan....Alhamdulillah banyak hikmah yang didapat dari kejadian tersebut.

1. Kami jadi lebih hati-hati jika menemukan sepeda-sepeda didalam halaman, dikampus atau dijalanan yang dirasakan masih layak pakai. Walaupun tidak ber-tuan, siapa tahu sepeda curian.

2. Mengetahui prosedur penemuan sepeda, yaitu langsung melaporkannya kepada polisi. (kalau gak mau tersangkut, biarin aja..gak usah dibawa pulang..

3. Lebih peduli kepada nomer registrasi sepeda. Siapa tahu mempunyai pengalaman yang sama, sepeda dicuri orang, akan mudah dalam pelacakan.

4. Lebih aman dengan membeli sepeda baru jika memungkinkan. Kalau misalnya diberi orang, harus jelas siapa pemberinya. Misalnya sensei atau chuta (pendamping, biasanya mahasiswa jepang).

5. Jika kemudian kita menjadi tertuduh dalam kasus "pemakaian" sepeda, segera laporkan kepada sensei kita. Di jepang, sensei daigaku itu lebih tinggi loh pangkatnya dibandingkan polisi...(katanya sih....cmiiw)

6. Memberikan sepeda yang ada dirumah atau nemu di kampus (bukan milik kita) kepada orang lain tanpa sepengetahuan polisi, adalah tindakan kriminal...kibishi na.....

Utsunomiya, Juli 06

Catatan :
* Udai : Utsunomiya Daigaku
* Ryugakusei senta : Pusat administrasi Mahasiswa Internasional
* Gakuin : staff universitas
* Totoro : Tokoh film anime jepang (sejenis binatang)
* Jisin : Gempa bumi'
* Keisatsu : Polisi
* kibishi : keras, ketat, berat
* rusuban : tidak bisa dihubungi



anibowo wrote on Jul 21, '06
ummusalma said
4. Lebih aman dengan membeli sepeda baru jika memungkinkan 
makasih ya ceritanya
seru dan menegangkan.....
sebenarnya kalo beli sepeda bekas juga gpp kok
asal belinya di toko sepeda resmi
nanti kita bisa ganti nama sekalian disitu

ummusalma wrote on Jul 21, '06, edited on Jul 21, '06
Iya bener Teh Ani....cuman saya kurang nambahin aja di situ. Makasih dah di ingetin...^_^ setelah kejadian ini tetangga saya juga akhirnya membeli sepeda bekas ditoko sepeda dan dikasih nomer registrasinya. Alhamdulillah dengan kejadian ini banyak yang dapet hikmahnya....:) Makasih dah mampir disini Teh Ani...:x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @ceritaummi

Follow Us @tutiarien