December 24, 2013

Bermain Air di Jungle Waterpark

December 24, 2013 1 Comments
Sudah sejak di Malaysia anak anak merengek ingin berenang di Jungle waterpark. Alhamdulillah hari ini terpenuhi juga.

Bogor sejak saya datang pada hari kamis memang diguyur hujan yang sepertinya awet dari pagi sampai sore.  Namanya juga kota hujan sepertinya anak anak mulai  maklum jika hujan terus.

Buah kesabaran mereka,  akhirnya hari ahad bisa jalan jalan ke sebuah hotel di pakuan,  ikut ketemuan sama temen Umi. Kemudian hari senin jadi jalan jalan ke puncak. Alhamdulillah.

Jungle waterpark berada di sebuah perumahan elit di kota Bogor. Bogor Nirwana Residence namanya. Lingkungan yang asri membuat tempat wisata ini menjadi tujuan wisata keluargayang menyenangkan.

Tiket masuk bisa mendapatkan diskon 35% untuk pemegang kartu ATM Britama junior untuk dua orang. Harga tiket saat ini Rp 95000 untuk waterpark. Kalau tijet terusan 120000 tapi harus antri di loket cinema 4D. Sayang nya saya sudah sdh antri di loket reguler,  malas Jg antri tuk kedua kali. Akhirnya pasrah tiket waterpark aja.

Anak anak semangat banget. Tujuannya kan mmg mau main air. Jadi no problem tanpa minting animasi 4D juga.  ini yang heboh mmg enaknya aja hihi. Tiketnya mehel amat. Saya beli tiket untuk 3 dewasa 7 anak anak.  Sarah karena tingginya blm 80 cm gratis.




December 23, 2013

Mama Malaikatku Tersayang

December 23, 2013 0 Comments

Cerpen ini aku sharing dalam rangka Hari Ibu dan mengenang mamaku yang telah lama tiada. Cerpen yang aku ajukan untuk sebuah antologi cerita ibu, tetapi wallahu'alam sampai hari ini aku enggak nerima laporan kelanjutannya. Jadi, aku share aja di sini. Siapa tahu ada yang sedang belajar membuat cerpen. Semoga bisa dipetik hikmahnya. Cerpen ditulis dalam format TNR (Time New Roman), font 12, ukuran 1,5 spasi.

***


Mama Malaikatku Tersayang
Oleh : S. Widiyastuti

Berbicara tentang Mama, selalu membuatku mengurai air mata. Bagiku Mama adalah malaikat rapuh yang gagah melindungi anak-anaknya, peri-peri kecil titipan dari Rabb sang penguasa jiwanya.
Mama meninggal di usia yang masih muda karena Allah lebih sayang padanya. Jika aku mengingat betapa Mama terlihat gagah, tapi sebetulnya di dalam tubuhnya dia ringkih. Mama begitu rapi  menyembunyikan penyakitnya kepada kami, sampai akhirnya membawanya kembali menghadap  Ilahi Rabbi.
Kejadian yang paling menohok, membuatku sedih dan selalu terkenang adalah ketika Mama menanyakan pasangan hidupku.
Waktu itu, aku baru saja menyelesaikan studiku di Universitas Negeri di Semarang. Aku pulang untuk meminta restu Mama dan mengajaknya untuk menghadiri wisudaku. Tetapi, ternyata Mama tidak bisa melakukan perjalanan jauh. Mama mengidap penyakit Hepatitis tipe B dan harus menginap di Rumah Sakit selama berbulan-bulan. Dan aku baru saja mengetahuinya, hari itu ketika aku pulang untuk memohon restu.
“Sari, kapan kamu akan menikah?” tanya mama dengan suara lemah.
“Belum tahu Ma…”jawabku singkat. Ditanya seperti itu aku gelagapan. Aku tidak berani menatap matanya.
“Kau kan sudah selesai kuliahnya, sekarang tinggal mencari jodohlah.”
“Iya, Ma. InsyaAllah kalau memang sudah ada, pasti akan Sari perkenalkan pada Mama. Sari janji.”
“Kalau sudah ada, bawalah kesini, sebelum mama meninggal…”
“Mama…Mama pasti sembuh Ma. Jangan bilang begitu..insyaAllah kalau sudah ada jodohnya pasti ada yang datang. Suatu hari nanti Mama….” sebetulnya aku sendiri tidak tahu pasti, apa benar jodoh itu akan datang secepat itu?  
Kulihat Mama memandang langit-langit dengan pandangan yang kosong. Aku merasa berdosa sekali. Kudekati dia, dan memeluknya. Kurasakan cairan hangat di dadaku. Mama menangis. Ya Allah, aku pun akhirnya tidak bisa membendung air mata yang jatuh menganak sungai.
“Mama, maafkan aku ya, Ma. Aku bukannya tidak ingin menikah lebih cepat lagi, tetapi aku harus menikah dengan siapa? karena belum ada seorang pun yang datang kepadaku Ma,” bisikku di telinga Mama.
Seminggu aku di rumah, tetapi tidak ada yang aku lakukan untuk Mama. Aku begitu canggung sejak ditanyakan soal jodoh oleh Mama. Kak Wati yang lebih banyak merawat Mama. Dia adalah anak pertama teladan menurutku. Semua beres jika di tangannya. Dan aku heran, kenapa Mama tidak menanyakan kak Wati untuk menikah lebih dahulu? Kenapa harus aku?
Sebelum aku kembali ke Semarang, Mama membuat syukuran kecil untuk wisudaku. Bude, Om dan Tante diundangnya ke rumah untuk merayakan keberhasilanku menyelesaikan kuliah.
Aku sudah mencegahnya karena Mama masih lemah, tetapi Mama begitu sayang padaku dan tidak ingin mengecewakanku karena tidak bisa hadir di wisudaku. Aku memang ingin sekali Mama dan Papa bisa hadir di prosesi wisudaku, tetapi Mama sakit dan aku tidak ingin memaksanya pergi.
Kulihat kebahagiaan terpancar dari wajahnya yang tirus. Mama begitu bangga padaku. Mama juga mengatakan, sebentar lagi Mama akan mendapatkan menantu dariku. Ya Allah, aku tidak sanggup memandang mata-mata bahagia itu. Aku belum tahu apakah memang akan sampai jodohku dalam waktu dekat?
***
            Aku pun akhirnya di wisuda didampingi kak Wati atas restu Mama dan Papa. Aku bahagia sekaligus sedih sekali. Kulirik teman-teman yang berfoto bersama dengan keluarga besarnya, dengan Mama dan Papanya. Tetapi tidak demikian dengan aku. Aku hanya berfoto sendiri dan di foto dengan kak Wati saja.
            Memang ketika di rumah aku sempat membawa toga dan jubah wisudaku dan kami berfoto bersama, tetapi suasananya berbeda.
            “Sari, kok sepertinya kamu tidak bahagia ya?”
            “Kak Wati, kenapa semua orang menyembunyikan sakitnya Mama padaku? Apa aku tidak berhak tahu semua yang terjadi di rumah?” aku meradang pada kak Wati.
            “Sari, itu semua demi kebaikanmu. Mama yang mencegahnya memberi kabar padamu.” cetus Kak Wati tak kalah masygul.
            “Tapi aku berhak mendapatkan kebenaran itu!” kataku tak bisa menyembunyikan kekesalan.
            “Mama tahu kamu sedang menyelesaikan skripsimu dan tidak ingin mengganggu dengan kabar buruk tentang Mama!” imbuh kak Wati dengan nada yang mulai tinggi. “Apa dengan tahu keadaan Mama kamu akan perduli dengan keadaan Mama? Kamu pikir kamu bisa merawat Mama dengan baik? Apa yang sudah kamu lakukan untuk Mama? Apa?” kak Wati mulai berteriak histeris di telingaku.
            “Ya, kak Wati memang benar! Aku memang tidak pernah merawat Mama, tidak pernah membuat Mama senang. Tapi, apakah aku tidak berhak untuk mendengar kabar Mama di saat sakitnya?” aku pun balas berteriak pada kak Wati. Aku menangis dan meninggalkan kak Wati seorang diri.
            Kak Wati memang benar aku memang tidak pernah perduli dengan apa yang terjadi pada Mama. Aku tidak pernah berkata sopan dan lembut pada Mama. Aku begitu manja dan banyak menyakiti hati Mama.
            Tetapi, apakah mereka berhak menjauhkan aku dari Mama? Apalagi ketika Mama sedang sakit. Aku merasa sedih sekali, seolah-olah aku tidak pantas merawat Mama di saat dia membutuhkan perawatan dariku.
            Aku harus segera pulang. Aku tekadkan hati untuk segera kembali ke rumah. Kak Wati besok akan segera kembali ke rumah. Sementara aku harus mengembalikan toga dan jubah. Membereskan segala macam tetek bengek terkait dengan akhir dari studiku.
            Waktu pun seakan berjalan lambat, legalisir ijazah menghisap waktuku untuk segera kembali ke rumah. Argghh, aku benci sekali saat-saat itu. Aku rindu sekali kepada Mamaku. Walaupun aku bisa meneleponnya dan Mama mengatakan bahwa dia semakin merasa sehat, tetapi aku ingin segera bertemu dengannya.
            Akhirnya, setelah 10 hari berjibaku, selesai sudah semua tugasku di Semarang. Ketika aku bersiap-siap membereskan semua barangku untuk di bawa pulang ke rumah. Mbak Dini, ibu kostku mengabari bahwa tadi pagi ketika aku sedang ke kampus, ada telepon dari Bogor, jantungku berdetak kencang. Entah mengapa hatiku berdebar tidak karuan.
            “Sari, yang sabar ya Nduk. Mamamu tadi pagi….”
           “Kenapa dengan Mama mbak? Masuk rumah sakit lagi? Mau ke sini, atau…” kuguncang tangannya tak sabar. Kulihat airmatanya menderas di pipinya. Aku sudah tahu apa yang telah terjadi. Dia peluk aku dengan erat dan berbisik,
            “Nduk, Mamamu telah meninggal tadi pagi, yang sabar ya Nduk….sabarrrr.” katanya sambil mengusap punggungku. Aku terdiam kaku, tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Irma, teman sekamarku mendatangiku dan mengusap lembut punggungku.
            “Sari, semua sudah takdir dan kehendak Allah. Jika kamu pulang segera pun sama saja, tidak ada yang bisa mencegah kematian,” katanya lembut.
            “Tapi Irma, aku ingin sekali merawat Mamaku sebentar saja, aku ingin mengatakan bahwa aku mencintainya. Aku ingin memberikan yang terbaik di sisa hidupnya, Irma.” jawabku penuh sesal.
            “Apa aku tidak berhak untuk itu, Ir?” Aku mulai menangis tersedu-sedu. Rasanya ada yang hilang dalam hatiku mengingat Mama telah tiada.
            “Sudahlah, Sari. Ayo kita sholat Ghaib, do’akan Mamamu dari jauh, semoga menjadi amal shalih baginya.” Irma mengajakku berwudlu dan kami pun shalat Ghaib berdua, di kamar kami yang sempit.
****
            Kulihat gundukan tanah merah dengan bunga yang masih segar di atasnya. Mamaku telah tertanam di sana dan aku tidak sempat memandang wajahnya barang sebentar.
            Di atas pusara itu, aku curahkan kerinduanku padanya, penyesalanku padanya tidak bisa merawatnya ketika sakit.
            Terbayang kasih sayangnya kepadaku ketika aku masih kecil. Mama mengajariku menggambar gunung dan sawah, juga sebuah rumah kecil di tengah sawah yang permai.
Mama juga menguncir dan mengepang rambutku dengan sabar, meskipun aku berlari ke sana ke mari karena tidak ingin di sisir.
            Mama begitu lembut mengajariku membaca dan menulis. Mengajari aku bernyanyi dan bercerita ketika kami akan tidur.
            Mama mengantarku ke sekolah dan menemaniku sampai aku pulang sekolah. Membelaku ketika teman sekolah mengataiku dengan kata-kata yang jelek dan mengelus kepalaku ketika aku menangis karena jatuh.
            “Oh, Mama, kini kau telah tiada. Aku belum melakukan apapun untukmu Mama. Aku sayang Mama, sebagaimana Mama sayang padaku. Terimakasih atas semua kasih dan cintamu Mama, sehingga aku menjadi aku saat ini.”
            Kuusap pusara Mama dengan lembut. Aku tahu Mama tidak akan bangun lagi dan memelukku seperti biasanya. Tetapi aku yakin, semua pengorbanan dan do’a-do’a yang Mama lantunkan untuk kami anak-anakknya, adalah bukti kasih sayangnya pada kami.
***
            Pagi yang cerah, kami membereskan semua barang-barang Mama. Pandanganku tertumbuk pada sehelai bed cover yang terlipat rapi di tempat tidur Mama.
            “Itu untukmu Sari.” Seperti tahu isi hatiku, kak Wati menyodorkan bed cover itu padaku.
            “Mama yang membuatnya ketika sakit,” imbuhnya lagi.
            Kucium lembut bed cover itu, wangi tubuh Mama masih ada di sana. Kulihat coraknya. Abstrak tetapi menarik. Warna-warni seperti pelangi. Seperti patchwork yang selalu aku idam-idamkan. Jahitan tangan Mama.
            “Ah, Mama, terimakasih Mama. Dalam sakitmu, engkau masih ingat padaku.” Kupeluk bed cover itu dengan dada sesak karena menahan tangis. Air mata  seperti enggan berhenti menemaniku bergelung rindu pada Mama.


Ya Allah, sayangi Mamaku, masukanlah dalam Jannah-Mu. #HariIbuKEB


Rewrite, Bogor 23 Desember 2013
Teriring doa anak sholeh kepada kedua orang tuanya
"Rabbighfirli waliwalidayya warhamhumma kama rabbayani shogiro"
"Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil."





December 22, 2013

Ibu, Cinta Tanpa Akhir: Mom is home

December 22, 2013 2 Comments
Mom is home

Mommy's home. 
Now you can open the door. 
Don't be afaid now, not anymore. 
Mom is home. 
She's brought for each one of you strawberry, coated with honeydew.
Only you and I can sing this song that no one knows. 
Listen to each word carefully. 
And before you all come running quickly to the door. 
Be sure the only one you open for is me.
(dari sini )

Mom is Home. Mungkin jika diterjemahkan perkata akan terdengar aneh. Tapi sebenarnya makna yang terkandung di dalam kata kata di atas memiliki makna yang sangat dalam. Sebagaimana home atau tempat perhentian, maka Mama adalah tempat teraman dan ternyaman di dunia ini.

Seperti tadi siang. Saat saya dan suami keluar rumah sebentar untuk mengantarkan sebuah bingkisan kepada seorang kawan. Anak-anak sedang asyik bermain, karena saat itu kami sedang berlibur di rumah orang tua. Saya pun pergi tanpa pamit kepada semua anak-anak, karena saya kira mereka sedang asyik bermain.

TAk disangka, anak keempat saya menangis karena kehilangan saya. Saat saya pulang dari rumah kawan, anak saya langsung memeluk saya dengan erat sambil menangis.

"Umi kemana? Jangan pergi lagi, ya!" katanya.

Ya Allah, saya hanya pergi sebentar dan tak lama. Tapi, anak keempat saya sudah panik takut saya tidak kembali. Padahal saat saya akan pergi, dia sedang asyik bermain dan tidak kelihatan peduli dengan saya :-p

Begitulah anak-anak. Saya pun pernah mengalami hal itu ketika masih kecil kecil dulu.  Saya anak keempat dari tujuh bersaudara. Saya ingat sekali, kebiasaan saya dan saudara-saudara saya sepulang sekolah pasti mencari mama saya jika beliau tidak ada dirumah. Kami tinggal dengan nenek, kalau pulang sekolah mama tidak ada di rumah, pasti kami akan langsung mencarinya. Meski sebenarnya nenek sudah memberitahu ke mana mama saya pergi. Yah, meski sekadar pergi ke rumah tetangga yang hanya terpaut dua rumah, pasti akan kami datangi rumah itu dan memintanya pulang ke rumah. Padahal habis itu, mama kami cuekin hihihi

Ya, saya hanya ingin mama ada di dekat saya. Ada di rumah di mana kami kembali bermain dan berkumpul di dalamnya.

Sekarang, saat kami sudah besar, tidak ada Mama yang bisa kami ajak pulang ke rumah saat kami kembali ke rumah. Karena mama telah tiada. Meski demikian, setiap sudut dalam rumah ini, ada kenangan bersamanya yang selalu menarik kami untuk kembali. Rumah yang membuat kami ingin selalu hadir di dalamnya, menikmati kehangatan dan kebahagiaan di setiap pertemuan.

Sudah empat hari saya berada di rumah orang tua saya. Meski mereka telah tiada, tetapi saya selalu merindukan mama dan papa saya. DI rumah ini penuh dengan kenangan bersama Mama. Rumah yang penuh kenangan bersama mama. Setiap sudut kadang membuatku tertawa, menangis dan tersenyum dalam waktu bersamaan.

I miss you mom. I miss you dad.

Ada dan tiada kalian, kan tetap abadi di dalam hati kami.

Mama is Home. Karena engkau adalah tempat di mana anak anak akan merasa tenang berada di dekatmu.  Merasa aman,  nyaman,  rindu, dan selalu ingin kembali.

Miss you mom ... I really miss you
ini mama dan papa saat mereka menikah :-)

mama dan papa (alm)




Follow Us @tutiarien