September 22, 2015

Pindang Patin

September 22, 2015 32 Comments
Akhir bulan Mei yang lalu, saya dan keluarga kecil saya berkesempatan untuk pulang mudik ke Indonesia. Keluarga besar senang dengan kabar ini, tapi juga bertanya, "Sampai lebaran?"

Sayangnya kami tidak berlibur hingga lebaran tiba. Bukannya tidak ingin. Tetapi namanya kerja, suami tidak bisa ambil cuti panjang. Sementara anak-anak pada waktu itu sedang ada kesempatan libur sekolah dua minggu. Lumayan panjang dibandingkan libur untuk hari Raya yang hanya cuti seminggu. Liburan sekolah cuti tengah semester pertama selama dua minggu. Itupun diperpanjang hingga seminggu, karena tiket pesawat yang murah waktunya melebihi jadwal cuti anak-anak. Jadi total kami berlibur selama 3 minggu di Indonesia.

Kami memesan tiket pesawat sebelum cuti sekolah dimulai. Karena pasukan saya banyak, dua dewasa dan lima anak yang kesemuanya bayar penuh, suami mencari tiket pesawat yang murah dan fasilitas yang nyaman. Alhamdulillah, kami mendapatkan tiket pesawat yang murah meriah.

Pulang ke Indonesia setelah lama memendam rindu pada orang tua dan saudara, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Kepulangan kami ke Indonesia selain bersilaturahim juga mengenalkan anak-anak kepada kakak dan adik kakek neneknya. Apalagi setelah kedua orang tua meninggal, tinggal uwa, paman dan bibi yang kami punya.

Kami pun silaturahim ke beberapa tempat di mana uwa, paman dan bibi tinggal. Tempat yang dituju adalah Bandung, Bogor, Lampung dan Palembang.

Di Bandung kami tinggal selama tiga hari, di Bogor seminggu dan di Lampung dan di Palembang selama tiga hari.

Ketika di Palembang, kami sempatkan silaturahim ke rumah seorang sahabat saya di Johor yang telah kembali ke Palembang. Kemudian kami berjalan-jalan ke Jembatan Ampera. Jembatan yang menjadi kebanggaan warga Palembang.

Setelah itu, kami mencari kuliner khas Palembang. Sahabat saya merekomendasikan sebuah restoran yang berada tidak jauh dari jembatan Ampera. Restoran Sri Melayu namanya. Belakangan, saya baru tahu ada Restoran Sri MelayuJakarta. Ini gara-gara saya buka-buka directory. 

Ini adalah pengalaman pertama saya mencicipi masakan khas Palembang. Sahabat saya memesan Pindang Ikan dan Pindang tulang. Katanya itulah masakan khas Palembang. Saya ragu.  Nah, karena pindang-pindangan ini menu yang baru saya dengar. Saya  sama sekali  tidak makan pindang. Saya lebih menikmati makan nasi putih ditemani ikan gurame bakar. Selain itu kami memesan udang goreng tepung dan ayam goreng. Selain menu ikan-ikanan, di sini juga disediakan nasi goreng dan segala jenis sambal untuk menemani makan.

Ada sambal teri, sambal pete, sambal remis, sambal ikan, sambal tempoyak, sambal telur ikan dan sambal buah. Sayangnya saya dan anak anak bukan pemakan sambal, jadi menu sambal kami abaikan.

Ketika pesanan sampai, saya pun melihat penampakan pindang ikan patin. Ternyata berbeda dengan pindang yang saya bayangkan. Nyesel selalunya belakangan ya. Setelah sampai di rumah Paman kami, saya cerita tentang pengalaman makan di restoran Sri Melayu.

Keesokan harinya Bibi memasak Pindang Patin untuk menyenangkan hati saya. Ternyata cara membuatnya mudah saja. Bumbunya diiris, mirip dengan bumbu Tom Yum, masakan Thailand yang banyak dijual di Malaysia.  Memasak pindang patin tidak memerlukan waktu yang lama. Sekejab saja, pindang patin sudah bisa disajikan.

Saya dan anak-anak makan siang dengan pindang patin. Ya Allah, rasanya mantapp! Kuahnya segar sementara daging ikan patin itu lembut dan berlemak. Anak-anak pun yang tadinya ragu makan pindang patin, makan dengan lahap.

Sampai di Johor, suami terbayang-bayang sedapnya pindang patin buatan Bibi yang asli Palembang. Katanya semua orang Palembang pintar memasak pindang ikan patin.

Demi memenuhi keinginan suami, saya pun mencoba membuatnya meski pun yang pertama sempat gagal membuat pindang patin. Kelamaan merebus ikannya :p

pindang patin gagal (doc.pri)


 Alhamdulillah, setelah eksperimen kedua, saya pun berhasil membuat pindang patin. Yipiiii!
pindang patin oishi (doc.pri)



Kata suami, pindang patin yang saya buat lumayan sudah mendekati rasa aslinya, cuma kurang pedas, kurang daun kemangi dan kurang garam heuheu

Selain itu, di Malaysia tidak ada tomat yang menambah rasa khas Pindang Patin asli Palembang, yaitu tomat cung kediro atau tomat ceri. Warnanya hijau bikin segar. Saya memakai tomat besar, yah, lumayan deh menambah rasa sedap dipadukan dengan nanas yang segar.

Ini resep Pindang Ikan Patin, mungkin ada yang ingin mencobanya juga di rumah.

Bahan:
Ikan Patin satu ekor, bersihkan dan potong-potong menjadi empat bagian.
Jeruk nipis satu sendok makan untuk melumuri ikan
sisihkan

bumbu:
Bawang merah 10butir, iris
Bawang putih 3 siung, iris
2 batang serai, digeprek
2 buah cabe merah, iris
10 buah cabe rawit kampung, biarkan utuh
1 ruas jari jahe, lengkuas dan kunyit, iris
Setengah buah nanas, potong sesuai selera
daun bawang, iris
Tomat ceri
1 ikat daun kemangi
garam dan gula secukupnya
Air satu liter

Cara membuatnya:
Rebus air hingga mendidih, kemudian masukan semua bumbu dan ikan kecuali tomat, daun bawang dan daun kemangi. setelah matang, masukan tomat, daun bawang dan daun kemangi. siap dihidangkan.

Selamat mencoba ^_^


September 16, 2015

Catatan Bagi Perindu Haji

September 16, 2015 9 Comments
Kemarin seperti biasa saya berkumpul bersama ibu-ibu pengajian di lingkungan kampus. Pengajian yang sudah ada sebelum saya tinggal di Johor ini, dikelola oleh ibu-ibu warga Indonesia yang tinggal di dekat lingkungan kampus UTM. Baik itu istri dosen, mahasiswa, dosen yang jadi mahasiswa, istri mahasiswa, maupun dosen di UTM. Semua berkumpul dalam rajutan ukhuwwah yang indah.

Nah, kemarin isi dari pengajian itu membahas tentang keutamaan orang yang berhaji. Sedikit saya bagikan ya di sini, agar saya bisa mengingatnya terus dan bagi yang ikut membacanya jadi sama-sama termotivasi untuk mengejar pahala berhaji.

Ibadah haji adalah salah satu rukun dalam rukun Islam. Sampai Rasulullah SAW menyampaikan dalam sabdanya yang mulia, bahwa bangunan Islam ditegakkan oleh lima perkara, bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah, menegakan shalat, membayar zakat, menunaikan haji dan berpuasa di bulan Ramadhan. (hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Catatan untuk hadits di atas, agar tidak terjadi perdebatan, Imam Nawawi dalam syarah haditsnya menyampaikan, dalam riwayat ini disebutkan haji dahulu baru puasa Ramadhan, hal ini sekadar tertib dalam menyebutkan urut-urutan, bukan dalam hal hukumnya, karena puasa Ramadhan diwajibkan terlebih dahulu sebelum kewajiban haji. dalam riwayat lain, puasa disebutkan terlebih dahulu daripada haji. (Syarah Muslim, I/178,179).

Yang namanya bangunan, maka semua elemen bangunan harus ditegakan sempurna, tidak boleh ada satu tiang yang ditinggalkan. Jika hal itu terjadi, maka bangunan yang sedianya didirikan untuk tegak, akan berdiri tak sempurna. Bisa miring, timpang atau malah ambruk. Karena apa? karena bangunan itu tidak memiliki tiang penyangga yang sempurna.

Begitu juga dengan bangunan Islam, tidak akan berdiri sempurna, ketika penganutnya hanya menegakan satu tonggaknya saja atau bahkan hampir semua tonggaknya tidak ditegakan. Maka tunggulah kehancuran bangunan Islam karena ulah kita sendiri.

Haji, adalah ibadah fardhu 'ain, ibadah yang mengenai hukumnya kepada semua Islam secara individu. Sebagaimana mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat, puasa dan zakat.

Sungguh salah kaprah orang yang mengatakan bahwa ibadah haji hanya untuk orang "the have". Tidak! Ibadah haji adalah ibadah yang diperintahkan merata kepada semua pemeluk agama Islam. Bagaimana mungkin? makan saja susah, apalagi mau naik haji?

Berarti yang ngomong begitu gak inget, bahwa rezeki itu milik Allah.

Kalau tidak percaya browsing deh, betapa banyak orang yang benar-benar niatnya naik haji dimudahkan oleh Allah. Ada seorang nenek dan kakek pedagang singkong goreng yang akhirnya naik haji dengan menabung hasil jualannya selama bertahun-tahun. Pemulung yang naik haji. Kisah-kisah inspiratif yang masyaAllah membuat hati ini jadi penuh rindu kepada Baitullah.

Rasulullah SAW menyampaikan keutamaan orang beribadah haji, bahwa ibadah haji lebih utama dari berjihad. Karena sesungguhnya orang yang beribadah haji sedang berperang melawan hawa nafsunya sendiri. Orang yang beribadah haji agar menjadi haji mabrur dia harus benar-benar melepaskan semua hal keduniawian, harus mau melepaskan semua hal-hal buruk, hal maksiat dan menjadi hamba Allah yang muslih. Ia juga berjihad dengan jiwa dan hartanya.

Makanya keutamaan pahala bagi orang yang beribadah haji tidak cukup hanya dihapuskan dosanya saja, tetapi juga dia akan diberi pahala surga. Orang yang meninggal dalam melaksanakan ibadah haji, akan bersama dengan para syuhada sebagai orang yang mati syahid.

Sabda Rasulullah SAW, "Walhajjal mabruru laysa lahu jazaa'u illaljannah." Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga. (HR Bukhari n0.1773 dan muslim no.1349)

Haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah. Haji yang dilakukan ikhlas karena Allah SWT, tidak tercampuri perasaan riya', atau sekadar ingin disebut "bu hajjah" atau "pak haji". Uang yang dipergunakan untuk pergi haji juga dari pekerjaan yang halal, bukan hasil curang dsb. Ibadah yang benar harus dilakukan dengan benar, di awal, di tengah dan diakhirnya. Semoga menjadi haji yang mabrur.

Ibnu Rajab menyampaikan, tanda diterimanya sebuah amal kebaikan adalah amal kebaikan tersebut dilanjutkan dengan kebaikan. Tanda amal kebaikan tidak diterima, adalah amal kebaikan yang baik dilanjutkan dengan amal kemaksiatan.

Al Hasan Bashri berkata, bahwa balasan untuk orang yang beribadah haji adalah surga. Tanda diterimanya haji (haji mabruron) adalah ketika seseorang kembali dari beribadah haji, ia dalam keadaan zuhud dalam hal dunia dan bersemangat menggapai akhirat.

Inilah doa yang disunahkan oleh Rasulullah SAW untuk para haji yang telah melaksanakan ibadah haji.

"Allahummaj'al hajjan mabruron, wa sa'yan masykuron, wa dzanban maghfuron." Ya Allah anugerahkanlah haji yang mabrur, usaha yang disyukuri dan dosa yang diampuni.

Pada hari itu, kami melepas keberangkatan seorang sahabat kami, Mbak Weni dan suaminya Pak Iyan, untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Semoga dimudahkan segala urusannya mbak Weni dan keluarga. Teriring doa semua menjadi haji mabrur, mendapatkan usaha yang disyukuri dan dosa yang diampuni. Aamiin ya Rabbal Alamin.
 

ibu ibu pengajian muslimah PPI UTM-JB (doc.pri)





September 14, 2015

Onigiri

September 14, 2015 12 Comments
Sudah lama ingin menuliskan segala macam resep dapur yang kerap saya buat di rumah. Sekadar berbagi, beberapa masakan yang mudah cara pembuatannya dan disukai oleh anak-anak.
Terus terang, jika saya ditanya soal masak-memasak yang berbumbu lengkap, saya nyerah. Saya akan menyerahkan mandat sebagai juru masak kepada suami saya tercinta. Yah, kalau dia mau saya bujuk dan rayu buat masak. Kalau dia lagi pengen masakan berbumbu lengkap buatan saya, terpaksa saya masak juga. Sambil grogi dengan rasa dan penampilan masakan hihihi ampun pokoknya mah. Alhamdulillah sih suami ga pernah sampai meringis selama makan :D palingan yang dikeluhkannya, "kurang garam" sambil ambil garam sendiri.

onigiri buatan OmaSri


Hari ini saya ingin berbagi tentang betapa mudahnya membuat onigiri. Dulu, waktu saya kecil juga suka dibuatkan nasi kepal sama nenek. Zaman dulu, nenek masak nasi memakai aseupan, jenis penanak nasi berbentuk kerucut. Nah, diujung penanak nasi itu, nenek akan memberikannya kepada saya dengan cara memberikannya begitu saja atau diberi garam dulu kemudian dikepal-kepal lagi supaya padat membentuk segitiga atau lonjong. Kemudian nenek melapisinya dengan daun pisang. Wangi!

ini dia penampakan aseupan (credit google)


Nah, balik lagi ke onogiri, apa sih yang disebut onigiri ini? Onigiri nasi kepal ala Jepang. Kalau kata orang bule, onigiri are Japanese rice balls. Yah, jangan dibayangin nasi yang dibulet-bulet ya. Itu cuma istilah aja. Onigiri yang biasa saya lihat sih penampakannya itu segitiga dengan ujung yang tidak runcing. Di kenal dalam bahasa Jepang dengan istilah omusubi. Orang Jepang ini kreatif, sampai jenis onigiri ini juga jadi tokoh dalam film anpaman, yaitu Omusubiman.

credit.hummingbird

Onigiri adalah nasi putih yang dikepal, kemudian diberi isi berbagai macam isi sesuai selera (orang jepang mah ga pake oncom ya isinya, itu mah buras heuheu), setelah itu dibungkus dengan nori, bisa seluruhnya dibungkus nori atau hanya dikasih hiasan nori saja.

Orang Jepang biasanya membawa onigiri untuk bekal (bentou). Cara membuatnya mudah dan tidak memerlukan waktu yang lama. Kadang onigiri juga tidak memerlukan isi atau toping. Plain aja gitu. Tapi kita juga bisa memberikan toping atau mengisi onigiri apa saja, tergantung selera kita. Kalau orang Jepang biasanya mengisi onigiri dengan tuna mayones, tuna goreng, umeboshi, dll.

Onigiri dan segala macam sushi ini memang disukai anak-anak saya. Untuk menyenangkan hati mereka, kadang saya turuti keinginan mereka, sekali-kali saya belikan.  Itu pun menunggu pukul 9 malam baru belanja, karena harga sushi sudah didiskon 30-50%, jadi lumayan kalau mau ngeborong. Lha, anak saya lima orang, dengan selera yang bermacam-macam pula. Kalau menuruti keinginan mereka terus, bisa jebol dompet saya yang imut ini. Sudahlah imut, isinya hanya kartu-kartu dan bon-bon bekas belanja :) Lha, anak-anak saya kalau makan sushi atau onigiri, bisa tambah berkali-kali. Apalagi kalau ada furikake (jenis abon kering ala Jepang) mereka nambah berpiring-piring. Seneng sih, tapi kalau furikakenya habis, mau beli di mana coba? di Aeon/Jusco deket rumah kadang ada kadang ga ada (yang halal). #halahjadicurcol

Mengikuti selera makan mereka, saya pun mencoba membuatnya sendiri. Pernah anak-anak bertanya, :"Ummi bisa buat sushi?" saya pun menjawab mantap, "BISA!" heuheu. Halah cuma nasi kepal aja, kan? sambut hati saya, pede.

Beberapa kali saya membuatkan anak-anak saya. Nasi kepal/onigiri, nasi dikepal kemudian dikasih tuna mayo atau sosis, setelah itu saya bungkus dengan nori. Selesai.

Nah, belum lama ini, saat teman saya hendak pergi berhaji, dia memberikan bumbu-bumbu dapurnya. Ketika saya membuka plastik yang diberikannya kepada saya. Ya ampun, dasar alumni jepang juga, yang dikasihin ke saya pun bumbu-bumbu cair, seperti cuka yang dipakai bumbui nasi untuk sushi, soyu, dan olahan ikan untuk steamboat.

Bagai mendapat durian runtuh, saya dan anak-anak saya bersorak. Sebelum pulang saya tak lupa meminta resep sushi yang biasa dia buat. Dan sampai di rumah saya pun membuatnya bersama anak-anak. Onigiri dengan bumbu cuka jepang ini lebih mirip rasa aslinya. Tak sekadar nasi kepal, tapi onigiri.

Inilah resepnya dan beberapa bahan yang perlu dipersiapkan untuk membuat Onigiri Tuna Mayo.

Nasi yang diperlukan adalah nasi yang pulen. Ambil dalam wadah dan dinginkan.
Nori panjang. Gunting sesuai selera.
Cuka untuk membuat sushi.
Satu kaleng tuna mayo.

Cara membuatnya:
Bubuhi nasi dengan cuka sushi. aduk-aduk hingga rata. Basahi tangan dengan air. Kemudian ambil nasi, kepal-kepal dengan kedua telapak tangan. Untuk memasukan tuna mayo sebagai isi onigiri, bolongi tengah onigiri dan masukan tuna mayo. Kepal-kepal lagi. setelah itu, tutup onigiri dengan nori sesuai selera.

Onigiri Tuna Mayo by OmaSri


Untuk lebih jelasnya, silakan layari link ini ya how to make onigiri dan segala hal tentang onigiri.

Eh...tapii ... waktu saya mudik ke Bogor, karena bahan baku terbatas. Saya ajak aja anak-anak jalan-jalan sambil kangen-kangenan sama makanan khas orang Jepang. Sejak ada directory kuliner yang bisa tinggal diklik, alhamdulillah saya bisa menyenangkan hati orang-orang tersayang dengan lebih mudah :-)

Mangga atuh ....

September 02, 2015

Rekreasi ke Pantai Desaru

September 02, 2015 0 Comments
Hari Senin yang lalu libur hari kemerdekaan Malaysia. Saya pun pergi rekreasi dengan keluarga ke pantai Desaru, sebuah pantai yang terkenal di Johor. Pantai laut China Selatan. Namanya hari libur nasional, pantai jadi rame banget. Saya dan kelurga datang kesiangan, pukul 11.30 sampai di lokasi. Yah, biasa deh anak anak sudah dibilangin berangkat pagi, kalau emaknya belum rapi, cantik dan duduk manis di sofa pasti dianggapnya masih lama perginya. Padahal emak banyak yang harus disiapkan. Salah satunya buat bekal buat di tempat rekreasi. Tahu sendiri kan, kalau jajan, dengan 5 pasukan gini bisa jebol dompet emak.

Pak suami pagi pagi sudah bantuin goreng ayam (pak suami memang jago masak, juga jago makan, yang paling penting dia sayang istri dan keluarga ehem). Doi masak dua jenis masakan pula, ayam cutlet dan ayam goreng kres-kres. Emak buat norimaki. Ntar dua resep ini emak share ya. Sekarang kita fokus pada pantai desaru dulu ya dan kegiatan di sana heuheu

Nah, sampailah kita di pantai desaru. Pantai yang memanjang di semenanjung selatan Malaysia, laut lepasnya laut china selatan. Saat itu udara amat panas, angin lumayan kenceng juga, hingga ombak oun menderu-deru. Sesampainya di tepi pantai, sudah banyak orang gelar tikar. Emak pun nyari tempat yang teduh dan dekat pantai. Gak deket deket amat sih, pokoknya sejauh mata memandanga anak anak dan pak suami masih keliatan. Kemudian kita bagi tugas. Emak jaga tiker, Pak suami ngasuh anak anak. Karena yang niat main memang pak suami, dia sudah bawa ganti juga. Emak sih emang males, takut hitam hahhaha jadi jaga tiker aja deh (sebenernya emak ada program lain sama adik adik yang bekerja di sini, nanti ya ceritanya).

Nah, pak suami dan anak anak main air deh. Abis puas main air, S3 anak lanang satu satunya, main layang layang sama pak suami. Seneng dia karena banyak angin di tepi pantai. Enggak kayak di halaman rumah, kudu lari lari nyari angin, sekarang angin ngejarngejar dia heuhei

Setelah capek, kita pun makan makanan bekal yang dibawa dari rumah  dan sholat dzuhur. Alhamdulillah, rekreasi memang membuat hati senang dan ikatan dengan keluarga menjadi tambah rapat. Yang paling penting, pak suami ada waktu main dengan anak anak lebih lama, setelah setiap hari berkutat dengan pekerjaan. Laki laki menjadi keliatan seksi saat dia main sama anaknya lho. Gak percaya? Gih cari deh meme yang katanya ada cewek liat seorang bapak ganteng nyuapin anaknya, terus dia bilang, "Mas, saya juga mau jadi istri kedua." Ih lebay deh hahhaha kalau itu terjadi, singsingkan lengan baju dulu deh, liatin otot emak yang kekar #eh aurat ya, ga jadi deh

Nah, daripada emak ngalor ngidul, udah segitu dulu deh ceritanya. Enak sih nulis di hape, cuman ga enaknya, dia suka scroll ke atas sendiri, jadi capek ngapusnya.

-bersambung-




Follow Us @tutiarien