June 17, 2017

Tips Memilih Permainan yang Aman untuk Anak-anak

June 17, 2017 38 Comments

Bermain. Satu kata yang mungkin adalah kata yang paling membahagiakan bagi anak-anak. Seperti halnya anak saya yag ketiga ini. Kalau minta ijin mau main dengan temannya, pasti menyampaikannya dengan wajah yang berseri-seri.

"Ummi, Abang main ya di lapangan." kata si Abang anak saya yang nomor tiga.
"Dengan siapa mainnya?"
"Sama Ardi!" katanya sambil terus melesat ke lapangan. Lapangan yang jaraknya sepelemparan batu dari rumah saya menjadi tempat favorit anak ketiga saya yang kebetulan laki-laki sendiri di rumah, sebab kakak adiknya perempuan semua. Saya pun mengekori dia sampai di luar dan melihatnya bergabung bermain bola bersama teman-temannya dengan ceria. Hm .. anak lelaki tidak jauh dari main bola, ya!

Terkadang, saat lapangan sepi, seperti siang di bulan puasa begini, si Abang bermain bersama adik-adiknya. Main lempar bola basket di halaman rumah. Kalau sudah begitu, rumah menjadi ramai dengan tawa dan tangis hehhe ada yang tertawa karena menang dan ada yang menangis karena bola luput terus tidak masuk jaring.

Kira-kira masuk enggak ya bolanya?

Menurut artikel yang pernah saya baca, bermain adalah kebutuhan dasar yang diperlukan oleh anak-anak untuk berkembang secara optimal. Dengan bermain anak-anak tidak hanya sehat secara fisik tetapi juga akan berpengaruh pada perkembangan kognitif, sosial dan emosionalnya. Bermain juga menjadi kesempatan yang ideal bagi orang tua untuk terlibat sepenuhnya dalam mendampingi tumbuh kembang anak-anak.

Dulu, waktu saya kecil, masih teringat ibu saya selalu mendapingi kami bermain. Seringnya, saat bermain, ibu mengajarkan menggambar. Mungkin ibu mengharapkan kami duduk tenang tidak berlari-lari ke sana-ke mari. Gambar yang masih saya ingat adalah gambar dua gunung dan bunga dalam vas. Cantik sekali. Hingga akhirnya saat saya besar pun saya mengajarkan anak saya ya gambar kedua benda itu hehhe masa yang sangat berkesan sekali. Ibu saya pun jarang sekali marah kalau saya mulai memanjat pohon jambu air di halaman rumah. Karena ketika saya memanjat pohon sambil membawa buku. "Mau belajar!" dalih saya. Padahal di antara buku pelajaran ada buku cerita hehhe
Saya akan betah duduk berjam-jam di atas pohon, sebab kakak saya membuat rumah pohon sederhana di antara cabangnya. Hingga saya bisa duduk dengan nyaman.

Dari hasil bermain itu, seingat saya, saya jarang sekali sakit. Badan saya kuat dan sehat. Padahal waktu itu saya bermain tidak memakai sandal. Ceker ayam gitu aja deh, sampai akhirnya kaki saya jadi jebrag kata orang sunda mah. Ah, masa kecil yang manis sekali.

Saya kerap menceritakan masa kecil saya kepada anak-anak di segala kesempatan. Sehabis bermain, sehabis melerai anak yang berantem, saat makan atau menjelang tidur. Biasanya mereka antusias sekali mendengarkan. Saya berusaha mendampingi anak-anak dalam segala aktifitas,baik saat bermain atau belajar agar mereka juga merasakan manisnya masa kanak-kanak.

Bukankah bermain dan belajar itu adalah kegiatan yang tidak terpisahkan? 

Bermain dan belajar idealnya berjalan beriringan. Itulah sebabnya ada beberapa hal yang saya pikirkan dalam memilih permainan untuk anak-anak saya. Apalagi anak saya banyak, ada 6 bersaudara dengan selisih usia 2 - 6 tahun. Si sulung 16 tahun, 13 tahun, 11 tahun, 9 tahun, 6 tahun, dan  si bungsu 4 bulan.   Permainan harus bisa dilakukan bersama-sama. Selain itu juga permainan harus aman dan nyaman untuk anak-anak sesuai usianya.

Hal-hal yang saya perhatikan dalam memilih permainan yang aman untuk anak-anak adalah sebagai berikut:

1. Pilih mainan sesuai tahapan usia anak. 

Ketika membeli mainan, yang saya lakukan pertama kali adalah mengecek label. Apakah sesuai dengan usia anak saya atau tidak. Apakah aman atau tidak? Terutama untuk mainan anak usia 4 bulan. Pada saat ini anak sedang suka sekali mengemut atau memasukan benda-benda ke dalam mulutnya. Untuk si bungsu saya memilih mainan yang mudah dicuci dan ada label non toxicnya. Agar anak aman dan nyaman saat bermain.

2. Pilih mainan yang dapat dimainkan bersama-sama.

Untuk mengajarkan kekompakan dan kerjasama di antara anak-anak, ketika membeli mainan saya akan memilih mainan yang bisa dilakukan bersama-sama. Misalnya,  beberapa waktu lalu saya membelikan mainan monopoli yang berbasis syariah. Monopoli Islami. Permainan monopoli ini mengajarkan anak-anak pentingnya berbisnis dan berinvestasi. Sambil bermain juga mereka juga jadinya belajar.
Permainan ini sukses membuat anak-anak yang sedang belajar puasa tidak merengek di bulan puasa ini, sebab perhatiannya sudah teralihkan dengan keseruan permainan ini.

serunya main monopoli 
Pernah suatu kali, anak saya yang nomor 4 berteriak senang kepada saya. Waktu itu saya ikut main tapi ketiduran. Saat sahur dia bercerita dengan antusias.

"Umi, tau tak, awalnya kan Pie jadi orang miskin. Eh, lama-lama Pie jadi orang kaya!" 
"wah ... alhamdulillah ya. Gimana caranya?" tanya saya.
"Pie kan dapat uang dari baitul maal, terus Pie belikan tanah. Terus beli rumah. Abang dan Teteh kalau lewat di rumah Pie jadinya bayar!" katanya menjelaskan. 
"Alhamdulillah! Asyik dong, kalau Umi lewat boleh singgah tak?" saya goda dia.
"Boleh!" katanya mantap hihihi

Tuh kan, anak-anak jadinya belajar. 

Permainan yang bisa dilakukan bersama-sama juga bisa didonlot dari aplikasi di smartphone. Seperti permainan tebak gambar. Seru kalau sudah main barengan. Rumah jadinya ramai terus heuheu Permainan tebak gambar juga memberikan stimulasi pada anak yang baru belajar membaca dan mengingat nama-nama benda dan binatang.

3. Pilih mainan yang awet dan tahan lama.

Alhamdulillah selama ini, mainan anak-anak saya turun temurun. Dari anak satu sampai anak 6 mainannya cuma bertambah beberapa saja. Itu pun karena membeli mainan untuk si Abang karena dia jagoannya sendiri. Lima anak saya perempuan dan mainan mereka masih awet hingga sekarang. Kebanyakan mainan mereka adalah boneka, alat masak-masakan, cetakan playdoh. Mainan juga harus dirawat seperti halnya benda yang lain agar bisa dipergunakan sebagaimana mestinya dan aman dimainkan oleh anak-anak.

4. Pilih mainan yang aman untuk anak-anak.

Jauhkan mainan anak-anak yang bisa mencederai anak. Misalnya pistol mainan dengan peluru, pedang dari kayu, mainan bertali, bola-bola kecil dll yang bisa mencelakai anak yang lebih kecil. Saya kadang kecolongan saat si Abang membeli mainan sendiri di sekolah. Untuk meminimalkan kecelakaan saat bermain saya mewanti-wanti si abang untuk berhati-hati, apalagi lawan mainnya adik-adik perempuan. Jika sudah tidak bisa dikendalikan lagi, mainannya saya simpan dan sembunyikan di tempat yang dia tidak menemukannya. 

Anak saya yang ketiga ini laki-laki dan aktif sekali. Kadang kalau sudah main tidak tahu waktu. Kalau kecapekan dan kekurangan minum, dia demam.

Dulu waktu dia kecil, kalau pas demam, badannya sampai menggigil dan mengigau. Mungkin saking panasnya. Sementara suhu di sekitarnya dingin. Saat itu saya sering cemas karena selalu berulang demamnya sampai usia 7 tahun. Alhamdulillah saat itu saya selalu sedia Tempra Syrup   sehingga dapat meredakan demamnya yang naik turun.

Sekarang usianya sudah 11 tahun, selepas usia 7 tahun si abang sudah mulai kuat dan jarang demam. Nah, sekarang gantian adiknya yang bayi. Sudah 4 bulan ini dia mendapatkan imunisasi dan sepulang imunisasi demam. Saya selalu sedia Tempra yang menemani saya selama ini. Apalagi ada Tempra Syrup drop khusus bayi hingga usia 1 tahun. Alhamdulillah saya tidak perlu cemas lagi ketika si kecil mengalami demam karena ada obat pereda demam yang aman untuk bayi dan anak-anak.

si kecil nyenyak tidurnya setelah demamnya reda

5. Pilih mainan yang dapat mengembangkan motorik halus, motorik kasar, kemampuan kognitif, sosial dan emosionalnya.

Seperti misalnya bermain masak-masakkan atau membuka restoran. Ketika bermain anak-anak belajar bagaimana caranya menuliskan menu, menghitung kembalian, menyapa pelanggan dan lain-lain. Saya suka tersenyum geli ketika saya ikut menjadi costumer. Anak-anak saya itu serius lho kalau main begitu. Meskipun makannya pura-pura tapi ketika menyapa pelanggan, mencatat menu, menyajikan makanan, mempersilakan makan itu seperti sungguhan. Ana-anak memang pembelajar cepat!

Itulah sekelumit pengalaman saya dalam memilihkan anak-anak permainan dan mendampingi mereka dalam bermain.  Semoga dapat menginspirasi!

*Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Tempra yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho. Artikel ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi. Artikel ini tidak dapat menggantikan hasil konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.

June 16, 2017

[Resep] Bubur Merah Gurih dari Nasi Sisa

June 16, 2017 0 Comments

Alhamdulillah, hari ini sudah memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Sebenarnya, saya tidak ingin berhubungan dengan masalah keduniaan sepanjang hari ini, tapi tadi dicolek sama klien (doh klien heuheu), jadi akhirnya buka laptop deh. Lagipula, sejak kemarin sore, saya memang ingin bercerita tentang salah satu menu ifthar di rumah saya. Jadi deh keterusan. Oiya, sudah baca kan curhatan saya tentang nasi kering sisa sahur dua hari yang lalu? Nah, akhirnya kemarin sore akhirnya saya eksekusi deh itu si nasi kering tea menjadi makanan enak ... alhamdulillah jadi tidak membazir makanan.


Tadinya nasi kering itu mau saya goreng aja, terus dikasih gula, kali jadi semacam berondong gitu. Tahu kan berondong jagung? Cemilan jaman saya kecil dulu tuh. Sampai sekarang pun masih suka. Sayangnya sudah jarang menemukan jenis cemilan yang ini. Duh ... jadi kangen :D

Nah, terus kok engga jadi buat berondong? Ceritanya pagi kemarin kakak saya datang, biasalah mengantarkan anaknya yang bungsu main dengan anak saya yang kelima. Mereka seusia dan sama-sama enggak punya kawan di rumah. Jadilah sepupuan ini jadi kawan akrab heuheu kalau enggak ketemu sehari saja kayak cacing kepanasan hihihi

Terus ngobrol deh emak-emaknya sementara anak-anak main.

"Mbak, aku punya nasi kering nih, enaknya diapain ya?" tanyaku.
"Dikasih air aja, jadiin bubur merah!" katanya ringan. Kakak saya ini emang jago masak. Turunan dari ibu saya, pintar masak. Kalau gitu saya keturunan siapa dong? *gring*
"Dikasih air? kan kering? emang bisa jadi bubur?"
"Bisalah ... kan dikasih air, nanti juga dia mateng lagi jadi bubur." katanya sambil memandang saya. Kali dia heran, ini emak-emak anaknya banyak tapi engga bisa masak, terus anaknya dikasih makan apa? Yaelah, bisalah masak yang standar mah, masak nasi, masak sup, goreng tempe tahu #eh
"Terus, kalau sudah jadi bubur, kasih gula merah, garem dikit dan santan. Enak deh!"
"Wah .. good idea! Oke mari kita eksekusi!"

Nah, jadilah saya siang itu masak nasi kering sisa sahur kemarin. Dan jadinya ... wohh memang enak, gurih dan enggak kerasa kalau itu teh dari nasi kering yang enggak dilirik lagi. Memang ya jadi emak-emak harus kreatif, biar tambah berkah rejeki yang dikasih sama Allah.

Nah ini dia resepnya ya.

Bahan:
Nasi kering (cuci bersih, kalau sudah berbau cuci sampai baunya hilang.tiriskan)
Gula merah diiris tipis secukupnya
Garam secukupnya
Daun pandan 2 lembar
air secukupnya

Cara membuat:
1. Masak nasi kering hingga menjadi bubur, jangan lupa cemplung daun pandan biar wangi. Aduk-aduk jangan sampai gosong. (ini saya tragedi nih, ditinggal bikin bekal untuk buka bersama si abang di sekolahnya, buburnya gosong. jadi ada sensasi bau sangitnya dikit sih heuheu malah jadi tambah enyak *kata saya*)
2. Masukan gula merah dan garam. aduk lagi hingga rata.
3. Terakhir masukan santan. Boleh santan bubuk atau santan cair. Saya memakai satu sachet santan bubuk. Rasanya manis gurih. 

Nah, bagaimana? mudah ya membuatnya. Saya juga baru tahu bikinnya mudah ternyata hihihi. Biasanya bubur merah suka disajikan ketika lahir seorang anak dan diberi nama. Bubur merah pasti ada di antara ritual itu bersamaan dengan bubur putih. Suka denger kan kalau ada yang salah nama pasti langsung teriak, woiii .. mana nih bubur merah sama bubur putihnya? aku belom ganti nama hehhe
Hmm .. kalau saya sih enggak pernah bikin merah putih di rumah ketika menamai anak. Hanya pernah tahu saja. 

Baiklah. semoga resepnya berguna ya, terutama buat yang belum pernah mencicipi bubur merah. Selamat mencoba!





June 15, 2017

Ini 5 Isi Parcel Kue Lebaran 2017 Favorit Banyak Orang

June 15, 2017 2 Comments
Hari Raya Idul Fitri atau yang sering disebut dengan Lebaran hadir setiap tahun tepatnya pada 1 Syawal kalender Hijriyah. Hari raya lebaran juga disebut sebagai hari kemenangan yang menunjukkan semua orang berbahagia dan bersuka cita. Jadi saat menjelang lebaran, tidak mengherankan jika banyak orang yang menyiapkan segala sesuatunya untuk hari lebaran. Misalkan membeli kebutuhan seperti pakaian, kebutuhan rumah, dan makanan untuk lebaran. Salah satu menu lebaran yang tidak boleh ketinggalan dan harus ada di meja tamu adalah kue lebaran. Hal ini dikarenakan banyak tamu yang akan datang ke rumah untuk mempererat tali silaturahim. Penasaran apa saja kue lebaran favorit yang dibungkus parcel tahun 2017 ini? berikut ada 5 isi yang ada di dalam parcel kue lebaran 2017.

Kue Favorit 1; Nastar
Kue pertama yang hampir selalu ada pada setiap parcel adalah kue nastar. Kue bulat dengan bentuk kecil-kecil yang berisi selai nanas dengan rasa yang lezat. Kue  ini menjadi pilihan banyak orang ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri. Kue nastar  biasanya berada di dalam toples yang unik untuk hari lebaran.

nastar buah


(Baca juga: Kue Keju Kastengel)

Kue Favorit 2; Putri Salju
Kue kedua yang menjadi pilihan saat merayakan hari lebaran adalah kue putri salju. Kue yang memiliki nama yang unik ini, penampilannya juga lucu karena ditaburi gula bubuk, dan rasanya dijamin enak di lidah. Jadi jangan ragu untuk menyediakan kue putri salju dalam kotak parcel.

Kue Favorit 3; Biji Ketapang
Kue favorit ketiga yang menjadi isi dari parcel lebaran ini berasal dari betawi yaitu kue biji ketapang. Konon, karena bentuk kue ini seperti biji ketapang atau kemiri, sehingga dinamakan biji ketapang. Kue yang satu ini juga wajib ada di isi parcel yang dipesan untuk lebaran.

(Baca juga: Spoon cake sederhana)

Kue Favorit 4; Gabus Keju
Kue berikutnya yang biasa disediakan pada meja tamu rumah adalah kue gabus keju. Kue yang terbuat dari tepung terigu yang dikombinasikan dengan keju ini menghasilkan rasa yang lezat dan renyah ketika dikunyah. Rasa keju pada kue ini juga sangat terasa di lidah.

Kue Favorit 5; Sagu Keju
Kalau sebelumnya ada kue dengan nama gabus keju, berikutnya ada kue yang juga menjadi favorit parcel lebaran yaitu kue sagu keju. Kue sagu keju ini bahan kuenya berasal dari tepung sagu, daun pandan, susu, dan keju yang dijamin akan membuat ketagihan saat suapan pertama.

Itulah 5 kue favorit yang ada pada isi parcel kue lebaran tahun ini. Bisa dipesan langsung kelima kue di atas untuk menambah kebahagiaan di hari lebaran.

June 14, 2017

Cara Mudah Membuat Nasi Liwet Ikan Teri

June 14, 2017 0 Comments

Pagi kemarin saya agak sedih, sebab ada sisa nasi yang mengering di rice cooker yang lumayan banyak juga. Semangkuk. Hm ... Kira kira nasi itu diapain ya? Ada yang punya ide?
Meski banyak senengnya juga, kadangkala di bulan puasa ada saja yang membuat sedih. Yah misalnya seperti makanan yang mubazir, anak anak mulai bosan dengan menu yang itu itu saja. Nasi yang tidak habis atau lauk yang tidak disentuh. Dan nasi kering yang bingung mau diapain 
Sedih sih tapi kan ga boleh kelamaan. Justru saat seperti ini dituntut lebih kreatif lagi agar makanan yang disajikan tetap menambah selera anak dan suami.
Akhirnya saya simpan dulu nasi kering itu di kulkas. Kali setelah ini ada ide daritemen temen jadi olahan baru.
Jadilah kemarin melihat kenyataan itu saya kreasikan nasi yang dimasak biasa saja saya masak nasi liwet. Yah tetap masak di rice cooker lah. Punya bayi tanpa ART mah masak pakai alat yang praktis agar tidak kelamaan di dapur.
Cara membuat nasi liwet ini mudah sekali. Yuk kita coba membuatnya.
Bahan:
5 siung bawang merah
2 buah cabe merah besar
2 lembar Daun salam
2 lembar Daun sereh
Garam secukupnya
Minyak goreng secukupnya
Ikan teri secukupnya
Cara membuat:
1. Iris cabe merah dan bawang merah. Kemudian tumis hingga harum. Tambahkan daun salam  dan daun sereh. Sisihkan.
2. Cuci beras hingga bersih. Masukan bumbu tumis. Tambahkan air secukupnya dan garam. Masak di rice cooker.
3. Ikan teri cuci bersih kemudian goreng. Jangan sampai terlalu garing agar tidak keras. Maklum yang makan bukan cuma orang dewasa, tapi anak anak. Mereka suka rewel kalau keras.
4. Sebelum.nasi matang, masukan ikan teri. tunggu hingga nasi matang. 
5. Sajikan hangat dengan lalapan atau dimakan begitu saja juga enyak banget. Gurihnya itu dari ikan teri. Saya pakai ikan teri cue yang agak besar. Sebesar kelingking. 
Bagaimana? Cukup mudah bukan? 

Tips Praktis Membuat Jilbab Cantik

June 14, 2017 8 Comments
Alhamdulillah, Ramadhan sudah memasuki hari ke-19, insyaAllah sudah mulai terbiasa, ya. Anak-anak, terutama yang usia 9 tahun ke bawah sudah tidak rewel lagi. Sudah tidak nanyain jam melulu. Katanya, pertanyaan yang paling sering ditanyakan anak-anak di awal puasa adalah "sudah jam berapakah sekarang?" "Berapa jam lagi buka puasa?" tinggal emaknya yang jungkir balik ngebujuk hehhe Tapi seperti peribahasa ... badai pasti berlalu (ceila) segala ujian jam akan kelar sendiri. Terbuktikan, sekarang anak-anak sudah tidak rewel lagi sebab sudah mulai terbiasa.

Nah, saat inilah yang paling krusial menurut saya. Engga nanya jam, eh gantian mereka mulai nanyain baju lebaran,

"Mi, kapan beli baju lebaran?" Nah lho hihihi

Belum lagi kalau ada yang minta macem-macem.

"Mi, sekarang seragam lagi ya. macam kita kecik-kecik dulu." Ini kata si KK, Iya, sulung saya yang sekarang usianya 15 tahun, minta seragaman sama adik dan sepupunya. Gara-garanya dia lihat foto dia waktu masih kecil-kecil.

"Nanti kan kita foto lagi macam hari itu, Mi. Best!" katanya lagi heuheu

Aih emak jadi enggak fokus deh jadinya. Harusnya tambah fokus ibadah, ini harus mikirin beli baju lebaran buat anak-anak heuheu

Dan ada lagi selain itu

"Mi, kapan buat kue lebarannya?"
"Abang mau bikin kue cokelat!"
"Piye mau buat kue keju!"
"Sarah pun ... sarah punn !"
Hahhaa rameee ... tinggal emaknya ngitungin bajet. Kalau perlu pecahkan celengan itu! Asyeekk ...

Baca: Cara Membuat Kue Keju Kastengel

Oke, akhirnya kita nyicil deh bikin kerudungnya dulu. Bajunya belakang. Kebetulan anak anak saya ini besar di Malaysia, jadi lebih suka kerudung ala Melayu gitu deh. Praktis dan ekonomis hehehe Betul lho praktis dan ekonomis ini bukan jargon biasa, sebab ternyata tak hanya anak saya yang suka memakai kerudung praktis ini. Tetapi teman temannya pun ikut ikutan pesan minta dibuatkan untuk kerudung sekolah. Alhamdulillah.

Nah, hari ini saya akan share tips membuatnya. Sebab kalau tutorial sepertinya ribeut ya kalau tidak face to face. Emak rempong belum bisa vlog (halah alasan!)

Polanya saya pakai pola kerudung sekolah mereka yang sudah jadi.
Pola 
Bahan yang saya pakai adalah kain wolfis. Wolfis atau woolpeach ini bahan yang sedang naik daun akhir akhir ini. Selain bahannya adem dan ringan, kain ini tidak tembus pandang. Cocok dipergunakan ditempat tropis seperti di Indonesia. Kain wolfis adalah kain yang ditenun dari campuran serat kain katun, serat kain sutra dan tambahan serat sintetis lainnya. Makanya adem, enteng dan cantik warna warnanya.
Credit gamisjilbabsyari.com
Ukuran lebar kain wolfis ada yang 115 cm ada yang 150 cm. Untuk yang lebar 150 cm harga kain wolfis ini pun ramah dompet. Semeter Rp30.000. Untuk membuat satu kerudung diperlukan 1,5 meter. 

Potong bahan mengikuti pola. Kemudian beri tanda dibagian mana jahitan tengah. Kemudian neci. Sebelum menjahit tengah ukur panjang wajah. Biasanya untuk saya dan anak anak ukurannya 24.5 cm - 27 cm. Setelah itu jahit bagian tengah kerudung. Kerudung cantik pun siap dipakai.

Mudah bukan?

Follow Us @tutiarien