February 20, 2018

Ke Jogja Kukan Kembali

February 20, 2018 23 Comments


Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja
Laaa ..la.. laaa ..
(lirik lagu Yogyakarta by Kla Project)

Ya Allah Mam, kok tiba-tiba saya kangen banget sama Jogjakarta. Jadi inget sama lagunya Kla Project jaman saya SMA  hihihi jadoel banget tapi sumpah ngangenin! 

Hmm … Ini kayaknya gara-gara bentar lagi FLP milad yang ke-21 tanggal 22 Februari nanti. Ceritanya saya lagi mellow nih, pengen ke Solo untuk menghadiri milad FLP belum diacc sama Pak Suami proposalnya heuheu.

Oiya, FLP itu kepanjangan dari Forum Lingkar Pena, Mam. Organisasi penulis terbesar di Indonesia. Organisasi kepenulisan ini didirikan oleh Bunda Helvy Tiana Rosa, Bunda Asma Nadia dan Bunda Maimon Herawati.  Alhamdulillah, saya sudah bergabung dengan FLP sejak tahun 2007, jadi rasanya saat milad ini beneran temu kangen bersama kawan-kawan yang tergabung dalam FLP, baik yang ada di Indonesia maupun di belahan dunia lain, maksudnya Luar Negeri ya. 

Tahun 2016 lalu, saat saya masih tinggal di Johor, Malaysia, saya hadir di milad FLP yang ke-19 di Jogja. 

Yey .. sampai juga di Jogjakarta!
Saya berangkat dari rumah pukul 8 pagi, naik pesawat pukul 11.35 dari Bandara Antar Bangsa Senai, Johor Bahru. Sampai di Yogyakarta sekitar pukul 3 petang. Dijemput oleh Mbak Muji, di Bandara Adi Sutjipto, Jogjakarta. Saya menginap  semalam di rumah kostnya mbak Muji (waktu itu mbak Muji masih Ketua FLP WIlayah Jogjakarta) Pondok Pesantren Rabingah Prawoto,  Jalan Gowongan Kidul. Tempat kostnya mbak Muji ini lumayan dekat dengan tempat acara di Auditorium Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). 

saya, mbak Muji (tengah) dan ibu kost yang baik hati
Malamnya saya dan Mbak Muji makan malam di kedai makan ala mahasiswa, Serba Sambel di Jalan Monjali, yah lumayanlah rasanya, padahal saya kangen sama gudeg Jogja hehe. Cuma waktu itu kayaknya sekarang lagi trend waroeng-waroeng begini. Setelah itu, kita jalan-jalan dulu mencari angin ke daerah Tugu Jogja.

Para Putri dilarang pergi sama para Punggawa Kerajaan hihihi
Keesokan harinya, di acara milad FLP ke-19, alhamdulillah, seneng banget bisa bertemu dengan kawan-kawan yang biasanya ketemu di dunia maya, akhirnya bisa jumpa darat juga.

Jumpa Mbak Afifah Afra, Mbak Sinta Yudisia, Mbak Asma Nadia, Mbak Intan Savitri, Kang Irfan, Mas Boim, Mbak Wiwik, Mbak Vira dan bertemu dengan Boss dan rekan saya sedivisi (waktu itu saya staf divisi Humas), Mas Hendra dan Kang Zaki serta banyak lagi yang lainnya.
Seruuu!
Setelah acara milad, kami (pengurus FLP) berkumpul dan menginap di sebuah wisma, lupa nama wismanya. Sepertinya berada disebuah perumahan yang tenang dan tidak jauh dari jalan raya. Ada 3 kamar di bawah dan 2 kamar di atas, 2 kamar mandi dan satu dapur. 

Di rumah ini, kami melakukan koordinasi tiap divisi. Biasanya koordinasi lewat dunia maya, nah, hari itu kami face to face. Alhamdulillah selain mengeratkan tali silaturahim, juga jadi tambah tafahum satu sama lain. 

Pembubaran panitia milad di Kandang Lombok, Jogja.
Keesokan harinya, setelah pembubaran panitia milad, saya sempatkan pergi bersilaturahim ke rumah ibu sekaligus sahabat dan motivator saya waktu tinggal di Jepang. Beliau sangat bersahaja. Alhamdulillah setelah 10 tahun qadarullah bisa bertemu kembali dengan beliau di Jogja.

Ibuku, awet muda banget ^_^

Kemudian, malamnya saya diantar mbak Muji ke Solo silaturahim ke rumah mbak  Afifah Afra. Berdua naik kereta malam dari stasiun Jogjakarta. Alhamdulillah dapat juga tiketnya. 

Stasiun Jogjakarta di malam hari
Saya menginap semalam di rumah mbak Afra. Alhamdulillah bisa mengenal lebih dekat dengan keluarga kecil yang harmonis ini. Semoga bisa berkunjung kembali, bertemu dengan anak-anak yang manis.

Saya dan mbak Afifah Afra beserta putra putrinya yang manis, sholih sholihat.
Saat di Solo, Pak Suami mengabari pesawat yang akan saya tumpangi mengalami keterlambatan. Tapi belum ada email dari pihak maskapai. Jadi saya ketar ketir juga. Mau enggak pulang cepat, kuatir ditinggal pesawat (padahal ditawari jadi tamu di UNS, sharing kepenulisan dengan mahasiswanya mbak Riana, akhirnya batal deh), akhirnya saya tetap pulang pagi itu. 

Kembali dari Solo saya bergegas ke bandara, Sudahlah cepat-cepat pulang enggak sempat beli oleh-oleh, dan ternyata setelah konfirmasi ke pihak maskapai di bandara Adi Sutjipto, Jogja, keberangkatan pesawat saya memang jadwalnya mundur.  Pesawat delay sampai pukul 1 siang dan memanjang hingga pukul 5 sore. 

Akhirnya daripada kesel sendiri, saya ajak mbak Muji jalan-jalan ke Prambanan.

Prambanan setelah diguyur hujan :-)
Nah, tahun ini pengen banget bisa hadir lagi di milad FLP di Solo, jadi bisa jalan-jalan ke Jogjakarta lagi, kan. Karena acara miladnya tanggal 25 Februari nanti, saya tetap berdoa semoga proposal saya diacc sama pak suami. Saking pengennya dari sekarang saya sudah melist apa saja kira-kira oleh-oleh yang bisa dibawa pulang dari Jogjakarta untuk keluarga dan saudara. Bahkan saya bertanya-tanya ke teman-teman yang tinggal di Jogja lho, namanya juga usaha, siapa tahu diacc,  iya gak. 

Mam, ternyata oleh-oleh dari Jogjakarta itu banyak! Jadi mupeng hihihi  Saya sampai niat banget  mencari Info oleh oleh khas Jogja di Blog Traveloka 

Dan inilah oleh-oleh yang saya ingin banget, hasil rekomendasi dari teman-teman saya dan hasil browsing dari blog Traveloka di atas:

1. Bakpia.

Sekarang, Bakpia sudah banyak yang memproduksi. Ada Bakpia Pathuk, karena di produksi di daerah Pathuk, Bakpia Kurnia Sari, Bakpia 25 dan 75. Teman saya bilang, sekarang juga ada Bakpia Pojok, bakpia basah juga di daerah Monjali.  Enak dikonsumsi saat masih panas karena namanya juga bakpia basah, jadi gak terlalu tahan lama. 

Isi Bakpia juga ada beberapa jenis, menurut teman saya, bakpia keju di jalan Kaliurang yang paling enak, bakpia kumbu hitam, bakpia isi kumbu kacang hijau, Bakpia mutiara keju, cokelat, matcha dan Bakpia isi ubi ungu. Duhh .. mupeengg. Secara saya suka banget sama yang namanya Bakpia.

2. Yangko

Nah kue ini sejenis mochi. Saya juga sukaaa banget dengan cemilan yang satu ini. Waktu itu pernah dibawain sama Mbak Linda Satibi (penulis cerita anak) mochi isi kacang merah. Enakkk banget. Duh .. jadi inget mochi yang dibuat sama teman-teman di Jepang. Lembut dan kenyal gitu. Bedanya kalau yangko berbentuk kotak-kotak, tapi rasanya mirip lah.

3. Gudeg 

Salah satu makanan favorit saya, salah satunya adalah gudeg. Dulu, waktu SMA, kalau makan di rumah teman yang ibunya orang Jogja pasti disuguhin gudeg. Masaknya khas banget, pake belanga. Itu lho, periuk dari bahan tanah liat. Rasanya enak dan ehmm .. susah diceritain deh sedapnya. Sampai sekarang masih kebayang-bayang. 

Teman saya merekomendasikan Gudeg Bu Citro dan Gudeg Yu Djum. Dan  sekarang saya baru tahu ada gudeg kalengan.  Ini lebih praktis lagi. Asyikkk banget, jadi enggak was-was basi membawa gudeg jarak jauh.

4. Sate Klathak

Kalau yang satu ini mungkin pantesnya dimakan di tempat kali ya. Ini rekomendasi kawan saya, Paman Rima Randi Catono. Kata beliau sate klathak itu tusuknya dari jeruji sepeda (yang masih baru tentunya). Biasanya per paket  hanya  2 tusuk. Bumbunya bawang putih dan garam lalu disajikan bersama kuah gule. biasanya ditambah cemilan cabe dan bawang merah. Rasanya gurih. Jika yang tukang bakarnya pintar, biasanya bisa sedikit crunchy di beberapa bagian dagingnya dan matang merata sampai ke dalam.  Sate ini patut dicoba!

Selain makanan, saya juga pengen jalan-jalan ke Candi Borobudur dan berbelanja di Pasar Beringharjo. Dulu jaman masih kuliah pernah beli tas di pasar ini murah banget.  Siapa tahu sekarang pun masih sama hehhe

Oiya, satu lagi, kata kawan saya, oleh-oleh Jogja  yang paling ngangenin itu adalah Kenangan! Hihihi Betul juga. Saya kangen banget sama kenangan waktu di Jogya dulu. Kangen sekangen kangennya! 


Follow Us @tutiarien