Oktober 24, 2011

# curhat bunda # Motivasi Menulis

Mati Gaya gara-gara Pudel

Tulisan ini menjadi pemenang dalam Lomba Menulis 300 kata "Pengalaman bersama Dosen" yang diadakan oleh Penerbit Grafindo Salamadani dan Penulisnya, Mba Nurul Asmayani, Dkk. Terimakasih ya mba...:-) Alhamdulillah, berkah ngejemur pakaian hehhehe, akhirnya nemu ide setelah liat daster hihihihi.





Pernah mati gaya gara-gara ulah pudelnya sang Dosen? Aku pernah. Duhhh, kalau ingat itu rasanya ingin sekali aku ngejitak tuh dosen eh…pudel. Biar engga bikin orang panik!

Bu Tati, dosen pembimbing skripsiku. Orangnya cantik, menyenangkan dan blak-blakan. Setiap melihatku dengan jubah dan jilbab panjang, dia langsung komentar,

“Mbok ya ojo dasteran toh bimbingan skripsi. Kowe ayu, mbok lipstikan sitik ben ketok ayu ne.” omelnya nyinyir.Aku pun hanya nyengir dan berdoa semoga tidak banyak revisian.

Doaku terkabul.Tak ada revisi yang berarti dan aku harus menyelesaikan bab terakhir. Kami pun janjian di rumahnya.

“Horee…!” sorakku dalam hati. Bagaimana tidak girang, Bu Tati dosen yang susah sekali ditemui. Aku semakin semangat menyelesaikan bab akhir skripsiku agar dia pun senang hatinya.

Tak kusangka ternyata kedatanganku ke rumahnya justru aku harus menanggung malu.

Sore itu aku mendatangi rumah Bu Tati ditemani temanku yang baru saja mulai bimbingan dengannya.Aku pun memakai baju rok dan blus agar tidak panas kuping mendengar komentarnya. Tiba di rumahnya, aku dipersilahkan duduk di teras.

“Ibu sedang bermain dengan cucunya.” kata si Bibi.

Kulihat anak lanangnya bu Tati sedang bermain bola basket di halaman samping, "Ganteng juga..." batinku, tersenyum.

Aku pun mencoba bersabar dan mengobrol dengan temanku.

Tigapuluh menit berlalu, akhirnya bu Tati keluar juga. Memakai jilbab lilit yang aku perhatikan lebih mirip handuk yang dililit di kepala, dengan make up yang menor, seperti biasanya. Tiba-tiba sesosok mahluk kecil berkelebat mengikutinya di belakang sambil melonjak-lonjak manja. Dia pun menghampiriku SKSD.

“Guk-guk-guk.” salaknya mengagetkanku. Spontan aku berdiri di kursi sambil menjerit-jerit.

“Wuahhh…wuahhh…anjing…anjing…” jeritku ketakutan.

Bu Tati tertawa terkekeh-kekeh, anak lanangnya yang ganteng pun tiba-tiba menghambur bersama teman-temannya sambil tertawa melihat aku dan temanku panik diatas kursi besi.

“Halah, iki ora nyokot. Lucu kan pudelnya?” tawanya mengejekku. Diambilnya pudel kesayangannya dan meninggalkan aku yang masih deg-degan sambil tersipu malu.#

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @ceritaummi

Follow Us @tutiarien