December 03, 2018

# gaya hidup # Jantung Sehat

Hidup Bahagia dengan Jantung Sehat


Hai Moms, apa kabar? Semoga moms dan keluarga selalu dalam keadaan sehat wal afiat ya. Tentu kita tidak pernah lepas dari berita baik dan berita buruk ya, Moms. Begitu juga dengan berita teman yang sakit, kemudian meninggal.  Teman yang meninggal mendadak padahal tidak kelihatan sakit yang menahun.

Moms, tentu kita tidak akan pernah mengingkari takdir ALlah, ya. Karena, kita paham, bahwa rejeki, jodoh, ajal, akhir hidup kita, sudah ditentukan oleh Allah yang Maha Kuasa.

Tetapi, dari buku-buku dan artikel kesehatan yang saya baca, saat ini banyak muncul penyakit degeratif yang berawal dari gaya hidup yang kurang sehat. Seperti misalnya, penyakit diabetes, penyakit jantung, penyakit kanker dan lain-lain.

Tentu penyakit-penyakit degeneratif ini mengurangi kebahagiaan kita bersama keluarga. Sedih sekali jika salah satu keluarga kita sakit. Apalagi jika terkenanya langsung stadium 3 atau 4, seperti apa kesedihan kita, ya.

Contoh paling dekat dengan hidup saya adalah saya pernah berada dalam situasi yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Suami saya pernah berhenti jantung beberapa detik.

Ceritanya, pada tahun 2012, saat kami tinggal di Malaysia. Suatu hari, suami saya mengalami keringat dingin yang kami sebab alergi makanan. Karena suami saya mengalami benjol merah dan gatal di bagian wajah dan belakang punggungnya. Kemudian tidak lama kemudian dia mulai berkeringat dingin dan merasa tidak enak badan. Itu berlangsung selama kurang lebih 7 jam. 

Malam hari, suami saya tidak bisa tidur karena merasa lemas dan perasaan tidak enak. Pukul 3 dini hari, suami saya menelpon temannya minta diantar ke klinik di dekat rumah. Dan saat itu saya sedih banget, kami ada mobil tapi saya tidak bisa nyetir mobil huhuhu Tak lama kemudian, teman suami datang dan mengantarnya ke klinik.

Setelah itu, hubungan ponsel saya dengan suami tidak tersambung. Saya telpon berkali-kali tidak diangkat. Saya tunggu beberapa saat, tapi hingga 3 jam, suami saya sama sekali tidak bisa dihubungi.

Saya terus berdoa semoga suami saya baik-baik saja. Saya semakin cemas, ketika anak-anak menanyakan ayahnya, karena tidak ada ketika anak-anak bangun dari tidur. Saya coba menghubunginya lagi, dan tidak ada kabar.

Hingga pukul 6 pagi, suami saya pulang ke rumah masih dalam keadaan lemas dan saya biarkan suami beristirahat lagi.

Setelah suami agak mendingan, saya mencoba menanyai suami, kenapa telpon dari saya tidak diangkat. 

Cerita dari suami saya, ketika sampai di klinik, alhamdulillah ada dokter jaga. Suami saya pun diperiksa, ketika tengah diperiksa, suami saya pingsan. Dokter membawa suami saya dengan ambulance langsung ke Klinik Universitas yang menjadi afiliasi dari klinik kecil tersebut.

Suami saya masuk UGD dan diobservasi hingga 3 jam. Alhamdulillah suami saya langsung ditangani dengan baik dan Allah memberinya kesempatan hidup kembali. Karena kata suami saya, jantungnya sempat berhenti berdetak selama beberapa detik. MasyaAllah ..

Sungguh, itu adalah pengalaman yang sangat berharga bagi kami. 

Setelah kejadian itu, saya dan suami bekerjasama untuk mengubah pola pemakanan suami saya dan gaya hidupnya. Saya lebih memerhatikan pola makan suami, tidak makan nasi dan memilih havermut atau beras merah untuk mengganti nasi. Memperbanyak sayur dan buah dan mengurangi makanan berlemak dan minyak-minyakkan. Suami saya jadi setengah vegetarian, meski masih makan ikan juga, tapi sedikit.

Memang tidak mudah, sebab suami saya suka makanan berlemak dan gurih, tetapi untuk sehat, dia mau makan buah dan sayuran yang saya sediakan. Kadang juga saya sediakan raw juice dan air rendaman/infuse water lemon. 

Alhamdulillah, sekarang suami saya sudah lebih sehat. Meskipun perutnya tetap gendut tapi tidak segendut dulu. Dia juga rajin olahraga. Dan berat badannya sudah agak turun. 

Menurut pengakuan suami, sejak dia meninggalkan makanan yang enak dan nikmat itu, dan lebih banyak makan buah dan sayuran serta rutin minum infused water, olahraga teratur, dia merasa lebih sehat dan bugar.

Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dengan progress suami saya sejauh ini yang dari hari ke hari semakin sehat. Itulah yang bisa saya lakukan untuk mensupport suami dan keluarga kecil saya. Karena dengan sehatnya salah satu anggota keluarga menjadi sumber dari kebahagiaan kami.

No comments:

Post a Comment

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @tutiarien

Follow Us @tutiarien