Skip to main content

Boys “Born To Kill”


Beruntungnya saya pada hari ahad kemarin, 24 Februari 2013, berkesempatan hadir dalam seminar “K-2 Pintar 2″ Boys and Girls Learn Differently di Dewan MPC Bandar Baru Uda Johor, Malaysia. Pembicara dalam seminar ini adalah seorang pakar dalam ilmu pendidikan anak dan keharmonisan rumah tangga.  Beliau  Ahmad Shafiai Uda atau biasa dipanggil Pak Utih.

Ya, meskipun grogi karena hanya saya yang orang Indonesianya, tapi majoe teroes pantang moendoer. Alhamdulillah, tak hanya ilmu yang saya bawa pulang, saya juga membawa hadiah doorprize. Bertuahnya tiket saya :-D

Anak laki-laki saya memang satu orang, tetapi kerepotannya melebihi mengatur 4 orang anak perempuan saya. Ada saja yang dilakukannya, dari mulai berlari di dalam rumah, lompat-lompat di tempat tidur, memiting adiknya, main superhero dengan handuk bersih yang sudah dilipat, membongkar mainan, membongkar kotak musik saya, melempar-lempar mainan dan banyak lagi. Belum lagi empat senter yang dibongkarnya dan mobil-mobilan yang entah kemana ban-ban mobilnya :-p

Sebagai ibu, saya cukup lelah dengan tingkahnya. Tetapi, sepertinya dia tahu kelemahan saya. Saya suka sekali dipuji dan dibelai dengan kasih sayang. Setelah dia melakukan kesalahan, maka dia akan memeluk saya dan mengatakan “Umi, Abang sayang Umi.” Hati ibu yang mana yang tidak akan meleleh?

Berkali-kali saya marah, berkali-kali pula saya sayang anak laki-laki saya. Dan pada hari Ahad kemarin, saya baru menyadari, bahwa anak laki-laki memang diciptakan seistimewa anak perempuan. Ya, jangan salahkan saya yang yang sudah seumur ini baru sadar hehhe, coba berikan saya salah satu literatur yang membahas tuntas tentang anak laki-laki? yang pernah saya baca hanya membahas secara global mengenai anak perempuan dan laki-laki itu berbeda, tapi tidak diikuti dengan contoh dan perlakuan yang memberikan pemahaman bagaimana memberikan stimulus pada anak laki-laki. Sehingga di dalam pendidikan anak usia dini pun kita khilaf dan melupakan hal yang mendasar itu. Anak laki-laki dan perempuan berbeda.

Contohnya:

1. Seragam sekolah sama, beda disain aja. Seharusnya, seragam anak laki-laki dan perempuan dibedakan. Anak laki-laki itu maskulin, pada usia dini mereka suka sekali menjadi superhero favoritnya.  dan anak perempuan feminim.
2. Mainan anak laki-laki dan perempuan sama. Berikan mainan yang girls friendly dan boys friendly.
3. Anak laki-laki dibiarkan duduk di bagian belakang, padahal mereka memiliki kemampuan menangkap gambar jarak jauh yang rendah dan kemampuan mendengar arahan mulitasking yang rendah pula.

Dan masih banyak lagi hal yang membuat kita marah karena kita tidak tahu, anak laki-laki itu berbeda dari anak perempuan. Kadang kita asyik membanding-bandingkan tanpa mau mencari treatment yang pas untuk menjadikan anak laki-laki itu menjadi hero bagi diri dan lingkungan. Seperti fitrahnya, boys born to kill!

Ah, mungkin terlalu berlebihan ya, jika mengatakan bahwa laki-laki dilahirkan untuk membunuh! Jauh amat, emang lagi perang, Mpok?

Saya share aja ya apa yang sempat saya catat dalam buku catatan saya yang masih jauh dari sempurna. Bisa jadi ada beberapa yang lepas dari pendengaran saya karena seperti biasa, belajar sambil ngasuh anak bungsu, Sarah si comel :-)

Oke, Bismillah …

Tahukah Anda, bahwa seorang anak laki-laki dilahirkan untuk menjadi seorang pejuang atau pahlawan.   jangan heran kalau anak laki-laki kita kalau joget mereka jogetnya gaya silat atau gaya ultra man. begitulah fitrah mereka. Begitu juga ketika bertemu dengan temannya, dia akan bergulat atau silat-silatan. Memang begitulah anak laki-laki.
Anak laki-laki tidak mau kalah. Jika belum berhasil, maka dia akan terus bermain sampai berhasil dan menang!

Anak laki-laki dan perempuan memang berbeda. Dari segi fisik maupun mental. Ini disebutkan di dalam Al Qur’an surat Ali Imran ayat 36 dan surat An Nisa ayat 34. Referensi yang diberikan oleh Pak Utih, salah satunya buku Boys and Girls Learn Differently by Michael Gurian (saya juga jadi penasaran nih :-)) sayangnya belum ada edisi bahasa Indonesianya.

Fakta-fakta pada proses pertumbuhan anak laki-laki:

1. Pada 6-8 minggu pertama otak anak laki-laki akan menghasilkan testoteron 10% lebih banyak dibandingkan anak perempuan.

2. Otak yang duluan matang ketika bayi lahir adalah otak kanan. Testoteron menghambat kematangan otak kanan. Oleh karena itu, banyak yang terjadi anak laki-laki lebih lambat dalam masalah bahasa dibandingkan dengan anak perempuan.

3. Saat lahir, mata anak laki-laki yang berfungsi baik hanya mata sebelah kiri. Begitu juga dengan telinga, hanya telinga kanan.

Anak laki-laki ketika mendengar sebuah suara (misalnya cicak), maka matanya akan menangkap satu obyek itu (cicak). Beda dengan anak perempuan, mereka bisa mendengar beberapa suara sekaligus dan bisa menangkap beberapa obyek dalam waktu bersamaan (wide vision).

Jika diperhatikan baik-baik, bayi laki-laki akan tidur dengan nyenyak jika dia tidur dengan posisi telinga kanan tertindih (menoleh ke kanan).
Kita bisa melihat ke mana lirikan suami kita ketika kita makan sekalipun di restoran, karena perempuan bisa melihat lebih luas daripada laki-laki :-D

4. Otak laki-laki diibaratkan sebuah kotak. Dia hanya bisa memuat satu arahan. Maka, ketika dia mendengar ibunya/gurunya memberikan arahan terlalu banyak (apalagi dengan ngomel), maka dia tidak akan bisa menyerapnya dengan baik. Mereka membutuhkan waktu 10 menit untuk menyiapkan  kotak baru untuk tugas baru. Jadi berikan jeda dulu sebelum mereka melakukan sesuatu.

Oleh karena itu, sarannya:
- berikan tugas satu per satu.
- bertanya dan sertai dengan jawaban obyektif. misalnya, mau mandi atau mau makan dulu (karena ini target yang ingin kita capai).

misalnya: “Abang mau makan dulu atau mandi?”

maka si Abang akan menjawab satu dari dua soalan itu, makan atau mandi. Beda jika kita menanyakan sesuatu tetapi dia tidak tahu jawabannya. Maka dia akan melakukan apa yang dia inginkan saja, main ters misalnya :-)
Begitu juga jika kita titip sesuatu kepada suami, maka sampaikan apa saja yang ingin kita beli dengan catatan. Bukan lewat lisan, karena laki-laki itu mudah lupa. Siap-siap saja kita kecewa karenanya ;-)

Beberapa yang perlu menjadi perhatian pada Anak Laki-laki:

1. Tidak fokus pada ucapan guru/ibu, apalagi ucapannya dengan cara marah dan merepet engga berenti (ngomel). Paling nanti yang diingatnya adalah ibu/guru marah, ngomel!
2. Tidak bisa duduk lama-lama. Maka disarankan untuk di TK, meja tidak dilengkapi dengan kursi. Jika sudah di sekolah menengah, anak laki-laki duduk di deretan depan. Selain bisa fokus pada yang dipelajari, dia bisa melihat dan mendengar dengan baik *tidak salah fokus malah memperhatikan punggung teman-teman yang perempuan :-)
3. Suka belajar 1 subyek satu hari.
4. Tidak suka membaca buku teks banyak-banyak.
5. cepat jemu
6. ketika belajar dia lebih suka praktik daripada mendengarkan.
7. untuk anak-anak yang masih kecil, anak laki-laki akan heran, mengapa dia dipaksa ke sekolah.
8. Untuk mainan, berikan mainan yang girls friedly dan boys friendly, sehingga mereka merasa dihargai keinginnya sebagai anak laki-laki dan anak perempuan.
9. Pagar sekolah sebaiknya pagar jaring sehingga mereka tidak merasa di penjara.
10. berikan aktiviti gambar yang ramah anak laki-laki, misalnya mobil, motor, kereta api, polisi, pilot dll.
11. berikan mainan yang menstimulasi motorik halus dan kasarnya, misalnya blog atau lego. Saat membuat blok, otaknya bekerja seperti seorang arsitektur. Setelah itu foto hasil karyanya, dan biarkan dia bercerita apa saja tentang proyeknya itu dan tempelkan hasil karyanya di dinding kamar atau di dinding kelas. dia akan bangga dan begitu berharga.
12. Karate. Benarkan anak laki-laki main silat-silatan bersama teman-temanya. Karena itulah yang mereka lakukan dalam membina persahabatan (mungkin  ada kaitannnya dengan yang suka tawuran itu, masa kecilnya ditahan sama ortunya untuk gulat-gulatan, jadi masa kecil kurang bahagia. Ini mungkin lho ya, mungkin :-))
13. Benarkan dia membuat sebah pilihan. Setiap aktivitas, minta pandangannya.
14. Beri peluang dia menjadi ketua/pemimpin, karena semua anak laki-laki pada fitrahnya lahir sebagai pemimpin. Mereka akan suka dan bahagia sekali jika mendapatkan peluang menjadi ketua/pemimpin di kelasnya atau di rumah.
15. Jangan ada tivi atau komputer di sekitarnya (mungkin ini sekali-kali aja kali ya), tapi beri dia lingkungan yang bebas. Sehingga dia bisa mengeksplor alam tanpa batas. Kalau menurut saya sih, mungkin hasil temuan di kebun atau di lingkungan sekolah di asah lagi di rumah dengan mencari apa yang tidak ada di alam yang sebenarnya lewat internet.  karena tahu sendiri kan kota kita sudah tidak ramah anak :-) cmiiw …
16. Hafal Al Qur’an dan lagu-lagu patriotik bersama-sama (dengan teman-temannya). Hal ini akan memberikan keseimbangan antara otak kanan dan otak kiri anak laki-laki.
17. Berikan seragam yang ramah anak laki-laki, baik dari desain maupun warnanya. Lebih baik lagi, jika seragam yang mencirikan anak laki-laki atau sesuai dengan pahlawan yang diidolakannya. Ini tugas orang tua dengan memberikan arahan kepada anak, idola super hero yang bagaimana yang harus diikuti :-)
18. Sediakan kolam renang, meskipun kecil, supaya dia bisa bermain air.
19. berikan stiker bintang untuk anak-anak laki-laki bukan stiker love atau bunga.
20. Berikan doa yang terbaik sehingga anak laki-laki kita menjadi laki-laki pemimpin yang seperti yang kita harapkan. Berjuang untuk kebaikan dirinya, keluarga, agamanya dan bangsanya.

“Rabbanna hablana wa azwajina wazurriyyatina qurrata’ayun waj’alna lil muttaqina imama.
Wahai tuhan kami, kurniakanlah pada kami dari pasangan kami serta zuriat kami ketenangan/ketenteraman, dan jadikanlah kami imam bagi orang2 yg bertaqwa.” (QS 25:74)

Itu saja yang bisa saya sampaikan, mungkin jika ada waktu, saya akan coba share tentang buku yang saya baca tentang “Suami Mempimpin dan Istri mengurus” buah karya Pak Utih. Lewat buku itu, kita akan dipahamkan bagaimana mengawal perasaan kita kepada suami, karena kita tahu apa rahasianya membuat suami mau membantu tugas-tugas di rumah tanpa kita meninggikan suara karena kelelahan dengan tugas rumah yang rasanya tidak pernah berhenti :-)

Wallahu’alam bishawab

Comments

  1. Alhamdulillah dapet ilmu baru. Makasih ya mbak. Calon bayiku jg laki-laki ni insya Allah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. selamat ya mbak Ade .. moga adik bayi sehat selalu :-)

      Delete
  2. Wah makasih banyak mbak sharingnya. Sy punya dua anak laki2 dan memang beneran lho... mumeett...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehhe ... sama mbakk ... di sini satu juga kayak ngasuh lima anak :D

      Delete
  3. saya punya sepasang anak. Memang iya, sih tingkah laku udah pasti beda. Pola asuh saya ke anak-anak pun ada bedanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak ... memang seharusnya begitu, sehingga enggak jadi salah asuhan. barakallah mak Keke Naima :-)

      Delete

Post a Comment

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @tutiarien

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…