Desember 23, 2013

# Bunda Menulis # Cerpen

Mama Malaikatku Tersayang


Cerpen ini aku sharing dalam rangka Hari Ibu dan mengenang mamaku yang telah lama tiada. Cerpen yang aku ajukan untuk sebuah antologi cerita ibu, tetapi wallahu'alam sampai hari ini aku enggak nerima laporan kelanjutannya. Jadi, aku share aja di sini. Siapa tahu ada yang sedang belajar membuat cerpen. Semoga bisa dipetik hikmahnya. Cerpen ditulis dalam format TNR (Time New Roman), font 12, ukuran 1,5 spasi.

***


Mama Malaikatku Tersayang
Oleh : S. Widiyastuti

Berbicara tentang Mama, selalu membuatku mengurai air mata. Bagiku Mama adalah malaikat rapuh yang gagah melindungi anak-anaknya, peri-peri kecil titipan dari Rabb sang penguasa jiwanya.
Mama meninggal di usia yang masih muda karena Allah lebih sayang padanya. Jika aku mengingat betapa Mama terlihat gagah, tapi sebetulnya di dalam tubuhnya dia ringkih. Mama begitu rapi  menyembunyikan penyakitnya kepada kami, sampai akhirnya membawanya kembali menghadap  Ilahi Rabbi.
Kejadian yang paling menohok, membuatku sedih dan selalu terkenang adalah ketika Mama menanyakan pasangan hidupku.
Waktu itu, aku baru saja menyelesaikan studiku di Universitas Negeri di Semarang. Aku pulang untuk meminta restu Mama dan mengajaknya untuk menghadiri wisudaku. Tetapi, ternyata Mama tidak bisa melakukan perjalanan jauh. Mama mengidap penyakit Hepatitis tipe B dan harus menginap di Rumah Sakit selama berbulan-bulan. Dan aku baru saja mengetahuinya, hari itu ketika aku pulang untuk memohon restu.
“Sari, kapan kamu akan menikah?” tanya mama dengan suara lemah.
“Belum tahu Ma…”jawabku singkat. Ditanya seperti itu aku gelagapan. Aku tidak berani menatap matanya.
“Kau kan sudah selesai kuliahnya, sekarang tinggal mencari jodohlah.”
“Iya, Ma. InsyaAllah kalau memang sudah ada, pasti akan Sari perkenalkan pada Mama. Sari janji.”
“Kalau sudah ada, bawalah kesini, sebelum mama meninggal…”
“Mama…Mama pasti sembuh Ma. Jangan bilang begitu..insyaAllah kalau sudah ada jodohnya pasti ada yang datang. Suatu hari nanti Mama….” sebetulnya aku sendiri tidak tahu pasti, apa benar jodoh itu akan datang secepat itu?  
Kulihat Mama memandang langit-langit dengan pandangan yang kosong. Aku merasa berdosa sekali. Kudekati dia, dan memeluknya. Kurasakan cairan hangat di dadaku. Mama menangis. Ya Allah, aku pun akhirnya tidak bisa membendung air mata yang jatuh menganak sungai.
“Mama, maafkan aku ya, Ma. Aku bukannya tidak ingin menikah lebih cepat lagi, tetapi aku harus menikah dengan siapa? karena belum ada seorang pun yang datang kepadaku Ma,” bisikku di telinga Mama.
Seminggu aku di rumah, tetapi tidak ada yang aku lakukan untuk Mama. Aku begitu canggung sejak ditanyakan soal jodoh oleh Mama. Kak Wati yang lebih banyak merawat Mama. Dia adalah anak pertama teladan menurutku. Semua beres jika di tangannya. Dan aku heran, kenapa Mama tidak menanyakan kak Wati untuk menikah lebih dahulu? Kenapa harus aku?
Sebelum aku kembali ke Semarang, Mama membuat syukuran kecil untuk wisudaku. Bude, Om dan Tante diundangnya ke rumah untuk merayakan keberhasilanku menyelesaikan kuliah.
Aku sudah mencegahnya karena Mama masih lemah, tetapi Mama begitu sayang padaku dan tidak ingin mengecewakanku karena tidak bisa hadir di wisudaku. Aku memang ingin sekali Mama dan Papa bisa hadir di prosesi wisudaku, tetapi Mama sakit dan aku tidak ingin memaksanya pergi.
Kulihat kebahagiaan terpancar dari wajahnya yang tirus. Mama begitu bangga padaku. Mama juga mengatakan, sebentar lagi Mama akan mendapatkan menantu dariku. Ya Allah, aku tidak sanggup memandang mata-mata bahagia itu. Aku belum tahu apakah memang akan sampai jodohku dalam waktu dekat?
***
            Aku pun akhirnya di wisuda didampingi kak Wati atas restu Mama dan Papa. Aku bahagia sekaligus sedih sekali. Kulirik teman-teman yang berfoto bersama dengan keluarga besarnya, dengan Mama dan Papanya. Tetapi tidak demikian dengan aku. Aku hanya berfoto sendiri dan di foto dengan kak Wati saja.
            Memang ketika di rumah aku sempat membawa toga dan jubah wisudaku dan kami berfoto bersama, tetapi suasananya berbeda.
            “Sari, kok sepertinya kamu tidak bahagia ya?”
            “Kak Wati, kenapa semua orang menyembunyikan sakitnya Mama padaku? Apa aku tidak berhak tahu semua yang terjadi di rumah?” aku meradang pada kak Wati.
            “Sari, itu semua demi kebaikanmu. Mama yang mencegahnya memberi kabar padamu.” cetus Kak Wati tak kalah masygul.
            “Tapi aku berhak mendapatkan kebenaran itu!” kataku tak bisa menyembunyikan kekesalan.
            “Mama tahu kamu sedang menyelesaikan skripsimu dan tidak ingin mengganggu dengan kabar buruk tentang Mama!” imbuh kak Wati dengan nada yang mulai tinggi. “Apa dengan tahu keadaan Mama kamu akan perduli dengan keadaan Mama? Kamu pikir kamu bisa merawat Mama dengan baik? Apa yang sudah kamu lakukan untuk Mama? Apa?” kak Wati mulai berteriak histeris di telingaku.
            “Ya, kak Wati memang benar! Aku memang tidak pernah merawat Mama, tidak pernah membuat Mama senang. Tapi, apakah aku tidak berhak untuk mendengar kabar Mama di saat sakitnya?” aku pun balas berteriak pada kak Wati. Aku menangis dan meninggalkan kak Wati seorang diri.
            Kak Wati memang benar aku memang tidak pernah perduli dengan apa yang terjadi pada Mama. Aku tidak pernah berkata sopan dan lembut pada Mama. Aku begitu manja dan banyak menyakiti hati Mama.
            Tetapi, apakah mereka berhak menjauhkan aku dari Mama? Apalagi ketika Mama sedang sakit. Aku merasa sedih sekali, seolah-olah aku tidak pantas merawat Mama di saat dia membutuhkan perawatan dariku.
            Aku harus segera pulang. Aku tekadkan hati untuk segera kembali ke rumah. Kak Wati besok akan segera kembali ke rumah. Sementara aku harus mengembalikan toga dan jubah. Membereskan segala macam tetek bengek terkait dengan akhir dari studiku.
            Waktu pun seakan berjalan lambat, legalisir ijazah menghisap waktuku untuk segera kembali ke rumah. Argghh, aku benci sekali saat-saat itu. Aku rindu sekali kepada Mamaku. Walaupun aku bisa meneleponnya dan Mama mengatakan bahwa dia semakin merasa sehat, tetapi aku ingin segera bertemu dengannya.
            Akhirnya, setelah 10 hari berjibaku, selesai sudah semua tugasku di Semarang. Ketika aku bersiap-siap membereskan semua barangku untuk di bawa pulang ke rumah. Mbak Dini, ibu kostku mengabari bahwa tadi pagi ketika aku sedang ke kampus, ada telepon dari Bogor, jantungku berdetak kencang. Entah mengapa hatiku berdebar tidak karuan.
            “Sari, yang sabar ya Nduk. Mamamu tadi pagi….”
           “Kenapa dengan Mama mbak? Masuk rumah sakit lagi? Mau ke sini, atau…” kuguncang tangannya tak sabar. Kulihat airmatanya menderas di pipinya. Aku sudah tahu apa yang telah terjadi. Dia peluk aku dengan erat dan berbisik,
            “Nduk, Mamamu telah meninggal tadi pagi, yang sabar ya Nduk….sabarrrr.” katanya sambil mengusap punggungku. Aku terdiam kaku, tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Irma, teman sekamarku mendatangiku dan mengusap lembut punggungku.
            “Sari, semua sudah takdir dan kehendak Allah. Jika kamu pulang segera pun sama saja, tidak ada yang bisa mencegah kematian,” katanya lembut.
            “Tapi Irma, aku ingin sekali merawat Mamaku sebentar saja, aku ingin mengatakan bahwa aku mencintainya. Aku ingin memberikan yang terbaik di sisa hidupnya, Irma.” jawabku penuh sesal.
            “Apa aku tidak berhak untuk itu, Ir?” Aku mulai menangis tersedu-sedu. Rasanya ada yang hilang dalam hatiku mengingat Mama telah tiada.
            “Sudahlah, Sari. Ayo kita sholat Ghaib, do’akan Mamamu dari jauh, semoga menjadi amal shalih baginya.” Irma mengajakku berwudlu dan kami pun shalat Ghaib berdua, di kamar kami yang sempit.
****
            Kulihat gundukan tanah merah dengan bunga yang masih segar di atasnya. Mamaku telah tertanam di sana dan aku tidak sempat memandang wajahnya barang sebentar.
            Di atas pusara itu, aku curahkan kerinduanku padanya, penyesalanku padanya tidak bisa merawatnya ketika sakit.
            Terbayang kasih sayangnya kepadaku ketika aku masih kecil. Mama mengajariku menggambar gunung dan sawah, juga sebuah rumah kecil di tengah sawah yang permai.
Mama juga menguncir dan mengepang rambutku dengan sabar, meskipun aku berlari ke sana ke mari karena tidak ingin di sisir.
            Mama begitu lembut mengajariku membaca dan menulis. Mengajari aku bernyanyi dan bercerita ketika kami akan tidur.
            Mama mengantarku ke sekolah dan menemaniku sampai aku pulang sekolah. Membelaku ketika teman sekolah mengataiku dengan kata-kata yang jelek dan mengelus kepalaku ketika aku menangis karena jatuh.
            “Oh, Mama, kini kau telah tiada. Aku belum melakukan apapun untukmu Mama. Aku sayang Mama, sebagaimana Mama sayang padaku. Terimakasih atas semua kasih dan cintamu Mama, sehingga aku menjadi aku saat ini.”
            Kuusap pusara Mama dengan lembut. Aku tahu Mama tidak akan bangun lagi dan memelukku seperti biasanya. Tetapi aku yakin, semua pengorbanan dan do’a-do’a yang Mama lantunkan untuk kami anak-anakknya, adalah bukti kasih sayangnya pada kami.
***
            Pagi yang cerah, kami membereskan semua barang-barang Mama. Pandanganku tertumbuk pada sehelai bed cover yang terlipat rapi di tempat tidur Mama.
            “Itu untukmu Sari.” Seperti tahu isi hatiku, kak Wati menyodorkan bed cover itu padaku.
            “Mama yang membuatnya ketika sakit,” imbuhnya lagi.
            Kucium lembut bed cover itu, wangi tubuh Mama masih ada di sana. Kulihat coraknya. Abstrak tetapi menarik. Warna-warni seperti pelangi. Seperti patchwork yang selalu aku idam-idamkan. Jahitan tangan Mama.
            “Ah, Mama, terimakasih Mama. Dalam sakitmu, engkau masih ingat padaku.” Kupeluk bed cover itu dengan dada sesak karena menahan tangis. Air mata  seperti enggan berhenti menemaniku bergelung rindu pada Mama.


Ya Allah, sayangi Mamaku, masukanlah dalam Jannah-Mu. #HariIbuKEB


Rewrite, Bogor 23 Desember 2013
Teriring doa anak sholeh kepada kedua orang tuanya
"Rabbighfirli waliwalidayya warhamhumma kama rabbayani shogiro"
"Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil."





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @ceritaummi

Follow Us @tutiarien