August 01, 2006

Berani Menghadapi Resiko Kegagalan

August 01, 2006 0 Comments

Sebelum bicara kegagalan, mari berbicaralah kesuksesan dulu. Tidak ada seorang manusia yang ingin mengalami kegagalan. Setiap manusia pasti ingin merasakan kenikmatan ataupun sesuatu yang dilakukannya berhasil, inilah kesuksesan.
Tapi tidak setiap apa yang dicita-citakan mudah diperolehi, bahkan kandas di tengah jalan.

FAKTOR-FAKTOR (SECARA UMUM) YANG MENDUKUNG KESUKSESAN

1. Faktor Internal
2. Faktor Eksternal

1. Faktor Internal (Pribadi)
Faktor diri kita sendiri, penting untuk memahami apa yang hendak dilakukan untuk yang akan datang.
a.mengeksplorasi diri (self explorate)
bagaimana mengeksplorasi diri, yaitu bagaimana melihat kelebihan atau kelemahan diri. Orang yang mampu mengeksplorasi diri, akan mampu membuat ulasan tentang diri pribadinya.
b. berusaha (self regulate)
Ketika memahami akan dirinya, dia akan mencoba mencurahkan seluruh pikiran, perasaan dan tingkah lakunya untuk berusaha.
c. ilmu
setiap pribadi menyadari dirinya perlu ilmu, karena dengan ilmulah seseorang dapat mencapai kemajuan-kemajuan.
Dari faktor-faktor diri inilah yang melahirkan Keyakinan Diri (Self Convidence)

2. Faktor Eskternal
a. lingkungan (comunication)
Orang yang sukses biasanya mampu bersosialisasi atau mampu berkomunikasi dengan orang diluar diri dia.
b. kerjasama (cooperation)
Keberhasilan seseorang dapat dilihat dengan bagaimana dia mampu bekerjasama dengan orang lain. Atau bagaimana dia dapat bekerjasama dengan pihak luar.
Faktor-faktor diatas adalah kunci membawa seseorang kepada keberhasilan secara umum.

Secara Spesifik (nilai plus bagi Muslim)

Kesuksesan seorang muslim ditandai pada awal kehidupannya dengan adanya ikatan dengan sang Khalik yang terpatri dalam dirinya . Inilah yang bisa disebut Self Qodrati. Apa yang dilakukan semata-mata dalam rangka meraih ridlo Allah SWT
Tolak ukur kesuksesan seorang muslim bernilai ibadah, tidak bisa diukur secara materi. Berbeda dengan tolak ukur kesuksesan umum, yang bernilai material, berupa kekayaan, kekuasaan dan sebagainya.

SUKSES UMUM :
[INTERNAL (KEYAKINAN DIRI) + EKSTERNAL (KOMUNIKASI+KERJASAMA)]
SUKSES SEORANG MUSLIM :
SELF QODRATI (NILAI IBADAH) + SUKSES UMUM[INTERNAL (KEYAKINAN DIRI) + EKSTERNAL (KOMUNIKASI+KERJASAMA)]

BENTUK KESUKSESAN SEORANG MUSLIM
Bentuk Kesuksesan Seorang Muslim, :
1. ada rasa kepuasan, bahwa apa yang dilakukannya dalam jalur yang benar.
2. ada kepasrahan kepada Allah SWT, apa yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT.
3. Tidak melihat hasil akhir dalam bentuk materi, tapi melihat bagaimana usaha untuk mencapai hasil akhir.

BILA MUSLIM MENGHADAPI KEGAGALAN
Bagi seorang muslim bila mengalami kegagalan, hal-hal yang terselip harus diperhatikan, inilah yang disebut instropeksi. Namun bila telah berinstropeksi, apa yang dilakukan telah dalam jalur yang benar, tapi tidak berhasil, maka disinilah letak taqdir. Hal ini berarti tidak semua dapat diraih sesuai kehendak hati.

Dalam Kehidupan sehari-hari terkadang kita sulit melakukan keputusan. Setiap keputusan, pasti ada resiko. Apa yang diputuskan pasti ada keuntungan atau kerugian. Bagi seseorang yang memiliki kriteria-kriteria yang tersebut di atas,
maka orang-orang yang seperti ini adalah orang-orang yang ingin maju.
Dan orang-orang yang ingin maju (yaitu yang memenuhi kriteria-kriteria di atas), akan membuat keputusan yang lebih baik bagi dirinya, meskipun resiko akan dihadapinya. Dan orang yang ingin kesuksesan yang tinggi pasti akan siap menghadapi resiko yang
Kemudian orang yang ingin maju, memiliki kemampuan untuk mengatasi/menghadapi masalah .Dia mampu menghadapi berbagai masalah, dan dia punya tips-tips untuk menyelesaikan masalah.

TIPS PEMBICARA :
Jangan pernah takut untuk mencoba, jangan pernah ragu untuk melakukan usaha yang baik. Kesuksesan dengan usaha yang maksimal merupakan rahmat dari Allah bagi seseorang. Sedangkan kesuksesan tanpa usaha adalah kesuksesan yang semu Kegagalan yang disertai usaha adalah ujian atau tempaan dari Allah SWT. Sedangkan kegagalan tanpa usaha adalah kegagalan yang sebenarnya dan merupakan kerugian.

DISKUSI:
1.Pertanyaan :
Bagaimana menghadapi anak-anak (SD khususnya) yang berorientasi "nilai" dalam tugas belajarnya?
Jawaban:
Sistem di Indonesia, masih ditanamkan dari kecil sudah diajak memahami, bahwa keberhasilan adalah pencapaian nilai yang baik. Padahal banyak kajian telah menjelaskan, kesuksesan seorang anak dilihat tidak saja diliat dari IQ saja. Anak cerdas itu tidak hanya dari segi IQ, tapi juga EQ dan SQ. Pencapaian anak-anak yang mampu mendapatkan nilai yang tinggi, tapi tidak mampu
Terkadang pencapaian EQ dan SQ yang baik, dia mampu mengasah IQ lebih tajam lagi. dan Anak yang demikian adalah anak-anak yang proaktif.
Penanaman sikap ke anak yang berorientasi nilai:
Mereka harus berusaha, dan ditekankan ada kepuasan dari usaha yang dilakukannya.
Sistem di jepang yang perlu dicontoh, anak-anak di didik untuk berkarya dan teamwork.

2.Pertanyaan :
Bagaimana memotivasi diri atau menempa diri tetap semangat setelah mengalami kegagalan?
Jawaban :
Setiap yang telah mengalami kegagalan akan mengalami kesedihan, dengan tingkat kesedihan yang berbeda-beda.
Hal-hal yang dapat memotivasi tetap bersemangat setelah mengalami kegagalan :
a.berfikir positif (positif thinking)
b.bersikap tenang dengan taqorub kepada Allah
c.mendatangi orang-orang yang bijaksana, yang mampu memberikan Jadi pada dasarnya muslim yang mengalami kegagalan, akan tetap bergerak untuk membantu mengurangi ketegangan-ketegangan dirinya dalam menyelesaikan masalahnya.

3. Pertanyaan :
Melihat etos kerja orang jepang, apa yang bisa kita ambil ibroh dari mereka dalam meraih kesuksesan?
Jawaban :
Hikmah dari mereka :
1.Sikap mereka adalah orang-orang yang bekerja. Padahal perintah bekerja adalah perintah dari ALlah bagi setiap muslim.
2.dipersiapkan untuk menghindari kegagalan.
ketika memiliki ilmu, dan memahami faktor-faktor kesuksesan, maka kita coba untuk mengikutinya, supaya berhasil dengan usaha maksimal agar tidak gagal.
3. manajemen
4. disiplin waktu
Tapi ada yang kurang dari mereka adalah RUH/SPIRITUAL.Jika gagal, mereka tidak tahu lari kemana, makanya faktor stress di jepang adalah tertinggi di dunia. Mereka laksana mesin-mesin yang berjalan. Faktor utama dan terutama yaitu spiritual, tidak ada dalam orang jepang.

4. Pertanyaan :
Bagaimana menghadapi kekecewaan teman (karena sesuatu kegagalan yang dilakukan temannya) yang melampiaskan kekecewaannya dengan cara menyakiti perasaan orang lain? (berlaku untuk orang jepang atau orang yang seperti ini)
Jawab :
pahami budaya orang jepang tsb yang demikian, jika paham akan mudah menerima keadaan yang demikian.
bagi orang jepang yang muslim, berikan nasehat tentang kesuksesan yang hakiki, dan makna kata dibalik hikmah. misalnya dengan mengatakan ini bukanlah tujuan akhir, tapi proses pembelajaran dari satu keberhasilan.

5. Pertanyaan :
Diusia berapa, kematangan emosi anak bisa dilihat?
Jawaban :
Kadar ego anak-anak umur balita sangat tinggi, karena anak-anak dibawah umur 5 th proses akalnya tidak berjalan sempurna. Tapi proses untuk pembelajaran emosi sejak kandungan. Karena emosi ibu mempengaruhi anak.
Pada usia 6-7 th dapat diajak bicara secara akal, kita bisa coba untuk mendidik mengendalikan emosi. Maka anak-anak yang agresif dan tenterem, merengek berlebihan, maka perlu diperhatikan emosinya.
Pada umur 8-9 th, anak yang matang emosinya, dia akan berfikir untuk orang lain, atau punya sikap empati.
Kita bisa mengajari empati misalnya makan ditempat umum, ajari menawarkan makanan kepada orang lain, baik kenal atau tidak.
Setiap yang dilakukan anak, ada kontrol dari ibunya, dan komunikasi dari ibunya. Untuk memberikan pemahaman dan menumbuhkan kematangan emosi anak

Catatan: Pembicara : Ibu Yetti Dalimi MABerani Menghadapi Resiko Kegagalan

Cerdas Mendengarkan Hati Nurani

August 01, 2006 0 Comments

"Ingatlah! Bahwa sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging,
apabila ia baik, baiklah seluruh tubuh, dan apabila ia rusak, maka
rusaklah seluruh tubuh, itulah hati." (HR. Bukhari Muslim)

Ada berbagai macam sikap orang yg kita bisa lihat sehari-hari. Ada yg
emosional, ada juga yg bijaksana. Terkadang kita pun merasa bimbang
terhadap hal-hal yg kita lakukan, apakah itu baik atau salah...

Dalam Al Quran ada 3 jenis nafsu yg bisa berada di hati:
1. Nafsu Amarah: Yaitu tidak ada nya rem/ kontrol dalam diri, selalu
mengikuti nafsu.
Misalnya pada anak-anak yg selalu menginginkan semua hal dan akan marah
jika tidak dipenuhi. Hal ini terjadi karena akal mereka belum sempurna.
Bisa juga terjadi pada orang dewasa yaitu orang yg secara intelektual
baik namun melakukan hal-hal yg tidak baik seperti berzinah atau minum
khamar.

Hal-hal yg bisa mengontrol nafsu amarah:
a. membaca Al Quran krn didalamnya ada ketentuan / petunjuk hidup bagi
manusia sehingga kita harus mentadarus serta mentadaburi nya.
b. melaksanakan perintah-perintah Allah SWT karena ada makna yg
terkandung dalam perintah Allah SWT yg tujuannya adalah bagi kebaikan
manusia. Contohnya sholat bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar.

2. Nafsu Lawamah: Yaitu ada kesadaran bahwa yg kita lakukan adalah hal
yg salah namun tidak ada kemampuan utk menghindari atau bentuk lain nya
dalam melakukan perbuatan baik hanya sekedarnya saja padahal memiliki
kemampuan utk lebih baik lagi.

Yg harus dilakuan jika hati kita berada pada kondisi nafsu Lawamah
adalah melakukan taubat nasuha (tidak akan mengulangi lagi)
Menurut Imam Gazali, Taubat harus meliputi 3 hal yaitu:
a. ilmu: kita perlu tahu hal apa saja yg salah/ dosa
b.situasi: kita tahu hal tersebut tidak boleh diulang lagi, kapan pun
dimanapun.
c.aksi: kita berjanji tidak akan mengulangi lagi

Saat bertaubat kita bisa berdoa seperti doa nabi Adam pada surat Al
A'raf :23
"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau
tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah
kami termasuk orang-orang yang merugi".

3. Nafsu Mutmainah: Yaitu keadaan jiwa manusia yg stabil/konsisten dalam
melakuka kebaikan atau dalam tidak melakukan kejahatan. Hatinya tenang
dan tawakal terhadap perintah Allah SWT.

Ciri orang yg memiliki hati yg mutmainah:
a. ada keikhlasan dalam diri sendiri
b. menerima keadaan orang lain
c. mampu mengontrol keinginan sesuai petunjuk dinul Islam
d. mampu bertanggung jawab terhadap beban yg diberikan
f. punya hubungan sosial yg baik dgn manusia lain

menurut Imam Gazali: Manusia lahir dalam keadaan fitrah (kondisi hati yg
mutmainah). Yaitu manusia yg mampu membawa nafsunya utk dikontrol dgn
akalnya dan di sokong oleh keimanan yg kuat serta diwujudkan dalam
perbuatan/amal shaleh.

Akal yg ada pada manusia memiliki kapasitas utk mengenali ayat2 Allah
SWT baik itu manusia muslim atau non muslim. Akal mampu merasakan bahwa
ada Zat berkuasa dalam kehidupan manusia. Tetapi dgn akal saja tidak
cukup. Akal juga perlu petunjuk yaitu Al Quran utk bisa lebih mengenali
Allah dan apa maunya Allah.

Kita juga perlu melakukan proses learning dan trainning
a. membaca Al Quran
b. Dzikir
c. Muhasabah/ Merenung/kontemplasi

Dengan merenung kita melakukan "manajemen qolbu" mengenai jumlah
kebaikan, keburukan dan kesia-siaan yg telah kita lakukan.
Jika kita telah melakukan 20 kebaikan maka jumlahnya perlu ditambah.
Jika kita melakukan 5 keburukan maka jumlahnya perlu dihilangkan
Jika kita melakukan 15 kesia-siaan maka jumlahnya perlu kita kurangi.

Mengapa qolbu/hati perlu kita manajemen dgn baik? karena qolbu ibarat
cermin. Cermin yg bersih maka memantulkan bayangan yg jelas sebaliknya
jika cermin tsb kotor maka pantulan bayangannya juga buram. Jadi hati yg
bersih akan melahirkan pribadi yg baik. Pribadi yg diliputi oleh nafsu
mutmainnah.

Akal pun tidak bisa dipisahkan dengan Qolbu/hati. Di dalam al Quran
banyak kita dapati ayat-ayat yg mengajak manusia utk menjadi mahluk yg
berfikir (Ulil Albab). Akal yg dipenuhi oleh spiritualitas yg baik mampu
mengakualisasikan pemikirannya pada hal-hal yg baik serta bermanfaat
bagi diri pribadi maupun bagi orang lain melalui amal perbuatan.

Untuk itu marilah kita mencapai hati yg diliputi oleh nafsu Mutmainnah
yaitu hati yg tenang dengan dibantu oleh akal kita.

Catatan: Disampaikan oleh

Oleh : Ibu Yetti dalimiCerdas Mendengarkan Hati Nurani