Skip to main content

BERMAIN SAMBIL BELAJAR

Apakah anak-anak kita merasa lelah sehabis bermain seharian? jawabannya bisa  ya, bisa  tidak. Jika permainannya sangat menyenangkan hatinya tentu anak-anak akan berkata "tidak". Dan mungkin dia akan berkata ingin sekali lagi bermain hal yang sama. Tetapi ketika permainannya tidak menyenangkan dia akan menyatakan "iya".

Bermain mempunyai arti sangat penting bagi anak, yaitu untuk memenuhi kepuasan fisik, emosi, sosial dan perkembangan mental, sehingga anak dapat mengekspresikan perasaan tentang kekuatan, kesepian, fantasi ataupun menunjukkan kreatifitasnya.

Teringat ketika saya masih kecil, semua permainan kanak-kanak sudah saya mainkan bersama teman-teman sebaya. Dulu permainan anak-anak beragam sekali, dari mulai lompat tali, main gala asin, mainan rumah-rumahan, masak-masakan, jualan, naik pohon jambu, bermain peran (waktu itu lagi jamannya film 5 sekawan di TVRI), coret-coret jalan beton dengan batu bata, main engkle, dampu...wuahhh kayaknya kenyang banget.

Gedean dikit, mulai jualan beneran. Caranya dengan patungan dengan teman-teman mengumpulkan uang untuk modal. Uangnya untuk modal buat pempek atau asinan. Saat itu kita beneran belajar wirausaha. Lumayan hasilnya untuk berenang. Siapa yang menyuruh??? tidak ada...semua dilakukan karena keinginan spontan anak-anak yang sedang eksplorasi. Satu saat saya juga membantu ibu/nenek untuk berjualan keroket dan kue ali, hasilnya untuk menambah uang jajan atau membeli barang yang diinginkan.

Hasilnya sekarang, jiwa wirausaha sampai detik ini masih aja nempel. Ingin usaha di rumah karena sudah punya 4 buntut yang selalu setia menanti bermain dengan umminya. Juga punya toko online untuk sampingan bunda, sekalian ngumpulin buku-buku bacaan berkualitas untuk anak-anak.

Kembali kepada masalah permainan anak-anak. Hari ini anak-anak masih liburan, sepanjang libur ada saja yang dikerjakan mereka. Seperti ahad kemarin, karena tidak jadi pergi jalan-jalan, mereka memutuskan untuk bermain kemah-kemahan dengan memakai bedcover dan selimut sebagai kemahnya. Mereka berimajinasi saat itu sedang berada dalam suasana diluar rumah. Banyak perlengkapan yang dibawanya, mulai baju ganti, buku bacaan, bentou dan air minum tidak lupa bantal untuk tidur. hmmm...cukup kreatif...

Sayangnya saat ini jarang sekali anak-anak bisa bermain berkelompok seperti saat saya kecil. Tidak bisa menikmati suasana yang menyenangkan ketika berteman dengan cara berkelompok, karena kadang ada akurnya ada berantemnya. Kurang bisa berbagi dengan teman. dirumah mereka bermain berempat. Tapi kakak yang mendominasi semua permainan. kadang juga jadi ada kubu anak Indonesia dan kubu anak jepang. Karena kebetulan anak saya ada yang lahir di jepang dan di Indonesia...:)

Bermain bersama mereka, sama artinya belajar menjadi seorang ibu yang sabar dan bijaksana. Konflik saudara senantiasa mewarnai cara bermain dan belajar mereka. Bahagia jika mereka sedang akur, biasanya ketika bermain suatu permainan yang semua sepakat itu adalah permainan yang seru, misalanya baca buku, main sekolah-sekolahan, melihat CD Cerita Berima Pelangi Mizan, Bermain boneka paus dan ular hadiah dari CERBIN pelangi Mizan, baca Ensiklopedi Bocah Muslim , atau baca CERBIN,...kadang umminya juga jadi ikutan seru, paling keras nyanyinya...hehehe...


Menyenangkan sekali jika rumah kembali kepada fungsinya. Rumah bukan hanya tempat untuk berteduh dan melepas lelah setelah kesibukan harian yang penuh kepenatan. Bagi anak-anak rumah menjadi sarana untuk tumbuh dan berkembang , banyak hal yang anak pelajari dan menjadi sebagai bekal pada tahapan berikutnya. Menyiapkan rumah untuk memenuhi kebutuhan sensori bertujuan membantu orang tua dan anak-anak  memaksimalkan potensi yang dimiliki disamping segala usaha  yang dilakukan diluar rumah.


Tuk 4SN love U all
*Bundanya 4SN*

Comments

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…