Skip to main content

Lomba KMI : Mama, My Inspiring Women


Kuperhatikan wajahnya. Cantik. Dibalut baju PKK hijau dan jilbab senada menambah anggun penampilannya.

“Gak cape apa Ma? Tiap hari keluar. PKK-lah, Posyandu, pertemuan di Balaikota. Jiahh…sibuk banget sih si mama tehhh…” cerocosku waktu itu. Protes.

Mamaku adalah aktivis sejati di RT kami. Beliau tidak hanya aktif di tingkat RT tapi juga sudah sampai tingkat kelurahan, bahkan kotamadya.

Siapa yang tidak kenal “Ibu Jono”?…mamaku itu. Aktif pengajian pekanan, qosidahan, ketua PKK, kader posyandu, kader partai beringin pada zamannya dan masih banyak lagi aktivitasnya yang lain. Istilah teman-temannya, “gak ada bu jono, gak rame”.

Mama juga tidak malu mengajak ibu-ibu dengan mengundang mereka door to door, menjemput mereka satu persatu untuk latihan qosidahan, untuk datang ke posyandu atau pengajian kampung. Bahkan diapun tak sungkan menggunakan corong pengeras suara dari mesjid untuk memanggil ibu-ibu. Kadang malu aku melihat tingkahnya saat itu.

Mamaku yang enerjik dan dinamis ini selain sebagai aktivis, beliau juga pedagang kue home made, kue buatan tangannya yang lentik. Keroket dan donat buatannya istimewa sekali. Kue belum keluar dari rumah, orang sudah mengantri minta bagiannya. Alhasil tidak perlu berpayah-payah menitipkan di warung. Sebetulnya jika mama serius melakoninya, pasti jadi pengusaha sukses. Tapi masa itu, masa yang sangat sulit bagi kami. Uang hasil penjualan pagi hari akan diputar untuk modal jualan esok hari dan makan sehari-hari kami. Sementara gaji papa yang hanya seorang kurir di sebuah Bank Negara selalu tidak cukup setiap bulannya. Jadilah mama memutar otaknya untuk menutupi kebutuhan sehari-hari kami.

“Biar mama tidak stress dirumah, apa salahnya menyalurkan tenaga diluar. Lagipula kegiatan ini kan banyak manfaatnya buat masyarakat disini. Biar tidak digaji mama ikhlas. Lillahi ta’ala”. Ujarnya setiap kali kami protes.

Mamaku memang wanita yang luar biasa. Memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah bisa ia kerjakan sambil mengerjakan pekerjaannya sebagai aktivis posyandu. Beliau mau melayani ibu-ibu yang berkonsultasi padanya bak seorang konsultan. Padahal mamaku sendiri anaknya 7 orang.

“Mama kan produk zaman baheula, belum ada program KB. Lagipula program KB kan bukan artinya harus menyetop punya anak banyak, tapi usaha untuk menjarangkan kelahiran antara satu anak dengan anak yang lain”. kilahnya dengan mantap dan percaya diri.

Mamaku akseptor KB dan ketua posyandu yang cerdas memang. Pantas kelurahan sangat berhutang budi sekali padanya. Catatannya rapi dan selalu menjadi rujukan kelurahan. Berkat jasanya, setiap lomba tingkat kotamadya pasti kelurahanku menjadi juara pertama.

Pantaslah pada suatu saat mamaku mendapatkan penghargaan kalpataru. Penghargaan yang cukup bergengsi pada saat itu. Penghargaan bagi penyelamat lingkungan.

Suatu hari aku pernah memergokinya sedang menangis di dapur. Sambil memasak mama menangis.

Ahhh…ada apa mama. Beban hidupmu memang berat, apalagi anak-anak banyak dan punya karakter yang berbeda satu sama lain. Tuntutan kebutuhanpun semakin hari semakin besar. Apa kenakalan kami yang menjadi dukamu? Atau adakah masalah dengan teman-temanmu?

Aku tidak berani bertanya padamu. Bukan aku tidak perduli padamu, tapi akupun sedih melihatmu bersedih.

Diam-diam akupun menangis di pojok dapur hawu berlantai tanah menghadap ke jalan kereta api. Tidak ada lambaian pada penumpang yang melongok keluar jendela seperti biasanya. Kubiarkan kereta melaju cepat didepanku. Getarannya sampai merasuk dada. Perih.

Kini mamaku sudah tenang di alam baka. Diselimuti kehangatan sang Rabbani. Mamaku wanita tegar dan penuh semangat. Pantas menjadi Kartini di lingkungan kami. Ketika beliau meninggalkan dunia fana ini, seluruh alam menangis untuknya. Serasa tidak percaya ibu yang kuat dan penuh semangat ini kembali ke haribaan Ilahi Rabbi dalam usia yang relatif muda.

Mamaku tidak hanya kartini dilingkungannya tetapi lebih dari itu, mama adalah kartini dalam hidupku.

Dan aku mengikuti jejaknya kini. Aku ingin bermanfaat bagi orang lain dengan amal-amal sholih. Sebagian hidupku aku curahkan untuk peduli kepada sesama. Aku manfaatkan waktuku untuk berkiprah dalam masyarakat.

Kucurahkan segenap potensiku untuk menjadi istri yang sholihah bagi suamiku. Menjadi ibu yang tangguh dan cerdas untuk anak-anakku dan menjadi manusia penuh karya untuk bangsaku.

Semoga Allah SWT meridloi dan amal-amal ini akan sampai juga pahalanya pada Mama. Harapanku, semoga langkahku ini memberikan kesan yang sama pada anak-anakku kelak dalam episode yang berbeda, tapi sarat makna.

Mama…you are my inspiration…..

Johor, 21 april 2011
By:Ummu Salma

Comments

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…