Skip to main content

Mati Gaya gara-gara Pudel

Tulisan ini menjadi pemenang dalam Lomba Menulis 300 kata "Pengalaman bersama Dosen" yang diadakan oleh Penerbit Grafindo Salamadani dan Penulisnya, Mba Nurul Asmayani, Dkk. Terimakasih ya mba...:-) Alhamdulillah, berkah ngejemur pakaian hehhehe, akhirnya nemu ide setelah liat daster hihihihi.





Pernah mati gaya gara-gara ulah pudelnya sang Dosen? Aku pernah. Duhhh, kalau ingat itu rasanya ingin sekali aku ngejitak tuh dosen eh…pudel. Biar engga bikin orang panik!

Bu Tati, dosen pembimbing skripsiku. Orangnya cantik, menyenangkan dan blak-blakan. Setiap melihatku dengan jubah dan jilbab panjang, dia langsung komentar,

“Mbok ya ojo dasteran toh bimbingan skripsi. Kowe ayu, mbok lipstikan sitik ben ketok ayu ne.” omelnya nyinyir.Aku pun hanya nyengir dan berdoa semoga tidak banyak revisian.

Doaku terkabul.Tak ada revisi yang berarti dan aku harus menyelesaikan bab terakhir. Kami pun janjian di rumahnya.

“Horee…!” sorakku dalam hati. Bagaimana tidak girang, Bu Tati dosen yang susah sekali ditemui. Aku semakin semangat menyelesaikan bab akhir skripsiku agar dia pun senang hatinya.

Tak kusangka ternyata kedatanganku ke rumahnya justru aku harus menanggung malu.

Sore itu aku mendatangi rumah Bu Tati ditemani temanku yang baru saja mulai bimbingan dengannya.Aku pun memakai baju rok dan blus agar tidak panas kuping mendengar komentarnya. Tiba di rumahnya, aku dipersilahkan duduk di teras.

“Ibu sedang bermain dengan cucunya.” kata si Bibi.

Kulihat anak lanangnya bu Tati sedang bermain bola basket di halaman samping, "Ganteng juga..." batinku, tersenyum.

Aku pun mencoba bersabar dan mengobrol dengan temanku.

Tigapuluh menit berlalu, akhirnya bu Tati keluar juga. Memakai jilbab lilit yang aku perhatikan lebih mirip handuk yang dililit di kepala, dengan make up yang menor, seperti biasanya. Tiba-tiba sesosok mahluk kecil berkelebat mengikutinya di belakang sambil melonjak-lonjak manja. Dia pun menghampiriku SKSD.

“Guk-guk-guk.” salaknya mengagetkanku. Spontan aku berdiri di kursi sambil menjerit-jerit.

“Wuahhh…wuahhh…anjing…anjing…” jeritku ketakutan.

Bu Tati tertawa terkekeh-kekeh, anak lanangnya yang ganteng pun tiba-tiba menghambur bersama teman-temannya sambil tertawa melihat aku dan temanku panik diatas kursi besi.

“Halah, iki ora nyokot. Lucu kan pudelnya?” tawanya mengejekku. Diambilnya pudel kesayangannya dan meninggalkan aku yang masih deg-degan sambil tersipu malu.

Comments

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…