Skip to main content

Hikaru to tomo ni


Beberapa waktu yang lalu, tanpa sengaja aku melihat sebuah drama keluarga di NTV (nihon televisi).  Tadinya gak gitu "ngeh" dengan judulnya....belakangan, karena penasaran, searching by mbah gugel.... ketemu!! judulnya Hikaru to tomo ni atau diterjemahkan bebas...Bersama Hikaru (cahaya)...versi Eigo-nya With The Light...

Aslinya aku gak gitu suka drama-drama yang ada di TV jepang. Abis kebanyakan kan drama jepang soal pembunuhan atau drama cinta-cintaan gitu aja. Kalau nonton tv juga liat berita or liat acara anak-anak pagi dan sore bareng anak-anak. Tapi drama yang ini beda banget.....

Drama ini terdiri dari 11 episode. Kebetulan aku nonton drama ini di episode ke 8 kana?  hanya 3 kali penayangan dan langsung habis (tamat ceritanya..). Sayang juga gak liat dari awal.....menarik abis deh....
Kenapa menarik? ya...drama ini berkisah tentang keluarga yang diamanahi seorang anak laki-laki yang autis!
Drama ini menyentuh sekali dan membuat ibu-ibu (seperti saya ini nih..) bercucuran airmata....kadang senang...kadang sedih...kadang......
Dan senangnya..drama ini berakhir dengan happy ending.....dan akupun tersenyum bahagia...
Kalau pengen belajar tentang psikologi anak autis tonton deh drama ini. What a lovely drama. Very touching, and meaningful. And I can learn a lot about autism too.

Ceritanya begini...
Ada sebuah keluarga muda, namanya keluarga Azuma. Di tahun ke-empat pernikahannya mereka dikaruniai seorang anak laki-laki, dan diberi nama Hikaru yang artinya cahaya dalam bahasa jepang. Mereka senang sekali dengan kehadiran buah hati mereka.

Sampai suatu hari, ibunya melihat ada yang sesuatu yang berbeda di diri Hikaru.
Ternyata Hikaru autis...!
Dalam drama ini dikisahkan Ibu Hikaru merasa kesulitan dalam memelihara anaknya yang autis  dan hampir frustasi dan kadang tidak tahu harus berbuat apa ketika Hikaru mulai melakukan perilaku yang agresif.

Kemudian ketika Hikaru sekolah (Hikaru sekolah di sekolah anak2 biasa loh...).
Di sekolahnya Hikaru, ibu Hikaru bertemu dengan seorang  guru yang spesial. Ryo sensei namanya. Ryo sensei adalah guru senior,  cerdas dan ter-favorite di sekolah itu.  . Ryo sensei ini mengajar hanya untuk Hikaru saja. Awalnya, sebagaimana anak2
autis lain, Hikaru lebih senang berada di dunianya. Duduk di kolong meja dari mulai datang ke sekolah sampai pulang sekolah. Lama-lama dengan dirangsang dengan berbagai gambar dan aktifitas fisik (gurunya membuat rumah-rumahan dari karton bekas) di depan Hikaru, Hikaru mulai mau berkomunikasi dengan gurunya, walaupun tanpa berbicara.

Hikaru belajar banyak disekolah ini atas bimbingan Ryo sensei. Untuk mengajarkan nama orang dan benda sang guru memberikan gambar
dan ditulisi. Misalnya gambar/foto Papa dan dibawahnya ditulisi papa dll.

Drama ini sangat menyentuh hati Ibu yang sedang mendidik dan membesarkan anaknya,
dan juga para wanita yang ingin menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya dikemudian hari.
Dan...yang pastinya..setiap episode  drama ini, membuat kita tambah sayang
sama anak2 dan tambah bersyukur memiliki anak2 yang normal......

Kalau pengen liat isi ceritanya komplit silahkan liat link ini nih...


http://www.ntv.co.jp/hikari/index2.html

Utsunomiya, 19 September 2006

Comments

Post a Comment

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @tutiarien

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…