November 19, 2012

“Safira, hal begheit an tasbah ukhtun kabir?” tiba-tiba Hayya melontarkan pertanyaan itu. Alisku berkerut. Dia bertanya, maukah aku menjadi kakaknya. Segera kujawab penuh semangat.
“Tentu saja mau, Sayang!” Kupeluk dia. Hayya begitu ringkih dan polos.
“Setelah aku ditinggal kedua orang tua dan adik-adikku, milikku hanya kakek dan nenek. Jika mereka meninggal siapa yang akan menjadi temanku?” katanya lagi, polos. Ada riak air di matanya dan luruh satu-satu di pipinya yang tirus pucat.
Ya, Rabbi, pertanyaan yang menohok sekali. Kupandangi wajah polosnya. Kuusap dengan lembut airmata yang membasahi pipinya.
“Iya Sayang, pasti aku akan menjagamu, insyaAllah. Aku janji!” Tenggorokanku mendadak kering, suaraku parau. Aku menangis. Aku sedih harus berpisah dengannya.
“Berdoa pada Allah ya, agar Allah mempertemukan kita lagi. Kakak akan terus mengirimimu surat. Akan kakak kabarkan pada dunia, bahwa ada engkau, anak yang luar biasa di bumi Palestina, Hayya. Gadis kecil penjual roti yang hebat dan sholihat.“ kataku lagi.
Gadis kecil itu menangis dalam pelukanku. Rasanya enggan melepaskannya dalam kesedihan, sendiri. Betapa beratnya menjadi Hayya, sepulang sekolah, dia mendapati rumahnya sudah porak poranda, dengan ayah dan bunda ditemukan telah tak bernyawa. Begitu juga dengan adik-adiknya. Sungguh peristiwa yang tragis.
“Safira, mengapa mereka, orang-orang Israel membenci kami, bangsa Palestina? Mengapa mereka membunuh Ayah, Bunda dan Adik-adikku? Mengapa mereka menghancurkan rumah-rumah kami? Sekolah kami? Kebun kami? Mainan kami?” Hayya menangis dalam pelukanku.
Entahlah, aku pun tidak tahu jawaban pastinya. Kebencian dan keserakahan itu datang membabi buta, sehingga sudah tidak ada lagi hati nurani di dalamnya.
Kuusap perlahan kepala mungil berselimutkan jilbab putih itu. Anak Palestina yang telah kehilangan segala-galanya. Ayah bundanya, keluarganya, masa kecilnya, kebebasannya. Ada ketakutan dan keperihan diselipan cita-cita yang tinggi untuk kemerdekaan negerinya. Ya Allah, apakah aku sanggup menjadi dirinya?
Aku tak sanggup berkata apa-apa. Lidahku kelu, mulutku tak sanggup menguntai kata lagi. Wajah kami telah basah dengan air mata yang sepertinya enggan mengering. Gadis kecil itu menangis tersedu di dadaku. Tubuh kami sama tergoncang menahan pilu. Entah berapa lama kami dalam posisi seperti itu. Rasanya aku tak ingin meninggalkannya seorang diri lagi.
Perlahan doa terlantun di dalam hatiku. Hayya sayang, semoga engkau dan saudara-saudaramu segera menghirup udara bebas dari penjajahan kaum zionis Israel laknatullah. Benderamu akan berkibar di langit kebebasan. Dan mimpimu bersekolah hingga ke luar negeri akan segera terwujud. Allah bersama orang-orang yang sabar.
Angin gemerisik menyentuh dedaunan pohon jeruk, suaranya syahdu menjadi saksi dua orang yang saling berjanji menjadi kakak dan adik sampai akhirat nanti.

Mau tahu kisah lengkapnya? Silakan pesan bukunya, bisa lewat saya atau ke Kontak untuk order: +6281555714545, +6287857574521 (FLP Saudi Arabia).

Sudah terbit antologi SEMESTA CINTA UNTUK GAZA. Harga Rp 35.000 saja, royalti 100% untuk saudara kita di Palestina.




5 comments

terimakasih sudah mmapir membacanya bunda 37 Mw :-) namanya siapa mbak? salam kenal dari Tuti, ummu salma ^_^

REPLY

Baguus banget mbak, sampai menitik air mataku. Pengen share tapi kagak tahu caranya. Moga Allah Swt memberi perlindungan yang lebih untuk anak2 Palestina....

REPLY

Alhamdulillah, saya menulis cerpen ini setelah melihat tayangan video klipnya maher zein ttg anak palestina yang menggenggam batu untuk menghalau tentara zionis yang naik mobil besi bermortir. Terus saya melihat anak-anak Gaza diwawancara sama media, mereka polos meminta kembali mainan mereka, minta dikembalikan lagi ayah ibunya. Ya Allah, kalau saya ada di antara meereka kayaknya engga mungkin bisa nulis seperti ini :-(

kalau mau share, klik ada dibawah tulisan, kan ada t untuk twitter, f untuk fesbuk, G+ untuk gmail :-)

REPLY

Tri Sapta Mw, Tuti. Menyentuh cerpenmu.

REPLY

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @tutiarien

Sri Widiyastuti . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates