Skip to main content

[CERPEN FAKSI] HAYYA

“Safira, hal begheit an tasbah ukhtun kabir?” tiba-tiba Hayya melontarkan pertanyaan itu. Alisku berkerut. Dia bertanya, maukah aku menjadi kakaknya. Segera kujawab penuh semangat.
“Tentu saja mau, Sayang!” Kupeluk dia. Hayya begitu ringkih dan polos.
“Setelah aku ditinggal kedua orang tua dan adik-adikku, milikku hanya kakek dan nenek. Jika mereka meninggal siapa yang akan menjadi temanku?” katanya lagi, polos. Ada riak air di matanya dan luruh satu-satu di pipinya yang tirus pucat.
Ya, Rabbi, pertanyaan yang menohok sekali. Kupandangi wajah polosnya. Kuusap dengan lembut airmata yang membasahi pipinya.
“Iya Sayang, pasti aku akan menjagamu, insyaAllah. Aku janji!” Tenggorokanku mendadak kering, suaraku parau. Aku menangis. Aku sedih harus berpisah dengannya.
“Berdoa pada Allah ya, agar Allah mempertemukan kita lagi. Kakak akan terus mengirimimu surat. Akan kakak kabarkan pada dunia, bahwa ada engkau, anak yang luar biasa di bumi Palestina, Hayya. Gadis kecil penjual roti yang hebat dan sholihat.“ kataku lagi.
Gadis kecil itu menangis dalam pelukanku. Rasanya enggan melepaskannya dalam kesedihan, sendiri. Betapa beratnya menjadi Hayya, sepulang sekolah, dia mendapati rumahnya sudah porak poranda, dengan ayah dan bunda ditemukan telah tak bernyawa. Begitu juga dengan adik-adiknya. Sungguh peristiwa yang tragis.
“Safira, mengapa mereka, orang-orang Israel membenci kami, bangsa Palestina? Mengapa mereka membunuh Ayah, Bunda dan Adik-adikku? Mengapa mereka menghancurkan rumah-rumah kami? Sekolah kami? Kebun kami? Mainan kami?” Hayya menangis dalam pelukanku.
Entahlah, aku pun tidak tahu jawaban pastinya. Kebencian dan keserakahan itu datang membabi buta, sehingga sudah tidak ada lagi hati nurani di dalamnya.
Kuusap perlahan kepala mungil berselimutkan jilbab putih itu. Anak Palestina yang telah kehilangan segala-galanya. Ayah bundanya, keluarganya, masa kecilnya, kebebasannya. Ada ketakutan dan keperihan diselipan cita-cita yang tinggi untuk kemerdekaan negerinya. Ya Allah, apakah aku sanggup menjadi dirinya?
Aku tak sanggup berkata apa-apa. Lidahku kelu, mulutku tak sanggup menguntai kata lagi. Wajah kami telah basah dengan air mata yang sepertinya enggan mengering. Gadis kecil itu menangis tersedu di dadaku. Tubuh kami sama tergoncang menahan pilu. Entah berapa lama kami dalam posisi seperti itu. Rasanya aku tak ingin meninggalkannya seorang diri lagi.
Perlahan doa terlantun di dalam hatiku. Hayya sayang, semoga engkau dan saudara-saudaramu segera menghirup udara bebas dari penjajahan kaum zionis Israel laknatullah. Benderamu akan berkibar di langit kebebasan. Dan mimpimu bersekolah hingga ke luar negeri akan segera terwujud. Allah bersama orang-orang yang sabar.
Angin gemerisik menyentuh dedaunan pohon jeruk, suaranya syahdu menjadi saksi dua orang yang saling berjanji menjadi kakak dan adik sampai akhirat nanti.

Mau tahu kisah lengkapnya? Silakan pesan bukunya, bisa lewat saya atau ke Kontak untuk order: +6281555714545, +6287857574521 (FLP Saudi Arabia).

Sudah terbit antologi SEMESTA CINTA UNTUK GAZA. Harga Rp 35.000 saja, royalti 100% untuk saudara kita di Palestina.




Comments

  1. Replies
    1. terimakasih sudah mmapir membacanya bunda 37 Mw :-) namanya siapa mbak? salam kenal dari Tuti, ummu salma ^_^

      Delete
    2. Tri Sapta Mw, Tuti. Menyentuh cerpenmu.

      Delete
  2. Baguus banget mbak, sampai menitik air mataku. Pengen share tapi kagak tahu caranya. Moga Allah Swt memberi perlindungan yang lebih untuk anak2 Palestina....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, saya menulis cerpen ini setelah melihat tayangan video klipnya maher zein ttg anak palestina yang menggenggam batu untuk menghalau tentara zionis yang naik mobil besi bermortir. Terus saya melihat anak-anak Gaza diwawancara sama media, mereka polos meminta kembali mainan mereka, minta dikembalikan lagi ayah ibunya. Ya Allah, kalau saya ada di antara meereka kayaknya engga mungkin bisa nulis seperti ini :-(

      kalau mau share, klik ada dibawah tulisan, kan ada t untuk twitter, f untuk fesbuk, G+ untuk gmail :-)

      Delete

Post a Comment

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @tutiarien

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…