Skip to main content

ANDAI AKU MENJADI KETUA KPK

Andai aku menjadi ketua KPK, aku akan mengganti kepanjangan KPK menjadi "KERJA PEMBERANTAS KORUPSI". Kepanjangan ini lebih jelas eksyennya dibandingkan dengan Komisi Pemberantas Korupsi. Saya baru tahu, arti komisi itu di kamus KBBI artinya sekumpulan orang-orang yang berwenang. Berwenang sebagai apa? saya tidak melihat kerja orang-orang yang berwenang dalam KPK ini dengan baik selama ini.

Jika kepanjangan KPK adalah Kerja Pemberantas Korupsi, ini artinya sudah jelas visi dan misinya. Apa yang akan diberantas. Siapa saja yang bekerja di sana. Posisi KPK adalah posisi yang strategis dalam memberantas korupsi di negara kita. Sayangnya, selama ini kerjanya masih kurang fokus pada bagian pemberantasannya.

Fokus KPK adalah memberantas korupsi. Di dalam negara ini ada banyak lembaga yang bisa diajak kerajasama untuk memberantas korupsi, bukan malahan saling adu di tiap lembaga.

Sebagai ketua KPK, saya membuat alur kerja seperti ini:

1. KPK sebagai lembaga staregis yang bekerja sebagai pemberantas korupsi mendengarkan laporan dari masyarakat perihal kasus korupsi di beberapa lembaga pemerintaha.

2. KPK setelah mendengar laporan dari masyarakat, mengolah data dan  meminta kepada detektif di dalam departemen kepolisian (BIN?)  melakukan penyelidikan kepada perusahaan atau departemen yang disinyalir melakukan tindakan kejahatan korupsi yang merugikan negara (bekerjasama dengan departemen lain misalnya lemabaga informasi dan telekomunikasi).

3. KPK membaca laporan dari hasil penyelidikan kepolisian dan mencocokan dengan data yang diterima sebelumnya. Jika departemen/orang yang dilaporkan itu benar bersalah, sekali lagi KPK berkoordinasi dengan kepolisian menangkap pelaku korupsi (bukan menggerebeg sendiri ya ini namanya kerja sendiri :-)) dan bukan wewenangnya kan KPK menangkap penjahat :-)

4. KPK melakukan jumpa press, bahwa telah dilakukan penangkapan tersangka korupsi di departeman anu misalnya, untuk segera dilakukan penyelidikan lebih lanjut dan kasusnya di tangani oleh hakim agung.

5. KPK bersama-sama dengan departemen kehakiman menentukan hukuman mati untuk para koruptor. Bukannya membuat baju tahanan untuk para korupsi, karena itu bukan tugas KPK. Itu tugasnya disainer :-)

Sebagai ketua KPK dan ibu rumah tangga, aku sangat berkewajiban melakukan tugas ini dengan sebaik-baiknya. Aku akan berusaha menyelesaikan suatu pekerjaan pada hari itu juga, agar tidak banyak PR untuk keeesokan harinya. Membuat agenda yang jelas apa yang akan kulakukan untuk hari-hari berikutnya dan tidak kebanyakan muncul di media. Aku tidak  akan pernah melepaskan koordinasi dengan semua lembaga yang terkait kecuali saat cuti melahirkan. Memotong cuti melahirkan sama saja dengan melakukan korupsi untuk diri sendiri kan?

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba BLOG KPK.

Comments

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…