Skip to main content

[Lomba Resensi] Monster Kawai (Monster Lucu)

Monster Merah Jambu By Dian Kristiani

Judul : Monster Merah Jambu
Penulis: Dian Kristiani
Ilustrator: Riska Puspita Sari
Penerbit: Anak Kita
Terbit: Mei 2012
Tebal: 96 Halaman
Harga:
Ukuran: 280x210 mm









Huuuu ... huuu ... haaaa .... 
siapa tuh siapa tuh? 
makhluk berbulu, 
bulu warna merah jambu, 
dia menggeram, 
dia menyeringai, 
siapa tuh siapa tuh? 
Dia monster merah jambu

Itulah penggalan asyik lagu Monster Merah Jambu (MMJ) yang saya dengarkan sambil meresensi buku dongengnya Dian Kristiani. Sementara balita saya, Sarah (2 tahun) menggoyangkan badannya ke kiri dan kanan sambil membawa buku favoritnya ini. Kakaknya Sofi menunjuk-nunjuk, "Ini lagu buku ini. Bang-bang dengerin deh!" hahhaa semua heboh.

Ketika berniat membeli buku Monster merah jambunya, saya menunjukan cover yang cute ini kepada anak-anak saya. Reaksi pertama yang sudah saya duga sebelumnya adalah, "KAWAI!" seru anak-anak. Kawai dalam bahasa Jepang, lucu. Yup, cover dongeng MMJ ini memang menarik, eye catching dan kawai.

Buku ini memang istimewa banget. Baru saja keluar dari sampul cokelat, langsung jadi pusat perhatian Shofi. Dibolak-balik melihat gambarnya, terus dia coret-coret sesuai bentuk gambar yang ada di cover. 


gambar monster pinku shofi dibalik cover

Buku dongeng MMJ memang telah mencuri hati anak-anak saya, dari usia 2 tahun sampai 12 tahun. Kisah yang menjadi favorit anak-anak saya adalah Monster Merah Jambu (hal 45). Monster berbulu merah jambu, lucu. Anak-anak tidak ada yang takut pada monster ini Justru sebaliknya malah ingin mengusap bulunya, menimang-nimangnya seperti boneka dan menjadikan peliharaan! Malah ada salah satu anak saya yang bilang ingin dibuatkan bonekanya!

Selain MMJ, ada 29 dongeng lainnya yang seru. Sesuai blurb pada bagian belakang buku, semua dongeng menarik dan asyik!

Buku ini sudah dibaca berkali-kali.  Sampai saya kesulitan sekali meski sekadar memotret buku ini. Karena si tengah sering menyembunyikannya di bawah selimutnya. Atau protes Sarah saat melihat buku ini ada di tangan saya. Saking seringnya dibaca, anak-anak saya juga hafal mana ilustrasi yang dirasa aneh.

Misalnya, di kisah Raksasa Kentut (hal. 48) diceritakan raksasa itu kentut dan menimbulkan angin puting beliung, sapi, kambing dan ayam pun ikut terbang. Mana binatang-binatang itu? tanya anak-anak.  Kemudian dikisah Tas Nyonya Prita (hal.62) dikisahkan tas itu lusuh, tetapi di gambar malah cantik dan bersih. Akhirnya saya terangkan pada mereka, tas itu lusuh tetapi karena tidak sedih jadi cantik.

Selain itu, dibeberapa cerita, teks menabrak gambar. Meski tidak mengganggu saat membacanya, tetapi membuat gambar tidak terlihat sempurna (hal 31). Mungkin karena cerita itu sudah mau habis, sayang untuk menambah halaman lagi. Dan di perutnya monster merah jambu (hal 48). Sebenarnya bisa saja monsternya digambar kecil dan disampingnya teks. Dengan demikian malah lebih nyaman membacanya dan mungkin bisa mengurangi protes dari mulut-mulut kecil.

Saya mencoba memahami, memang tidak mudah menyatukan sebuah ide. Dan jika ada kesalahan-kesalahan tersebut, bisa dikatakan wajar karena dikerjakan oleh dua orang yang tidak berada di satu meja.

Saya salut dengan karya-karya cerita anak Dian Kristiani, menganak  dan mengerti  keinginan anak-anak. Sehingga bisa menghasilkan karya yang sarat pesan-pesan moral tanpa menggurui dan lebih banyak menghibur.

Setelah lagu MMJ, saya akan tetap setia menunggu boneka MMJ. Who knows?

Gambar shofi: Monster Merah Jambu



*Resensi ini diikutkan dalam "Lomba Resensi Buky Anak" yang diselenggarakan dalam rangka meramaikan ulang tahu ke-3:


Forum Penulis Bacaan Anak

Comments

  1. Berbunga-bunga membaca resensi ini ^^

    Maafkan untuk ketidaksinkronan ilustrasi dan ceritanya ya. Ini pengalaman pertamaku + Anak Kita + ilustrator dalam bekerjasama.
    Mungkin benar, kurang koordinasi. Tau-tau sudah jadi hihihi.

    Aih, tapi tetap senang karena cerita-cerita di buku ini disukai anak2 :))

    Daaaan, Shofi keren! Kalau udah gede mau jadi illustrator buku Ummi ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak ada yang perlu dimaafkan, tahan dulu sampai lebaran ya hahhaa ... eh beneran lho momi, ya kan katanya engga ada naskah yang tidak retak, jadi wajar aja kali kalau ada yang masih kurang-kurang mah heuheu *lirik naskah saya yang acak kadut :-p

      Momih Dian Kristiani selamat ya, menurut saya, salah satu keberhasilan seorang penulis adalah menciptakan sebuah buku yang menjadi favorit anak, tidur dikelonin, main diajak, diumpetin supaya yang lain engga baca *karena kalau udah pindah tangan susah ngelacaknya* mpe itu buku lecek bin kumal. Juga saat anak melalui ilustrasinya dia berimajinasi membuat gambar yang mirip yang ada di dalam buku itu. Karena kata pakarnya sih, komunikasi seorang anak itu sebelum dia bisa membaca adalah lewat gambar. Tuh, kan saking sukanya sama MMJ Shofi menggambar terus tuh monster pinku hehhe

      Dan itu hanya saya lihat di MMJ, keren deh ^_^

      Delete
  2. keliatannya bukunya bagus. Sy pengen beli, ah. Anak2 sy suka buku yg banyak ilustrasinya :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @tutiarien

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…