Skip to main content

Pindang Patin

Akhir bulan Mei yang lalu, saya dan keluarga kecil saya berkesempatan untuk pulang mudik ke Indonesia. Keluarga besar senang dengan kabar ini, tapi juga bertanya, "Sampai lebaran?"

Sayangnya kami tidak berlibur hingga lebaran tiba. Bukannya tidak ingin. Tetapi namanya kerja, suami tidak bisa ambil cuti panjang. Sementara anak-anak pada waktu itu sedang ada kesempatan libur sekolah dua minggu. Lumayan panjang dibandingkan libur untuk hari Raya yang hanya cuti seminggu. Liburan sekolah cuti tengah semester pertama selama dua minggu. Itupun diperpanjang hingga seminggu, karena tiket pesawat yang murah waktunya melebihi jadwal cuti anak-anak. Jadi total kami berlibur selama 3 minggu di Indonesia.

Kami memesan tiket pesawat sebelum cuti sekolah dimulai. Karena pasukan saya banyak, dua dewasa dan lima anak yang kesemuanya bayar penuh, suami mencari tiket pesawat yang murah dan fasilitas yang nyaman. Alhamdulillah, kami mendapatkan tiket pesawat yang murah meriah.

Pulang ke Indonesia setelah lama memendam rindu pada orang tua dan saudara, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Kepulangan kami ke Indonesia selain bersilaturahim juga mengenalkan anak-anak kepada kakak dan adik kakek neneknya. Apalagi setelah kedua orang tua meninggal, tinggal uwa, paman dan bibi yang kami punya.

Kami pun silaturahim ke beberapa tempat di mana uwa, paman dan bibi tinggal. Tempat yang dituju adalah Bandung, Bogor, Lampung dan Palembang.

Di Bandung kami tinggal selama tiga hari, di Bogor seminggu dan di Lampung dan di Palembang selama tiga hari.

Ketika di Palembang, kami sempatkan silaturahim ke rumah seorang sahabat saya di Johor yang telah kembali ke Palembang. Kemudian kami berjalan-jalan ke Jembatan Ampera. Jembatan yang menjadi kebanggaan warga Palembang.

Setelah itu, kami mencari kuliner khas Palembang. Sahabat saya merekomendasikan sebuah restoran yang berada tidak jauh dari jembatan Ampera. Restoran Sri Melayu namanya. Belakangan, saya baru tahu ada Restoran Sri MelayuJakarta. Ini gara-gara saya buka-buka directory. 

Ini adalah pengalaman pertama saya mencicipi masakan khas Palembang. Sahabat saya memesan Pindang Ikan dan Pindang tulang. Katanya itulah masakan khas Palembang. Saya ragu.  Nah, karena pindang-pindangan ini menu yang baru saya dengar. Saya  sama sekali  tidak makan pindang. Saya lebih menikmati makan nasi putih ditemani ikan gurame bakar. Selain itu kami memesan udang goreng tepung dan ayam goreng. Selain menu ikan-ikanan, di sini juga disediakan nasi goreng dan segala jenis sambal untuk menemani makan.

Ada sambal teri, sambal pete, sambal remis, sambal ikan, sambal tempoyak, sambal telur ikan dan sambal buah. Sayangnya saya dan anak anak bukan pemakan sambal, jadi menu sambal kami abaikan.

Ketika pesanan sampai, saya pun melihat penampakan pindang ikan patin. Ternyata berbeda dengan pindang yang saya bayangkan. Nyesel selalunya belakangan ya. Setelah sampai di rumah Paman kami, saya cerita tentang pengalaman makan di restoran Sri Melayu.

Keesokan harinya Bibi memasak Pindang Patin untuk menyenangkan hati saya. Ternyata cara membuatnya mudah saja. Bumbunya diiris, mirip dengan bumbu Tom Yum, masakan Thailand yang banyak dijual di Malaysia.  Memasak pindang patin tidak memerlukan waktu yang lama. Sekejab saja, pindang patin sudah bisa disajikan.

Saya dan anak-anak makan siang dengan pindang patin. Ya Allah, rasanya mantapp! Kuahnya segar sementara daging ikan patin itu lembut dan berlemak. Anak-anak pun yang tadinya ragu makan pindang patin, makan dengan lahap.

Sampai di Johor, suami terbayang-bayang sedapnya pindang patin buatan Bibi yang asli Palembang. Katanya semua orang Palembang pintar memasak pindang ikan patin.

Demi memenuhi keinginan suami, saya pun mencoba membuatnya meski pun yang pertama sempat gagal membuat pindang patin. Kelamaan merebus ikannya :p

pindang patin gagal (doc.pri)


 Alhamdulillah, setelah eksperimen kedua, saya pun berhasil membuat pindang patin. Yipiiii!
pindang patin oishi (doc.pri)



Kata suami, pindang patin yang saya buat lumayan sudah mendekati rasa aslinya, cuma kurang pedas, kurang daun kemangi dan kurang garam heuheu

Selain itu, di Malaysia tidak ada tomat yang menambah rasa khas Pindang Patin asli Palembang, yaitu tomat cung kediro atau tomat ceri. Warnanya hijau bikin segar. Saya memakai tomat besar, yah, lumayan deh menambah rasa sedap dipadukan dengan nanas yang segar.

Ini resep Pindang Ikan Patin, mungkin ada yang ingin mencobanya juga di rumah.

Bahan:
Ikan Patin satu ekor, bersihkan dan potong-potong menjadi empat bagian.
Jeruk nipis satu sendok makan untuk melumuri ikan
sisihkan

bumbu:
Bawang merah 10butir, iris
Bawang putih 3 siung, iris
2 batang serai, digeprek
2 buah cabe merah, iris
10 buah cabe rawit kampung, biarkan utuh
1 ruas jari jahe, lengkuas dan kunyit, iris
Setengah buah nanas, potong sesuai selera
daun bawang, iris
Tomat ceri
1 ikat daun kemangi
garam dan gula secukupnya
Air satu liter

Cara membuatnya:
Rebus air hingga mendidih, kemudian masukan semua bumbu dan ikan kecuali tomat, daun bawang dan daun kemangi. setelah matang, masukan tomat, daun bawang dan daun kemangi. siap dihidangkan.

Selamat mencoba ^_^


Comments

  1. Aku suka pindang patin itu kalo kuahnya asem dan pedaaas :D.. soalnya bnyk jg pindang patin yg kurang berasa asemnya ;p... tapi patin itu lbh enak lg kalo dibakar dlm bambu mba.. itu khas kalimantan bgt.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mbak, makanya suamiku protes katanya kurang pedes hihihi secara dia suka banget makan cengek, cabe rawit.

      Wah, gimana tuh caranya ikan patin bakar bambu mbak? Suamiku juga orangnya suka nyoba makanan baru, makanya dia mah lebih berlemak daripada saya yang kurus kecil ini heuheu

      Thanks sdh mampir ya mbak 😘

      Delete
  2. aiih asyiknya pindang patin palembang itu khasnya di nanas, mbk :)

    ReplyDelete
  3. ah, aku suka nih pindang patin, pertama nyoba ya di palembang

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama dong mbak, saya juga pertama kali di palembang. sukaaa ^_^

      Delete
  4. Mba.. aku sering makan pindang patin. Kalo di kaltim banyak ikan patin. Memang enak sekali

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuppp ... daging ikan patin lembut dan enakkk ^_^

      Delete
  5. Ah, jadi kangen pindang patin. Waktu tinggal di Palembang saya suka makan ini tapi sejak pindah ke jawa belum pernah masak pindang patin lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo dong dicoba lagi masak ikan patin mbak Ety, kalau udah jadi kirim ke sini ya hihihi ...

      Delete
  6. Saya juga pernah coba-coba bikin pindang patin ini, gara-gara pernah makan di suatu tempat kuliner dan ada ikan patin (bukan di pindang). TRs tanya2 kakak ipar yg asli palembang, katanya ikan patin enak juga kalau di masak pindang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wihh ... dibuat apa lagi mbak? di asam pedas enak enggak? share dong :-)

      Delete
  7. Enaaak ... pernah nyobain di resto dekat Sungai Musi pas ke Palembang.
    Request masakan berbahan daging sapi dong...

    ReplyDelete
    Replies
    1. jadi nyesel enggak makan di dekat sungai musi, padahal udah di situ, di tempat orang orang pada lihat jembatan ampera, hikss

      insyaAllah nanti saya share ya, pengalaman nyate daging sapi :-)

      Delete
  8. Wow kayanya muantappp caw insaalloh saya coba deh kalau bisa.

    ReplyDelete
  9. Assalamualaikum
    wah siang-siang baca ini jd laper.
    mb kasih tips dong bikin pindangnya biar ga amis gmn ya.
    kmren nyoba agak amis :(
    Trims.
    wassalam

    ReplyDelete
    Replies
    1. wa alaikumsalam, coba patinnya dicuci dulu dengan air lemon dan air garam. setelah itu basuh kembali. baru dimasak. selamat mencoba kembali :-)

      Delete
  10. enak kayaknya ni , btw blognya pinky banget mba

    ReplyDelete
  11. Saya sering nih buat ini tp gak tau kalo khas palembang. Hahahaha.. patin kesukaan anakku banget

    ReplyDelete
  12. Mba Barter Pizza sama Pindang Patin nyooook kwkwkw

    ReplyDelete
  13. wah, keluarganawara orang Palembang, doyan ama pindang beginian

    ReplyDelete
  14. Pindang di Palembang enaknya pakai Nanas Mbk, kalau aku bikin pindang enggak pakai jahe loh, aiih pagi-pagi baca ini jadi lapar deh.

    ReplyDelete
  15. aduh ..ngeliatnya jadi laper...
    aku jug aseneng banget masak pindang patinn... apalgi ngisep kepalanya....hmmm

    ReplyDelete
  16. wah selamat ya sudah berhasil memasaknya. terimakasih sudah berbagi resep :)

    ReplyDelete
  17. Pertama kali saya tau kuliner pindang juga dari keluarga besar suami yang memang orang Sumatera Selatan. Enak pindangnya :)

    ReplyDelete
  18. Yes, akhirnya berhasil ya, Teh..hehe
    Ngomongin soal si ikan patin, saya ada cerita sedih nih, dimana ikan peliharaan saya pada mati dimakan ikan patin :(

    Udah lama gak makan ikan, jadi pengen makan ikan patin ini..he
    Kalau ikan saya lebih suka dibakar, Teh..

    Kalau resepnya sih udah ada di sini, tapi saya belum yakin kalau masak sendiri rasanya bakal enak..hehe

    ReplyDelete
  19. bisa dicoba resepnya biar masaknnya gak monoton

    ReplyDelete
  20. ah sayangnya bukan pecinta pedas, padahal sambal di palembang beuhhh saya pengen lagi... tapi belum berkesempatan ke palembang lagi... heuheu

    ReplyDelete

Post a Comment

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @tutiarien

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…