Skip to main content

Tips Praktis Membuat Jilbab Cantik

Alhamdulillah, Ramadhan sudah memasuki hari ke-19, insyaAllah sudah mulai terbiasa, ya. Anak-anak, terutama yang usia 9 tahun ke bawah sudah tidak rewel lagi. Sudah tidak nanyain jam melulu. Katanya, pertanyaan yang paling sering ditanyakan anak-anak di awal puasa adalah "sudah jam berapakah sekarang?" "Berapa jam lagi buka puasa?" tinggal emaknya yang jungkir balik ngebujuk hehhe Tapi seperti peribahasa ... badai pasti berlalu (ceila) segala ujian jam akan kelar sendiri. Terbuktikan, sekarang anak-anak sudah tidak rewel lagi sebab sudah mulai terbiasa.

Nah, saat inilah yang paling krusial menurut saya. Engga nanya jam, eh gantian mereka mulai nanyain baju lebaran,

"Mi, kapan beli baju lebaran?" Nah lho hihihi

Belum lagi kalau ada yang minta macem-macem.

"Mi, sekarang seragam lagi ya. macam kita kecik-kecik dulu." Ini kata si KK, Iya, sulung saya yang sekarang usianya 15 tahun, minta seragaman sama adik dan sepupunya. Gara-garanya dia lihat foto dia waktu masih kecil-kecil.

"Nanti kan kita foto lagi macam hari itu, Mi. Best!" katanya lagi heuheu

Aih emak jadi enggak fokus deh jadinya. Harusnya tambah fokus ibadah, ini harus mikirin beli baju lebaran buat anak-anak heuheu

Dan ada lagi selain itu

"Mi, kapan buat kue lebarannya?"
"Abang mau bikin kue cokelat!"
"Piye mau buat kue keju!"
"Sarah pun ... sarah punn !"
Hahhaa rameee ... tinggal emaknya ngitungin bajet. Kalau perlu pecahkan celengan itu! Asyeekk ...

Baca: Cara Membuat Kue Keju Kastengel

Oke, akhirnya kita nyicil deh bikin kerudungnya dulu. Bajunya belakang. Kebetulan anak anak saya ini besar di Malaysia, jadi lebih suka kerudung ala Melayu gitu deh. Praktis dan ekonomis hehehe Betul lho praktis dan ekonomis ini bukan jargon biasa, sebab ternyata tak hanya anak saya yang suka memakai kerudung praktis ini. Tetapi teman temannya pun ikut ikutan pesan minta dibuatkan untuk kerudung sekolah. Alhamdulillah.

Nah, hari ini saya akan share tips membuatnya. Sebab kalau tutorial sepertinya ribeut ya kalau tidak face to face. Emak rempong belum bisa vlog (halah alasan!)

Polanya saya pakai pola kerudung sekolah mereka yang sudah jadi.
Pola 
Bahan yang saya pakai adalah kain wolfis. Wolfis atau woolpeach ini bahan yang sedang naik daun akhir akhir ini. Selain bahannya adem dan ringan, kain ini tidak tembus pandang. Cocok dipergunakan ditempat tropis seperti di Indonesia. Kain wolfis adalah kain yang ditenun dari campuran serat kain katun, serat kain sutra dan tambahan serat sintetis lainnya. Makanya adem, enteng dan cantik warna warnanya.
Credit gamisjilbabsyari.com
Ukuran lebar kain wolfis ada yang 115 cm ada yang 150 cm. Untuk yang lebar 150 cm harga kain wolfis ini pun ramah dompet. Semeter Rp30.000. Untuk membuat satu kerudung diperlukan 1,5 meter. 

Potong bahan mengikuti pola. Kemudian beri tanda dibagian mana jahitan tengah. Kemudian neci. Sebelum menjahit tengah ukur panjang wajah. Biasanya untuk saya dan anak anak ukurannya 24.5 cm - 27 cm. Setelah itu jahit bagian tengah kerudung. Kerudung cantik pun siap dipakai.

Mudah bukan?

Comments

  1. Wah keren nih si Ummi, bisa bikin kerudung sendiri 👍👍😍
    Ramadhan tahun depan bisa dijadikan usaha yang lebih serius kayaknya..

    ReplyDelete
  2. Iya. Makasih doanya ya bumil lina. Lagi cari celah memang sih usaha rumahan yang berkah dan menguntungkan hehhe

    ReplyDelete
  3. Wahhh teteh kreatif pisan deh bikin jilbab sendiri..

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. Alhamdulillah mbak. Memberdayakan keterampilan yang ada 😁

      Delete
  5. asik banget kl bisa bkn jilbab sendiri, jauh lebih hemat ya mbak

    ReplyDelete

Post a Comment

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @tutiarien

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…