Skip to main content

Cara Mudah Membuat Nasi Liwet Ikan Teri


Pagi kemarin saya agak sedih, sebab ada sisa nasi yang mengering di rice cooker yang lumayan banyak juga. Semangkuk. Hm ... Kira kira nasi itu diapain ya? Ada yang punya ide?
Meski banyak senengnya juga, kadangkala di bulan puasa ada saja yang membuat sedih. Yah misalnya seperti makanan yang mubazir, anak anak mulai bosan dengan menu yang itu itu saja. Nasi yang tidak habis atau lauk yang tidak disentuh. Dan nasi kering yang bingung mau diapain 
Sedih sih tapi kan ga boleh kelamaan. Justru saat seperti ini dituntut lebih kreatif lagi agar makanan yang disajikan tetap menambah selera anak dan suami.
Akhirnya saya simpan dulu nasi kering itu di kulkas. Kali setelah ini ada ide daritemen temen jadi olahan baru.
Jadilah kemarin melihat kenyataan itu saya kreasikan nasi yang dimasak biasa saja saya masak nasi liwet. Yah tetap masak di rice cooker lah. Punya bayi tanpa ART mah masak pakai alat yang praktis agar tidak kelamaan di dapur.
Cara membuat nasi liwet ini mudah sekali. Yuk kita coba membuatnya.
Bahan:
5 siung bawang merah
2 buah cabe merah besar
2 lembar Daun salam
2 lembar Daun sereh
Garam secukupnya
Minyak goreng secukupnya
Ikan teri secukupnya
Cara membuat:
1. Iris cabe merah dan bawang merah. Kemudian tumis hingga harum. Tambahkan daun salam  dan daun sereh. Sisihkan.
2. Cuci beras hingga bersih. Masukan bumbu tumis. Tambahkan air secukupnya dan garam. Masak di rice cooker.
3. Ikan teri cuci bersih kemudian goreng. Jangan sampai terlalu garing agar tidak keras. Maklum yang makan bukan cuma orang dewasa, tapi anak anak. Mereka suka rewel kalau keras.
4. Sebelum.nasi matang, masukan ikan teri. tunggu hingga nasi matang. 
5. Sajikan hangat dengan lalapan atau dimakan begitu saja juga enyak banget. Gurihnya itu dari ikan teri. Saya pakai ikan teri cue yang agak besar. Sebesar kelingking. 
Bagaimana? Cukup mudah bukan? 

Comments

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…