May Day: Saya dan Buruh Migran

Hari ini bertepatan dengan tanggal 1 Mei, dimana pada tanggal ini, diperingati sebagai hari buruh sedunia. Sebenarnya, setelah 2 bulan di rumah saja, saya sudah lupa hari dan tanggal. Waktu begitu cepat berlalu dan saya benar-benar tidak bisa membedakan, mana hari kerja dan mana hari libur. 

Menara Kembar
Menara Kembar dari kejauhan membayang di langit KL yang mendung

Masa pandemi ini memang luar biasa sekali. Membuat semua berubah, termasuk ingatan akan hari. Padahal, sebelum pandemi pun saya tidak bekerja,  di rumah saja, tetapi karena aktifitas anak-anak normal, suami juga berangkat kerja dari hari Senin sampai Sabtu, lalu sisanya di rumah, saya jadi memiliki cukup ingatan hari ini hari apa dan sebagainya, karena seragam anak-anak pun tergantung hari.

Lalu, apa yang membuat saya ingat dengan hari ini? Ya, apalagi kalau tidak diingatkan oleh Facebook hehe. Tadi pagi saya mendapat notifikasi memories hari ini, tahun-tahun yang telah berlalu.

Saya jadi teringat pernah membersamai adik-adik Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang sedang merantau di negeri Jiran, Malaysia. Waktu itu, bulan April 2010, saya diboyong suami saya ke Malaysia. Tepatnya ke Johor Bahru, Malaysia. Suami diterima bekerja sebagai dosen di Universitas Teknologi Malaysia.

Dan di tahun itu pula awal mula saya mengenal dan beraktifitas bersama adik adik pekerja Indonesia yang bekerja di negeri Jiran. Kisaran usia mereka antara 19 tahun hingga 45 tahun. Biasanya lulus SMA langsung dikirim bekerja di Malaysia. Dengan berbagai alasan, seperti program magang lepas sekolah (padahal magangnya bukan di bidangnya, ya buruh aja bekerja asal bisa), bekerja di Malaysia karena pas ada lowongan karena di kampungnya tidak ada pekerjaan, bekerja karena kebutuhan rumah tangga dengan meninggalkan suami atau istri dan anak, dsb. Bagi yang bekerja lewat program sekolah, memang dikirim lewat sekolah (program magang yang sebemernya bukan magang tapi kerja. Anak anak ini bekerja beneran. Dan digaji), ada yang lewat agen dan lewat perusahaan.

TKI and Me
Saya di salah satu acara bersama ibu Wiwi dan adik adik TKI
Yang lewat agen ini yang kasihan. Selain dipotong gaji untuk bayar biaya pemberangkatan juga harus bayar levy (pajak bagi pekerja asing). Jika lewat perusahaan atau company, biaya levy biasanya yang bayar perusahaan, jika lewat makelar atau agen, biasanya mereka beneran diperas dan dipotongin gajinya, kasihan.  Pasport ditahan sama agen karena khawatir kabur. Tapi yang begini merugikan pekerja jadi ga bebas bergerak. 

Saya bertemu dengan mereka pertama kali karena diminta mengisi pengajian majelis taklim yang biasa mereka adakan di hostel mereka. Alhamdulillah, senang sekali mendengar penuturan mereka, bahwa pengajian itu memang mereka bentuk agar bisa saling silaturahim dan saling menguatkan.

Susah senang anak muda ini bekerja di negeri Jiran. Alhamdulillah saya bertemu dengan anak anak yang sholeh dan sholehah. Yang memiliki tekad yang kuat, balik ke Indonesia harus lebih baik lagi. Tak ingin menjadi TKI selamanya. Harus berdaya di negeri sendiri. 

Mereka juga bergabung di IKMI (Ikatan Keluarga Muslim Indonesia), mengikuti pengajian, mengikuti kegiatan positif lainnya.

Tahun 2011, kami pengurus IKMI mendirikan PGTQ (Pendidikan Guru Taman Al Quran) khusus pekerja muslimah. Saya pernah menjadi pengajar dan penanggung jawab lembaga tersebut. PGTQ ini berafiliasi dengan PGTQ Iqro yang berada di Bekasi. Jadi, setelah mereka mendapat pendidikan di Johor, mereka meneruskan di PGTQ Iqro, sampai mereka dinyatakan lulus. Alhamdulillah kabar terakhir, ada lebih dari 10 orang muslimahnya yang diwisuda dalam program PGTQ di PGTQ Iqro. Alhamdulillah.

Bagi yang sudah berkeluarga, bukan keinginan mereka ingin bekerja di sana. Tapi keadaan ekonomi yang menuntut hal itu. Ibu bekerja. Ayah bekerja. Anak terlantar. Ingin bekerja di dalam negeri tapi tak ada pekerjaan yang bisa dikerjakan, sungguh drama yang tidak pernah usai jika tidak menjadi perhatian utama.

Banyak kasus keretakan keluarga sebab orangtua tak lengkap mendampingi tumbuh kembang anak. Hal ini banyak terjadi terutama di daerah pedesaan yang ayah dan ibu bekerja di LN. Belum lagi faktor kejiwaan ibu, setiap hari terbayang-bayang wajah anak-anak di rumah. Suami yang ditinggal bertahun tahun tentu saja akan timbul masalah sosial lainnya. Jangan salahkan mereka, tapi ini menjadi home work negara kita bagaimana menuntaskan masalah sosial ini agar tak perlu lagi anak anak berpisah dari ayah  dan bundanya.  Mereka juga  berhak bersama keluarga yang utuh. 

Di hari buruh ini saya ingin menyampaikan beberapa hal di bawah ini,

Pak Bu, saya ingin bukti bahwa Indonesia berdaya, terutama berdaya dalam mengelola sumber daya manusia yang besar ini.

Pak Bu, perluas lapangan pekerjaan di negeri sendiri. Beri ruang anak anak muda magang di negeri sendiri.

Berikan gaji sesuai UMR. Di dalam Islam, setiap keringat yang telah dikeluarkan wajib diberi apresiasi yang layak dan langsung. 

Diriwayatkan Imam Al Baihaqi, Nabi SAW bersabd,"Berikanlah gaji kepada pekerja sebelum kering keringatnya, dan beritahukan ketentuan gajinya terhadap apa yang dikerjakannya."

Berikan kesejahteraan untuk pekerja Indonesia karena tanpa mereka perekonomian Indonesia tidak akan seperi sekarang ini. 

Pahlawan devisa jangan hanya sekadar julukan. Tapi hargai mereka dengan sebenar benarnya. 
Sri Widiyastuti
Saya ibu rumah tangga dengan 6 orang anak. Pernah tinggal di Jepang dan Malaysia sebagai diaspora.Isi blog ini sebagian besar bercerita tentang lifestyle, parenting (pengasuhan anak) dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keluarga dan perempuan. Untuk kerjasama silakan hubungi saya melalui email: sri.widiyastuti@gmail.com

Related Posts

21 comments

  1. HIks, sudah sedih akutu ngelihat tki2 yang bekerja di luaran sana apalagi masih muda2 belia gitu ya. BAca kisah ini jadi inget sahabatku yang tinggal di negeri Jiran, sama kasusnya punya asisten rumah orang indo, ya dipotong gaji 3 bulan pertama sama agen, belo harus bayar apa, lupa namanya, hiks tegaa.

    Semoga saja Indonesia bisa memperluas lapangan pekerjaan di negeri sendiri, memberi ruang anak anak muda magang di negeri sendiri, yaa. Mereka dibina insyaalah bisa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, potong Levy itu teh, pajak pekerja asing, sebab dia mungkin kerja lewat agensi, jadi harus bayar pajak. Kasian memang yang kerja di negara orang, harus diperkuat perlindungan terhadap TKi karena mereka kerja di sana juga sebab tidak pilihan lain, ga ada kerjaan di indonesia., Terus mau gimana?

      Delete
  2. Suka sedih lihat kondisi para TKW tuh di sekitar rumah banyak juga yang jadi TKW di Arab. Ada yg suaminya di sini ngabisin uang bareng bini muda yang dinikahi stlh istri pergi, ada yg pulang2 si TKW dalam keadaan hamil n anknya ternyata berwajah arab banget...macam2 lah. Duh miris kan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak Ida, saya sering banget denger curhatan, istri yang diselingkuhin suaminya,sementara dia kerja di negeri Jiran. Alhamdulillah ada yang sukses juga, anak anaknya jadi sarjana. Tapi yang kurang beruntung juga banyak. Sedih banget denger curhatannya. Sementara saya gak bisa berbuat banyak.

      Delete
  3. Sering sekali dengar cerita sedih tentang nasib tki2 kita di luar negeri. Semoga di negeri sendiri lebih banyak lapangan kerja sehingga tak perlu nyari nafkah di luar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak Ria, aamiin, apalagi di musim pandemi seperti ini ya, akan semakin kesulitan pekerja yang bekerja di luar negeri.

      Delete
  4. Iya nih, banyak yang masih memberikan gaji tak sesuai UMR dengan kewajiban kerja yang lumayan banyak. Di kampungku ada juga beberapa anak muda dan ibu-ibu yang jadi TKI yang nasibnya seperti itu. Mudah2an ada peluang lain di negeri sendiri selain menjadi TKI.

    ReplyDelete
  5. Kisah-kisah seperti ini yang suka membuat hati jadi teriris dan sedih, kerja merantau di tempat yang jauh dan terpisah dari keluarga aja udah berat banget, harus dipotong sana-sini pula.

    Semoga bisa ada kesempatan untuk bekerja di negeri sendiri saja yah.

    ReplyDelete
  6. Sedih kalau baca berita tentang gajinya. Ya semoga saja para pahlawan devisa ini semakin dihargai. Aamiin

    ReplyDelete
  7. Andai tidak ada pandemi, saat 1 Mei saya juga sedang berada di Bundaran HI, ikut aksi mayday bersama kawan seperjuangan. Sayang rencana yg sudah kami buat sejak tahun lalu harus ditunda. Semoga pandemi ini segera berakhir...
    Mau day sekarang harus puas dengan ketemuan online
    Paling tidak bisa tetap diskusi soal buruh migran...
    Oya Mbak, Minggu ini siang nanti akna ada diskusi online terkait buruh migran bareng SBMI. Mungkin berminat...

    ReplyDelete
  8. Kerabat saya pernah juga jadi TKI Mbak. Ceritanya macam2 tapi secara umum sih dia termasuk yang beruntung karena nggak ditipu dan bosnya nggak macam2. Karena anaknya sudah besar juga jadi nggak terlalu berat beban pikiran. Kasihan yang anak2nya masih kecil2.

    ReplyDelete
  9. Ngomongin soal TKI memang banyak sedihnya ya. Dari kekerasan, gaji yang tidak dibayarkan, trafficking, hingga yang lain-lainnya. Dan setuju banget, kalo pekerjaan di negeri sendiri banyak dan mudah, dengan upah yang pantas, pastinya sodara-sodara kita ini gak akan nyari kerja di luar negeri ya

    ReplyDelete
  10. Selamat hari buruh sedunia mbak. Suka banget sama kalimat terkahir menghargai pejuang devisa. Salut sama Pejuang devisa.

    ReplyDelete
  11. Semoga semakin banyak lapangan pekerjaan di Indonesia dengan gaji yang layak dan job desc manusiawi, ya. Supaya mereka nggak perlu jauh-jauh dari keluarga.

    ReplyDelete
  12. Miris kalau mendengar kondisi TKI yang ada di luar sana. Meski ada juga beberapa yang cukup beruntung karena mendapatkan majikan yang baik hati.
    Semoga ke depannya negeri kita bisa lebih baik lagi dan bisa membuat rakyatnya lebih makmur lagi ya...

    ReplyDelete
  13. Iya, tuntutan ekonomi yang membuat banyak orang nekat pergi ke luar. Suka sedih dengan mereka pahlawan devisa, apalagi yang "kurang beruntung". Semoga para pekerja dimanapun berada bisa mendapatkan yang layak mereka dapatkan.

    ReplyDelete
  14. Aku tahun lalu pas balik dari KL ketemu TKI yang dipulangkan karena ilegal ternyata mereka. Ga lengkap surat-suratnya

    ReplyDelete
  15. aku ketika lagi di KL dan Hongkong juga pernah ketemu dengan pekerja2 indonesia di sana. menurutku yang di hongkong lebih baik si mbak fasilitas dan hak-hak yang mereka dapatkan. yang penting sih juga perlindungan pemerintah kita ya untuk mereka..

    ReplyDelete
  16. Semoga Allah berikan perlindungan dan kesehatan selalu untuk sadara-sadariku yang berjuang untuk keluarga bekerja di luar negeri.
    Tetanggaku ada yang antri jadi TKW. Dan ini ternyata cukup lama penantiannya.

    ReplyDelete
  17. ini memang menjadi tantangan kita yaa mba..di saat pemerintah terus berupaya untuk memaksimalkan lapangan pekerjaan di dalam negeri, banyak yang tetap beranggapan bekerja di luar negeri akan lebih baik. Padahal tidak selalu

    ReplyDelete
  18. Suka sedih dengan anak-anak yang ditinggal ibunya bekerja ke luar negeri dan tidak pulang bertahun-tahun. Sungguh kasihan. Namun bagaimana lagi. lapangan pekerjaan mereka ada di luar negeri bukan di dalam negeri. Inilah PR bagi pemerintah dan siapapun pemilik modal untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi rakyat Indonesia terutama mereka para suami sehingga para istri bisa tetap di rumah merawat anak-anak mereka.

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email