8 Tips Keseimbangan Menulis dan Keluarga

46 comments

8 Tips Keseimbangan menulis dan keluarga menjadi penting dilakukan oleh seorang penulis untuk menjaga keharmonisan keluarga. Jangan sampai karena mementingkan hobi, akhirnya menelantarkan anak dan suami. Atau sebaliknya jika dia seorang suami, jangan sampai menelantarkan anak dan istri. Tentu hal ini tidak dikehendaki terjadi.  

Keseimbangan tidak hanya pada pekerjaan menulis saja, namun juga apapun pekerjaannya keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga itu penting karena tentu saja semua pekerjaan akan berkah jika dilakukan secara seimbang.

8 tips keseimbangan menulis dan keluarga

Contoh, beberapa waktu lalu, dunia penerbitan dihebohkan dengan gugatan penarikan buku yang sudah dicetak penerbit oleh pihak suami. Ketika ditanya alasannya, sang suami mengaku bahwa dia tidak ridlo dengan buku yang ditulis oleh istrinya karena ditulis bersama lelaki lain.

Kalau dilihat sepintas, tentu kita jadinya mengkerutkan kening, ya. Memangnya kenapa menulis dengan lelaki lain? Bukankah sekarang sudah zamannya kolaborasi? Hal remeh begitu kok jadinya membuat masalah menjadi berat? Cemburu, ya? Kok begitu sih sama istri? kok gak bangga punya istri penulis?

Ternyata masalahnya tak hanya sekadar cemburu. Menurut pihak suaminya ada masalah yang lebih esensial lainnya yang tidak bisa dia terima, seperti istri tidak bisa diajak komunikasi, gampang meledak jika ditanya seputar aktivitas menulisnya, sering marah-marah kepada anak-anak dan lain sebagainya. 

Itu sebagian dari curhatan suaminya kepada pihak penerbit dan disebarluaskan oleh penerbit di laman sosial media. Kebetulan sampai pula di beranda Facebook saya. Sayangnya, pembelaan diri dari sang istri -penulis- itu tidak saya dapatkan, sehingga berita ini hanya dari sisi kacamata suaminya.

Belakangan saya ketahui masalah sudah "clear". Namun "seclear-clear"nya masalah, jika sudah diketahui pihak umum, tentu akan menjadi tidak mudah menyelesaikannya. Makanya saya kalau ada masalah di keluarga, saya upayakan tidak menceritakan kepada sembarangan orang. Agar masalah tidak tambah ruwet.

Pengalaman saya, kalau abis cekcok sama suami, biasanya abis itu pelukannya jadi tambah rapet. alhamdulillah. Persis kayak drama drama korea itu hihihi Alhamdulillah ini mah pasangan nyata dan halal. 

Jadi, kalau masalah rumah tangga diketahui orang, kayaknya bakalan gak baik akhirnya. Saya hanya bisa berdoa, semoga keluarga mereka akan menjadi rukun kembali dan keduanya bisa melakukan refleksi terhadap permasalahan yang mereka alami. Demikian juga dengan keluarga saya dan kita semua. Semoga Allah lindungi dari hasutan setan yang hanya ingin memisahkan pasangan yang saling mencintai karena Allah.

Pengalaman Menyeimbangkan Menulis dan Keluarga

Berkaca pada kejadian di atas, saya pun kemudian melihat ke dalam diri saya. Dulu waktu awal-awal  beraktivitas sebagai penulis, saya pun pernah mengalami "kegilaan" saat mulai merasakan nikmatnya menulis. Semua lomba antologi saya ikuti, event kepenulisan yang ujungnya dibukukan saya ikuti, bahkan saya sempat merasakan pengalaman pahit bertemu dengan editor yang tidak amanah.

Saat itu, pengalamanku dalam menulis masih cetek sekali sehingga saya bersemangat sekali mengikuti kelas menulis, lomba menulis dan event-event kepenulisan lainnya.

Apakah saya salah? Tidak sama sekali.

Saya sudah berusaha menyeimbangkan antara pekerjaan saya sebagai penulis dan keluarga. Namun, saat itu, suami merasa saya masih lebih mementingkan menulis dibandingkan dia. Waktu itu suami juga pernah mau membayar saya agar saya tidak tergantung pada deadline dan editor.

Lalu puncaknya suami membawa laptop ke kampus, agar saya tidak menulis lagi. Saya sempat ngambek juga hehe wah benar-benar deh, waktu itu. Bayangkan sedang asyik menulis, terus disuruh berhenti? Tentu jengkel yaa.

Tapi, akhirnya saya menyadari bahwa setelah menjadi istri tentu saya sudah tidak menjadi diri sendiri. Saya sudah menjadi milik suami saya sepenuhnya. Sebagaimana janji setia saya kepadanya saat ijab kabul.

Saya kembalikan semua permasalahan kepada Allah. Saya berusaha positif thinking dan mencoba mencari jawaban dengan kembali kepada Al Qur'an dan sunnah. Saya membaca berbagai referensi terkait wanita bekerja di dalam Islam dan membaca berbagai literatur tentang perempuan yang sukses di pekerjaannya dan keluarga.

Alhamdulillah saya pun bisa memahami, mengapa suami begitu cemburunya pada pekerjaan menulis saya. Karena itulah ya, suami mah ke tukang sayur juga cemburu, sekarang apalagi ke tukang paket, haha, kalau udah bunyi sayurr ... pakett ... istri langsung kabur nyari jilbab dan segera keluar. Sementara ketika suami manggil, kita tidak bersegera.

Dan ini jadi ledekan pak suami selama ini. Dia kalau pulang kerja, suka bilang: "Paket!" Bu, Paket Bu!" hahaha haduhh bener-bener deh wkwkwk jadi suka malu sendiri kalau udah diledekin begitu, tapi gemes pengen nyubit!

Nah, alhamdulillah setelah diuji dengan boikot laptop, eh tahun 2014 saya mendapatkan award dari Islamic Book Award 2014 IBF. Wah senang sekali. Saat itu, saya bahagia sekali, karena Allah menghibur saya dengan sesuatu yang tidak disangka-sangka.

Begitulah, setelah itu, saya mulai berusaha memanaj waktu dengan baik. Ketika pak suami di rumah, saya akan komunikasikan, bahwa ada tulisan yang harus saya selesaikan segara. Jadi saya meminta ijin memakai waktu bersamanya. 

Alhamdulillah makin ke sini pak suami mendukung aktivitas saya menulis. Bahkan pak suami menyekolahkan saya di sekolah pascasarjana UIKA Bogor sampai saya di wisuda agar saya bisa lebih luas pengetahuannya. Saya sudah menuliskan ceritanya ketika saya berjibaku meraih gelar master.

Bincang Santai bersama MQFM Seputar Keseimbangan Menulis dan Keluarga

Moms, dari pengalaman di atas, akhirnya saya punya sesuatu yang membuat saya empati juga kepada istri yang dihentikan jadi penulis oleh suaminya karena saya juga punya pengalaman yang kurang lebih sama dengan dia.

Memang tidak mudah ketika kita punya aktivitas yang disukai, ternyata itu tidak membuat suami bahagia, tentu kita akan menghadapi dilema yang berat. 

Tapi lagi-lagi saya harus berpikir realistis dan berpikir jernih. Saya juga awalnya jengkel dan tidak menerima diperlakukan seperti itu, namun setelah dipikir-pikir sebenarnya saya menulis itu untuk apa sih? Apakah sebanding pengorbanan yang saya lakukan dengan apa yang saya dapatkan selama ini?

Dulu tujuan saya menulis adalah agar saya bisa menulis buku cerita untuk anak saya. Alhamdulillah dan itu sudah tercapai. Tak hanya sekadar menulis cerita untuk anak saya, namun juga diterbitkan secara nasional. Alhamdulillah.

Lalu setelah memikirnya, saya akhirnya bisa tesenyum lagi. Iya, apa sih sebenanrnya yang saya cari dari menulis? kalau sekadar cuan, pasti suami tidak terima, lha wong dia masih kuat dan sehat lahir batin bisa memberikan lebih banyak malahan. 

Setelah saya menemukan apa tujuan saya menulis, alhamdulillah hati saya menjadi tenang. Apalagi Allah memberi saya hadiah yang luar biasa dengan kabar baik buku cerita anak pertama yang saya tulis mendapatkan award, jadi bonus-bonus itu kalau suami ridlo insyaAllah ridlo Allah juga akan datang. 

Nah, minggu lalu, saya berkesempatan ngobrol santai bersama dengan ibu-ibu penulis lainnya dari kota Bandung. Kegiatan ini diinisiasi oleh MQFM radionya orang Bandung, Radio Inspirasi Keluarga Indonesia.  

Hadir bersama saya, Teh Eika Vio, penulis cerita anak yang karirnya sedang melejit, ibu rumah tangga beranak satu, dan Teh Endang, seorang penulis juga dengan anak satu yang mampu menulis artikel setiap hari sebanyak 10 artikel. Luar biasa. Kedua ibu hebat ini tinggal di Bandung.

Kebetulan juga kami sama-sama di Forum Lingkar Pena (FLP) sebagai pengurus pusat. Saya sebagai sekretaris, Teh Eika di Divisi Karya dan Teh Endang di Divisi Litbang.

Dalam acara Teras Baca MQFM saya dan kedua teteh yang inspiratif memaparkan berbagai tips dan trik menyeimbangkan antara kegiatan menulis dan keluarga.

Keseimbangan Menulis dan Keluarga
Kegiatan Teras Baca MQFM Bandung
Pada umumnya, kami sepakat bahawa komunikasi dengan suami dan anak adalah yang utama. Untuk menambah semangat, Teh Endang menyebutkan bahwa harus memaksakan diri menulis, Allahumma paksakeun, katanya begitu.

Sementara Teh Eika memberi tips agar terus semangat menulis adalah dengan cara mengikuti berbagai lomba menulis dan parade menulis, dengan demikian semangat menulis akan selalu ada di dalam diri.

Tips Menyeimbangkan antara Menulis dan Keluarga

Di bawah ini saya paparkan beberapa tips yang saya ambil dari pengalaman saya pribadi sebagai ibu dengan anak 6 orang. Tips ini sudah saya lakukan selama kurang lebih sepanjang karir kepenulisan saya. Alhamdulillah tips ini membentengi diri saya jika khilaf dan mengembalikan saya kepada track yang sebenarnya.  

1. Menyadari fitrah sebagai perempuan.

Islam memandang kaum perempuan sebagai kaum yang istimewa karena memiliki peran yang luar biasa dalam kehidupan/peradaban manusia. Salah satu tugas penting seorang perempuan adalah mencetak manusia-manusia masa depan yang shalih dan shalihah yang berguna bagi agama, bangsa dan negara. 

“Wanita adalah tiangnya negara. jika wanitanya baik, maka negara akan baik dan jika wanita buruk negara akan buruk”. 

Ungkapan ini mahsyur sekali sehingga menyadarkan kita bahwa betapa pentingnya peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Bahkan di level negara pun kaum perempuan memiliki kekuatan yang luar biasa membentuk seseorang akan menjadi pemimpin yang adilkah atau sebagai pemimpin yang dzolim. 

Oleh karena itu perempuan perlu menyadari peran pentingnya sebagai ibu, istri dan anggota masyarakat karena di tangan perempuan lah tegak dan kokohnya sebuah peradaban, baik di dalam keluarga maupun di dalam masyarakat.

2. Memilih pekerjaan yang sesuai dengan fitrah.

Perempuan bekerja tidak diharamkan dalam Islam. Tentu dengan kriteria-kriteria tertentu yang sesuai dengan fitrahnya sebagi perempuan. Allah menjamin balasan pahala yang sama dengan balasan pahala kepada kaum lelaki bagi perempuan yang bekerja. 

Di dalam Al Quran surat an-Nahl ayat 97 yang artinya: "Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."

3. Menjaga keharmonisan pernikahan 

Harmonis itu apa sih? Dalam kamus KBBI, harmonis artinya seia sekata, saling merangkul sehingga ketika ada masalah dipecahkan bersama-sama.

Nah, bagaimana jika keluarga sudah tidak harmonis? Tentu bisa dipastikan, di dalam keluarga itu sudah tidak ada kata seia sekata. Tidak ada jalan keluar dalam memecahkan masalah bersama karena keduanya sudah merasa paling benar dan berusaha melepaskan diri.

Padahal, keharmonisan keluarga itu berawal dari pernikahan yang bahagia. Sebagai pasangan yang dahulunya saling mencintai, tentu pernikahan harus menjadi prioritas sebelum apapun juga. 

Saya pun begitu, ketika sedang kesal, suami suka mengingatkan saya ketika saya culun dulu. Menunggu dia di depan jendela, ketika suami akan datang mengkhitbah saya. Kalau sudah begitu, biasanya saya cubit dia dan kita main cubit-cubitan oyy senggol-senggolan hihihhi

Disitir dari laman majalah keluarga, "keharmonisan rumah tangga dimulai dari pernikahan yang bahagia. Dengan memperioritaskan pernikahan akan memberikan berdampak besar pada hal lainnya, salah satunya dengan mengekspresikan cinta satu sama lain. Dampak baik ini akan memanjang dengan berdampak baik juga bagi anak. Mereka melihat kedua orang tuanya saling mencintai.  

4. Komunikasi terbuka dengan suami dan anak 

Salah satu yang kerap terabaikan saat berkomunikasi dengan suami dan anak adalah menyampaikan apa yang sedang kita kerjakan. Padahal menyampaikan aktivitas yang sedang kita lakukan adalah hal penting agar suami dan anak-anak mengetahui aktivitas istri dan ibunya.

Sekarang saya getol banget menyampaikan aktivitas saya kepada anak-anak. Misalnya ketika saya mendapat job menulis tentang sebuah topik saya akan sampaikan kepada mereka. Saya menunggu respon dan tanggapan mereka. Biasanya justru akan terbit ide juga dari obrolan santai dengan mereka.

Pernah ketika saya sibuk membuat surat atau membuat laporan pertanggungjawaban, anak saya bertanya. "Mi emangnya enggak capek menjadi pengurus organisasi?"

"Kakak aja capek banget dan pengen rehat dari organisasi mahasisawa."

Saya pun tersenyum padanya. Saya sampaikan bahwa ini adalah salah yang Umi ingin kerjakan. Karena saya ibu rumah tangga, saya tidak melakukan apa-apa selain mengerjakan pekerjaan dosmestik. Dengan menjadi pengurus organisasi, saya bertemu dengan berbagai macam karakter, saya bisa mengemukakakn pendapat, mendapatkan insight dari berbagai pertemuan dan sebagainya. Intinya saya ingin terus berguna bagi masyarakat meskipun saya bekerja di rumah.

Selain itu, dengan berorganisasi, saya bisa mengaktualisasikan diri dan terus berpikir, sehingga otak saya tidak dihentikan karena saya tidak pernah memikirkna apa-apa. Dengan bertemu dengan berbagai macam karakkter selalu saja ada inspirasi yang datanng. sehingga saya semakin hari semakin ingin menjadikan keluarga satu-satunya teman terbaik. Mendapatkan insight bagaimana mendampingi anak-anak hingga mereka dewasa kelak.

Saya menyampaikan kepada suami dan anak-anak bahwa saat ini saya juga sedang berjuang dengan tanggung jawab sebagai istri, ibu dan seorang pekerja freelance. Dengan demikian anak-anak dan suami tahu bahwa aktivitas saya tak sekadar mencari uang saja, tapi juga mencari kebahagiaan dengan melakukan kebaikan lewat menulis.

5. Melakukan manajemen waktu.  

Bahwa kehidupan kita setiap harinya dibatasi oleh waktu 24 jam. Jadi, bagaimana 24 jam itu bisa dijadikan waktu yang berkualitas baik sebagai ibu, istri dan juga anggota masyarakat.

Saya jujur masih lemah di manajemen waktu. Namun, dengan mengaturnya insyaAllah kita jadi tahu bahwa ternyata waktu itu benar-benar bekerja dan ketika kita diam di tempat, kita akan tertinggal jauh.

Sama seperti aktivitas sholat, ada waktu-waktunya dan itu sudah terjadwal dengan baik. Jika waktu shalat geser, maka akan berpengaruh juga pada waktu lainnya. Oleh karena itu, patokan beraktivitas juga bisa dilakukan dengan cara mengikuti jadwal sholat karena itu jadwalnya sudah pasti. 

Waktu digunakan dengan cara efektif dan efisien. Kapan waktunya menulis, kapan waktunya main sama anak, kapan waktunya masak, kapan waktunya bareng keluarga. Perlu dilakukan manajemen waktu yang baik agar semua pekerjaan menjadi efektif dan efisien. 

Kalau jadwal saya menulis biasanya kalau tidak siang seetelah shalat zuhur atau setelah shalat malam. Jadi karena sepanjang hari saya beraktivitas domestik, maka malam hari saya biasanya tidur setelah isya. Lalu bangun lebih cepat. Tidur cepat, bangun cepat.

Untuk pekerjaan rumah saya juga melibatkan anak anak untuk mengerjakannya. Ada semacam kocokan arisan setiap hari, sehingga tugasnya bergantian. Tapi belakangan ini, putra saya yang nomoer tiga yang bertugas mencuci piring. 

Di masa pandemi suami yang belanja dan buang sampah. Setelah belanjaan sampai, saya ang bertugas mencuci dan menata di kulkas atau tempat penyimpanan belanjaan yang sudah dibersihkan. 

Pada masa pandemi ini juga alhamdulillah everyday family time. Jadi saya banyak waktu bersama dengan anak-anak. Mereka juga terbiasa dengan kebiasaan saya menulis dan foto-foto produk. 

Kadang pekerjaan saya sebagai konten kreator jadi semacam family time karena akhirnya anak dan suami juga terlibat.

6. Menurunkan ekpektasi

Dari dulu saya memang tidak berambisi untuk menjadi penulis terkenal. InsyaAllah dengan istiqomah menulis di blog juga ini salah satu ikhtiar saya agar tetap berdekatan dengan dunia literasi.

Meski terkadang ada perasaan rindu juga, terbit buku cerita anak atau buku lainya. InsyaAllah pada waktunya buku-buku itu pasti ada yang terbit juga. Saya sudah bisa berdamai dengan keadaan.

Keadaan rumah yang selalu berantakan, sekarang sih saya sudah tidak stress lagi. Namanya juga banyak anak. semua keluarga memiliki kondisi yang sama dengan keluarga saya. Jadi ketika rumah berantakan, saya tetap bisa menulis.  Sekarang mah saya merem aja deh haha 

7. Bergabung dengan komunitas atau organisasi penulis 

Nah, di atas tadi saya sempat menyinggung bahwa saya mau capek berorganisasi karena saya ingin bermanfaat bagi orang lain. Saya juga mengikuti berbagai komunitas blogger perempuan agar saya tetap bersemangat menulis.

Mengikuti komunitas penulis buku cerita anak dan organisasi FLP. Bahkan sampai saat ini saya menjadi pengurus aktif FLP. Alhamdulillah, ini salah satu ikhtiar saya agar tetap bisa berpikir jernih. Bertemu dengan Emak-emak blogger tentu saja membuat seperasaan dan sepenanggungan. Masa mereka bisa melewati ujian saya enggak. Tentu saja saya ingin sekali bisa setangguh emak blogger atau penulis perempuan lainnya. 

8. Posting/ Positif Thinking dan luruskan niat

Husnudzon dengan ketetapan Allah. Bersyukur dengan apapun yang berlaku di rumah. Terutama  mensyukuri bahwa suami dan anak mendukung aktivitas saya, baik sebagai penulis, blogger dan konten kreator. 

Bersyukur karena meski menjadi seorang freelancer tapi kita masih bisa bekerja dan memiliki penghasilan. Bisa memiliki kemandirian finansial meskipun nilainya tidak seperti pekerja kantoran (eh itu sih saya, ya). Mungkin Moms Blogger lainnya mah sudah sudah jadi jutawan dari menjadi freelance. Apalagi kalau kliennya orang luar, gajinya dollar hehe

Tapi kembali lagi ke niat awal kita menulis untuk apa?

Jadi saya selalu berusaha meluruskan niat agar aktivitas menjadi lebih terarah dan berkah. Niat menulis untuk meyebarkan kebaikan. Tetap mengkomunikasikan kepada suami meski mungkin ada beberapa job atau aktivitas yang tidak disetujui oleh suami.

Terpenting adalah ridlo suami. Dengan ridlo suami, insyaAllah pekerjaan yang kita lakukan akan menjadi ringan dan membawa kepada kebaikan dan kebahagiaan.

Apapun situasinya, saya berusaha bersyukur. Karena saya yakin semakin saya bersyukur, Allah akan menambah nikmat yang akan diberikan-Nya. Bersyukur sampai detik ini anak dan suami masih sehat wal afiat dan mendukung aktivitas saya sehingga saya masih bisa melakukan aktivitas yang saya sukai, yaitu menulis.

Demikian Moms, 8 tips keseimbangan menulis dan keluarga. Tentu Moms juga punya dong kiat khusus atau trik agar seimbang antara pekerjaan menulis dan keluarga. Yuk, sharing!

Sri Widiyastuti
Saya ibu rumah tangga dengan 6 orang anak. Pernah tinggal di Jepang dan Malaysia. Isi blog ini sebagian besar bercerita tentang lifestyle, parenting (pengasuhan anak) dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keluarga dan perempuan. Untuk kerjasama silakan hubungi saya melalui email: sri.widiyastuti@gmail.com

Related Posts

46 comments

  1. Penting banget ini menjaga keseimbangan hobi dan peran utama, ya. Terima kasih sudah mengingatkan

    ReplyDelete
  2. Wah, tips yg bermanfaat sekali.. Sama dengan ngeblog juga ya.. Tujuan utama kita ngeblog itu untuk apa.. Alhamdulillah selama ini kalau mau daftar kelas" dan kegiatan lainnya selalu tanya suami dahulu, jadi bisa terjaga komunikasinya.. Bisa ganjian jagain anak juga sih kalau pas lagi sibuk.. Hihii,,

    ReplyDelete
  3. sepakatttt, karena menulis itu ternyata candu juga lho. akupun sekarang kalo mau nulis menyampaikanke suami apa saja yang akan jadi DL tulisan sehingga bisa saling membantu untuk menagaanak2 karena kalo lagi nulis kadang ke distrak bikin wow

    ReplyDelete
  4. Tulisannya mengena banget. Saya juga eprnah mengalami masa-masa "suram" saat awal belajar menulis. hingga sekarang saya yang masih belajar memanage waktu, akhirnya memutuskan nggak ngoyo banget dengan kegiatan menulis ini. Ridlo suami lebih penting

    ReplyDelete
  5. Keseimbangan antara hobi dan urusan rumah tangga emang perlu si, biar nggak berat sebelah. Walaupun jujur aja kadang susah gitu, ada aja yang berat sebelah.

    ReplyDelete
  6. Bu paket bu wkwkwk nyentil banget ini sih. Tulisannya seru dan asik di baca.

    ReplyDelete
  7. Wah ternyata perjalanan menulis juga berliku ya, Mbak, pernah ditentang suami sampai diboikot dan saat pulang ada teriakan "pakeet" hihi.

    Memang tantangan tersendiri yaa ... alhamdulillah suami restuin tetap menulis. Semoga tetap menulis dan berkah, juga samara selamanya ya, Mbak.

    ReplyDelete
  8. memang ya, asal kita bisa menjaga semuanya balance dan ga lupa sama tugas kita, seharusnya semua bisa menghasilkan hal-hal yang baik :)

    ReplyDelete
  9. Wah jleb banget dah, lebih mentingin pak paket dan pak sayur dari pada pak suami wkwkw.. bener banget. Saya setuju jika kita menikah adalah sepenuhnya milik suami, dan sayangnya, banyak istri-istri yang menuntut tentang kesetaraan apalah itu, tugas kita sebenarnya itu gampang kok, diem dirumah hahaha.. Tapi kembali lagi sama individu masing-masing ya mbak. Alhamdulillah jika semua kembali kepada Qur'an dan Sunah, InsyaAllah beres ga ada lagi yang diperdebatkan. Oh ya... kalau abis berantem berarti siap-siap nambah adek baru dong hahahha.. lucu sih :D

    ReplyDelete
  10. Hahaha... panggilan kang Paket tuh magnetnya lebih kuat dibanding panggilan suami ya mbak.

    Saya pun pernah ada di fase keranjingan nulis sampai mengabaikan anak dan suami. Alhamdulillah nggak lama kemudian lalu sadar, kalau lagi di depan laptop anak-anak minta perhatian, walau jengkel ya di tahan. Menghela nafas, lalu menutup laptop

    ReplyDelete
  11. Makasih sharingnya maak, memang betul keluarga nomor 1 ridho suami penting. Jadi ingat ketika saya memutuskan menjadi ibu rumah tangga ketika hamil anak pertama rasanya durumah tiap hari boringg BT karena biasa kerja, suami menguatkan bahwasanya rejeki sudah diatur. Hal sama ketika saya usaha online dirumah malah anak2 jadi terabaikan rumah jd berantakan kembali sadar buat apa sih cari tambahan toh duniawi di kejar tidak ada habisnya.

    ReplyDelete
  12. Betul sekali, keseimbangan dalam keluarga itu perlu. Dan yang penting, keluarga menjadi prioritas utama. Setelah urusan keluarga beres, baru deh aku mengerjakan tugas menulis baik yang deadline dan lain sebagainya. Yang penting makanan udah tersedia di dapur dan rumah beres, semuanya aman..hehe..

    ReplyDelete
  13. Setuju mba dengan poin2 diatas. Sebagai seorang ibu dan istri penting banget menjaga segala sesuatunya secara seimbang supaya tidak timpang dan kacau, salah satunya komunikasi dengan suami.

    ReplyDelete
  14. Hehehe kabur secepat kilat ya mbak akalau ada yg teriak pakeeeet. Usaha yg membuahkan hasil mbak Alhamdulillah setelah diboikot laptopnya makah dapat awarad ya, Semangat terus nulisnya mbak

    ReplyDelete
  15. Nah iya mba kadang membuat konten termasuk menulis sering membuat kita fokus sama konten jadi mengabaikan sekeliling ya hehe. Tapi untungnya suami ku paham banget dengan kegiatanku karena kami sama-sama content creator :)

    ReplyDelete
  16. yang penting keluarga selalu jadi prioritas utama, contoh kecilnya nih saya nulis blog saat anak anak udah beres mandi makan, suami udah berangkat kerja. jadi tidak menganggu kewajiban di rumah

    ReplyDelete
  17. Terimakasih sekali dengan tips menyeimbangkan antara aktivitas menulis dengan keluarga. Dulu, aku pikir menulis itu tinggal menuangkan apa isi kepala kita. Ternyata setelah menjadi blogger, banyak sekali trik, alur dan detil menulis yang harus diperhatikan agar optimasi blog juga oke.

    ReplyDelete
  18. ketika seorang ibu dan istri bisa menjalanakan hobby maka semua dijalankan dengan bahagia dan semangat. disaat bosan dan lelah terobati dengan menlakukan hal yang menyenangkan...

    ReplyDelete
  19. Menjuraaaa! Memang kok "oma" Tuti salah satu penulis yang sejak awal aku kagumi dan hormati.... eh pas ketemu jadi kusayangi!

    Aku salut deh dengan cara dikau memanaj segalanya, bisa masih sibuk dan aktif di FLP, masih jadi penulis produktif dan sekarang jadi blogger pula! Salim dulu ah....

    ReplyDelete
  20. Alhamdulillah suamiku mendukung aktivitas menulisku. Dulu, awal nikah juga buat perjanjian dan proposal untuk menghidupkan FLP di Lampung. Agar tidak keasyikan dan masih tetap fokus ke keluarga. Komunikasi itu penting dan seiring waktu sudah enggak ada lagi rasa cemburu dengan kegiatan organisasi kepenulisan. Apalagi sudah tahu menghasilkan uang hehehe ...

    ReplyDelete
  21. Ya ampun saya baru tahu bahkan dari tulisan ini kalau ada suami yang menuntut penerbit agar tulisan istrinya ditarik. Memang perlu banget komunikasi yang baik antara suami dan istri agar permasalahan tidak sampai melebar seperti ini.

    ReplyDelete
  22. Sepertinya semua penulis ibu ibu mengalami fase yang sama ya. Karena gak semua suami mendukung 100% profesi istrinya. Ada mendukung tapi dengan syarat ada juga ya blasss bebas aja. Tapi aku yakin sih suami pasti dukung istrinya, selama istrinya sadar diri tahu gimana caranya menyesuaikan waktu untuk menulis dan memperhatikan suami dan keluarga. Kalo over kan pasti jadi bibit pertengkaran. Gak heran suami jadi cemburu karena kita lebih mentingin nulis dari pada pillow talk dan cuddle time sama suami. Padahal ini lebih penting.

    ReplyDelete
  23. Masya Allah mbak.. akhir-akhir ini aku juga berpikir kalo kegiatanku posting-posting apakah bakal bermanfaat atau menimbulkan mudarat karena prioritas kita sebagai istri udah berubah. Makin tercerahkan lagi setelah baca postingan ini!

    ReplyDelete
  24. kegiatan apapun yang kita sukai, kalau sudah buat lupa waktu memang bisa menimbulkan masalah ya mba, termasuk menulis. Thanks for the story and the tips mba

    ReplyDelete
  25. Kok sampe segitunya ya mbak ada suami yang tidak ridho kalau istrinya membuat tulisan dengan laki2 lain. Tapi ya semuanya kembali pada keterbukaan dan komitmen dalam keluarga. Bersyukur sejak memutuskan jadi blogger suami saya mengijinkan. Bahkan seringkali dia nungguin saya saat menyelesaikan tulisan yang dikejar deadline....dan memang ridho suami adalah berkah dalam keluarga, buktinya saya akhirnya sering ditawari job dan dari sinilah saya berpenghasilan hahaha....tapi kalau cerita laptop diboikot yang akhirnya membawa berkah, sungguh luar biasa ini mbak...jadi pengalaman serta kenangan yang tak terlupa ya mbak.....

    ReplyDelete
  26. aku suka baca tulisannya kak sri yang ini, mengalir dan so related banget. suatu ketika ketika memulai dunia blogging ini lebih serius, kira-kira baru beranjak 1 tahun. suami sempat "protes" karena melihat saya banyak begadang, dan gampang meledak. yuk istirahat dulu nulisnya. gitu katanya...wkwk sempet yg gimana juga. tapi saya jadi mikir berarti ini teguran, ada yang ga balance dari saya.

    ReplyDelete
  27. Betul mbak, ketika masalah keluarga diketahui orang lain pasti efeknya akan ada buat pasangan. Komunikasi memang tetap nomor satu ya, kalaupun capek, bisa istirahat dulu.

    ReplyDelete
  28. Komunikasi dan management waktu ini nih yang masih terasa sulit bagi saya praktikkan. Padahal dua point itu termasuk modal dasar ya, hehehe...
    Saya masih harus banyak belajar lagi nih. Terimakasih insightnya Mbak

    ReplyDelete
  29. Saya kadang dilema melakukan pekerjaan menulis dan membagi waktu bersama keluarga, alhamdulillah nemu artikel yang tepat menjadi saran agar bisa menyeimbangkan keduanya, thank u mba

    ReplyDelete
  30. Makasih mba tipsnya ini bermanfaat sekali, saya masih belum bisa kasih porsi besar di menulis karena anak-anak masih kecil

    ReplyDelete
  31. Ngeri juga ya ada kasus seperti itu jadi pelajaran sebelum berkolaborasi itu harus komunikasi dengan suami. Terus juga harus mengutamakan keluarga dibanding dengan menulis. Menulis tidak mengganggu jadinya suami dan anak2 jadi ga komplen hehe...

    ReplyDelete
  32. Masya Allah mba Sri, kebayang hecticnya ngurus 6 orang anak, masih suka nulis dan tentunya sang suami. Bner bgt itu, klo suami ridho insya Allah rezeki smakin lancarm. ya mba

    ReplyDelete
  33. Bener juga yaa, kak..
    Ada hak-hak suami yang sering kita abaikan ketika ada DL, terutama.
    Yang paling baik memang bisa mengatur waktu antara keluarga dan hobi menulis. Semoga apapun yang kita lakukan setiap hari senantiasa mendapat ridlo dari suami agar Allah pun memberikan ridlo dengan hasil terbaik.

    ReplyDelete
  34. Menulis jangan sampai bikin kita lupa sama keluarga yaa, saya sering banget nih huhuu

    ReplyDelete
  35. Sampai segitunya ya Mak, curhatan suami penulis itu sampe masuk sosmed mah udah konsumsi publik. Balik lagi ke pilihan prioritas dan komunikasi. Tapi kalo emang ga bisa diajak kolaborasi pasangannya, aku setuju aja kalo kita sebagai perempuan kolaborasi sama lelaki lain yang memang bisa diajak kolaborasi dan menghasilkan. Why Not? Tentunya dengan menjalankan komitmen dan tips2 di atas tadi. Nuhuuun tisnya Mak.

    ReplyDelete
  36. Hmm, masalah sepele yang mestinya harus diselesaikan secara internal ya Mbak. Mungkin sebaiknya ketika menerima pekerjaan menulis didiskusikan dulu bersama keluarga, tau sendiri gimana rasanya menulis dikejar DL, bawaannya spaneng, hehe

    ReplyDelete
  37. hehehe iya kadang2 emang dilema yaa mba.. penulis itu seringkali memang butuh waktu extra untuk nulis, apalagi kalau nulis fiksi. ngga cuma butuh memadukan alur dan membangun karakter, tapi juga riset. lebih komplekss

    ReplyDelete
  38. Iya nih, penting juga komunikasi dengan keluarga, baik dengan suami maupun anak-anak terkait aktivitas menulis yang kita lakukan. Tetap dong mereka prioritas bagi kita. Semoga saja saat deadline mendekat, orang-orang terkasih ini memberikan waktu yang cukup bagi kita untuk menyelesaikan pekerjaan ya Mba. Berkah selalu untuk kita semua.

    ReplyDelete
  39. Setujuu sihh, aku juga selalu beusaha biar urusan hobi dan keluarga juga seimbang jadi sama2 bahagia gitu, alhamdulillaah suami support banget :)

    ReplyDelete
  40. Setuju mba penting banget menyeimbangkan keluarga dan menulis, jangan sampai keasikan nulis anak2 malah ga terperhatikan

    ReplyDelete
  41. Sepertinya ga cuma penulis, semua pekerjaan akan butuh diseimbangkan jika kita sudah menjadi seorang istri kan. Jangan sampai lupa tugas sebagai ibu dan istri. Selanjutnya menjaga komunikasi. Begitu sih teorinya, jalaninnya ya pinter-pinternya masing-masing orang aja.

    ReplyDelete
  42. wah kita berada di komunitas yang sama nih mbak, saya juga gabung dengan FLP Malang, kalau semangat menulis justru suami yang menganjurkan. sejak hamil anak kedua sempat vakum termasuk vakum usaha kuliner juga. Menulis dan urusan keluarga memang kudu seimbang deh

    ReplyDelete
  43. harta yang paling berharga adalah keluarga, menurutku pribadi setiap hal yang dikerjakan istri perlu dikomunikasikan dengan suami ya mbak. karena mau bagaimanapun, amanah kita sudah berbeda dengan saat masih single ya

    ReplyDelete
  44. Menurunkan ekspektasi ini yang kadang agak sulit untuk diterapkan dan sering menyulut pertengkaran. Say asaja sampai skrg masih belajar untuk itu.

    ReplyDelete
  45. Masyaallah menulis bawa bawa rumah tangga, seolah sedang menasehati saya secara tidak langsung. Cocok untuk saya terapkan di pernikahan awal saya

    ReplyDelete
  46. Wah, baru dengar ada penulis yang bukunya ditarik suami ke penerbit pula, sedih banget itu nulisnya susah, tapi kalau gara2 nulis jadi komunikasi yang makin parah. Kudu suami kerja tambahan ya biar full ngurus rumah aja deh.

    ReplyDelete

Post a Comment

iframe komentar