aXo1ROaM90rrPonD2hJx7xmRHgpeNsWcuj6lcvtc

Berjibaku Raih Gelar Master ala Ibu Rumah Tangga di Masa Pandemi Covid-19

Berjibaku raih gelar master ala ibu rumah tangga di masa pandemi Covid 19. Sebenarnya, kisah ini saya tulis untuk mengikuti lomba gerakan literasi digital yang diadakan oleh Perpusnas. Saya tulis sehari sebelum lomba ditutup. Qodarullah naskah ini tidak masuk dalam 10 besar. Mungkin ceritanya biasa saja ya. Namun, semoga ketika saya muat di blog (dengan beberapa tambahan cerita karena aslinya hanya 700 kata), akan banyak ibu-ibu yang terinspirasi dari kisah saya ini. Bahwa sekolah lagi dan menyelesaikan tugas kuliah di tengah pandemi Covid-19 insyaAllah bisa dilakukan. Tentu dengan kesadaran bahwa ini adalah tantangan yang harus tetap dihadapi. Bukannya diskip. Karena banyak di antara teman-teman yang akhirnya menyerah dan tesisnya bubar jalan, hingga bertahun-tahun tidak selesai. Padahal dalam kondisi tidak dalam masa pandemi. So, semoga ada yang bisa dipetik dari kisah saya ini yaa.

Berjibaku raih gelar master ala ibu

Pandemi Covid 19 Mengubah Gaya Hidup Keluarga

Pandemi Covid-19 secara sistematis telah mengubah gaya hidup keluarga. Dengan jumlah kasus baru yang diperkirakan setiap hari akan semakin meningkat, kita sebagai orang tua kemungkinan akan berada pada situasi ini dalam waktu yang lama. 

Salah satu efek yang terasa sekali adalah school from home (SFH) bagi siswa sekolah dan work from home (WFH) bagi ayah atau ibu yang bekerja. Bagi ayah dan ibu bekerja, WFH akan menjadi tantangan tersendiri, dengan pekerjaan yang dikerjakan di rumah sambil mendampingi anak-anak belajar. Demikian juga dengan saya. Ibu rumah tangga (stay at home mom/SAHM) dengan anak 6 orang. 

Pada awal diumumkannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) pada 3 Maret 2020 lalu,  saya masih berstatus mahasiswi magister yang sedang berjuang menyelesaikan tesis. Dampak dari pandemi Covid-19 ini terasa sekali. Mendampingi anak 6 orang di rumah dengan level pendidikan yang beragam (PAUD, SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi)  membuat hidup saya seperti sedang menaiki roller coaster. Perjalanannya tak selalu mulus lurus, namun terkadang naik, turun, berbelok tajam hingga saya hampir  terpental karena tidak kuat. Tapi, saya berusaha bertahan. Sampai pada akhirnya saya merasa naik roller coaster justru menyenangkan! Ini adalah tantangan yang luar biasa bagi saya. 

mendampingi anak dengan level pendidikan beragam

Dalam kesempatan ini saya ingin berbagi cerita cara saya menyelesaikan tesis yang sempat terbengkalai selama hampir satu semester di tengah pandemic Covid-19. Satu semester yang berlalu, bukan berlalu begitu saja. Namun saat itu adalah masa adaptasi saya dan keluarga dalam menghadapai perubahan gaya hidup kami selama di rumah saja. Sebagai seorang ibu, tentu saya harus menjadi ibu yang “gercep” dalam mengambil keputusan, tidak mudah putus asa dan harus kreatif. 

PJJ Ubah Suai Ruang Keluarga sebagai Pusat Sumber Belajar

Jadi ketika diberlakukannya PJJ (pembelajaran jarak jauh) yang  saya lakukan adalah:

1. Mengubah ruang keluarga menjadi ruang belajar anak. Jadi semua anak bisa belajar besama di dalam satu ruangan besar agar saya bisa mendampingi mereka sekaligus selama PJJ. Namun pada perjalanannya, anak-anak perlu open cam di waktu-waktu tertentu dan ini lumayan merepotkan, karena belajar dalam satu ruangan, sementara ada yang perlu berinteraksi dengan gurunya, sementara yang lain juga memiliki aktivitas yang sama. Tapi ini tak berlangsung lama, hanya pada awalnya saja. 

2. Menyediakan jaringan internet yang murah dan bisa memback-up kebutuhan jaringan internet untuk mendukung anak-anak belajar. Ketika SE (surat edaran) mentri pendidikan di share baik di sekolah maupun di televisi, saya dan suami berdiskusi seputar pengadaan jaringan internet selama belajar di rumah. Setelah dikalkulasi, ternyata dengan pembelian kuota untuk hape, jatuhnya mahal karena setiap hape misalnya 50K, dan pemakaian biasanya sebelum sebulan sudah habis. Jadi harus beli lagi. Sehingga tiap bulan kurang lebih 1 hape 100 ribu, sementara pemakaian kuota ada 5 hape.  Jadi diputuskanlah kami langganan internet Megavision yang ada di Bogor dengan biaya berlangganan 253ribu setiap bulannya itu sudah biaya admin dan mendapat fasilitas tivi kabel. ALhamdulillah, biayanya lebih hemat dibandingkan dengan membeli kuota di hape. Jaringannya juga oke, cuma pas hujan besar dan bergeluduk saja jaringan internetnya suka tiba-tiba mati.

Alhamdulillah belakangan, anak anak mendapat bantuan kuota internet dari kemendikbud yang bisa dipergunakan sebagai back up jika mati lampu atau jaringan tidak stabil.

3. Menyediakan laptop dan handphone untuk mendukung belajar anak. Alhamdulillah kami memiliki 1 pc, tiga  laptop dan dua HP yang bisa dipergunakan bersama-sama, untuk grup sekolah. Iya, laptop itu ada yang dapat hadiah, ada yang bawaan dari Malaysia dan bawaan dari Jepang. Jadoel banget, kan yang terakhir hihihi laptopnya masih tebal, tapi lumayanlah masih bisa dipakai. Kakak yang kuliah dan SMA sudah punya HP sendiri. Sementara yang 4 anak lainnya memakai HP emaknya barengan. 

Mulai Menulis Tesis

Kapan saya mulai menulis tesis? Setelah anak-anak mulai terbiasa dengan pembelajaran jarak jauh, kemudian saya mulai melanjutkan penulisan tesis saya yang terbengkalai. Kira-kira pada bulan September 2020 ketika teman-teman saya sudah mulai ada yang daftar sidang tesis terbuka. Saat itu saya mulai ngeh, bahwa semester berjalan tetap membayar uang kuliahlah. Kirain gak bayar lagi hihi. Itulah salah satu motivasi menyelesaikan tesis secepatnya, agar semester berikutnya gak perlu bayar SPP lagi. Memang tidak mudah, tapi insyaALlah kalau dilakukan terus menerus akan selesai juga. Saya mulai mencicil membaca, mencicil menulis setiap hari. Meskipun 1 jam setiap hari, lama-lama akan selesai juga. 

finally ujian tesis

Jadi tesis saya ini sudah mengalami beberapa kali revisi, dari mulai topik, judul, metodologi penelitian dan tambahan sumber data. Karena awalnya penelitian saya ini kajian pustaka, saya jadi banyak membaca jurnal-jurnal dan buku yang terkait penelitian saya tentang peran ibu sebagai pendidik informal dalam menstimulasi motorik anak usia dini. 

Nah, setelah sidang terbuka, banyak mendapat masukan dari kaprodi dan sekretaris prodi untuk mengubah metodologi penelitian. Alhamdulillah enggak banyak yang saya ubah, karena tetap sama penelitian kualitatif, tapi beda dimetodologi penelitiannya saja. Selama kurang lebih 2 minggu sebelum ujian tesis, saya mengalami kurang tidur karena harus mengolah bab 4  dengan metode penelitian yang baru agar sinkron dengan apa yang diminta sama kaprodi (kebetulan juga jadi penguji saya). Alhamdulillah anak-anak dan suami support, sehingga saya bersemangat untuk menyelesaikannya segera.

Langkah Menyelesaikan Tesis Ala Ibu Rumah Tangga

Beberapa langkah yang saya lakukan dalam menulis tesis adalah sebagai berikut:

1. Disiplin

Nah, ini yang harus dilakukan Moms. Disiplin. Jika kita sudah menetapkan sehari 1 jam menulis. Maka mau tidak mau, kita harus melakukannya. Sehingga ada catatan di dalam pencapaian harian. Ini juga berlaku ketika kita menugaskan diri membaca 1 jam sehari. 

Waktu saya menulis tesis dan masih dalam melakukan pencarian data, pernah dalam sehari saya belum membaca 1 jurnal pun. Sehingga saya harus membaca 2 jurnal di hari berikutnya. Lalu mencatatnya. Lumayan rempong juga, karena kan jadi kurang fokus ya, karena anak anak ada saja yang membutuhkan bantuan. Sehingga saya akhirnya mengetatkan diri untuk disiplin, sehari 1 jurnal harus saya baca dan mencatatnya.

2. Tidak Menunda Pekerjaan

Ini juga harus senantiasa dipehatikan. Sebagai ibu rumah tangga, tentu saja kita punya banyak pekerjaan ya. Nah, apalagi di masa pandemi begini enggak ada asisten ya. Saya sih memang tidak ada asisten sejak dari dulu, jadi anak anak yang membantu saya bergiliran. Selama saya menulis tesis, anak anak ada yang mencuci piring, menyapu rumah dan membereskan rumah, mengajak saki main. Saya tinggal masak dan membuat cemilan. Membuat cemilan ini juga anak anak banyak membantu saya. Alhamdulillah. 

Jadi memang dibutuhkan kerjasama di rumah. Kadang suami juga membantu memasak di dapur. Biasanya sih masak nasi goreng dan gorengan kesukaannya. Alhamdulillah ini juga membantu sekali.

3. Berusaha Konsisten

Konsisten ini hubungannya dengan disiplin. Jika kita tidak konsisten tentu tujuan yang ingin kita capai tidak akan pernah terwujud. Demikian juga ketika saya menyelesaikan tesis, saya berusaha konsisten dengan apa yang saya lakukan. Ilmu yang saya dapat, saya sinkronkan dengan aktivitas saya sehari-hari. Jadi selama menulis tesis, beneran deh, saya banyak sekali tertohok dengan berbagai informasi yang saya dapat terkait anak usia dini. Sehingga ketika saya menulis tesis, agar saya bisa menulis dengan baik, saya berusaha menjalankannya sebaik-baiknya. Agar apa yang saya tulis sampai ke hati pembaca.

4. Membuat Catatan Pencapaian Harian

Nah catatan harian ini sangat berguna sekali sebagai evaluasi pencapaian harian. Saya membuat catatan ini di dinding di depan mata saya. Kalau saya melihat ke dinding di depan mata saya, maka terpampang dosa-dosa saya. Ya ALlah, beneran deh, ini efektif banget sebagai pemicu saya mengelola waktu dengan baik. Jika tidak ada catatan ini, kemungkinan saya akan santai saja dalam menyeelsaikan tesis dan mungkin tesis saya tidak akan pernah jadi. Alhamdulillah ada catatan ini sehingga menjadi motivasi saya setiap harinya. 

5. Menetapkan Skala Prioritas

Ya, kan karena kita bekerja di rumah, sehingga pasti ada saja yang mengalihkan kita dari menulis tesis. Maka, kita harus menetapkan skala prioritas. Jika menulis tesis adalah prioritas kita pada saat itu, maka kita harus disiplin (kembali ke nomor 1). Kita harus kuat menahan apa yang ingin kita lakukan atau menyambi dengan pekerjaan yang lain. Tapi saya juga pernah sih melakukannya hiihhi karena waktu itu diajak sama mas Ganjar menjadi mentor dalam penulisan bahan bacaan anak inklusi di NTB. Kegiatannya bulan November 2020, alhamdulillah waktu itu saya sudah selesai menulis sampai BAB 4, jadi agak longgar. 

6. Membaca berbagai sumber data

Baca, baca, baca.

Mengulik data base digital di portal ilmiah semacam SINTA, GARUDA dan Google Schoolar.  

Disela kesibukan saya mendampingi anak-anak belajar, mengurus rumah tangga, memasak dan sebagainya, saya membaca berbagai jurnal yang terkait dengan penelitian saya dan mengumpulkannya dalam sebuah folder penelitian.  Beruntung sekali sebelum masa pandemic Covid-19, data base jurnal ilmiah semacam SINTA, GARUDA dan Google Schoolar menjadi sumber berbagai jurnal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia sehingga memudahkan saya mendapatkan berbagai referensi terkait penelitian saya. Berbekal jurnal-jurnal itu, saya dapat mengembangkannya penelitian baru terkait pendidikan anak usia dini, yang menjadi bidang garapan saya di Teknologi Pendidikan konsentrasi PAUD UIKA Bogor. 

7. Mencatat semua informasi yang saya dapatkan dari berbagai sumber

Berbagai informasi yang saya dapatkan dari jurnal-jurnal yang saya baca, saya catat di buku khusus menulis tesis. Sehingga ketika saya membutuhkannya, saya tinggal mencarinya. Semacam notes begitu. Saya juga mencatat quote atau kata-kata para ahli yang sesuai dengan penelitian saya, kemudian saya beri catatan, judul bukunya atau jurnal apa dan pada halaman berapa. 

Setelah itu melakukan pengkodean atau pengkatagorian pada data yang saya temukan dan dimasukan dalam folder tertentu sehingga saya mudah menelusuri apa yang sudah saya kerjakan. Saya mengerjakan ini dengan mengurangi tidur agar tesis segera selesai. Prinsip yang saya gunakan adalah apa yang Rasulullah SAW ajarkan, tidur cepat dan bangun cepat. Ketika saya mulai mengantuk, saya tidur. Meskipun sebentar tapi ini akan membuat badan menjadi segar. Dan otak bisa bekerja lagi dengan baik. Selama 4 bulan saya melakukan aktivitas ini. Malah ketika akan ujian saya hanya tidur 2 jam saja heuheu. Mata sepet. tapi alhamdulillah bisa menyelesaikannya penulisan tesis dengan baik.

8. Intensif menghubungi dosen pembimbing 1 dan pembimbing 2 untuk menyampaikan proposal penelitian dan menulis tesis bab per bab. 

Intensif menghubungi dosen pembimbing
fotonya buram bukan karena bokeh, tapi karena hape dimasukan ke dalam plastik :-)
Di masa pandemic ini di mana diberlakukan WFH, bimbingan dilakukan dengan menggunakan aplikasi online untuk memudahkan alur komunikasi dengan mengunakan media digital seperti zoom meeting, whatsapp dan smartphone. Alhamdulillah semakin intensif, diskusi dua arah pun terjalin efektif dan efisien. Meskipun terkadang ada saja kendala jaringan yang membuat komunikasi tidak lancar.
Bimbingan dengan dosen pembimbing kedua saya lakukan secara offline karena pak dosen stand by di kampus selama beberapa jam saja. Jadi akhirnya untuk pertama kali di masa pandemi, awal bulan Januari 2020 saya memberanikan diri keluar dari rumah. Tetap dengan prokes dong, ya dan memakai double masker, masker medis di dalam dan masker kain di luar. Alhamdulillah bimbingan berjalan lancar. 

9. Melakukan pengumpulan data lewat wawancara dengan nara sumber.

Wawancara kepada narasumber saya lakukan secara online terkait peranan ibu sebagai pendidik informal dalam menstimulasi motorik anak usia dini dengan menggunakan video call dan merekamnya menggunakan media anchor.

Jujur, ini tuh gak mudah. Apalagi narasumber saya kan ibu-ibu rumahan. Awalnya narasumber saya lebih dari 10 orang. Tapi, kemudian menciut menjadi 3 orang. Ini pun alhamdulillah masih ada yang bertahan mau ditanya-tanya sama orang yang tidak dikenal. Narasumber saya ini saya ambil ibu-ibu yang tinggal di kelurahan Kedung Jaya. Salah satu kelurahan di sebelah rumah saya. Saya beberapa kali melakukan pelatihan keterampilan di daerah itu, tapi saya belum pernah jumpa dengan ibu-ibu ini karena kelurahan Kedung Jaya lumayan luas dan banyak RT RWnya. 

Sebelumnya saya dikenalkan oleh ketua Posyandunya masing-masing. Saya melakukan komunikasi intensif dengan menanyakan kabar dan aktivitas yang dilakukan ibu, kemudian meminta ijin akan melakukan wawancara kepada mereka dan mempublish seluruh isi wawancara di tesis saya. Alhamdulillah ketiga ibu ini mau dan dengan sukarela mengatakan bersedia membantu saya. Alhamdulillah. 

Ketika wawancara, namanya silakukan secara online kan, ada saja gangguan dari gangguan sinyal dan suara yang tidak terdengar jelas. Kemudian ada beberapa kali break, karena anak-anaknya ingin sama ibunya, ingin ke toilet, ada juga yang main pianika di dekat ibunya, sehingga suara sayup sayup terdengar. Saya melakukan wawancara lewat telpon sebanyak 3 kali dan melakukan  wawancara lewat whatsapp berkali-kali, selalu saja ada yang ketinggalan. Alhamdulillah mereka mau menjawabnya. Jika saya perlu cepat, saya menelpon mereka dengan perjanjian. 

10. Berdoa pada Allah agar dimudahkan 

Berdoa kepada ALlah ini penting agar semua urusan kita dimudahkan oleh-Nya. Berdoa kepada ALlah pun penting sekali karena semua yang terjadi di dunia ini adalah atas kehendak Allah. Meskipun kita yang menjalankannya, tetap ada campur tangan Allah di dalamnya. Sehingga ketika kita berhasil, tidak akan menjadi sombong dan ketika gagal tidak akan kecewa. 

Dan, akhirnya, meski penelitian dan bimbingan tesis dilakukan dengan memanfaatkan alur informasi digital dan selama hampir setahun berjibaku menyelesaikan tesis dengan kondisi dan situasi yang tak terbayangkan sebelumnya, akhirnya tanggal 27 Februari 2021 saya dinyatakan lulus ujian tesis dengan predikat terpuji (cum laude). Alhamdulillah. Bersyukur pada Allah SWT yang memberikan saya kesehatan dan umur yang panjang sehingga sampai pada tahap ini. Dan saya selalu yakin, bahwa perjuangan selalunya beriringan dengan pengorbanan. Hasil tak pernah mengkhianati usaha.  

So, Moms, apapun yang ingin kita capai di masa pandemi ini, insyaAllah bisa dilakukan dan tercapai. Kuncinya adalah kesabaran dan sungguh-sungguh dalam melakukannya. Yuk semangat, Moms!

Salam Semangat,
Related Posts
Sri Widiyastuti
Saya ibu rumah tangga dengan 6 orang anak. Pernah tinggal di Jepang dan Malaysia sebagai diaspora.Isi blog ini sebagian besar bercerita tentang lifestyle, parenting (pengasuhan anak) dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keluarga dan perempuan. Untuk kerjasama silakan hubungi saya melalui email: sri.widiyastuti@gmail.com

Related Posts

22 comments

  1. salut deh, gak semua bisa ya bagi waktunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah mbak Tira, ini juga butuh kekuatan hati dan support dari sekitar mbak. alhamdulillah anak dan suami support semua.

      Delete
  2. Masyaallah. Insyaallah dengan dimuat dalam blog begini akan makin menyebar inspirasinya, ya. Salut! Semoga berkah selalu

    ReplyDelete
  3. Mba sharingnya menginspirasi banget, dengan adanya aturan jd lebih tertata karena sy juga struggling banget jadi IRT dimasa pandemi, just in case kalau dihari tertentu ada hal / sesuatu yg mendadak muncul, itu jdwal pda point 2 cara ngatasinnya gmana? Karena kan otomatis ketunda sehari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. menunda pekerjaan rumah tentu jadinya menumpuk ya mbak. seperti mencuci piring, mencuci pakaian dsbnya. saran dari saya,jika kita tidak bisa mengerjakannya ketika ada hal urgent keluar. segera bereskan ketika kita sudah bisa melakukannya. jangan ditunda lagi. kalau ditunda lagi, tentu akan berdampak pada pekerjaan lainnya juga mbak. minta juga bantuan dari suami atau profesional/pekerjaan di bidang beres beres jika kita memang tidak bisa menyelesaikannya sendiri. misalnya undang Go clean mbak. cmiiww.

      Delete
  4. keren sekali mbaaaa, makin banyak ilmu yang bakal di sebar lewat blog ini pastinya ya kan?

    ReplyDelete
  5. Mbaaaa aku baca tulisanmu ini sambil terhanyut kagum. Bisa yaaa mba Sri ini sabar banget ngadepin situasi domestik plus masih bersemangat sekolah dan garap tesis. Lha aku? Anak 2 aja udah ngap-ngapan. Berasa exhausted gitu sama segala hal yg rasanya harus dikerjain dan diselesaiin. Hebat mba! Salut! Sangat menginspirasi .. sehat selalu untuk keluarga ya mba

    ReplyDelete
  6. Mbak, hebat sekali bisa membagi waktunya. Aku aja kadang masih kewalahan dan jadi keteteran, akhirnya berantakan semua 😢
    Yang paling penting memang disiplin ya, mbak

    ReplyDelete
  7. Banyak dampak buruk dari adanya pandemi ini ya, Mbak. Kita mau nggak mau harus bisa menyesuaikan dengan keadaan saat ini seperti WFH dan SFH. Tetanggaku juga ada yang dapat bantuan kuota internet dari sekolah dan pemerintah.

    ReplyDelete
  8. Masya Allah.. Luar biasa banget perjuangannya, mba.. Menyelesaikan tesis sambil ngurusin 6 orang anak, luar biasa. Tapi kalo udah terlewati gini rasanya Alhamdulillah banget ya. Sungguh menginspirasi!

    ReplyDelete
  9. MasyaAllah mba Tuti. Bikin aku ketamper yang masih ngeluh ini. Kamu yang bejibun gawean masih menyelesaikan perjuangan tesis. Lancar selalu ya mba Tuti

    ReplyDelete
  10. Alhamdullilah selesai juga s2. Selamat ya dapat gelar master. Semangat terus belajar

    ReplyDelete
  11. Sharing yang penuh inspirasi Mbak, tdk mudah melakukan aktivitas yg luar biasa dimasa pandemi saat ini bahkan banyak orang yg gagal krn dampak pandemi.

    ReplyDelete
  12. Masya Allah... luar biasa sekali dirimu. Kebayang deh di antara tumpukan tugas harian di rumah, masih harus baca... baca dan terus baca. Trus menyusunnya menjadi tesis.
    Aku nih ditawari sekolah S2 sama suamiku keder mba, padahal hanya mendampingi 1 anak yang PJJ hehehee.. Sejak S1 memang aku ga rajin gitu sih mba, duh laaahh :D

    ReplyDelete
  13. wah selamat yaaa mba berhasil lulus cumlaude dengan penuh perjuangan di masa pandemi gini. semoga banyak perempuan-perempuan hebat yang ikut terinspirasi seperti dirimu nih.

    ReplyDelete
  14. Barakallahu fiik, kak...
    Lulus dengan nilai terbaik, cum laude. Rasanya lega dan semoga ilmunya bisa membawa keberkahan untuk ummat.

    Tipsnya penting sekali diikuti, terutama untuk yang ingin mengambil jenjang S2 dan berazzam kuat untuk lulus dengan tepat waktu dan nilai terbaik.

    **ikut terharuuu atas perjuangannya kak..
    Hebat sekali support systemnya.

    ReplyDelete
  15. congratulations yaaa mba. kalau ada kemauan in syaa Allah jalan akan tersedia juga walaupun memang tidak selalu mudaaah

    ReplyDelete
  16. Selamat ya Mbak. Tentu menempuh pendidikan di masa pandemi seperti sekaranv punya tantangan tersendiri dan pastinya lebih berat tapi bukan berarti nggak bisa ditaklukkan ya. Nyatanya pandemi bukan penghalang karena teknologi juga sudah canggih.. so selamat buat Mbak yang bisa merasakan nikmatnya meraih gelar master di tengah pandemi

    ReplyDelete
  17. Masyaallah tabarakallah mba. Makasih sharingnya ya. Pasti berguna dan membantu banget motivasi aku. Doakan juga ya mba, kebetulan saya lagi mulai tesis. 😊🙏

    ReplyDelete
  18. Masyaallah aku mah salut sama dirimu teh, anak banyak, ada yang masih kecil, tapi tetap bisa rempong mania deh. Ngerjain apa saja sampai cari ilmu setingginya, barokaallah ya Teh

    ReplyDelete
  19. LUAAARRRR BIASAAAA Mba!!! Ya Allah kapan terakhir kali kita ketemu yah? Pas abis event apa gitu aku lupa kita barengan naik taksol menuju stasiun kereta. Sekarang dirimu Magister. MasyaAllah tabarakallah, Mbak :)))) Aku cukup envy, tapi tak kuasa belajar lagi :D

    Semoga gelar barunya ini bisa barokah ya Mbak :)

    ReplyDelete
Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @tutiarien