Skip to main content

Lomba Foto dan Cerita Demam Reda, Anak Ceria Tabloid Nakita

Ini saya copas dari blognya mbak Sri Wahyuti makasih ya mbakyu :-)



Teman-teman yang punya pengalaman mengatasi anak pada saat demam, ada lomba menarik nih.

Yuk, bagi pengalaman Anda dengan mengirimkan cerita bertema Ketika Anakku Demam, besera foto keceriaan ibu dan anak setelah sembuh dari demam.

Kategori Lomba:

• Kategori A : anak usia 0-5 tahun
• Kategori B : anak usia 6-12 tahun


Hadiah untuk tiap kategori :

• Juara 1: Rp.10.000.000,- Juara 1 kategori A akan ditampilkan di cover belakang nakita
• Juara 2: Rp.7.000.000,-
• Juara 3: Rp.5.000.000,-
• Hadiah @Rp.250.000,- bagi 10 foto terpilih di tiap kategori
• Bingkisan menarik untuk 50 foto hiburan dari tiap kategori

Syarat dan ketentuan:

• Kirimkan cerita dengan tema ”Ketika Anakku demam”, dimana Anda menceritakan perasaan Anda ketika anak demam hingga ia sembuh.
• Sertakan foto berwarna ukuran 4R tentang keceriaan Ibu dan Anak setelah sembuh dari demam
• Cantumkan nama, alamat, nomer telepon, beserta nama anak, tempat/tanggal lahir, dan nama serta alamat sekolah.

• Kirimkan cerita dan foto ke :

a. via pos ke PO BOX NAKITA 8744 JKB, Jakarta 11000
b. via www.tabloidnova.com dan www.nakita-online.com
c. via email promosinakita@gramedia-majalah.com dengan subject KETIKA ANAKKU DEMAM

• cerita dan foto diterima paling lambat 21 Juli 2012
• Foto yang telah dikirim menjadi hak milik Gramedia Majalah
• Para pemenang dipilih oleh juri dan keputusan juri tidak dapat diganggu gugat
• Pengumuman pemenang akan diumumkan di Tabloid Nakita 27 Agustus 2012

Comments

Post a Comment

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @tutiarien

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…