Skip to main content

Celoteh Anak-anak

Hari selasa yang lalu, jalan-jalan sama anak-anak sangat menyenangkan. Kakak yang sedang panas badannya, mendadak reda. melihat keceriaannya, menunjukan bahwa jalan-jalan dan bermain adalah nikmat yang sangat luar biasa bagi anak-anak. Lihat saja, tidak ada kata jalan bagi abang, dia ingin jalan sambil lari, "Abang ga cape umi, abang hebat.." begitu kata anakku yang nomer 3.

Mendengarkan celoteh anak-anak, bak mendapatkan pelajaran dari guru-guru mungil. Di sela-sela jalan kaki menuju rumah teman umi, anak-anak asyik sekali mengomentari rumah-rumah yang terlihat di kiri dan kanan jalan. Perumahan yang bersih dan asri, tidak ramai kendaraan dan beragam bangunan yang membuat anak-anak gak tahan untuk tidak komentar.


"huuiii..rumahnya bagus banget..besar.." seru si kakak menunjuk rumah besar di sebrang jalan.
"umi, kalo rumah ifah kaya atau sederhana?" tanya teteh, anak nomer 2. dia menanyakan kondisi rumah temannya yang kebetulan ada disekitar perumahan itu.
"sederhana teh". sahutku pendek.."memangnya kenapa?" lanjutku
"iya, orang muslim kan rumahnya sederhana yah" jawab teteh
"orang muslim juga boleh kaya" sahutku sambil menahan tawa.
"shafa mah mau jadi orang muslim aja" kata teteh
"ya..muslim yang kaya yah, teh" sahutku lagi..
"iya mi...yang rumahnya besar, ada halamannya,ada pohon mangga, pohon jambu, pohon rambutan..pohon..bla..bla..." kata shafa sambil berlari mengejar kakaknya
"abang..abang juga orang kaya yah mi..." abang ikutan komentar
"iya..insyaAllah ..orang kaya juga abang..." sahutku..
"yes..abang orang kaya..." sambil berlari ngikutin kakak2nya...

Hmm...anak-anak mungkin belum begitu ngeh dengan semua istilah sosial itu, kaya miskin, sederhana, foya-foya dan lain-lain. mereka hanya melihat yang kasat mata dan kesederhanaan setiap orang yang ditemuinya, ketika bertemu teman-temannya (walaupun sebetulnya mereka adalah keluarga berada dan bisa masuk katagori kaya) mereka selalu bilang "mereka orang muslim", bukan orang kaya, atau orang miskin. 

Melihat yang ga pake jilbab, mereka akan bertanya, "umi dia orang muslim bukan?" karena dalam memorinya, muslim adalah orang yang menutup aurat. Pelajaran ketika mereka kecil di jepang, dimana disana adalah negara nonmuslim, akhirnya melabel semua orang muslim adalah orang yang menutup aurat, sementara yang tidak menutup aurat adalah nonmuslim. 

Anak-anak adalah pengamat yang briliant, cerdas. mereka juga guru bagi orang dewasa, pengingat bagi yang tua. betapa mereka adalah generasi yang harus dijaga dari akhlak-akhlak yang kurang baik, diluar kesopanan dan ajaran Islam. Menyertainya dalam suka dan dukanya adalah hal yang sungguh istimewa. Semoga Allah memberikan kesabaran dan kasih sayang yang tak pernah putus kepada mereka..anak-anak titipan Allah...

"Rabbana hab lana min azwajina wa dhuriyyatina qurrata A'yunin waj'alna lil-muttaqina imama."
Ya Allah, anugrahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa"

*****


Bogor, 15 des 2009
4SN , umi ga daisuki....

Comments

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…