Skip to main content

Si Besar dan Si Kecil

Disebuah pos yandu, datang seorang ibu berkerudung biru tergopoh-gopoh mendatangi bidan yang sedang menimbang seorang anak.
"Maaf, saya baru disini dan ingin menimbang anak saya hari ini, boleh kah?"
"oh..silahkan bu, tapi tunggu sebentar yah, silahkan duduk dulu"
Hari memang sedikit hujan, dan ibu kerudung biru itu harus menunggu bis dari depan rumahnya selama 30 menit. Telat sedikit tak apa, yang penting bisa merasakan fasilitas di kota itu. Begitu pikirnya.

Belum sempat ibu berkerudung biru itu duduk ada seorang ibu, berperawakan besar menyapanya;

"Maaf, apakah anda yang beberapa waktu lalu melahirkan di Chikazawa klinik?" tanyanya.
"oh..iya.." kata si ibu kerudung biru, tergagap.

"Kita kan samaan yah waktu itu disana, masih ingat tidak? anda kan yang bayinya paling besar diantara bayi-bayi kami", lanjut ibu besar.
"oh..iya....anda duluan pulang sepertinya waktu itu yah"

"dulu berapa yah beratnya...3 kilo 700 gram yah..." kata ibu besar sambil berusaha memastikan.
"oh..iya...bayi anda bagaimana? sehat?" jawab ibu keruddung biru

"sehat dong...lihat saja, makin besar kan..."
"iya, besar yah..."

"ini loh yang saya ceritain bayinya besar, sekarang lebih besaran anak saya kan" katanya bangga. sahut ibu badan besar kepada temannya. Temannya menyapa ibu kerudung biru, selamat siang.

"iya yah...bayi anda minum apa? ASI? lucu yah" tanya ibu kerudung biru sambil melihat bayi ibu badan besar.
"oh..tidak...saya ASI dan minum susu formula, minumnya banyak sekali, saya kewalahan"
"kalau bayi saya hanya minum ASI saja"

"Ohh..sekarang beratnya berapa sekarang?" sambil melirik anak ibu kerudung biru
"belum tahu, baru saja akan ditimbang" senyum ibu kerudung biru

Obrolan terputus, ibu kerudung biru dipanggil oleh bidan. Dia dengan cepat menurunkan tas besar isi perlengkapan bayinya dan mengeluarkan satu2 persiapan yang dibutuhkan untuk menimbang bayi. Sebelum ditimbang bayi di buka bajunya, dilap bekas pipisnya dan hup...bayi kecil itu tersenyum dalam timbangan. Aha...sudah 6 kilo 3 ons. senyum ibu kerudung biru pun merekah. Juncho..juncho...kata sang bidan. Dan ibu kerudung biru memohon ijin untuk mengabadikan poto si kecil dalam timbangan.

Selesai menimbang dan mengukur bayinya, ibu kerudung biru sibuk dengan beberapa pertanyaan yang diajukan oleh sang bidan. Karena baru, maka bidan ingin tahu riwayat ibu dan bayinya. Si Ibu begitu asyik berada di pos yandu tersebut. Dan begitu banyak pertanyaan yang keluar dari bibirnya seputar perkembangan si kecil.

Yah...hatinya dipenuhi perasaan nyaman, karena tanpa perlu ke dokter pun, jika punya problem bisa datang setiap pekan hari Rabu mengunjungi pos yandu itu.

Bisa sambil belanja atau sekedar mengajak anak2 main di chibiko hiroba/tempat bermain anak yang berada di Departemen Store.

Sore itu, ketika akan pulang kerumah, teringat akan teman seangkatan saat melahirkan. Untuk sekedar menyapanya dan mengucapkan selamat tinggal dan melaporkan berat bayinya. Tapi si Ibu badan besar sudah tidak berada di pos yandu itu. Mungkin sudah berkeliling2 belanja dengan temannya atau menghabiskan waktu di tempat makan yang banyak bertebaran di Mall itu.

Ibu kerudung biru teringat akan ucapan ibu bidan, mungkin bayinya ada keturunan besar dari ayahnya. Yah..mungkin saja, karena si ibu kerudung biru ini hanya seorang ibu yang berbadan kecil dan kurus. Sedang kan temannya, yang memiliki bayi besar, kemungkinan besar diturunkan dari ibunya...

Si besar dan si kecil...memang saling berlawanan...tapi itu adalah anugrah dari tuhan yang menciptakannya, tinggal manusia yang pandai-pandai memeliharanya...


Utsunomiya, 11 Oktober 2006

Comments

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…