Skip to main content

Me and Family: Nomaden Membuatku Selalu Bersyukur

Menjadi keluarga nomaden, saya lakoni sejak memutuskan menikah dengan suami 12 tahun yang lalu. Anak saya lima orang. Salma lahir di Indonesia pada tahun 2001. Kemudian tahun 2002, saya hijrah ke Jepang mengikuti suami yang studi di Utsunomiya daigaku. Di sana, lahir dua buah hati saya, Shafa dan Syauqi. Kembali ke Indonesia tahun 2007 dan tahun 2008 lahir anak saya yang keempat, Shofi.

Dan kini, saya tinggal di Malaysia. Saya tinggal di Johor sejak bulan Juli tahun 2010. Pada bulan Juni tahun 2011, lahir anak kelima saya, Sarah. 

Tak terasa, sudah tiga tahun saya dan keluarga tinggal di negeri jiran, Johor, Malaysia. Itu artinya, sudah tiga kali lebaran saya melaluinya di negeri ini.

Sedih? Tentu saja! Kadang ada iri juga melihat teman-teman bisa pulang kampung dan berlebaran bersama keluarga di tanah air.

Tapi, walau bagaimana pun semua harus disyukuri. Alhamdulillah, dengan berlebaran di sini, saya menjadi lebih dekat dengan teman-teman warga Indonesia yang tidak pulang. Bisa merasakan kegembiraan yang sama meski rindu pada keluarga dan kampung halaman. Bisa bertemu dengan adik-adik TKI dan berlebaran bersama mereka.  Merasakan berlebaran dan sholat Id di KJRI (Konsulat Jendral Republik Indonesia) di Johor, Malaysia.

Dan inilah salah satu foto yang mengabadikan kenangan berlebaran di negeri jiran. Foto ini diambil sesaat setelah shalat Idul Fitri 1433H selesai, kita saling bersalam-salaman dan berfoto bersama dengan keluarga konjen dan warga Indonesia di Johor, Malaysia.

My Family: my hubby, Salma, Shafa, me, Sarah, Syauqi, Aisyah (anak temen) dan Shofi.

Alhamdulillah, bersyukur pada Allah atas apa yang telah dianugerahkan kepada saya dan suami. Lima orang buah hati ini lahir di beberapa negara di bumi Allah. Membuat saya selalu bersyukur atas apa yang  Allah berikan kepada saya dan keluarga kecil saya.

Comments

  1. Biar nomaden, tapi selalu bersama-sama. Patut disyukuri, Mbak. Sukses GA-nya. ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup! Bener banget mbak Haya, alhamdulillah. Amin ... makasih ya mbak ^_^

      Delete
  2. Selalu senang baca ceritamu di negeri jiran mbak :) Aihh ... meski banyak PR tetep ya refresing ikutan GA heu heu . sukses ya Oma eh Mbak :D

    ReplyDelete
  3. hehehe ... salah satu hiburan yang bener-bener menghibur, kadang juga nempel ide baru, alhamdulillah ^_^ makasih udah mampir mbak Vanda ^_^ I enjoy with "oma" :-)

    ReplyDelete
  4. Walau nomaden tapi bs keliling dunia, Alhamdulillah banget :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehhe Dhe bisa aja :-) iya alhamdulillah banget ^_^

      Delete

Post a Comment

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @tutiarien

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…