Skip to main content

Mizan And Me: Penerbit Ramah Anak


Perkenalanku dengan Mizan sebenarnya sudah berlangsung sejak aku memiliki buah hati pertama di Jepang (tahun 2002). Saat itu, buku pertama dan CD pertama yang aku bawa untuk memenuhi kebutuhan dasarnya tentang akidah Islam dan beribadah kepada Allah adalah buku-buku dari Mizan.

Cerita bersama buah hatiku sempat aku tuangkan di dalam blog, waktu itu di Multiply. Subhanallah, luar biasa sekali penerimaan anak-anakku saat itu. Lewat buku cerita tipis bergambar dan CD yang interaktif sangat memudahkan aku untuk menerangkan tentang ibadah dengan cara yang menyenangkan pada balitaku.

Saat aku kembali ke Indonesia, setelah lima tahun tinggal di Jepang menemani suami yang belajar di sana, aku mendapat informasi MDS atau Mizan Dian Semesta salah satu Divisi Marketing Mizan mencari seorang SS (Sales Supervisor) di wilayah Bogor dan sekitarnya. Aku pun mencoba melamar ke MDS.

Sebagai seorang ibu rumah tangga dengan anak empat, saat itu sangat tidak mungkin untuk mengabaikan anak-anakku yang masih kecil-kecil. Aku agak ragu juga untuk meneruskan melamar ke MDS. Setelah shalat istikharah dan menelpon Bu Endang dan menyampaikan surat lamaran by email. Beliau meminta saya untuk datang ke kantor MDS di Jakarta.

Hati kembali meragu, karena masih ada Balita yang bergantung pada ASI saat itu. Aku pun menyampaikan semua masalahku pada bu Endang, orang yang mewawancaraku. Alhamdulillah, aku boleh membawa anak saat wawancara itu.

Akhirnya, aku pun berangkat ke kantor MDS, subhanallah, aku sangat terharu sekali dengan respon dari Bu Endang dan teman-teman marketing di sana. Mereka sangat menghargai keputusan saya untuk tidak menitipkan anak kepada pengasuh  dan membawa saat wawancara. Bayangan cibiran dan keanehan pada beberapa orang yang selalu kuterima saat aku membawa anak-anak ke tempat umum dan tatapan kasihan itu tidak ada. Aku pun yakin, aku bisa menjalankan tugasku sebagai SSJ (Sales Supervisor Junior).

 Aku sangat berterima kasih sekali pada Mizan, karena memberiku peluang untuk bekerja sebagai SSJ. Karena  bisa mengikuti program Goal Setting di Inkarla Puncak beberapa tahun yang lalu (Januari tahun 2010), aku bertemu dengan teman yang memiliki semangat yang sama, pengetahuan baru yang sarat ilmu dan juga mulai mengetahui bagaimana membangun semangat untuk menggoalkan semua impian hidup.

Selain itu, dengan bergabung dengan tim marketing Mizan di MDS, aku bisa memiliki buku-buku berkualitas yang aku impikan. Seperti Hallo Balita, CERBIN, Ensiklopedi Bocah Muslim dan ILMA dengan cara yang tidak terduga sama sekali.

Sekarang, lewat perkenalanku dengan MIzan, aku pun mulai mencoba menulis buku-buku bacaan anak. InsyaAllah ada sebuah buku hasil duet dengan seorang senior saya yang sudah banyak buku-bukunya terbit di DAr!Mizan, akan segera launching dalam waktu dekat.

Alhamdulillah, dengan ijin Allah dan lewat Mizan, impianku menjadi seorang penulis bacaan anak akan segera terwujud. Terima kasih Mizan. Selamat ulang tahun ke 30 tahun Mizan. Semoga Mizan di usia 30 tahun terus menjadi sumber  inspirasi para orang tua dan bermanfaat untuk kemajuan ummat di dunia. Dan senantiasa mewarnai keceriaan anak-anak Indonesia dengan bacaan sarat gizi dan akidah Islam yang shohih dan salimah.

Comments

  1. Terharu baca kisahmu Mbak Sri. Keren banget deh. Nggak mudah ngajak bayi untuk wawancara. Semoga para ibu bisa mengikuti jejak Mbak Sri ya. Demikian juga dengan perusahaan tidak menghalangi ibu membawa bayinya ketika bekerja. Setidaknya mereka menfasilitasi dengan membuat ruangan untuk ibu menyusui.
    Semoga bukunya segera launching dan bestseller ya.... Sukses untuk Mbak Sri dan keluarga ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin .. amin ya rabbal alamin, makasih doanya mbak Nelfi <3

      Delete
  2. kalo di luar negeri bisa tetep beli buku mizan, bun? aku naksir yang seri hallo balita deh, tapi mahallll :D hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa dong, yuk sekalian jadi BA aja Ila, jadi Book Adviser, keuntungan ganda lho, bisa reseller ^_^ *promo sekalian, ntar aku PM ya :-)

      Delete
  3. Kapan nih bukunya diterbitkan mizan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. moga secepatnya mbak Arin :-)oiya jadi kan ketemuan di takol?

      Delete

Post a Comment

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @tutiarien

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…