Skip to main content

Life with XL: Bersamamu Kini dan Nanti

Saya mengenal XL setelah  menikah pada bulan Januari tahun 2001. Pada tahun itu, dua minggu setelah menikah, saya mengikuti sebuah aksi demontrasi mahasiswa. Saat itu saya pergi tidak ditemani suami, karena beliau  harus mengajar.

Saya pergi bersama dengan teman-teman. Selain membawa bekal makanan dan minuman dari rumah, suami juga membekali saya sebuah handphone  dengan antena di kepala sebelah kirinya. Waktu itu handphone belum sebagus sekarang. Fiturnya pun tidak sebanyak sekarang. Dulu bisa menelpon dan menerima telepon serta sms di perjalanan saja sudah cukup senang.

Sehari sebelumnya suami telah mengisi pulsa agar saya bisa menghubunginya di kantor. Dia berlangganan kartu perdana ProXL. Selain biayanya murah setiap kali dipakai untuk melakukan percakapan lewat telpon, juga bisa saling berbagi pulsa,

Tak lupa saya pun mencatat nomor telepon kantor suami agar bisa dihubungi. Saat itu Jakarta mencekam. Mahasiswa dan masyarakat berkumpul di sekitar istana negara dan HI.

Pulang dari demo, sudah hampir maghrib. Saya janjian dengan suami di sudut stasiun Bogor. Karena saya kelaparan, saya  memutuskan membeli donat di kedai yang berada di dalam stasiun. Saya makan sendirian sambil memandangi pintu masuk ke stasiun Bogor.

Entah sudah berapa lama saya duduk di sana. Seorang pemuda menghampiri saya dengan wajah cemas. Ternyata suami saya. Dengan tergopoh ia meminta saya mengeluarkan handphone dari dalam tas.

Saya pun mengeluarkan benda hitam kecil itu dari dalam tas ransel. Dan membukanya. Ya ampun, ternyata suami saya sudah menelpon berkali-kali dan saya tidak mendengarnya. Efek lapar kali ya heuheu

Alhamdulillah suami saya tidak marah, meski dia harus menunggu lama dalam cemas. Itulah manisnya pengantin baru. Eaaaa ...

Pengalaman kedua, saat saya harus berpisah sementara dengan suami. Saat itu, suami mendapat beasiswa S3 Mombusho. Beasiswa dari Kementrian Pendidikan dan kebudayaan Jepang. Bulan Oktober 2001 Suami  meninggalkan saya yang sedang hamil besar.

Handphone nokia jadulnya dengan nomor XL saya yang memakainya. Nomor itu cantik, mudah diingat. 0818191272.  Dari nomor itu, saya ingat dua orang yang dekat dengan saya. Suami saya lahir di tahun 1972 dan ayah mertua yang lahir pada 20 Desember. Beda satu angka dengan nomor yang tertera di nomor suami. Tapi itu berarti sekali.

Kemarin saya bertanya kepada suami, apakah nomor itu memang minta ke XL atau bagaimana? Jawab suami, tidak. Jadi saat itu, tahun 1996 saat suami pertama kali berlangganan XL memang masih banyak nomor yang seperti itu. Cantik-cantik dan mudah diingat.

Saya menggunakan kartu XL untuk menghubungi suami yang sedang di Jepang lewat sms. Suami menghubungi saya dari Jepang lewat hape. Kadang juga lewat telepon rumah.

Saat saya melahirkan, suami tidak menghubungi. Saya terus memandangi hape yang saya bawa. Sedih juga sih. Tapi ketika suami menceritakan hal yang sebenarnya, bahwa saat saya melahirkan suami naik ke puncak gunung. Dia naik ke puncak gunung bersama teman-temannya, untuk menghilangkan galau karena tidak bisa mendampingi istri melahirkan  dan anak pertama lahir. Saya malah jadi terharu.

Tahun 2002 saya mengikuti suami ke Jepang. Hape jadul bernomor XL itu pun kami bawa serta. Setiap bulan suami membeli pulsa untuk nomor hape tersebut. Dan tahun 2007 kami kembali lagi ke Indonesia.

Tahun 2007 saya dibelikan hape baru oleh suami berikut nomor XLnya. Suami memang pelanggan sejati dan tidak pernah pindah ke lain hati. Saya pernah bertanya kenapa pilih XL? jawabnya cukup sederhana. Bisa bagi pulsa. Itu saja.

Tahun 2010 saya dan keluarga diboyong suami ke Malaysia. Kedua nomor XL kami terus dipelihara suami. Setiap 3 bulan sekali beliau membeli pulsa untuk nomor XL saya dan suami.

Sayangnya pada tahun 2013, nomor XL saya hangus. Saya lupa tanggal ekspirednya. Padahal nomor itu pun mudah diingat dan sangat usefull untuk komunikasi dengan teman teman di Indonesia.

Pada bulan Juni 2015 yang lalu, kami pulang kampung. Mudik selama 3 minggu. Untuk komunikasi saya dan anak-anak, suami membelikan nomor XL untuk tiga anak saya yang sudah pandai menggunakan handphone. Masing-masing anak diberi handphone yang cukup untuk menerima telpon dan menerima sms. Karena saya dan suami kerap melakukan urusan di luar rumah dan anak-anak ditinggal di rumah dengan om dan tantenya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kami meninggalkan mereka dengan telpon. Ehmm ... kadang juga HP itu dipake anak main game juga sih hihihi game sederhana.

Sebagai pengguna XL dari masa ke masa, saya sepakat sekali dengan slogan XL dalam #19thBersama, "Setia merangkai cerita dengan penuh suka cita". Slogan itu mewakili saya juga.

Selama #19thBersama XL, suami saya tidak pernah ada keluhan. Saya juga. Palingan keluhannya, banyak amat sih iklannya XL Axiata hihihi kirain sms dari mana, ternyata dari XL Axiata. Ya sudahlah, namanya iklan produk kan gapapa kali ya, yang penting enggak ambilin pulsa aja. Itu doang.

Selamat Milad XL semoga kamu tambah maju dan berkah usianya. Menjadi pelopor kemajuan Indonesia di bidang telekomunikasi seluler! #19thBersama



*Pengalaman seru ini diikutkan dalam Lomba XL Life Competition

Comments

  1. Wah..bener-bener setia ya sama XL, sampe ngga ganti-ganti kartu. Terharu yang abi 5S ke puncak gunung karena ngga bisa nemenin lahiran, hiks....hikss.

    ReplyDelete
  2. Iya suami memang tipe melankolis dia mah. Setia insya Allah hihihi iya saat melahirkan ga ada suami alhamdulillah ibu mertua dan kakak mendampingi terus. Jadi terhibur. ☺

    ReplyDelete
  3. setia banget, keren mbak ceritanya, semoga menang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiinn mak makasih ya. Moga dirimu juga menang. 😍

      Delete
  4. Waaah baru sekali ini dolan ke rumah mbak Tuti, kita tipe yang setia ternyata ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ini rumah baru dibenerin. Lumayan dah cantikan dikit hihihi wahh benarkah.... tos dong mbak wati 😍

      Delete

Post a Comment

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @tutiarien

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…