Skip to main content

[Resensi] Sayap-sayap Sakinah: Cintaku, Cintamu karena Cinta-Nya

sayap-sayap sakinah
Ikhtisar Buku:

Sayap-sayap Sakinah: Cintaku, Cintamu karena Cinta-Nya. Buku ini merupakan serial buku non fiksi yang berisi tentang segala hal yang harus diketahui oleh para calon pengantin yang hendak menyempurnakan setengah diennya. Para istri dan suami yang menginginkan pernikahan yang sakinah, mawadah dan penuh rahmah. Para pencari cinta yang menginginkan cinta sejati.

Jodoh dan perjodohan merupakan misteri Allah. Buku ini hadir untuk memenuhi pengetahuan calon pengantin  melaksanakan pernikahan dari mulai tahap persiapan, ketika menikah dan pasca menikah. Ibaratnya sebuah jalinan cinta yang sakral, maka cinta yang terikat dengan mitsaqun ghaliza ini mestilah tak luput dari berbagai ujian.

Buku ini memberikan tuntunan bagi calon pengantin maupun para pengantin yang sudah melayari bahtera kehidupan menuju cinta yang membahagiakan.

Resensi:

Sayap-sayap Sakinah: Cintaku, Cintamu karena Cinta-Nya. Sesorean tadi saya berusaha menghabiskan buku ini. Tak sengaja anak laki-laki saya membaca judulnya, "Sayap-sayap Sakinah!" ejanya. Dia memang selalu peduli dengan bacaan yang sedang saya baca. Dia pun bertanya:

"Ummi, sayap-sayap itu apa?" tanyanya. Saya melirik padanya. Dia sedang membolak-balik buku bersampul biru itu.
"Sayap itu kepak, yang buat burung bisa terbang," jelas saya pendek.
"Kalau sayap-sayap?" tanyanya lagi.
"Sayap-sayap, kan sayapnya ada dua, jadi disebut dua-duanya," jawab saya sekenanya.
Dia dan adiknya pun memeragakan menjadi burung.

Saya termenung melihat tingkah mereka. Mereka mengepak-kepakan kedua tangannya, seolah-olah burung yang sedang terbang bebas. Sayap yang kokoh. membawa pemilik sayap terbang dengan gesit, sehat, ceria dan bebas membawa kebahagiaan. Bagaimana jika sayap itu patah?
Sayap-sayap itu tentu ada penciptanya. Sang Maha Pencipta. Dengan cinta-Nya.

Sayap-sayap Sakinah, begitu menggelitik hati. Buku ini memang banyak membuat saya merenung. Hati saya bergetar saat membaca tentang Oh, mitsaaqon Gholiidzo ( halaman 143) atau tersenyum ketika teringat proses taaruf saya dengan suami. Begitu juga ketika membaca tulisan mbak Ria tentang walimah yang sederhana (halaman 149) dan disambung dengan tulisannya mbak Afra yang membahas tentang malam pertama ( halaman 155). Bahasan-bahasan yang membuat ingatan saya mengembara ke 15 tahun lalu saat seorang pria tak dikenal datang kepada ayah saya meminta saya menjadi pendampingnya dunia akhirat.

Di dalam buku ini saya temukan banyak mutiara hikmah yang meski saya sesali, kenapa baru sekarang saya membacanya, saya yakin buku ini akan berguna bagi saya dimasa depan. Masa di mana bahtera ini tidak akan pernah mulus berlayar, kecuali dengan kesadaran, bahwa kecintaan saya kepada suami saya atau sebaliknya tentulah atas dasar cinta kepada Allah. Begitu juga ketika datang badai yang menerpa keluarga kecil saya, bahwa kebencian tidak akan menyelesaikan masalah karena keluarga kecil saya kini didirikan atas dasar cinta kepada Allah. Bukan kepada yang lainnya.

Sayap-sayap Sakinah banyak mengajarkan saya untuk memberikan terbaik kepada keluarga saya, baik itu kepada suami, kepada anak dan kepada kedua orang tua, terutama mertua. Dengan bahasa yang cair mengalir hingga alirannya masuk ke dasar hati saya yang dalam. Saya memang termasuk orang yang melankolis, mudah sekali terbawa perasaan, tapi saya bersyukur dengan demikian saya mudah dipengaruhi oleh kebaikan.

Saya bersyukur bisa membaca buku duet keren ini antara mbak Afifah Afra dan mbak Riawati, meski saya sudah mengarungi bahtera pernikahan selama 15 tahun, buku ini memberikan angin segar dan ide-ide cemerlang dalam mempertahankan pernikahan yang harmonis dan bahagia. Seperti judul buku itu, sayap-sayap sakinah. Full ketenangan,  full cinta dan full kasih sayang.

Saya kira tidak ada keluarga yang tidak pernah dilanda masalah, maka kesadaran bahawa Cintaku, Cintamu karena ada kekuatan CintaNya harus terus ditumbuhkan.

Buku ini buku yang romantis yang pernah saya baca. Penuh dengan puisi-puisi yang membuat saya mabuk karena cinta. Yah, menghibur diri dengan puisi cinta membuat saya semakin percaya diri, bahwa  cinta membuat kita kuat meski topan badai menghantam hebat.

Kekurangan buku ini, hanya satu, prolog yang bertele-tele, itu saja sih, selebihnya saya suka penuturan kedua penulis yang smart dan cemerlang. Syabas!

Spesifikasi buku:
Judul: Sayap-sayap Sakinah
Penulis: Riawani Elyta dan Afifah Afra
Penerbit: Indiva
Tebal: 239 halaman

Comments

  1. Wah, penasaran dengan buku ini, ulasan Mbk Sri ciamik banget. Aku kehabisan di Gramed mau beli buku ini :)

    ReplyDelete
  2. Terima kasih mbak naqi. baru belajar ngeresensi saya hehhe

    ReplyDelete

Post a Comment

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @tutiarien

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…