Skip to main content

Bolu Kukus Cokelat TiTOS

Beberapa waktu lalu, saya dan beberapa ibu-ibu geng pengajian di dekat rumah berguru membuat bolu kukus ke tetangga saya yang cantik dan baik hati, Bu Ary Nur Azizah. Bu Ary ini selain berbakat menulis juga pintar membuat segala rupa kue jajanan pasar. Sebut saja risoles, kue sus, lemper, bolu kukus, brownies dan lain-lain. Risoles dan kawan-kawannya itu baru ditulis aja bikin saya ngeces, apalagi kalau beneran disuguhin ... enyakk banget! Bikin kita-kita ketagihan pokoknya mah!

Nah, setelah sukses belajar bolu kukus dari bu Ary, saya pun mempraktekannya di rumah. Alhamdulillah cara membuatnya mudah dan gak ribeut. Anak-anak juga bolak-balik bikin sendiri ga kesulitan.

ini hasil praktek pertama, belum mekar semua 

Hasil praktek kedua kali, sudah mekar sempurna :-)


Nah, belakangan saya kepikiran, kalau bikin bolkus enggak pake telur, ga pake ovalet dan gak pake sprite bisa gak ya? akhirnya saya browsinglah beberapa resep yang banyak bertebaran di dunia maya. Alhamdulillah ada resep yang sesuai dengan kebutuhan saya. Tapi enggak mudah juga menerjemahkan resepnya itu. ga jelas gitu lho. Yah, daripada mikir kelamaan, saya coba modifikasi saja sesuai dengan pengalaman saya membuat bolkus selama ini.

Eksperimen pertama ini lumayan bikin deg-degan juga, karena kuatir enggak jadi juga. Saya coba positif thinking, kalau enggak jadi juga, misalnya enggak seperti bolu kukus, ya minimal ada kue buat ganjel perut :-) Bismillah ...

Saya dan anak-anak pun berjibaku di dapur. Ada yang nuang terigu, soda kue, susu, gula, minyak dan air. Saya bagian yang ngaduk, karena ini mungkin titik kritisnya. Tak puas dengan adukan dengan tangan, saya mixer selama 5 menit agar semua bahan tercampur dengan rata.

Saat mempersiapkan semua bahan hingga menjadi cairan adonan, kita panaskan dandang kukusan hingga saat kita mengukus, kukusan sudah siap untuk mengukus kue. Masukan adonan dalam cetakan bolkus  yang dilapisi kertas kue. Kukus selama 15 menit. Mungkin saat mengukus ketiga kali (saya cuman punya cetakan 11 biji, jadi 3 kali mengukus), kain untuk menutupi tutup pengukus basah, ganti kainnya agar air tidak menetes membasahi kue.

Saat mengangkat kue pun tiba. Alhamdulillah, ternyata berhasil!  Ini dia penampakannya yang mekar sempurna meski enggak pake sprite dan ovalet. Memang enggak begitu empuk sih, karena kan enggak pake telur dan ovalet. Tapi enggak keras kok. Pas kalau menurut saya sih. Anak saya semua suka bolu kukus, apalagi bolkus cokelat. Alhamdulillah, laris manis :-)

Hasil praktek bolkus tanpa ovalet, telur dan sprite. Mekar!



Agar tidak penasaran, ini saya share sekalian resepnya ya. Bolu Kukus Cokelat TiTOS (Tanpa telur, tanpa ovalet dan  tanpa sprite). Keren ya namanya heuheu :-)

Bolu Kukus Cokelat TiTOS

Bahan:
2 gelas tepung terigu
1 gelas air hangat
200 gr  susu kental manis cokelat
1 gelas gula pasir
8 sendok makan minyak sayur
2 sdt soda kue

Cara Membuatnya:
1. Panaskan dandang untuk mengukus dengan air yang cukup.
2. Campurkan tepung terigu, gula, susu kental manis, soda kue, air dan minyak dalam wadah.
3. Mixer hingga tercampur dengan rata kurang lebih 5 menit.
4. Masukan adonan dalam plastik dan ikat. Gunting sedikit ujung plastik sehingga menjadi corong kecil.
5. Masukan adonan dalam cetakan bolu kukus hingga hampir penuh.
6. Kukus lebih kurang 15 menit.

#untuk 26 buah 

Selamat mencoba!



Comments

  1. Wah boleh dicoba nih. Kebetulan stok telur lg habis. Makasih mbak...

    ReplyDelete
  2. Sukses nih kue nya. Berkembang sempurna. Tantik-tantik...

    Pasti enak rasanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, alhamdulillah hihihi maklum pemula nih hehehe makasih mbak sudah mampir :-)

      Delete
  3. sepertinya mudah nih untuk pemula seperti saya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sukses engga mbak eksperimen buat kue bolkusnya mbak? Kirim dong ke sini hehe

      Delete
  4. Bolu kukusnya lucu, imut-imut :D

    Salam,
    Senya

    ReplyDelete

Post a Comment

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @tutiarien

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…