Skip to main content

Di Neraka Bisa Bawa Kipas, Mi?



Akhir-akhir ini, kota kelahiran saya semakin hari semakin panas saja. Padahal dulu, kota kecil yang terkenal dengan Kota Hujan ini adalah kota yang indah, sejuk dan nyaman. Memang sih sekarang juga airnya sih masih dingin, tapi hawa udara panas banget deh! Ini mungkin efek dari pemanasan global dan makin banyaknya kendaraan bermotor yang memadati Bogor.

Nah, tadi siang, saya dan putri keempat saya ngadem di depan pintu. Pintu rumah saya buka lebar-lebar. Angin masuk ke dalam rumah membuat udara di dalam rumah lumayan sejuk. Tapi.. ya gitu deh. Kadang ada anginnya kadang garing aja. Akhirnya kita mencari kardus bekas dan menjadikannya sebagai kipas. Hahaha saking enggak ada kipas angin di rumah. Hanya ada kipas di atas jendela untuk membuang hawa busuk dari dalam rumah.

"Uhh ... sejuknya!" kata S4 sambil terus mengipasi badannya. Saya pun melakukan hal yang sama dengannya.
"Iya, dingin ya. Lumayanlah ga ada kipas angin, kardus bekas pun jadilah!" kami terkekeh berdua.

Tiba-tiba dia bertanya sesuatu yang membuat saya agak termenung juga.

"Mi, apa di neraka boleh bawa kipas?" tanyanya dengan wajah serius.
Saya terdiam sejenak. S4 memang banyak banget pertanyaannya seputar surga dan neraka. Jadi harus bisa memilih jawaban yang tepat untuknya agar dia mengerti.

"Enggaklah. Kita mati tidak membawa apa-apa. Hanya selembar kain kafan. Itu pun nanti kan jadi tanah."
"Oh ... ga bisa ya? kasian ya yang masuk neraka. Dia enggak bisa kipas-kipas. Kan panas."
"Makanya, jangan sampai kita masuk neraka. Naudzubillah!"

Kemudian dia pun mengalihkan pertanyaannya. "Mi, di surga kita nanti digigit semut atau nyamuk ga?" 

Heuheu ... itulah S4. Semua ditanyakan sampai emaknya rempong. Tapi dengan pertanyaan-pertanyaannya saya menjadi semakin diingatkan untuk selalu menjaga anak-anak, suami dan keluarga dari api neraka. Harapan kami bersama adalah bisa masuk surga bersama-sama. InsyaAllah. Bi idznillah. Aamiin ya Rabbal alamin ...





Comments

  1. Kadang pertanyaan polos anak2 bikin kita makjleb dan merenung ya mba..
    Semoga kita dijauhkan dari api neraka. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul teh, justru kita banyak belajar dari anak-anak ya ....

      Delete
  2. Replies
    1. iya cikgu ... anak anak yang mengajari kita banyak hal. Moga bisa menjadi benteng pertahanan di luar rumah kelak.

      Delete
  3. S4, jadi anak yang mencintai Allah dan orangtua ya, biar bisa bahagia sama-sama di surga :)

    Salam,
    Oca

    ReplyDelete
    Replies
    1. InsyaAllah mbak Ocha. Aamiin ya rabbal alamiinn ...

      Terima kasih doanya mbak sayang ❤

      Delete
  4. anak pintar itu mba, lucu juga

    ReplyDelete

Post a Comment

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @tutiarien

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…