Tips Aman Memperbaiki Rumah di Masa Pandemi Covid-19

28 comments
Tips Aman Memperbaiki Rumah
Tips aman memperbaiki rumah di masa pandemi Covid-19. Apa kabar, Moms? Semoga sehat selalu yaa. Sebelumnya, saya ingin mengucapkan Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia yang ke-76 tahun. MasyaAllah, negara kita sudah semakin tua. Semoga semakin tua semakin berisi, makin bermanfaat dan makin bijak. Seperti kata pepatah: tua-tua kelapa, makin tua makin berminyak. Emak-emak tentu tahu yaa, kalau  beli kelapa yang banyak santannya, pastinya kita pilih yang tua, yaa. Nah, begitu juga kata pepatah, seorang itu makin tua makin berisi dengan ilmu pengetahuan. Sudah tua, tapi masih kuat dan awet muda (maunya emak berumur gini, yaa hehe)

Btw, pagi ini saya ingin ngobrol soal, tips aman memperbaiki rumah di masa pandemi, nih Moms. Di Bogor, tiap sore sekarang sudah mulai hujan deras terus. Kadang-kadang berhenti hujannya. Panas banget. Tapi begitu hujan, deras banget, bagaikan air yang ditumpahkan dari atas langit. Kolam kecil (selokan tapi dulu dibuat kolam ikan) di depan rumah, airnya sampai meluap. Saya suka bau tanah saat hujan mulai mendarat di tanah yang kering. Ketika hujan turun ke bumi, saya dan anak-anak suka. Kerap kita bernyanyi di dalam kamar sambil melihat hujan dari jendela kamar.

Namun, beberapa hari kemarin, saya benar-benar dicekam kecemasan yang luar biasa. Karena beberapa tempat di dalam rumah bocor. Padahal atap rumah menggunakan genteng baja ringan. Ternyata dengan menggunakan bahan baja ringan itu pun, atap tidak lolos dari bocor. Bahan-bahan itu justru lebih rentan dari cuaca panas dan hujan. Semakin tua, semakin beresiko, karena kena panas dan hujan membuat bahan baja ringan dan beberapa bagian fiber, mengalami korosi dan meleleh kepanasan. Saya sampai stress lihat penampakan plastik fiber dan baja ringan yang sudah rusak karena cuaca dan usia. Beneran tidak menyangka sama sekali! Kirain dia kuat, ternyata ....

Atap baja ringan korosi dan rusak

Ya, kita keliru memandang bahan baja ringan itu. Kami kira baja ringan aman untuk atap rumah dan semakin tua semakin awet. Tapi ternyata, atap baja ringan lebih rentan daripada atap genting. Kalau atap genting kan, kalau pecah cuma satu biji yaa, kalau baja ringan, korosi bisa banyak bagian dan semua nyambung. Kebetulan juga ini yang memasang atap menggunakan baja ringan ini tidak amanah. Mereka mencampur baja ringan yang kualitas baik dan kualitas jelek. Jadilah, ada bagian yang cepat korosi dan menimbulkan bocor di mana-mana, termasuk disambungan atap.

Nah, puncak dari kebocoran ini adalah runtuhnya langit-langit di atas kepala suku Galia, Abraracourcix, awas mana perisainya! eh, hehehehe penggemar Asterix mana nih? 

Puncaknya adalah ketika atap rumah di bagian ruang keluarga aka ruang belajar anak-anak itu runtuh. Alhamdulillah tidak ada yang tertimpa reruntuhannya. Waktu itu sekira pukul 2 siang. Saya lupa tepatnya. Tapi, bersamaan dengan musibah yang mengenai mbak April, di perumahannya di Cilebut. Waktu itu memang hujan di Bogor itu terus menerus dan deras. Hingga akhirnya menimbulkan longsor di beberapa wilayah di Bogor. 

Alhamdulillah, ketika ruang keluarga itu bocor, meja belajar anak saya yang ke-4 sudah saya geser, karena saya lihat bocor semakin meluas. Di meja belajar S4 itu ada laptop dan printer. Saya coba geser-geser agar tidak terkena bocoran. Memang sih, jejak bocoran itu udah berjalan gitu. Tadinya di dekat lubang kaca di atas. Jadi atap itu dikasih space kayak jendela gitu, agar cahaya matahari masuk. Nah, awalnya bocor dari sana. Gak nyangka ternyata jalan-jalan itu air dan membasahi gymsum, eh gypsum yang menutupi atap rumah agar indah. Gak menyangka kalau atap gymsumnya pun telah mengalami penipisan, sehingga atap gymsum itu pun runtuh menimpa lantai. Untung saja, anak saya yang melihat kejadian gak kena runtuhan. Lumayan kalau kena runtuhan, bisa benjol yaa. Malah dari cerita Bubi Eni, ada temannya yang masuk rumah sakit akibat kena reruntuhan atap. Ya Allah, beneran musibah itu, yaa.

Hari itu, kami semua cemas. Apakah atap akan runtuh semua atau sebagian, jadi, kami gerak cepat. Mengangkat semua peralatan berat untuk belajar ke tempat aman. Ruang tamu jadi base camp. Saya dibantu anak-anak mengangkat laptop, CPU, monitor, printer dan meja yang bisa dibawa ke depan. Meja-meja kami singkirkan agar tidak kena reruntuhan. Mayan kan membersihkannya heuheu. Begitu juga lemari pajangan. Dua anak saya juga tidur di kamar itu, jadi kami bawa kasurnya, agar tidak ketumpahan atap. Saat itu dalam bayangan kami, udah kayak perang aja. Tiba-tiba dibombardir dari atas langit ketika kita sedang lengah. Tidak ada persiapan apa-apa. Hanya bisa istighfar dan menyelamatkan diri. Ketika itu, kami jadi ingat keluarga di tempat musibah, baik kebakaran, banjir dan perang. Ya Allah, baru dapat cobaan atap runtuh, kami sudah gemeteran. Apalagi jika beneran kena musibah banjir, kebarakaran atau dijajah seperti keluarga-keluarga di Palestina

Jadi selama membereskan rumah, kita juga jadinya cerita-cerita jika terjadi musibah kebakaran, banjir atau keadaan darurat lainnya seperti terjadi peperangan. Meski dengan becanda, kita jadinya merenung dan melakukan refleksi. Berusaha setelah ini menjadi siap siaga jika terjadi musibah dan mempersiapkan diri lebih baik lagi. Misalnya memasukan beberapa dokumen penting ke dalam kaleng agar selamat dari air dan api. Menyiapkan tas darurat ketika harus mengungsi tinggal angkat tas masing-masing, dsb. Alhamdulillah ala kulli hal. Dalam keadaan demikian, jadi ajang belajar juga. Karena ini jadi momentum transfer pendidikan (ajaran).

Nah, tips amannya apa saja, moms? Hehe maaf ya, jadi ngaler ngidul, sekalian curcol ini teh. Baik, di bawah ini, beberapa tips yang bisa saya share ketika kita memperbaiki rumah dalam keadaan pandemi Covid-19 ini yaa.

Tips Aman Memperbaiki Rumah di Masa Pandemi Covid-19

Nah, bagaimanakah tips aman memperbaiki rumah di masa pandemi Covid-19? Seperti yang kita ketahui bersama, Moms, di masa pandemi ini kita harus senantiasa berhati-hati, ya. Baik di rumah maupun ketika keluar rumah. Ketika di rumah, tentu kita tidak seperti sebelum masa pandemi,  mudah menerima tamu dari mana saja. Pada masa pandemi ini, tentu kita harus menerapkan protokol kesehatan, yaa.

1. Pilih tukang yang dikenal keluarga

Tak mudah mencari tukang pada masa pandemi begini. Apalagi yang sehat dan cepat datang ketika ada panggilan darurat. Saya mengabari keluarga tentang runtuhnya atap di rumah di WAG keluarga. Respon dari adik dan kakak, alhamdulillah menenangkan. Malah mereka mau membantu membetulkan rumah. Cuman saya jadinya khawatir juga, kalau bukan ahlinya, kuatir kena kesetrum atau apa gitu. Soalnya pernah lihat, ada bapak yang membetulkan atap rumahnya yang bocor, eh tersengat aliran listrik karena atapnya juga pakai rangka baja seperti rumah saya. Jadi kalau ingat itu, saya tidak ingin sesuatu terjadi pada keluarga. Kalau tukang bangunan yang memang sudah ahli, tentu mereka sudah paham seluk beluk rumah dan bagaimana mengatasi kerusakan rumah. 

Alhamdulillah akhirnya ada juga tukang yang bisa memperbaiki atap rumah. Suami punya kenalan tukang bangunan di kampus tempat suami bekerja. Setiap hari Minggu, beliau libur dan bersedia memperbaiki rumah. Hanya saja, memang tidak bisa diatur waktunya, karena pak tukang punya pekerjaan yang primer dan on going juga. 

Nah, pertimbangan kita meminta pak tukang untuk memperbaiki rumah, karena pada masa pandemi ini kita tidak mungkin sembarangan memasukan orang ke rumah kita, kan? Tentu saja harus menegakkan protokol kesehatan. Pak tukang ini sudah dikenal suami karena bekerja di kampus. Kondisi pak tukang sehat dan suami yakin atas kesehatan pak tukang. Jadi, suami meminta pak tukang untuk memperbaiki rumah dan alhamdulillah pak tukang bersedia.

2. Cek kerusakan bangunan

Seminggu dari atap runtuh itu, pak tukang pun datang mengecek kerusakan. Pak tukang naik ke atas atap rumah dan melihat situasi dan kondisi di atas atap dan di ruang keluarga. Ternyata keadaan atap memang sudah mengkhawatirkan. Beberapa bagian mengalami korosi dan plastik fiber juga sudah keriting karena kepanasan. Benar-benar tidak diduga sekali. Jadi bagi teman-teman yang menggunakan atap baja ringan fiber untuk menutup atap, cek secara berkala yaa, agar kerusakan bisa diminimalisir.

3. Cek kebutuhan bahan bangunan

Setelah dilihat kerusakannya, pak tukang pun menghitung jumlah  kebutuhan bahan atap baja ringan/spandex dan plastik fiber untuk mengganti yang rusak. Begitu juga dengan gypsum untuk menutup atap yang bolong. Harga spandex atau atap baja ringan ini tergantung ketebalan dan macam gelombangnya. Ada berbagai macam warna juga. Kalau suami memilih yang warna merah bata cenderung ke cokelat agar tidak perlu mengecat lagi. 

4. Membeli sendiri bahan bangunan

Agar memudahkan pengerjaan memperbaiki rumah, suami membeli barang yang diperlukan sendiri.  Jadi suami yang membeli bahan-bahan yang diperlukan untuk memperbaiki atap yang rusak ke tukang bangunan. Selain jadi tahu harga juga bisa disesuaikan dengan budget dan mendapatkan kualitas bahan yang sesuai dengan keinginan.

5. Menjadwal perbaikan rumah

Menjadwal perbaikan rumah ini penting banget, sehingga kita bisa mempersiapkan diri ketika tukang mengerjakan perbaikan rumah. Suami dan pak tukang sepakat jadwal perbaikan pada hari Minggu, karena pada waktu itulah masa liburnya pak tukang. Tapi, ternyata setelah dijadwalkan kegiatan memperbaiki rumah meleset, karena pak tukang tidak bisa datang karena belum mendapatkan kenek/orang yang bisa membantunya bekerja. Karena biasanya begitu, kan, ya? tukang itu ada temannya sebagai asisten, karena tidak mungkin melakukan pekerjaan memperbaiki rumah sendiri, apalagi naik-anaik ke atas atap. Jadi harus ada yang menemani.

Apakah jadwalnya akhirnya sia-sia? Tidak juga. Dengan ada jadwal kami jadi bisa mempersiapkan diri dan rumah agar bisa didatangi orang luar. Meskipun jadwalnya berubah, namun, tentu saja tidak menyebabkan manfaat membuat jadwal itu mubajir. 

"Pekerjaan yang baik tanpa perencanaan hanya akan jadi sulit. Perencanaan yang baik tanpa pelaksanaan hanya akan menjadi arsip." Kata Pak Yusuf Kalla

Tuh, kan, jadi enggak ada yang sia-sia melakukan perencanaan, penjadwalan, sehingga kita bisa melakukan langka-langkah selanjutnya. 

6. Mengatur kondisi kesiapan anggota keluarga

Nah, penting banget ini mengantur kondisi kesiapan anggota keluarga. Ketika akan melakukan perbaikan rumah saya sudah menyampaikan kepada anak-anak nanti akan ada tukang yang masuk ke dalam rumah. Tepatnya di ruang keluarga. Oleh sebab itu saya sudah memindahkan sementara barang-barang di sana dan menutup beberapa tempat yang biasa kami pergunakan bersama, seperti meja makan. Begitu juga dapur, saya tutup meja dapur agar tidak terkena debu dan mudah dibersihkan setelah pekerjaan memperbaiki rumah.

Anak-anak semua tinggal di kamar depan. Ruang belajarnya sementara di ruang tamu. Selama ada orang lain di rumah, kami  sepakat tidak keluar masuk ke ruang kelurga untuk sementara kecuali umi yang harus ke dapur. Itu pun saya minimalisir sekali, untuk menyediakan kudapan dan makan siang saja karena ketika akan ke dapur, saya harus melewati ruang keluarga. Saya menggunakan masker selama ada orang lain di rumah sebagai protokol kesehatan, tidak lupa sering mencuci tangan dan menjaga jarak.

Alhamdulillah ala kulli hal. Pekerjaan memperbaiki rumah pun selesai juga dari pagi pukul 8 hingga pukul 5 sore. Setelah rumah diperbaiki oleh pak tukang, atap pun sudah tidak meneteskan air mata lagi, eh bocor dan meneteskan air hujan ke dalam rumah. Anak-anak pun senang, karena ruang belajarnya sudah rapi kembali dan lebih terang dari sebelumnya. Jadi  setiap pagi kita bisa berjemur cantik di bawah atap yang diberi fiber jernih karena sinar matahari riang gembira bertandang ke rumah kami. 

Demikian Moms, tips aman memperbaikin rumah di masa pandemi Covid-19. Semoga dengan tips ini moms terbantu dalam mempersiapkan diri dan keluarga ketika akan memperbaiki rumah. Perbaikan rumah karena bocor atau atap rumah runtuh tidak bisa ditunda, karena bagian-bagian ini adalah bagian primer sebuah rumah. Rumah yang nyaman dan aman menjadi dambaan kita semua, ya, moms. Agar fungsi rumah sebagai tempat berkumpul keluarga benar-benar dirasakan oleh seluruh anggota keluarga.

Salam sehat dan bahagia selalu,

Sri Widiyastuti

Sri Widiyastuti
Saya ibu rumah tangga dengan 6 orang anak. Pernah tinggal di Jepang dan Malaysia sebagai diaspora.Isi blog ini sebagian besar bercerita tentang lifestyle, parenting (pengasuhan anak) dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keluarga dan perempuan. Untuk kerjasama silakan hubungi saya melalui email: sri.widiyastuti@gmail.com

Related Posts

28 comments

  1. iya aku juga rada2 ngeri ya , tukang mana yang aware sama corona. nanti lalu lalang di dalam rumah

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, harus kenal dengan tukang bangunannya karena dengan demikian kita tahu kesehariannya dan kondisi kesehatannya. Cuma ya gitu, keneknya merokok mbak, agak gimana gitu saya heuheu karena yang cari kan pak tukang, jadi kita ga bisa minta diganti.

      Delete
  2. kebetulan tahun kemarin aku renovasi rumah yang aku tempati sekarang, dan memang pilih tukang gak banyak2 cuma 2 itu pun yang udah dikenal lama dan udah langganan banget.

    ReplyDelete
  3. Benerr banget ini mba, poin2nya karena memang kita butuh tukang utk perbaiki beberapa bagian rumah, tapi ya tetep kudu aware dgn bahaya covid ye kan.
    semogaaa kita semua sehat ya mbaa

    ReplyDelete
  4. Pilih tukang yang kenal emang penting..karena kita dah tahu ya kerjanya gemana.. Ortuku pernah pakai tukang kenal sih..tapi si tukang bawa anak buah yang kita gak kenal..ada aja kejadian yang gak mengenakkan..

    ReplyDelete
  5. Loh ada ya atap rumah dari baja ringan? Ade taunya baja ringan hanya buat kuda-kuda plafon. memang lebih awet pakai baja ringan untuk kuda-kuda dan atap dengan genting. Tapi mba pengalamanku kalau bawa tukang kenalan itu kadang malah ga enakan. Jadi hasilnya jelek ga bisa komplain. Paling enak memang sama kontraktor. CUma yaa harganya gitu deh.. tidak bersahabat.. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak ade, untuk gentingnya namanya spandex. Kerangkanya pakai baja ringan. Atapnya pakai spandex sejenis alumunium yang dicampur seng gitu. emang kalau ga pakai yang tebal mudah korosi ya.

      iya sih, kalau kontraktor juga tentu harus yang profesional yaa, karena kalau ga dikenal hasilnya kurang memuaskan

      Delete
  6. Kejadiannya hampir mirip denganku beberapa bulan lalu. Ruang kerja sekaligus ruang belajar atapnya ambrol gitu. Udah bangunan lama sih mba, sekitar 12 tahun lalu kami membangunnya. Kayu-kayunya keropos semua. Mau tak mau pake baja ringan mba meskipun Mba Tuti nulis ada kelemahan pake baja ringan hehehee...
    Itu ambrolnya ya pas ada suami dan anakku di ruangan itu. Suara atap jatuhnya mengerikan deh.

    ReplyDelete
  7. Nah mencari tukang yang amanah itu susah-susah gampang deh yah. Ada aja yang kurang berkenan, aku pun mau renovasi rumah jadi maju mundur nih gara-gara corona. Untungnya belum urgent banget.

    ReplyDelete
  8. Tipsnya lumayan berguna nih Mbak. Jadi kalo kenapa-napa dg bangunan rumah setidaknya panggil tukang yg memang kenalan kita atau kenalan keluarga kita ya. Krn perbaikannya juga di dalam rumah kan ya, jadi masukin orang deh.

    ReplyDelete
  9. Memperbaiki rumah memang harus dengan perencanaan yang matang. Pemilik rumah harus tahu betul apa kerusakannya dan bisa mendelegasikan tugas kepada tukang langganan. Karena saya ngalamin sendiri betapa repotnya kalau dapat tukang asal-asalan, jadinya malah kerja dua kali dan tidak efektif serta efisien..

    ReplyDelete
  10. Ya Allah, sampai ambrol ya atapnya. Di Bogor ternyata musim hujan. Iya aku ingat cerita Mbak April yang samping rumahnya longsor sampai dia ngungsi.

    Btw, makasih idenya buat simpan dokumen di kaleng. Ga jadi buang kaleng susu, deh.

    ReplyDelete
  11. Turut bersyukur untuk terhindar dari keruntuhan atap mbaak... Keluarga tidak ada yg terluka, bahkan barang2 penting pun terhindar.
    Bagian atap ini karena di atas jadi memang ga bisa langsung terlihat jika ada kerusakan yaaa...
    Dan perbaikannya seringkali memerlukan tukang serta budget ekstra hahaha
    Terpenting, rumah sudah aman dan nyaman lagi ya mbak...:)

    ReplyDelete
  12. Kalau kerusakannya ringan, persiapannya nggak terlalu banyak ya mbak. Tapi kalau berat, banyak yang harus dilakukan, bahkan bila sampai harus bongkar-bongkar beberapa ruangan yang paling banyak digunakan, kudu pindah dulu :D

    Ohya, perlu hati-hati pakai tukang selama pandemi ini. Bukan soal mereka amanah atau gak saja, tapi soal kesehatan mereka. Pernah terjadi di teman suamiku, manggil tukang beberapa orang buat perbaikan dapur. Udah ditanya dalam keadaan sehat apa nggak, dijawab sehat, eh besoknya pas kerja tukangnya sakit dan batuk-batuk. Pas diperiksa ternyata covid. Temannya suamiku juga tertular dan ikut sakit. Akhirnya semua tukang distop kerja dulu, perbaikan akhirnya nggak selesai.

    ReplyDelete
  13. Renovasi tuh kalau ngga dipertimbangkan dengan baik memang bikin gundah. Walau mungkin proyeknya sederhana kan mengurangi dan merubah fungsi rumah kita. Jadi memang harus kita pikirkan masak-masak agar tepat waktu.

    ReplyDelete
  14. Repotnya ya yang butuh tukang di masa pandemi :(
    kalau di rumah Ummi, kebetulan tukangnya udah puluhan tahun kerja dan tinggal di dalam sekalian jadi jaga malam

    Kebayang kalo pas ada kebocoran seperti ini, sedih .....

    ReplyDelete
  15. Wah, aku juga baru ingat bagian gudang udah banyak kayu keroposnya. Tips aman memperbaiki rumahnya bisa langsung aku coba nih. Memang lebih enak cari tukang yang memang masih kita kenal dan mau jaga prokes selama bertukang ya mbak

    ReplyDelete
  16. Mbak .. di bagian ini saya pengen nambahin karena ingat cerita adik saya:
    Pilih tukang yang dikenal keluarga .. pilih yang dikenal dan pastikan dia tidak sedang sakit, bahkan batuk ringan.

    Karena adik saya cerita ada temannya yang terjangkit covid setelah rumahnya didatangi tukang yang sedang batuk2 ... tracing covid-nya cuma mengarah ke situ katanya (ke si tukang) ...

    ReplyDelete
  17. Alhamdullilah terhindar dari jatuh korban. Enak kalau punya tukang sudah kenal sama kita.

    ReplyDelete
  18. Terima kasih tipsnya ya mak, kami malah terhenti nih renovasi rumah karena kurang dana, hahaha. Nanti deh dilanjut kalo sudah ada rejekinya. Soal renov rumah ini emang tergantung kepuasan atau selera yah karena inovasi rumah tentu berkembang terus, kayak misalnya keramik aja, berubah terus desainnya. yah, kalo kami diutamakan fungsi utama ruangan aja sih, kalo desain mah menyusul aja

    ReplyDelete
  19. Renovasi rumah itu emang butuh perencanaan dan biaya juga. Pilih tukang jadi salah satu hal yang penting. Biasanya saya pakai tukang yang udah langganan di keluarga.

    ReplyDelete
  20. Poin paling penting nih adalah tukang yang memperbaiki rumah. Saya trauma banget dlu pernah ambil asal tukang aja. Btw thank you tipsnya kak

    ReplyDelete
  21. Pas banget ini aku mau ngurus rumah di ortu teh , tapi bangun kamar-kamar baru gitu, moda dilancarkan ya masa pandemi gini. Memang harus direncanakan keamanannya banget ini

    ReplyDelete
  22. wah iya, renovasi rumah tu emang membutuhkan banyak biaya ya mbak
    makanya penting banget pilih tukang yang bisa dipercaya

    ReplyDelete
  23. Hiks genting so far memang paling aman ya. Itupun genting yang sudah dilapisi waterproff dan sebagainya. Aku mau nyari tukang juga nih insyaallah buat renov rumah baru. Tapi yang bisa bikin dapur, kitchen set dll. Mbak ada kenalan kah?

    ReplyDelete
  24. alhamdulillah keluarga aman-aman kena atap serem gitu ya mak
    semoga selalu aman-aman saja biar tentram nyaman tinggal untung segera diperbaiki
    bener pilih tukang kudu ati2 juga ya mak bukannya benet malah kacau biaya bengkak

    ReplyDelete
  25. Persis Ibuku kemarin, kak..
    Di saat pandemi, justru rumah minta diperbaiki.
    dan ini menimbulkan masalah karena tukang yang kerja jadi sibuk.
    **banyak yang butuh, ternyata...

    Alhamdulillah,
    Kalau rumah sudah diperbaiki, jadi nyaman untuk ditinggali. Dan in syaa Allah berkah.

    ReplyDelete

Post a Comment