October 27, 2012


Barusan baca-baca berita, nemu yang satu ini...isinya menarik . Sempet membayangkan suami yang sedang jauh juga..hmmm...dia romantis juga gak yah... soal ini ntar deh dibahas lain kali..versi kami berdua..romantis itu bukan hanya dikirimin bunga loh...tapi ada banyak yang lain....

******

Tanya Kapan Indonesia Merdeka, Malah Dimarahi

Dalam buku Romantisme Bung Tomo yang ditulis Ny Sulistina Sutomo, istri Bung Tomo, berbagai petuah hidup, kisah perjuangan, dan kesetiaan disajikan secara apa adanya. Buku ini berisi kumpulan surat-surat Bung Tomo kepada sang istri.

Buku ini benar-benar menunjukkan perlunya komunikasi antara pasangan suami istri dalam menyelesaikan masalah. Dalam surat yang ditulis pada 8 Maret 1951, Bung Tomo mengingatkan istrinya untuk membayar utang kepada Pak Carik. ’’Hiermee voorlopig f.125 (Bersama ini untuk sementara Rp 125). Hutang kita pada ibu dan bapak carik. Kurangane (kekurangannya) for you bisa ditunggu sebelum hari Senen depan. Zeker (pasti-red),’’ demikian petikan salah satu surat Bung Tomo.

Keromantisan Bung Tomo tampak dalam setiap surat-suratnya. “Tiengke” panggilan sayang untuk Sulistina selalu menghiasi kop surat. Dalam beberapa surat panggilan sayang itu dikombinasi dengan kata-kata mesra lainya. Misalnya “Tieng adikku sayang”, “Tieng isteri pujaanku”, “Dik Tinaku sing ayu dewe”, “Tieng Bojoku sing denok debleng” atau “Tiengke Sayang”.

Dalam sebuah surat yang ditulis pada 13 Maret 1951 Bung Tomo memahami bahwa istrinya sudah terlalu lama ditinggal di rumah bersama anak-anaknya. Selain menanyakan kabar buah hatinya, Bung Tomo juga berpesan: ’’Bila kesepian, ambilah buku pelajaran bahasa Inggris kita, en…success,’’. Indahnya ucapan itu hingga Sulistina mengaku selalu tak sabar menunggu surat-surat berikutnya.

Selera humor Bung Tomo juga membuat Tiengke terpesona. Dalam satu kesempatan di 20 Maret 1951 surat Bung Tomo diterima. Dalam suratnya pria yang lahir pada 1920 itu menceritakan bahwa foto Sulistina dipuji teman-temannya dan beberapa ibu-ibu. ’’Malah ono sing kanda (malah ada yang bilang-red) een paar’dames (beberapa ibu-ibu-red) memper (mirip) Ingrid Bergman! Bintang film Swedia di USA,’’ begitu petikan surat Bung Tomo.


Kemesraan yang terjalin melalui surat-surat Bung Tomo tak membuat nafas perjuangannya hilang. Dalam surat balasan kepada Bung Tomo, Sulistina pernah bertanya, kapan perang kemerdekaan ini akan selesai? Karena jarang sekali mereka berdua bertemu dan anak-anaknya selalu menanyakan kapan Bung Tomo datang. Melihat istrinya mengeluh dengan perjuangannya yang tak kunjung berakhir, Bung Tomo menulis: ’’Tieng kowe tak seneni ya? Sesuk-sesuk adja sok kanda kapan telase merdeka ini, ya? Wong sedih merga ora bareng-bareng dua minggu wae kok ndukani “Merdekane”. (Tieng aku boleh marah ya? Lain kali jangan pernah bilang kapan selesainya perang kemerdekaan ini. Cuma sedih karena tidak bersama-sama dua minggu saja, kok menyalahkan “Merdekanya”).

Dukungan seorang istri atas perjuangan suami benar-benar menjadi sebuah perekat hubungan yang sudah terjalin. Bagaimana tidak? Saat Bung Tomo ditahan selama setahun (1978-1979) oleh rezim Soeharto, Sulistina tak tinggal diam. Presiden pun disurati. Dalam surat itu Sulistina menyebut Pak Harto saja, tanpa embel-embel presiden. ’’Orang yang sudah mempertaruhkan jiwa-raganya untuk mempertahankan kemerdekaan negaranya, tidak mungkin mengkhianati bangsanya sendiri,’’ protes Sulistina dalam surat itu.
Kesetiaan Sulistina kepada Bung Tomo tidak perlu diragukan lagi. Cinta mereka tak terhalang ruang dan waktu. Setelah Bung Tomo meninggal dunia pun, Sulistina tetap rajin menulis surat. Kejadian apa pun selalu diceritakan dalam surat yang tak pernah terkirim itu.

Salah satu surat yang termuat dalam buku keempat Sulistina ditulis 20 Desember 2004. “Untuk Suamiku” tulisnya. ’’Kemarin tanggal 18 (Desember 2004-red) saya telah menghadiri peluncuran buku Tarbawi dengan anak kita Bambang Sulistomo. Saya telah tertarik dengan surat undangannya, karena di situ tercantum nama Mas Tom. Meskipun saya masih sakit, karena tangan saya yang kiri masih dalam gendongan, saya perlukan datang. Saya waktu itu sedang pulang dari sholat Idul Adha, jatuh di tengah jalan dan tangan saya yang kiri patah,’’. Begitulah cuplikan suratnya.

*******

Utsunomiya, 26 Desember 2006
ingin juga jadi salah seorang yang mendukung sukses suami

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @tutiarien

Sri Widiyastuti . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates