Skip to main content

Tabungan yang Tidak Terduga

Beberapa waktu yang lalu, tidak terduga sama sekali ada surat yang datang kerumahku dari I-line, perusahaan tempat saya bekerja terhitung juni 2005 - juni 2006 yang lalu. Saya kira surat agar saya bekerja kembali di perusahaan tersebut karena beberapa bulan sebelum melahirkan saya masih berkesempatan bekerja disana. Kalau dihitung-hitung saya bekerja di I-line pas 1 tahun. Dan pada saat itu adalah waktu yang penuh dengan kenangan manis sekali. Saya bisa melihat lebih dekat dengan masyarakat pekerja jepang secara utuh. Banyak sudah pelajaran yang bisa saya petik dari pengalaman saya bekerja di sana. Sikap pekerja kerasnya, pertemanan, etos kerjanya dan yang terpenting adalah kebaikan hati mereka. Saat itu saya mendapatkan posisi yang saya kira sangat menguntungkan sekali, petugas kensha (mensortir produk). I-line ini terdiri dari berbagai macam pekerjaan dalam satu perusahaan, ada yang merakit televisi,, merakit aksesories champaign wadah rokok/JT, kensha video game dll.
Saya kebetulan di bagian merakit aksesories champaign produk wadah rokok. Salah satu produk permintaan Japan Tabaco/JT.

Kembali lagi pada surat dari I-line, ternyata isi surat itu adalah surat pajak saya. Tahun yang lalu, saya juga sempat mengurus surat uang hasil kerja saya yang di potong pajak. Karena penghasilan saya masih diambang minim, maka uang pajak tersebut di kembalikan kembali. Asalkan diurus. Jumlahnya tidak banyak tetapi Alhamdulillah bisa menambah pemasukan keluarga.

Alhamdulillah tahun inipun I-line tidak melupakan saya. Walaupun sebenernya sejak saya keluar dari tempat kerja (arubaito) 2 bulan sebelum melahirkan anak ke-tiga, saya lupa akan uang ini. Tapi mereka tidak melupakan tugas mereka walaupun saya sudah tidak pernah berhubungan dengan mereka. Alhamdulillah uang pajak saya yang dipotong tiap bulan dikembalikan kembali. Tahun ini lumayan besar juga, karena saya bekerja arubaito 8 jam setiap hari (setiap bulan hanya 2 minggu bekerja).

Alhamdulillah, uang yang tidak pernah saya tabung secara resmi di buku tabungan sendiri, akhirnya dikembalikan kembali sebagai penghargaan saya pekerja di Jepang. Berbeda dengan yang berpenghasilan tinggi, maka mereka malah harus bayar kepada pemerintah Jepang. Besarnya relatif, sesuai besarnya penghasilan pertahun.

Pada hari kamis yang lalu saya urus pengembalian uang pajak saya tersebut di salah satu Hall di Utsunomiya, Maronie Plaza. 


Jam 9 pagi saya datang ke tempat tersebut, sudah banyak orang yang mengantri.
Begitu datang saya langsung di sodori secarik kertas yang berisi panduan mengantri dan nomor antrian. Saya dapat nomer 180. Yang menarik adalah di tempat antri di hall yang sangat luas tersebut sama dengan tahun yang lalu tidak disediakan bangku untuk mengantri. Padahal diantara orang-orang yang mengantri tidak hanya orang-orang muda saja, tetapi ada orang-orang tua yang sedang mengantri mengurus "nenkin" semacam pensiun di Indonesia. Dibelakang saya adalah kakek-kakek yang berusia 80 tahun, berdiri selama 30 menit menunggu antrian yang semakin memanjang di belakang saya. Tidak ada kata keluhan dibibir kakek tersebut. Dengan optimisnya, kakek itu bilang, kira-kira begini nih, "pas banget yah ngantri 30 menit akhirnya sampe juga (tempat ngurus surat-suratnya ada dibagian dalam gedung), ternyata gak sampe jam makan siang yah, kalo selesai pas jam makan siang kan bisa langsung makan" dan tertawa sampai terlihat giginya yang mulai banyak yang bolong...:D

Memang antrian yang panjang di depan saya, akhirnyau cepat juga habisnya, padahal dari tempat ngantri saya diluar, sampai kedalam ruangan kira-kira 50 meteran. Di dalam ruangan, petugasnya dalam satu bagian ada 20 orang yang bertugas. Sementara ada 4 bagian yang jadi tujuan orang-orang yang mengurus pajak dan nenkin ini. Saya di bagian 2 , yaitu bagian kakunin form yang harus diisi (ini sudah saya isi dirumah dibantu sensei bahasa jepang), jadi hanya di check sebentar, cepet lolos. 
Dengan menghabiskan waktu hanya 5 menit diliat-liat dan disuruh kekurangan yang ditulis di form, selesai sudah. Form surat pengembalian uang pajak saya dicap oleh petugasnya.
Ini juga yang saya suka di Jepang ini, mengurus segala macem administrasi cepat dan mudah. Petugasnya juga pandai menjalankan tugasnya dan melayani semua orang dengan sangat baik. Sayangnya gak boleh photo-photo sih, jadi tidak bisa di dokumentasikan.

Andai saja di Indonesia berlaku sistem seperti ini mungkin bisa menanggulangi masalah kemiskinan di negara kita yah....
Yang pekerja kecil terbantu dengan sistem pemotongan pajak yang dikembalikan, yang berpenghasilan besar akan membantu jalannya perekonomian dalam negeri. Semoga saja suatu saat nanti......^_^


Postingan MP tanggal 4 februari 2007, ditulis ulang di blogger :-)

Comments

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…