Jangan Remehkan Janji Pada Anak

9 comments

Lagi gulang guling sama Saki, dia tiba tiba menjulurkan jari kelingkingnya.
"Janji umi, janji." Katanya.
"Janji untuk apa?" Tanya saya.
"(Un)tuk ga (n)angis."
"Betul?" Tanya saya lagi.
"Hu um!" Angguknya mantap.

Jadi, kemarin sore dia saya tinggal di rumah. Biasanya, kalau ke kampus saya ajak dia. Tapi tidak untuk sore itu. Karena saya kuliah pukul 5 sore dan selesai pukul 9 malam. Kuatir dia kecapean. Sementara, malam itu, giliran  saya dan kelompok saya presentasi tugas kuliah.

Sebelum saya tinggalkan Saki dengan teteh S2 dan kakak kakak yang lain, saya berjanji pada Saki akan mengajaknya jalan jalan keesokan harinya. Tetap saja hal itu tidak membuat Saki melepaskan baju saya dari genggamannya. Dia terus menarik narik baju gamis saya sambil menangis, ingin ikut.

"Itut, ituut!" Jeritnya. Sungguh, tangisannya itu membuat saya maju mundur, ajak atau gak, tapi saya kuatir malaah gak bisa konsentrasi kalau dia ngantuk di kelas. Apalagi pikiran saya sedang galau, karena masih belum menguasai materi yang akan disampaikan. Akhirnya saya pun tega. Drama tiap kali saya ke kampus begitulah. Heuheu tapi yang kemarin itu yang terberat.

Saat saya keluar rumah, saki masih memburu saya, "Salim...!" Sambil menangis. Saya masuk ke rumah lagi, saki mencium tangan saya. Eh bener deh, dia modus. Ambil kesempatan memegangi gamis saya lagi. Lalu tetehnya menggendong Saki. Dan saya pergi ke kampus dengan hati yang patah. Gak tahan denger saki nangis huhuhu

Sampai di kampus. Perkuliahan sudah dimulai. Kelompok pak Nunu sedang presentasi. Saya duduk di bangku yang masih kosong, dengan perut tiba tiba berbunyi. Saya merasa lapar sekali, baru ingat, belum makan karena keasyikan membuat ppt! Alhamdulillah saat istirahat, temanku, dedek Karwati membawa nasi Padang, saya makan barengan sama dedek Bu guru Rima yang juga lupa makan saking riweuhnya di sekolah dan persiapan presentasi yaa hihi btw alhamdulilah setelah presentasi lega semuanya deh.

Kembali lagi ke cerita janji jari kelingking Saki.

Tadi pagi saya ajak Saki jalan jalan ke kampus. Yap, sambil memenuhi janji kepada saki dan ketemuan sama mbak Tite. Mbak Tite menyalurkan bantuan kepada korban terdampak banjir lewat kampus UIKA.

Saki senang sekali. Di jalan dia banyak bicara.
"Abi ke kampus, umi ke kampus, Dede ke kampus!" Katanya riang.

Alhamdulillah.

Janji kepada anak tentu saja harus dibayar. Meskipun keliatannya dia tidak mendengarkan apa yang kita janjikan karena sibuk dengan protesnya. Nangis dan sebagainya. Anak tetap akan mengingat apa yang telah dijanjikan. Tugas orangtua menunaikan janji yang telah diucapkan.

Dari sejak pulang dari kampus sampai sore  ini saki terus saja bercerita tentang jalan jalannya ke kampus. Dan secara tiba tiba dia berjanji tidak akan menangis lagi kalau ditinggal umi.

Terkadang, ada saatnya kita harus tega, agar anak bisa belajar dari pengalaman, ya tentu saja tega yang terencana dengan baik, agar anak tetap merasa aman dan diperhatikan.

Saya banyak belajar dari Saki tentang kesabaran, ketulusan dan kejujuran. Meskipun perasaan rasanya kayak nano nano ada hikmah yang bisa saya petik, jadi punya tempat praktik sendiri yang berkaitan dengan konsentrasi kuliah saya, pendidikan anak usia dini.

Alhamdulillah ala kulli haal.
Sri Widiyastuti
Saya ibu rumah tangga dengan 6 orang anak. Pernah tinggal di Jepang dan Malaysia sebagai diaspora.Isi blog ini sebagian besar bercerita tentang lifestyle, parenting (pengasuhan anak) dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keluarga dan perempuan. Untuk kerjasama silakan hubungi saya melalui email: sri.widiyastuti@gmail.com

Related Posts

9 comments

  1. Dedek Saki solehah, pintar...iya dari anak-anak kita belajar banyak ya Teh..kebahagiaan dan cinta dengan tulus..

    ReplyDelete
  2. Anak-anak ibarat kertas putih, apapun tulisan yang tercetak di atasnya akan tersimpan dalam waktu lama. Kalau orang tua sudah berjanji sebaiknya memang harus ditepati ya Mbak. karena sampai kapanpun mereka akan ingat pada janji kita. Kalau tidak kita tepati, ia akan membawa kenangan sampai besar bahwa janji boleh diingkari

    ReplyDelete
  3. Masya Allah, hanya orang2 yang cerdas dan bijaksana yang mampu memetik hikmah dari setiap peristiwa.

    Sejatinya, anak2 itulah guru kita ya, Umi. Mereka yang banyak melatih kita kesabaran, kreativitas, pengaturan waktu hingga pengaturan keuangan. Jadi mesti dinikmati setiap momen bersama mereka.

    ReplyDelete
  4. Betul sekali, kadang bagi kita orang dewasa menjanjikan sesuatu ke anak hanya sekedar janji untuk membujuk mereka. Tapi bagi anak itu adalah sesuatu yang sangat melekat di jiwanya.
    Saya jadi ingat janji saya ke si-sulung, kelak akan menikahkan dia pada milad saya atau milad bapaknya. Waktu itu saya hanya asal bercanda saja, waktu itu dia masih usia 17 tahun, bercanda-canda dan saling ngeledek sembari ngeteh.
    Beberapa tahun kemudian, ia mewujudkan itu. Ia memilih hari pernikahannya bertepatan dengan milad bapaknya. Masya Allah.

    ReplyDelete
  5. Terharu loh bacanya :). Kalo anak kecil udah berinisiatif bikin janji begitu, rasanya kita sebagai orangtuapun hrs bisa menepati janji kita sendiri ke anak, supaya mereka bisa melihat janji itu kalo diucapkan hrs konsisten dilakukan.

    Aku srg melihat orangtua yg menjanjikan sesuatu ke anaknya, tp mereka sendiri ga menepati PD akhirnya. Menganggab, ah janji ke anak2 ini. Mereka ga bakal sadar juga kalo diboongin.

    Padahal, menurutku anak2 itu punya ingatan yg sangat kuat. Kalo mereka terbiasa diboongin Ama jnji2 ortunya, bukan ga mungkin mereka akan seperti itu. Berfikir Janji bukan sesuatu utk ditepati. Makanya, saat aku janjiin sesuatu ke anak2, aku pasti berusaha untuk nepatin. Kalopun ada sesuatu yg bikin aku ga bisa ngelakuin itu, aku ajak mereka diskusi dulu kenapa janji itu hrs dibatalin dan kapan akan dijalanin lagi.

    Makanya saat anak2 ngucapin janji, akupun bakal ngelakuin yg sama. Menagih mereka kapan janjinya bakal dilaksanakan :D

    ReplyDelete
  6. Bener, Mbak. Aku dan suami sudah berkomitmen ga bakalan menjanjikan sesuatu yang kami tidak mampu wujudkan. Sekalipun janji untuk jalan-jalan dalam kota aja, kami bilangnya "kalau tidak ada kendala, kita jalan-jalan besok sore." Jadi kalau ada kendala seperti hujan, sakit, dan lain-lain mereka paham dan ga protes.

    ReplyDelete
  7. Gemes banget ama Saki mba Tuti. Aku jadi belajar banyak juga mih dari ceruta pengalamanmu. Anak-anak memang perekam ingatan yang baik ya.

    ReplyDelete
  8. MashaAllah~
    Seringkali anak lupa juga dengan apa yang kita janjikan yaa, kak...
    Tapi janji tetap janji.
    Tidak memandang usia...

    Barakallahu fiik, Saki sholihaa..

    ReplyDelete
  9. anak2 itu punya ide yg ajaib dan kadang di luar nalar.. celotehannya bikin kangen, makanya aku juga gak tega kalo harus ninggalin anak di rumah, akunya yg gak tahan kalo keingetan.. jadi kalo mau ke mana2, lebih seringnya aku ajak ikut aja kak..hehe..

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email