January 08, 2020


Lagi gulang guling sama Saki, dia tiba tiba menjulurkan jari kelingkingnya.
"Janji umi, janji." Katanya.
"Janji untuk apa?" Tanya saya.
"(Un)tuk ga (n)angis."
"Betul?" Tanya saya lagi.
"Hu um!" Angguknya mantap.

Jadi, kemarin sore dia saya tinggal di rumah. Biasanya, kalau ke kampus saya ajak dia. Tapi tidak untuk sore itu. Karena saya kuliah pukul 5 sore dan selesai pukul 9 malam. Kuatir dia kecapean. Sementara, malam itu, giliran  saya dan kelompok saya presentasi tugas kuliah.

Sebelum saya tinggalkan Saki dengan teteh S2 dan kakak kakak yang lain, saya berjanji pada Saki akan mengajaknya jalan jalan keesokan harinya. Tetap saja hal itu tidak membuat Saki melepaskan baju saya dari genggamannya. Dia terus menarik narik baju gamis saya sambil menangis, ingin ikut.

"Itut, ituut!" Jeritnya. Sungguh, tangisannya itu membuat saya maju mundur, ajak atau gak, tapi saya kuatir malaah gak bisa konsentrasi kalau dia ngantuk di kelas. Apalagi pikiran saya sedang galau, karena masih belum menguasai materi yang akan disampaikan. Akhirnya saya pun tega. Drama tiap kali saya ke kampus begitulah. Heuheu tapi yang kemarin itu yang terberat.

Saat saya keluar rumah, saki masih memburu saya, "Salim...!" Sambil menangis. Saya masuk ke rumah lagi, saki mencium tangan saya. Eh bener deh, dia modus. Ambil kesempatan memegangi gamis saya lagi. Lalu tetehnya menggendong Saki. Dan saya pergi ke kampus dengan hati yang patah. Gak tahan denger saki nangis huhuhu

Sampai di kampus. Perkuliahan sudah dimulai. Kelompok pak Nunu sedang presentasi. Saya duduk di bangku yang masih kosong, dengan perut tiba tiba berbunyi. Saya merasa lapar sekali, baru ingat, belum makan karena keasyikan membuat ppt! Alhamdulillah saat istirahat, temanku, dedek Karwati membawa nasi Padang, saya makan barengan sama dedek Bu guru Rima yang juga lupa makan saking riweuhnya di sekolah dan persiapan presentasi yaa hihi btw alhamdulilah setelah presentasi lega semuanya deh.

Kembali lagi ke cerita janji jari kelingking Saki.

Tadi pagi saya ajak Saki jalan jalan ke kampus. Yap, sambil memenuhi janji kepada saki dan ketemuan sama mbak Tite. Mbak Tite menyalurkan bantuan kepada korban terdampak banjir lewat kampus UIKA.

Saki senang sekali. Di jalan dia banyak bicara.
"Abi ke kampus, umi ke kampus, Dede ke kampus!" Katanya riang.

Alhamdulillah.

Janji kepada anak tentu saja harus dibayar. Meskipun keliatannya dia tidak mendengarkan apa yang kita janjikan karena sibuk dengan protesnya. Nangis dan sebagainya. Anak tetap akan mengingat apa yang telah dijanjikan. Tugas orangtua menunaikan janji yang telah diucapkan.

Dari sejak pulang dari kampus sampai sore  ini saki terus saja bercerita tentang jalan jalannya ke kampus. Dan secara tiba tiba dia berjanji tidak akan menangis lagi kalau ditinggal umi.

Terkadang, ada saatnya kita harus tega, agar anak bisa belajar dari pengalaman, ya tentu saja tega yang terencana dengan baik, agar anak tetap merasa aman dan diperhatikan.

Saya banyak belajar dari Saki tentang kesabaran, ketulusan dan kejujuran. Meskipun perasaan rasanya kayak nano nano ada hikmah yang bisa saya petik, jadi punya tempat praktik sendiri yang berkaitan dengan konsentrasi kuliah saya, pendidikan anak usia dini.

Alhamdulillah ala kulli haal.

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @tutiarien

Sri Widiyastuti . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates