Keluarga sebagai Benteng Pertama dan Terakhir dalam Kemenangan Dakwah

Post a Comment

 Keluarga sebagai benteng pertama dan terakhir kemenangan dakwah. Dua tahun lalu, saya dan anak anak hadir dalam acara Ketahanan Keluarga yang diselenggarakan oleh Bidang Perempuan PKS Kota Bogor. Tema yang diusung adalah Peran Muslimah dalam Kemenangan Dakwah. Acara ini juga sekaligus menyambut para ayah yang kembali dari mengikuti Program Kembara yang diselenggarakan oleh DPD PKS kota Bogor.

Keluarga sebagai benteng pertama dan terakhir kemenangan dakwah
gambar dari pixabay.com
Hadir memberikan taujih, Ibu Sri Kusnaeni. Sekretaris Bidang Perempuan DPP PKS. Beliau membuka taujihnya dengan membaca dua buah surah di dalam al Qur’an, yaitu surah At taubah ayat 71 dan At Tahrim ayat 6.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS. At-Tahrim 66:6)

Surat At Taubah ayat 71

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At -Taubah: 71)

Kedua surat ini menjadi landasan dalam menjalankan biduk pernikahan dan membangun keluarga.

Keluarga sebagai Benteng Pertama dan Terakhir Lahirnya Pemimpin Masa Depan Bangsa

Di bawah ini saya share rangkuman dari taujih bu Neni, semoga bermanfaat untuk kita semua.

Surah At Taubah ayat 71 yang menjadi landasan bergerak kita menjelaskan secara gamblang bahwa kita kaum ibu, perempuan, akhwat,  bekerjasama saling mengokohkan dengan ikhwan, dengan bapak-bapak, kaum lelaki dalam rangka menegakkan kebenaran di muka bumi. Alhamdulillah, di PKS kegiatan senantiasa ramai tak hanya diramaikan oleh ibu-ibu tetapi bapak-bapak pun ada meramaikan acara, terbukti di antara ibu-ibu yang duduk di tribun, ada bapak-bapak juga.

Pada dasarnya permpuan dan laki-laki tidak bisa bekerja sendiri. Dalam segala aktifitas. Baik di kota, kabupaten, desa, kota dan keluarga. Keluarga adalah benteng yang utama sekaligus benteng terakhir. 

Keluarga sebagai Benteng Pertama

Keluarga sebagai Benteng pertama karena keluarga menjadi cikal bakal lahir generasi masa depan. Berbahagialah karena PKS telah menjadikan keluarga salah satu konsen atau yang diperhatikan dalam perjuangannya.

Bahwa keluarga adalah benteng pertama dan juga benteng terakhir. Yang melahirkan calon generasi masa depan. Dimulai pengarahan dan pendidikannya di keluarga. Lembaga ini yang mencetak generasi masa depan/ pemimpin masa depan. 

Mengapa Keluarga Benteng Terakhir?

Orang yang hasad atau dengki kepada kebaikan dan kebenaran akan senantiasa berusaha untuk meruntuhkan institusi yang bernama keluarga. Mereka akan menyasar keburukan dengan cara menghancurkan keluarga. Membuat keluarga berantakan. Menjadikan sebuah Keluarga tdk punya tujuan yang jelas.

Keluarga adalah benteng terakhir.

Jika diibaratkan saat ini kita dalam peperangan. Maka pos terakhir yang akan dihancurkan adalah benteng keluarga.Sejatinya kegiatan program utama yang bernama RKI ini bukan diperuntukan yntuk ibu ibu. Bukan hanya untuk perempuan tetapi sebab keluarga terdiri dari oermpuan dan laki laki. Maka RKi konsen pada kedua gender tetsebut.

Harus ada kerjasama perempuan mukmin dan laki laki mukmin dalam ta'muruna bil ma'ruf wa tanhauwna anil munkar. Dilakukan tanpa batas waktu. Tempat dan batas macam macam. Dapat direalisasikan dalamlembaga yang vernama keluarga.

 Kerjasama yang paling sempurna itu ada di keluarga. Karena tidak ada batas antara suami dan istri. Jika kita bisa berlatih dalam keluarga, maka insyaAllah kita akan bisa melakukannya juga di luar atau di masyarakat akan bisa bekerjasama dengan baik. Karena sudah dilatih di dalam keluarga, baik sebagai istri sebagai suami atau sebagai anak. Fatabiqul khairat. Berlomba-lomba dalam kebaikan. 

Syarat Muslimah yang Memenangkan Dakwah 

Islam telah mengatur berbagai urusan manusia dengan sebaik-baiknya di dalam Al Quran dan dijelaskan secara gamblang di dalam hadits Rasulullah dan ijma ulama. Syarat keluarga yang melahirkan pemimpin masa depan yang shalih menurut Islam, meliputi:

1. Menegakkan sholat. Tegaknya shalat di dalam rumah akan menegakan kesolihan yang lainnya.

2. Membayar zakat, sisi pendanaan atau dana. Bukan banyaknya tapi berkahnya. Keluarkan dengan ikhlas. InsyaAllah akan datang keberkahan

3. Senantiasa membangun jiwa ketaatan kepada Allah dan Rasul. Kepada ulil amri. Kepada qiyadah. Istri taat kepada Allah syaratnya suami yang layak untuk ditaati. Suami tidak melanggar aturan Allah dan aturan kesepakatan di rumah. Bangunlah ketaatan pada pemimpin libgkup keluarga adalah suami.

Contoh konkrit: peran bunda Khadijah peranya kepada Rasulullah, peran Nusaibah dalam peran dalam dakwah, peran Siti Aisyah peran dalam pendidikan muslimah, dsb. 

Peran dan Kepahlawanan Nasional

1. Malahayati 

Malahayati abad ke-15 laksamana angkatan laut pertama di dunia. Didikan keluarganya yang harmonis dan keluarganya sangat mendukung perannya dalam masyarakat. Beliau juga mendapatkan dukungan dari masyarakat. 

Pada saat aceh abad ke-15 pertempuran antara Portugis dan Kerajaan Aceh beliau ikut serta dalam peperangan. Dua orang pemimpinnya syahid. Salah satunya adalah suami Malahayati. Ketika suaminya gugur tidak membuat Malahayati patah hati tetap beliau segera bangkit dan mengumpulkan semua janda korban peperangan. Menghimpun kekuatan seluruh istri dan syuhada Aceh. Membuat sebuah lembaga yang diberi nama Inong Bale. Perannya untuk keluar dari penjajahan Belanda sangat besar di tengah masyarakat Aceh.

2. Nyi Ageng Pinatih. 

Pendidik anak perempuan dan pengasuhan. Salah satu tokoh di Demak. Beliau sehari-hari aktivitasnya berdagang. Suatu hati beliau ketika asyik berbisnis, salah satu pasukan Demak menemukan seorang bayi terlantar di tengah laut. Bayi tersebut anak dari Maulana Ishak. Diberi nama Raden Paku diambil oleh Nyi Ageng Pinati. Setelah besar, Raden Paku menjadi salah satu Wali Songo, Sunan Giri. Salah satu yang memenangkan dakwah di bumi Nusantara. 

Simpulan

1. Keniscayaan ada kerjasama yang baik rapi dan intensif antara bapak-bapak, anak laki-laki dengan ibu-ibu, akhwat, anak perempuan dalam rangka memenangkan dakwah. Praktikan secara full dalam keluarga.

2. Kita bisa melakukan dakwah sebagai perempuan adalah dengan cara melakukan pendidikan. Lakukan pertama kali di rumah. Mulai dari keluarga, kemudian kepada tetangga dan masyarakat.

3. Merawat dan menjaga memelihara jaringan yang kita miliki. Jaringan komunitas grup dan semua komunitas harus dijaga dengan baik.

4. Peran dari sisi pengokohan dakwah ini dengan ketaatan kita kepada pemimpin. Mulai dari rumah kemudian masyarakat dan negara.

Sri Widiyastuti
Saya ibu rumah tangga dengan 6 orang anak. Pernah tinggal di Jepang dan Malaysia sebagai diaspora.Isi blog ini sebagian besar bercerita tentang lifestyle, parenting (pengasuhan anak) dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keluarga dan perempuan. Untuk kerjasama silakan hubungi saya melalui email: sri.widiyastuti@gmail.com

Related Posts

Post a Comment