MBKM dan Penguasaan Keterampilan Abad 21

29 comments
MBKM dan penguasaan keterampilan Abad 21

MBKM dan Penguasaan keterampilan abad 21. Hai Moms, assalamu'alaikum! Tentu Moms sudah pernah mendengar tentang kebijakan Kemendikbudristek tentang Merdeka Belajar Kampus Merdeka  (MBKM) yang digulirkan oleh Pak Nadiem Makarim pada bulan awal Januari 2020 lalu, ya. Sudah lebih dari setahun program ini dan sudah berjalan di beberapa universitas baik negeri maupun swasta di Indonesia.

Sebenarnya apa sih MBKM ini dan apa tujuannya mengapa MBKM digulirkan? Apa kaitannya dengan penguasaan keterampilan abad 21?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang awalnya memicu saya untuk mengetahui lebih jauh tentang MBKM, tujuan dan kaitannya dengan penguasaan keterampilan abad 21. Hal ini pun bukan tanpa alasan, karena pada tanggal 25 September 2021 lalu, saya diundang oleh Magister Teknologi Pendidikan UIKA untuk menjadi narasumber (penggembira) perwakilan alumni dalam webinar seri ke-4 dengan tema Tantangan dan Peluang Teknologi Pendidikan dalam Kampus Merdeka. Selain saya, hadir pula dosen favorit saya bapak Dr. Sigit Wibowo sebagai narasumber utama. Beliau memang ahlinya dalam membicarakan Teknologi Pendidikan. Lalu ada mahasiswa pascasarja, ibu Desi Ayu Ratna yang juga guru di sebuah sekolah. 

Saya hanyalah ibu rumah tangga saja, tentu agak keder membaca temanya. Tapi, bismillah, saya menguatkan hati. InsyaAllah saya bisa menyampaikannya dari sudut pandang saya sebagai orang tua. Saya telah membaca beberapa referensi terkait MBKM dan berdiskusi dengan suami yang kebetulan dosen Teknik Sipil yang telah mendapatkan sosialiasi program MBKM. Apalagi anak sulung saya juga kerap berdiskusi dengan saya meminta pendapat mata kuliah mana saja yang akan dia konversi sesuai dengan kebutuhannya di program ini. InsyaAllah saya ada pengalaman dalam mendampingi anak di program MBKM. So, the show must go on!

Merdeka Belajar Kampus Merdeka dan Pentingnya Penguasaan Keterampilan Abad 21

Jadi begini, Moms. 

Indonesia diprediksi mengalami bonus demografi antara tahun 2020-2035 dan mengalami puncaknya di tahun 2028-2030. Bonus demografi merupakan fenomena langka yang hanya terjadi satu kali ketika proporsi penduduk usia produktif berada lebih dari dua pertiga jumlah penduduk keseluruhan. Indonesia memasuki memasuki era bonus demografi akibat berubahnya struktur umur penduduk yang digambarkan dengan menurunnya rasio perbandingan antara jumlah nonproduktif (umur kurang dari 15 tahun dan 65 tahun ke atas) terhadap jumlah penduduk produktif (usia antara 15-64 tahun).

Hasil sensus yang dilakukan BPS (2018)  menyatakan bahwa jumlah penduduk dengan rentang usia 15-39 tahun mencapai 39,96% dari jumlah penduduk keseluruhan. Ini berarti sumbangan generasi milenial (lahir antara 1981-1996) dan generasi Z (lahir antara 1997-2012) dalam membentuk struktur jumlah penduduk usia produktif cukup tinggi. Generasi milenial dan generasi Z sebagai penduduk terbesar, memiliki peran dominan dalam era bonus demografi. Generasi inilah yang akan menentukan arah dan roda pembagunan. Generasi yang unggul dan memiliki kualitas yang mampu bersaing dengan dunia luar merupakan aset bangsa yang mampu membawa bangsa Indonesia menuju arah pembangunan yang lebih maju dan dinamis.

Apalagi nanti, ketika Indonesia mencapai puncak bonus demografi. Melimpahnya sumber daya manusia usia produktif ini sudah seharusnya dapat dimanfaatkan dengan melakukan berbagai persiapan dari mulai peningkatan kualitas, baik pendidikan maupun keterampilan abad 21 guna menyongsong era industri 4.0 dan Indonesia Emas 2045Peningkatan pendidikan dan keterampilan abad 21, idealnya dilakukan dari pendidikan anak usia dini hingga pendidikan tinggi sehingga akan mampu mempersiapkan anak-anak hebat dalam kurun waktu 15 tahun ke depan. Hal ini akan menentukan keberhasilan Indonesia dalam memanfaatkan celah kesempatan (window of opportunity) dari bonus demografi.

Pendidikan berkualitas memerlukan kerjasama antara keluarga, guru, institusi pendidikan, dunia usaha dan masyarakat  dengan demikian akan terwujud generasi emas yang unggul dan berkarakter yang dapat bersaing secara global sesuai tuntutan zaman.

Merdeka Belajar Kampus Merdeka

Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan abad 21 calon generasi masa depan Indonesia, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim meluncurkan kebijakan Kampus Merdeka pada tanggal 28 Januari 2020 lalu. Kebijakan kampus merdeka ini adalah hak belajar tiga semester di luar program studi bagi sarjana dan sarjana terapan. Hak belajar tiga semester ini dilakukan pada semester 6, semester 7, dan semester 8 atau sesuai dengan kebijakan perguruan tinggi atau masing-masing prodi.

Proses pembelajaran dalam kampus merdeka berpusat pada mahasiswa (student centered learning) sehingga diharapkan dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa karena pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa dan kebutuhan zaman. Dengan proses pembelajaran yang demikian  diharapkan mahasiswa dapat menghadapi perubahan-perubahan yang teramat cepat seperti perubahan sosial, perubahan di dunia kerja, dan perubahan yang diakibatkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat. Dalam MBKM, mahasiswa bisa mengatur sendiri jadwal mata kuliah yang akan diikutinya per semester atau mengkonversinya dengan kegiatan luar prodi atau luar kampus sehingga mahasiswa bisa meningkatkan kompetensinya sesuai passion-nya masing-masing.

Ciri-ciri Kampus Merdeka

Ciri kampus merdeka adalah melaksanakan kegiatan di dalam program studi dan di luar program studiBentuk kegiatan pembelajaran Merdeka Belajar Kampus Merdeka, sesuai dengan Permendikbud No.3 tahun 2020 dapat dilakukan di dalam program studi dan di luar program studi. Bentuk kegiatan belajar di luar kampus meliputi: pertukaran pelajar, magang, asistensi mengajar, relawan, riset, kegiatan wirausaha, dan membangun desa (KKNT).

Ciri kampus merdeka

1. Pertukaran pelajar 

Pertukaran pelajar dilakukan antar prodi pada kampus yang sama, pertukaran pelajar pada kampus yang sama pada prodi yang berbeda, pertukaran pelajar pada prodi yang sama pada kampus yang berbeda. 

Bentuk pembelajaran pertukaran pelajar dapat diambil mahasiswa untuk memperkaya pengalaman dan konteks keilmuan yang didapat di perguruan tinggi lain atau prodi lain yang mempunyai kekhasan atau wahana penunjang pembelajaran untuk mengoptimalkan CPL (Capaian Pembelajaran Lulusan) atau LO (learning outcomes)

2. Magang 

Magang dimaksudkan agar dapat memberikan pengalaman kerja di tempat kerja (experiential learning). Ketika magang, mahasiswa wajib mendapatkan minimal 20 SKS. Program ini dapat dilaksanakan selama 1-2 semester.

3. Asistensi mengajar di satuan pendidikan

Program ini dilakukan oleh mahasiswa di satuan pendidikan seperti SD, SMP dan SMA. Tujuan dari program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa yang memiliki minat dalam bidang pendidikan untuk mendalami ilmunya dengan menjadi guru di satuan pendidikan. Sekolah yang dituju bisa di kota maupun di desa.

4. Penelitian/Riset

Program ini ditujukan bagi mahasiswa yang tertarik pada bidang penelitian. Program ini bisa dilaksanakan dengan bekerjasama dengan lembaga penelitian atau pusat studi.

5. Proyek kemanusiaan

Program ini bekerjasama dengan lembaga atau organisasi resmi karena keikutsertaan mahasiswa dapat dikonversi dengan nilai SKS oleh perguruan tinggi. Program ini dapat diikuti maksimal 1 semester.

6. Kegiatan wirausaha

MBKM mendorong mahasiswa untuk mengembangkan minat wirausaha. Program ini dapat dilakukan dan mendapatkan nilai 20 SKS/semester atau 40 SKS/tahun.

7. Studi mandiri/proyek independen

Salah satu kegiatan mandiri mahasiswa salah satunya adalah mengikuti lomba-lomba inovatif. Oleh karena itu, perguruan tinggi mendukungnya menjadi proyek mandiri. Karya tersebut berawal dari sebuah ide inovatif yang dieksekusi dalam bentuk studi, proyek, penelitian, dan kajian yang bersifat independen. Studi proyek mandiri ini bisa diambil mahasiswa 1 semester atau 2 semester, dengan bobok konversi per semester adalah 20 SKS. 

8. Membangun desa/KKNT 

Kegiatan membangun desa atau kegiatan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) diharapkan dapat mengasah softskill kemitraan, kerjasama tim lintas disiplin/keilmuan (lintas kompetensi), dan
leadership mahasiswa dalam mengelola program pembangunan di wilayah perdesaan.

Tujuan Merdeka Belajar Kampus Merdeka

Tujuan dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka ini ada dua, yaitu:

  1. Meningkatkan kompetensi lulusan perguruan tinggi baik soft skills maupun hard skills, agar siap dan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan zaman;
  2. Menyiapkan lulusan sebagai pemimpin masa depan bangsa yang unggul dan berkarakter.

Pentingnya Penguasaan Keterampilan Abad 21

Dengan penjelasan Merdeka Belajar Kampus Merdeka di atas, maka diperlukan penguasaan keterampilan abad 21 agar mahasiswa bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan sosial, dinamika dunia kerja dan tuntutan pembelajaran yang menggunakan teknologi yang semakin tinggi.

Pentingnya penguasaan keterampilan abad 21
gambar dari cakeresume.com

Selain menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (hard skill), mahasiswa juga dituntut untuk dapat menguasai soft skill atau keterampilan yang akan dipergunakannya dalam berinteraksi secara lisan maupun tulisan. Soft skill ini juga perlu dilatih karena merupakan keterampilan yang tidak akan tergantikan oleh teknologi setinggi apapun. Contoh soft skill, berkomunikasi, berkolaborasi, berinteraksi, bekerjasama di dalam tim, berbahasa, mengatur waktu, berfikir kritis, kreativitas, bekerja dalam tekanan, dll.

Menurut framework 21-st Century Education yang dikembangkan oleh World Economic Forum (WEF), terdapat 16 keterampilan yang penting dimiliki oleh anak. Oleh karena ini harus disiapkan dengan sebaik-baiknya agar dapat membantu mereka dalam melakukan kebutuhannya sehari-hari dan juga dapat memenuhi kebutuhan zaman.

Pentingnya penguasaan keterampilan abad 21

Jika kita lihat pada gambar di atas, 16 keterampilan abad 21 itu dikelompokan menjadi 3 kelompok besar, yaitu foundational literacies (literasi dasar), competencies (kompetensi), dan character qualities (pendidikan karakter).

  1. Literasi Dasar: literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, literasi budaya dan kewargaan, 
  2. Kompetensi: berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, 
  3. Kualitas Karakter: keingintahuan, inisitiaf, ketekunan, penyesuaian diri, kepemimpinan dan kepekaan sosial dan budaya.

Pengalaman Si Sulung Mengikuti Pertukaran Pelajar Antar Prodi 

Sulung saya, baru saja menyelesaikan mata kuliah English Storytelling yang diadakan oleh FPBS UPI. FYi, anak saya yang sulung kuliah di UPI Prodi PAUD semester 4  dan sudah mengikuti program kampus merdeka dengan mengikuti program pertukaran pelajar antar prodi. Si Kakak mengikuti kuliah English Storytelling yang diselenggarakan FPBS UPI program studi Bahasa Inggris. Meskipun semester 4, tapi bisa mengambil mata kuliah di luar kampus untuk dikonversi dengan mata kuliah yang ada di semester 7. 
Pengalaman mengikuti pertukaran pelajar

English Storytelling ini setara dengan 3 SKS. Syarat mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa minimal sudah level B2 CEFR. English level B2 adalah tingkat keempat bahasa Inggris dalam Common European Framework of Reference (CEFR), suatu penentuan berbagai tingkat kecakapan bahasa yang disusun oleh Dewan Eropa. Harapan mengikuti kegiatan ini, si Kakak bisa mengatur kuliahnya sesuai SKS sehingga ketika dia di semester 7 tidak ada tanggungan mata kuliah wajib dan bisa mengikuti program pertukaran mahasiswa  ke luar negeri dalam program Indonesia International Student Mobility Awards (IISMA).

Alur dalam mengikuti kuliah English Storytelling ini adalah sebagai berikut:

  1. Mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing akademik (DPA)
  2. Mendaftarkan diri dengan mengisi google form
  3. Masuk ke grup kelas
  4. Mengikuti sosialisasi
  5. Jika diterima akan mendapatkan uang saku sebanyak 200ribu
  6. Mengikuti kelas online selama 2 bulan. Satu minggu 2x pertemuan. 
  7. Menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan
  8. Mendapatkan sertifikat
Tugas akhir dalam English Storytelling ini adalah mengemas cerita legenda/cerita rakyat ke dalam bahasa Inggris. Mahasiswa membuat sebuah video storytelling yang bisa dijadikan produk pembelajaran. Bisa dilihat di youtube-nya si Kakak di bawah ini yaa.

Jadi di dalam proyek ini ada cipta karya/content creator. Ada beberapa skill yang harus dikerahkan oleh mahasiswa, baik hard skill maupun soft skill, meliputi:
  1. membuat video pembelajaran, 
  2. menerjemahkan cerita legenda, 
  3. menulis ulang cerita agar sesuai dengan audiens yaitu anak-anak usia dini, 
  4. mengkreasikan cerita legenda itu supaya menjadi pembelajaran yang menyenangkan, 
  5. mengatur artikulasi bahasa, mengolah vokal, 
  6. mengolah video yang sudah jadi, 
  7. membuat background (ini kerjasama dengan adiknya yang sekolah di multimedia).
Jadi pembelajaran di kampus merdeka ini dalam satu mata kuliah menjadi mata kuliah yang holistik yang mengerahkan seluruh kemampuan mahasiswa baik hard skill maupun soft skill. Dalam pembelajaran juga dilakukan dengan interaktif dalam bahasa Inggris. Setelah video jadi, mahasiwa juga harus bisa berkomunikasi dengan dosennya dengan komunikasi yang baik. Karena tidak akan bisa berkembang seorang mahasiswa yang berprestasi tinggi jika tidak diikuti dengan akhlak yang baik. Akhlak ini penting, etika berkomunikasi dengan dosen yang bukan dosennya di kampusnya sendiri tentu lebih sulit dibandingkan dengan dosen yang mereka kenal di prodinya sendiri. Hal ini perlu dilatih sejak usia dini, karena akhlak atau soft skill yang diajarkan sejak dini akan menjadi karakter baik yang menetap hingga anak dewasa. Jika sudah menjadi mahasiswa, tentu soft skill ini tetap harus dilatih dengan cara mendampinginya dalam belajar atau memasukan dalam kelas kepribadian/mentoring pekanan.

Oleh karena itu perlu adanya keterlibatan orang tua dalam menyukseskan pendidikan berkualitas ini. Orang tua tak hanya memberikan fasilitas sarana prasarana saja agar anak bisa menguasai hard skill berupa ilmu pengetahuan dan teknologi namun juga orang tua harus melatih soft skill sejak dini, seperti mengucapkan terima kasih, mengucapkan salam, bermain bersama, bekerjasama dengan teman, berbahasa yang santun, dll.

Simpulan

Testimoni Kakak, dia suka model pembelajaran kampus merdeka ini, selain banyak praktiknya juga lebih seru. Belajar yang menyenangkan memang tak hanya milik anak usia dini atau anak sekolah hingga sekolah menengah. Namun juga di tingkat perguruan tinggi. Jika pembelajaran yang diikutinya menjadi minatnya apalagi sesuai passionnya, akan melahirkan ghirah/semangat dalam berkarya dan mendapatkan lulusan yang cemerlang. InsyaAllah dengan demikian, tujuan pendidikan kita akan tercapai, yaitu melahirkan generasi yang unggul dan berkarakter sesuai dengan perkembangan IPTEK dan tuntutan dunia kerja dan dunia industri. 

Namun demikian, keterlibatan orang tua juga penting dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas, kemajuan IPTEK (Ilmu pengetahuan dan teknologi) harus berbanding lurus dengan IMTAK (iman dan takwa), agar seimbang antara dunia dan akhirat. Agar pemimpin masa depan yang lahir dari rumah kita adalah pemimpin yang mumpuni di bidang iptek tapi juga berakhlak mulia serta amanah.

Nah, demikian sharing saya terkait MBKM dan penguasaan keterampilan abad 21. Semoga bermanfaat dan bisa melahirkan kesadaran pada kita sebagai ibu/orang tua, bahwa tugas kita belum selesai meskipun anak-anak semakin membesar. Saat anak-anak sudah besar, tentu tantangannya juga semakin besar lagi. Tugas kita sebagai ibu/orang tua terus mendampinginya dalam menghadapi tantangan zaman dan mendoakan yang terbaik untuk anak-anak kita.

Salam hangat,
Sri Widiyastuti
Saya ibu rumah tangga dengan 6 orang anak. Pernah tinggal di Jepang dan Malaysia sebagai diaspora.Isi blog ini sebagian besar bercerita tentang lifestyle, parenting (pengasuhan anak) dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keluarga dan perempuan. Untuk kerjasama silakan hubungi saya melalui email: sri.widiyastuti@gmail.com

Related Posts

29 comments

  1. Wah, sayang banget aku ngga tahu ada pelatihan story telling multi bahasa ini. Semoga diadakan lagi ya, bermanfaat banget untuk nambah skill aku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga ada lagi untuk umum ya mbak, kalau ini kan untuk mahasiswa minimal semester 3.

      Delete
  2. Teteh Salma keren pisan! Mantap ya programnya Kampus Merdeka. Buat anak2 kita, 'bekal'nya banyak banget supaya bisa survive mengikuti perkembangan jaman. Kita sebagai ortu cuma bisa dukung doa dan memfasilitasi sarana belajarnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nuhun mama Ina, mohon doanya selalu ya. Cara belajar anak-anak kita udah beda sama zaman kita dulu ya. Harus senantiasa didukung baik sarana prasarana juga doa yang banyak ya mam.

      Delete
  3. Dengan penguasaan keterampilan abad 21 nantinya mahasiswa bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan sosial, dinamika dunia kerja dan tuntutan pembelajaran yang menggunakan teknologi yang semakin tinggi. Kalau sudah begini bakal terwujud ya Mbak MBKM ini:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak Dian, harus terus dilatih baik hard skill maupun soft skillnya.

      Delete
  4. Eh, ade baru tau nih ada pertukaran antar prodi. Jadi nanti dengan program MBKM ini diharapkan mahasiswa ga mentok belajar di satu bidang studi yang dia ambil ya, Mba. Menarik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, Ummi Ade, seperti kelas bahasa Inggris ini. kalau reguler, pasti mengulang pembelajaran yang hampir mirip dengan pelajaran di SMA, nah dengan mengikuti kelas storytelling di kelas bahasa Inggris, ada peningkatan di kompetensi yang sesuai dengan program studi yang ditempuh si kakak, pendidikan anak usia dini kan perlu punya ilmu storytelling ya. jadi dapat dua-duanya bahasa dan keterampilan bercerita dalam bahasa inggris. sepakat banget, ini menarik!

      Delete
  5. Bagus juga ya kalau ada pertukaran antar prodi ini. Ana juga ada pembelajaran pengalaman baru ya mba. Sepakai bahwa belajar yang menyenagkan juga milik anak kuliahan :)

    ReplyDelete
  6. Merdeka belajar memang perlu ya, Mbak. Untuk masa depan anak lebih baik, produktif dalam berkarya. Iya nih, tahun 2028 - 2030 Indonesia di puncak demografi, penduduknya banyak yang produktif.

    Btw, saya suka sekali dengan video dari Si Sulung. Menceritakan Malin Kundang dengan dengan ekspresif dan menjiwai banget.

    ReplyDelete
  7. Dulu saya gak kepikiran apa itu kampus merdeka. Mikirnya udah ketinggian. Halah, gak ngerti soal gituan... Melalui artikel ini hem, saya jadi banyak mengerti sekarang. Terimakasih ya penjelasannya.

    Setuju. Selain IPTEK, IMTAK juga tidak boleh terlewat apalagi buat kita yg muslim.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama teh Okti. Iya teh, ini juga yang menjadi konsen saya, dan pasti semua orang tua, ingin mengantarkan anak-anak menjadi seorang pemimpin yang tak hanya menguasai iptek tapi juga amanah dan memiliki akhlak yang mulia. sehingga ketika dia menjadi pemimpin negara ini, atau menjadi pejabat negara akan tetap ingat bahwa dia adalah hanyalah seorang manusia yang nantinya akan mempertanggungjawabkan semua amanahnya kepada Allah Yang Maha Kuasa.

      Delete
  8. Sekarang ini pekerjaan udah macam-macam. Jadi anak tetap harus mendapatkan pendidikan lain termasuk soal ketrampilan. Senang deh dengan adanya program Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Jadi semangat belajar lagi

    ReplyDelete
  9. Terima kasih sekali sudah berbagi di sini Teh.. Jujur karena anak saya masih sekolah dasar, jadi saya nggak berniat cari tahu apa dan bagaimana soal kampus merdeka. Ternyata begini to aplikasinya...Bisa jadi gambaran sekilas sehingga nggak NOL besar :)
    Soal bonus demografi juga sudah sering dengar. Tapi baca tulisan ini baru bener-bener terpikir, itu pas masa anak-anak saya usia kerja/dewasa lho...

    Oh ya, suka sekali lihat video si Kakak....

    ReplyDelete
  10. Bagus banget ya ini konsepnya ya, emang kalau ada menambah skill sangat diperlukan untuk menuju terjun ke masyarakat. Mantap program kampus merdeka!

    ReplyDelete
  11. Setuju mbak. Memilih sekolah atau jurusan saat kuliah, yang sesuai dengan passion akan membuat lebih bersemangat, menikmati proses, dan tentu saja hasilnya yang dicapai pun akan lebih optimal, dibandingkan memilih jurusan hanya karena terpaksa atau ikut-ikutan teman.

    ReplyDelete
  12. memiliki kemampuan lain selain apa yang dikuasai di era digital ini sangatlah penting ya mak, karena itu bisa menjadi nilai lebih dan value yang baik

    ReplyDelete
  13. Program Kampus Merdeka ini kok seru ya. Rasanya pengen jadi mas]hasiswa lagi deh. Waktu aku kuliah dulu, nggak ada program model begini. Ini seru, bisa memperluas wawasan , koneksi dan keterampilan

    ReplyDelete
  14. aku baru tahu mba tentang ini, keren banget Teth Salma bisa ikutan program studi ini..kepoin ah the legend of malin kundangnya

    ReplyDelete
  15. Kampus Merdeka ini inovatif sekali.
    Penting sekali cross study ini yaa.. agar terbuka ilmu dan juga lingkaran pertemanannya.
    Aku suka sekali, kaka menjadi mencoba hal baru yang mungkin bisa dipadukan dengan bidang kelimuannya, kelak.

    ReplyDelete
  16. Saya banyak kagum dengan anak-anak muda zama sekarang. Mudah-mudahan aja jumlahnya banyak, ya. Sayang banget kalau bonus demografi ini gak dimanfaatkan dengan baik.

    ReplyDelete
  17. Sekarang yang namanya "meredeka" lagi heits ya? Terutama utk proses pembelajaran dari sekolah sampai anak kuliahan. Jd ruang belajarnya gak terbatas di kampus masing2 tapi juga bisa melihat hal2 lain yang lbh luas. Kesempatan utk networking jg pastinya lbh bertambah dan akan sangat bermanfaat banget ya buat masa mendatang.

    ReplyDelete
  18. Programnya bagus banget nih bisa bikin para mahasiswa mandiri dan siap terjun ke dunia nyata di masyarakat.

    ReplyDelete
  19. Wah, aku baru tahu nih dengan MBKM ini. Keren ya kalo bisa dimanfaatkan dengan baik. Mahasiswa jadi punya kompetensi yang lain. Apa MBKM ini di semua PT?

    ReplyDelete
  20. aku itu merasa emang yang bisa jadi menyenangkan kalau bisa bekerja lewatt hobi mulai menulis, olahraga dll

    cuma ya itu mak kadang kita sendiri belum tau peminatan anak di mana semoga nanti terasah dan mereka memilih sekolah kuliah sesuai keinginan mereka

    ReplyDelete
  21. Merdeka Belajar Kampus Merdeka ini benar-benar waaah.. Mahasiswa jaman sekarang udah pasti cemerlang-cemerlang ya, karena mereka banyak praktiknya yang sesuai dengan passion mereka. Penasaran sama Teh Salma yang bawain ulang Maling Kundang. Keren Teteh yang mendidik putrinya nih.

    ReplyDelete
  22. Kebijakan kampus merdeka untuk dapet hak belajar tiga semester di luar program studi bagi sarjana dan sarjana terapan ini yang bikin aku pengen kuliah lagi sih Mak rasanya. Soalnya... giman ya... jujur dulu nggak segera lulus karena selain skripsi susah, tapi juga kayak masih denial, ini nanti kalo lulus beneran kerja yang linear sama bidang dipelajari apa nggak ya? Kok kayanya hatiku nggak di sini. Jadi emang perlu sih program yang seperti ini biar para lulusan juga nggak kaget kalau realita pekerjaan yang didapatkan berbeda dari jurusan inti yang diambil.

    ReplyDelete

Post a Comment