Pentingnya Keterlibatan Orang Tua dalam Pendidikan Anak

25 comments

 Assalamu'alaikum, Moms! Kali ini saya ingin berbagi tentang pentingnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak. Moms yang sering mengikuti kelas parenting atau kelas webinar pendidikan anak usia dini, tentu sudah paham yaa, betapa besarnya manfaat atas keterlibatan orang tua dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Manfaatnya bukan hanya berlaku jangka pendek, tapi juga jangka panjang hingga anak dewasa nantinya.

Pentingnya keterlibatan orang tua pada pendidikan anak

Apa saja sih sebenarnya yang harus diketahui oleh orang tua dalam melibatkan diri dalam pendidikan anak? Di bawah ini saya akan menjelaskannya satu per satu. Seperti biasa, hasil rangkuman dari berbagai sesi webinar parenting yang saya ikutin dan hasil membaca buku juga.

Eksistensi Orang Tua sebagai Pendidik

Menyadari Peran dalam Pendidikan Anak.

Sebagai orang tua kita tentu harus menyadari peranan kita dalam membesarkan anak dan mendidiknya. Hal ini penting agar terbentuk kesadaran dalam melakukan berbagai peran dalam membesarkan anak, tak sekadar memberi nafkah saja, namun lebih dari itu kita memahami bahwa ada berbagai kebutuhan dasar anak yang harus kita penuhi seperti kebutuhan fisik (asuh), psikis (asih) dan stimulasi (asah). Contoh kebutuhan fisik anak seperti mendapat asupan makanan yang sehat, contoh kebutuhan psikis anak seperti mendapat kasih sayang, perlindungan, pelukan, kata-kata yang manis dan baik, nama yang baik dll. Lalu contoh stimulasi, seperti diajak bermain, bergulingan, merayap, makan sendiri, melakukan berbagai pekerjaan dengan tangan kanan dan tangan kiri, menari, melompat dll 

Kebutuhan dasar anak harus diberikan agar anak tumbuh dan berkembang sehat badannya, sehat psikisnya dan cerdas serta terampil.

Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak diatur di dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS pasal 7 dan pasal 27, yaitu:

Pasal 7: (1) Orang tua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan memperoleh informasi tentang perkembangan pendidikan anaknya.

(2) Orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya.

Pasal 27: (1) Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

Dengan aturan-aturan di atas, ini memiliki konsekuensi hukum jika di antara orang tua tidak memberikan kewajibannya kepada anak untuk mendapatkan pendidikan baik secara formal maupun informal (di rumah).

Memiliki Tujuan dalam Mendidik Anak

Orang tua diharapkan memiliki tujuan dalam pendidikan anak. Karena saya menganut Islam, maka tujuan saya mendidik anak tentu harus sejalan dengan apa yang diatur oleh Islam. Di dalam Islam, tujuan pendidikan adalah sebagai berikut:

1. Agar tidak masuk neraka

Tujuan pertama dalam mendidik anak adalah agar keluarga dan anak-anak tidak masuk ke dalam neraka. Allah berfirman dalam surah at-Tahrim ayat 6:

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."

Sebagai seorang muslim, tentu kita percaya adanya hari akhirat. Pada saat itu kita akan "diadili" atas berbagai aktivitas kita selama hidup di dunia. Oleh karena itu, menjadi tugas orang tua menjaga keluarga terutama anak anak agar mereka dijauhkan dari api neraka. Tujuan akhir kita adalah mengantarkan anak-anak ke surga, tempat mereka kembali. 

Apa saja yang bisa kita lakukan? Dengan mengajarkan kebaikan. Amar ma'ruf nahi munkar. Berlomba lomba dalam kebaikan. Fastabiqul khairat. Paling utama adalah mengerjakan shalat 5 waktu. Karena shalat selain mencegah diri dari pekerjaan keji dan munkar, shalat juga ibadah pertama yang akan ditanya oleh Allah di akhirat nanti. 

2. Agar tidak meninggalkan generasi yang lemah

Tujuan kedua adalah agar tidak meninggalkan generasi yang lemah. Hal ini disampaikan oleh Allah SWT dalam al-Quran surah An-Nisa ayat 9:

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak lemah yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka." (QS. An-Nisa: 9)

 Salah satu ketakutan yang sering merasuk dalam hati orang tua, terutama ibu, adalah takut meninggalkan anak dalam keadaan miskin. Oleh karena itu banyak orang tua yang berlomba-lomba dalam mencari nafkah agar dapat memberikan warisan harta kepada anak cucu. Padahal kelemahan bukan hanya disebabkan oleh kemiskinan, tapi juga disebabkan lemah akalnya, lemah fisiknya, lemah dalam bergaul dengan orang lain, terutama lemah dalam tata krama/sopan santun dan lemah akidahnya.

Oleh karena itu warisan yang paling utama adalah warisan iman (akidah yang kuat), ilmu pengetahuan, ketaatan dalam beribadah dan akhlak mulia. Orang tua harus menanamkan akidah yang kuat kepada anak sejak dini, agar anak-anak menjadi pribadi-pribadi yang kuat dalam beribadah, berilmu, dan berakhlak yang mulia. 

Kalau bahas soal warisan ini, saya juga suka inget sama petuah Papa saya, katanya: "Papa gak bisa ngasih warisan harta, karena Papa gak punya. Tapi semoga warisan ilmu yang kalian miliki sekarang, bisa menaikan derajat anak anak Papa". Huhu, jadi kangen Papa kan, jadinya.

3. Melahirkan pemimpin orang-orang bertakwa

Tujuan ketiga adalah melahirkan pemimpin orang-orang bertakwa. Seperti yang difirmankan Allah dalam surat al-Furqon ayat 74:

"Ya, Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang bertakwa."

Setiap kita adalah pemimpin.  Tentu di masa depannya, anak-anak kita akan menjadi pemimpin di masanya. Oleh karena itu, orang tua perlu mempersiapkan pemimpin-pemimpin masa depan ini dengan sebaik-baiknya. Apalagi dengan perkembangan zaman yang semakin pesat. Anak dituntut menjadi generasi unggul yang berkarakter (amanah) dan memenuhi kebutuhan zaman di dunia kerja dan dunia industri. Tentu anak anak tidak bisa menjadi pemimpin yang instan, karena biasanya, yang instan itu memang enak, tapi akan menjadi "penyakit" dikemudian hari.

Mengenal Anak Lebih dari Orang lain

Tentu saja orang tua harus mengenal anaknya dibandingkan orang lain, ya Moms. Tentu kita sedih jika ternyata anak lebih dekat dengan orang lain. Jika hal itu terjadi tentu kita harus senantiasa introspeksi, mengapa hal tersebut terjadi. Beruntung masa pandemi ini mengembalikan lagi fitrah keluarga yaa. Bekerja di rumah meskipun rasanya repot sekali, tapi bahagia bisa bersama dengan orang-orang tersayang dalam keadaan sehat wal afiat. Kita disadarkan bahwa anak-anak lebih bahagia bersama ayah bundanya meskipun setiap hari tentu mereka mendengarkan omelan kita. Tapi coba kita lihat binar mata mereka ketika bisa makan bersama kita, beraktivitas bersama kita. Hal-hal seperti ini tentu jarang sekali dilihat karena kita sibuk dengan urusan kita masing-masing.

Demikianlah sebuah peristiwa tentu selalu ada hikmahnya, terlepas dari kekurangan dan kelebihannya.

Kembali lagi ke pentingnya mengenal anak, hal ini akan membantu orang tua dalam mengelola kelebihan dan kekurangan anak-anak. 

1. Mengenal gaya belajar anak

Seperti yang kita ketahui bahwa ada 4 macam gaya belajar anak, yaitu: gaya belajar auditori, visual, kinestetik dan taktil. Dengan mengenal gaya belajar anak, kita akan dapat membantu anak dalam belajar. Anak yang memiliki gaya belajar auditori tentu berbeda penangannya dengan anak yang memiliki gaya belajar visual, kinestik atau taktil. Oleh sebab itu, orang tua harus mengenal anak-anak lewat gaya belajarnya agar bisa membantu mereka dalam memecehkan masalah belajarnya.

Seorang psikolog mengatakan bahwa gaya belajar bisa diciptakan dan dikembangkan. Untuk menolong anak keluar dari permasalahan gaya belajarnya, Moms perlu mendukungnya dengan mengarahkan anak fokus pada bidang yang disukainya. Bisa jadi anak lemah di matematika, tetapi dia cerdas di bidang bahasa, maka moms harus bisa membantu anak dengan mendukungnya mendalami bahasa dan mempelajari matematika dengan cara bercerita. Atau sebaliknya, anak lebih suka sains, tapi lemah di bahasa, maka mom mendukungnya dengan mendorongnya mempelajari sains dan menyarankan anak untuk menulis setiap hal yang ditemukannya sehingga anak terbiasa dengan kedua hal tersebut.

2. Mengenal kepribadian anak

Hal kedua yang tak kalah penting adalah mengenal kepribadian anak. Dengan mengenal kepribadian anak, memudahkan kita dalam berkomunikasi dengan anak. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa tipe kepribadian ada 4, yaitu: sanguinis, koleris, melankolis dan plegmatis.

Nah, di antara keempat tipe keribadian tersebut, tipe kepribadian apakah anak kita? Tentu dengan mengenal anak lewat tipe kepribadiannya akan memabantu kita dalam berkomunikasi dengan anak. Karena membantu anak-anak ketika mereka kesulitan dalam belajar pun ada hubungannya dengan tipe kepribadian mereka. 

Hm, kalau saya sendiri, kadang juga masih bingung sih sama tipe kepribadian saya sendiri. Jadi kalau tidak mempelajari tipe-tipe kepribadian ini mungkin saya tidak mengenal diri saya sendiri juga. Alhamdulillah beruntung saya diberi kesempatan mempelajari tipe-tipe kepribadian anak sehingga akhirnya saya pun menjadi merasa dituntut untuk mengenal diri saya sendiri dulu. Agar bisa mengenal anak-anak lebih baik lagi. 

Menyediakan Lingkungan Belajar yang Baik

Menyediakan lingkungan belajar yang baik

Nah, saat PJJ ini memberikan lingkungan belajar yang baik ini menjadi hal yang utama, karena sekolah otomatis pindah ke rumah. Jadi, tugas orang tua memberikan ruang belajar yang baik untuk anak-anak. Rumah sebagai pusat belajar dan ayah bunda sebagai sumber belajar. Lingkungan belajar yang baik akan berdampak kepada semangat belajar anak di rumah. Dengan lingkungan yang baik tentu anak-anak tidak akan bosan belajar selama di rumah saja. Apalagi jika ditunjang dengan sarana dan prasarana yang memadai.

Rumah sebagai basis pendidikan keluarga menurut Irawati Istadi (2016) harus memerhatikan beberapa hal sebagai berikut:

1. Tersedia fasilitas pendidikan, seperti adanya tempat belajar yang menyenangkan, tersedia media informasi (komputer, laptop) untuk menunjang belajar, tersedia mini perpustakaan, tersedia ruang bermain.

2. Rumah sebagai tempat berkembangkan budaya ilmiah, misalnya terbentuknya budaya islami di rumah, budaya belajar, budaya membaca, menumbuhkan semangat bercerita dan menumbuhkan rasa ingin tahu.

Konsisten Menjalankan Kebiasaan Baik

Rumah sebagai basis pendidikan akan sangat terasa auranya jika setiap individu di dalam rumah konsisten dalam menjalankan kebiasaan baik di rumah. Hal ini akan menjadi habit bagi ayah, bunda dan anak-anak. Ketika mereka keluar rumah, kebiasaan baik ini akan terbawa dan menjadi kebiasaan baik di masyarakat. 

Ada kaidah yang menyerbutkan, children see children do. Anak adalah peniru yang ulung. Untuk menciptakan kebiasaan baik di rumah, tentu orang tua harus menjadi role model bagi anak-anak. Keteladan orang tua menjadi utama di rumah. Kebiasaan baik yang paling mudah saja, misalnya mengucapkan terima kasih, mengucapkan salam, tersenyum, memberikan sesuatu dengan tangan kanan dan berkata yang baik.

Nah, moms, demikian tentang pentingnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak, semoga kita bisa menjadi orang tua yang bersabar dalam mendampingi anak-anak tumbuh dan berkembang hingga mereka mandiri dengan keluarganya masing-masing. Semoga pada masa itu, hanya kenangan manis yang dikenang pada kedua ayah bundanya.

Salam bahagia, Moms.

Sri Widiyastuti

Sri Widiyastuti
Saya ibu rumah tangga dengan 6 orang anak. Pernah tinggal di Jepang dan Malaysia sebagai diaspora.Isi blog ini sebagian besar bercerita tentang lifestyle, parenting (pengasuhan anak) dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keluarga dan perempuan. Untuk kerjasama silakan hubungi saya melalui email: sri.widiyastuti@gmail.com

Related Posts

25 comments

  1. Betul mbak peran orang tua dangat besar terhadap pendidikan anak. Menurut saya gini, memang tanggung jawab utama soal pendidikan adalah pada orang tua, sedangkan satuan pendidikan, guru dll berperan membantu orang tua dalam mendidik anak. Jadi kita wajib memilih sekolah yang sesuai dengan tujuan kita dalam soal pendidikan.

    Nah PRnya lagi nih belajar sebaik-baiknya menjadi orang tua yang baik, sabar, amanah dan memprioritaskan kepentingan anak, bukan memaksakan pendidikan sesuai keinginan kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat banget mam, benar bahwa pendidikan sebenarnya itu tugas utama orang tua, baru ketika kita tidak bisa melakukanya bisa didelegasikan kepada sekolah. tapi pada dasarnya meski mereka sudah bersekolah, tetap tanggungjawan pendidikan anak itu ada di tangan orang tua.

      Delete
  2. Mengenal anak lebih dari orang lain.. bangeeeet penting. Nanti pas makin besar kan udah banyak kenal teman2 ya mba, sebisa mungkin ortu selalu menjadi tempat yg nyaman untuk anak bercerita ya mba.. makasih tulisannya ya mba^^

    ReplyDelete
  3. Nah bener banget ini. Kalo saya memang ikut mengajari anak selama di rumah. Baik akademis maupun non akademis. Krn udah kewajiban ya. Jadinya saya pun bisa ikut bantu anak kalo dia ada yg masih belum ngerti pelajaran2 dari sekolah

    ReplyDelete
  4. Sebagai orang tua kita harus bisa menjadi role model terbaik bagi anak2 kita. Jangan bisanya hanya memberitahu, menyuruh dll tanpa memberikan contoh riil. Kedekatan anak2 dengan kita bisa seagai teman, bukan ditakuti dan dihormati aja, tapi bisa menjalin komunikasi yang nyaman bagi mereka.

    ReplyDelete
  5. Mengenal pribadi anak lebih dalam memang perlu banget buat kita orangtua ya, Mba. Terkadang masih banyak yang mengukur bahwa anak itu adalah dirinya. Jadi kalau dia bisa sesuatu sementara anaknya ga bisa dia akan emosi, tapi kalau dia mengukur sesuai pribadi dan karakter anak akan lebih luwes ke anak.

    ReplyDelete
  6. kita orangtua yang lebih paham gimana karakter anak. jadi bisa mengarahkannya dengan tepat. ada yang mudah ngerti, ada yang harus diulang2 saat belajar. harus ekstra sabar. semoga kita dikaruniai anak2 yang cerdas dan menyejukkan hati, aamiin

    ReplyDelete
  7. children see children do. Anak adalah peniru yang ulung. aku setuju banget nih sama statement ini

    ReplyDelete
  8. Konsisten menjalankan kebiasaan baik ini nih yang kadang masih berat buat saya. Untungnya anak-anak yang sekarang malah sering menegur, mempertanyakan, mengingatkan. Jadinya kan malu sendiri kalau sampai ditegur anak-anak karena melalaikan kebiasaan baik yang selalu diajarkan buat mereka

    ReplyDelete
  9. Benar mba sepakat sekali dengan tulisan di atas. Meskipun berat, apalagi yang anaknya banyak. Ya berusaha sebisa mungkin. Ga harus sempurna. Dulu aq idealis banget malah stres jadinya

    ReplyDelete
  10. iya dong, orang tua punya peran Penting dalam pendidikan anak anaknya
    paling mudah dalam mendidik anak adalah dengan memberi contoh ya mbak
    jadi teladan gitu

    ReplyDelete
  11. Anak itu peniru ulung ya. Tapi jujur saja buat saya dalam konsisten menjalankan kebaikan kok rasanya susaaah... Banget.
    Yah memang sih ilmunya masih cetek nih. Tapi selalu semangat kalau ada artikel seperti ini. Semoga bisa terus memperbaiki diri

    ReplyDelete
  12. Al-Quran sudah menjelaskan secara detail ya, bahwa pendidikan anak dengan pendampingan orang tua itu penting. Semog kita bisa menjadi orabg tua yang selalu membersamai anak2 kita

    ReplyDelete
  13. Makdeg rasanya, kak..
    MashaAllah~

    Senang sekali membaca artikel mengenai pentingnya keterlibatan orangtua akan pengasuhan dan pendidikan anak. Bagaimanapun, generasi yang kuat terbentuk adalah hasil penanaman karakter yang baik dari kebiasaan dan doa orangtuanya yang amanah.

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah aku banyak belajar juga mengenai fitrah orangtua di sekolah anakku. Jadi anaknya yang sekolah orangtua juga sekolah hehehe. Jadi sadar bahwa pendidikan adalah tanggung jawab orangtua dan sekolah adalah sebagai mitra. Masih terus belajar sih sampai dengan sekarang ternyata sungguh menantang hehehe.

    ReplyDelete
  15. Seru banget belajarnya,happy banget rame dan menyenangkan! Keren metodebalajarnya Mbk Sri. Barokallah ya!

    ReplyDelete
  16. Terima kasih teh untuk membuat list dan poin-poin di atas, jadi berasa diingatkan kembali apa tujuan dari mendidik anak sehingga bisa fokus.

    ReplyDelete
  17. Aku belum punya anak mbak, tapi memang semakin ke sini semakin mikir kalau jadi orangtua itu berat banget. Harus ada visi dan misi ke depannya buat besarin anak, karena perilaku anak dilihat dari siapa yang mendidiknya. PR sekali ini.

    ReplyDelete
  18. Yah, Mba penting banget apalagi kalo di usia TK dan SD keterlibatan kita tuh sangat banyak dan mempengaruhi anak banget yah, moga anak kita adalah yang paling kenal dirinya dan kita hingga ia bisa peduli ama yang lain

    ReplyDelete
  19. aku setuju banget ini bahwa peran otangtua itu sangat penting sekali dalam pendidikan anak. Aku pun merasakan sekali sekarang ini, bahwa kita perlu ada untuknya.

    ReplyDelete
  20. Orang tua tuh beneran jadi role model yah, jadi harus ekstra hati2, bukan hanya memerintah saja namun memberikan contoh.

    ReplyDelete
  21. iyesh.,. bener banget mak. Anak - anak kita merupakan cerminan dari orangtuanya. karena mereka itu udah kaya spons, nyerap apa aja terutama tingkah laku ortunya. makanya kita harus memberikan contoh yang baik ya.

    ReplyDelete
  22. Saya sangat sepakat bahwa orang tua harus terlibat dalam pendidikan anak, jadi ngga langsung diserahkan pada sekolah saja, harus benar-benar didampingi. Kalau sudah jadi orangtua, mau ga mau harus mau terjun di dunia pendidikan.

    ReplyDelete
  23. Allhamdulilah makasih mba Tuti ilmu parentingnya, dengan mengenal kepribadian diri sendiri dulu, lantas menerapkan pada anak dan mendukungnya jadi terarah dan baik ya.

    ReplyDelete
  24. Setuju sekali Bunda, orang tua memang harus terlibat dalam pendidikan anak karena itulah madrasah pertama anak adalah ibu. Namun bagitu bukan hanya ibu yang harus terlibat, akan lebih sempurna jika ayah juga terlibat. Jadi kedua orang tua lah yang harus membersamai pendidikan anak-anak. Makasih ilmunya mbak, alhamdulillah sangat bermanfaat.

    ReplyDelete

Post a Comment