Skip to main content

Like Mother Like Daughter


 Tadi malam, salma mulai bereksperimen lagi. Awalnya  dia dan adiknya membuat origami yang dirangkai dengan selotif. Seperti kin-medal (medali emas), kalung, baju dan membuat sipo....atau ekor macam-macam binatang dan ditempel pas dibelakang badannya (di pas ekor).

Semua ikut bermain, salma jadi kelinci, shafa jadi kucing, saya jadi kucing juga dan Abinya jadi zou san (gajah). Anak-anak terlihat senang sekali dan bergaya sebagaimana binatang yang menjadi modelnya sesuai ekor...

Salma wa..pyong..pyong...
Shafa meow..meow...
Abinya juga disuruh meragain jadi gajah, shafa yang paling sibuk...
"zou-san wa ko yatte yo," katanya. Aung ...sambil mengibas2kan tangan kanannya dan tangan kiri ditekuk menyerupai belalai....kawaiii.....

Lama-lama mereka bosan juga dengan permainannya. Salma masih memegang gunting. Diguntingnya sedikit2 bulu-bulu miffi boneka kelincinya. Saya masih memperhatikan dan memperingatkan dia untuk tidak menggunting sampai botak dan sobek.

Tak lama kemudian, tak terperhatikan sedikit saja, ceceran rambut banyak disana-sini. Akupun sedikit panik. "Melihat jenis rambutnya , sepertinya rambutnya salma nih..." batinku...

Akhirnya aku tanya salma baik-baik siapa yang sudah digunting rambutnya. Ternyata pertanyaanku membuat dia menangis, hehehe..dasar anak-anak...mungkin takut kali yah.

Dengan penuh khawatir aku langsung check  rambut mereka satu persatu. Aku check kepala salma, ALhamdulillah tidak ada yang luka. Akupun memeriksa rambut shafa. Khawatir adiknya juga ikutan dipotong rambutnya, kan kasihan kalo gak bagus. Dan ternyata tidak ada tanda-tanda dipotong sama kakaknya.

Alhamdulillah salma hanya potong rambutnya sendiri. Dannn..ternyata karena yang dipotong kunciran rambutnya salma saja...bukan bagian belakang, Alhamdulillah rambutnya malah tambah bagus model "bob"nya. "Syukurlah..."batinku...

Dan aku segera membujuknya untuk tidak menangis lagi. Dan memberikan pengertian sedikit untuk berhati-hati menggunakan gunting.

Wah...wah...salma mungkin suka melihat saya menggunting sendiri rambut dirumah atau  mencukur rambut Abinya juga rambut mereka. Sehingga Salma ingin ikut-ikutan memotong sendiri rambutnya....

Kata orang, "like father like son". Kalau dirumah saya, "like mother like daughter"



Utsunomiya, Akhir Juli 2006

Comments

  1. seru banget kalo baca cerita kayak gini, bikin manggut-manggut sendiri, hehehe

    salam,
    kesya

    ReplyDelete

Post a Comment

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @tutiarien

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…