Skip to main content

Sundate: Cara Asyik Menghabiskan Waktu Bersama Keluarga


Pernah enggak sih, Moms, merasakan perasaan hampa di rumah? Ketika anak-anak ada di rumah, ayahnya di rumah, tapi mereka seperti tiada? Mereka sibuk dengan dunianya masing-masing dan emak akhirnya capek sendiri. Mengomel sendiri. Rumah awut-awutan. Pengennya marah-marah melulu. dsb, dll.

Saya pernah, Moms.

Ceritanya begini. Eh, tapi jangan pada bosan ya moms, lumayan panjang juga nih curhat saya heuheu

Pernah pada suatu hari, ketika ayahnya anak-anak membelikan saya ponsel baru. Saya senang dong. Sebab ponsel saya yang dulu sudah tidak nyaman dipakai untuk seorang momblogger gitu. Cepet ngehang dan banyak aplikasi yang akhirnya tidak bisa terpasang sebab kepenuhan.

Tak hanya saya yang dibelikan ponsel baru, tapi anak pertama dan anak kedua saya pun mendapatkan ponsel baru. Kemudian, anak ketiga dan keempat, masing-masing mendapat ponsel bekas kakaknya yang nomor satu dan nomor dua, keduanya bekas saya juga sih. 

(credit. teenager and smarthpone gif)
Awalnya semua bahagia. Masing-masing punya ponsel. Tidak akan berantem lagi seperti sebelumnya. Maklumlah Moms, anak saya enam. Jadi kalau main tau sendiri, kan, maunya mainan yang sama. Nonton film juga yang sama. Setelah itu sampai seminggu film yang ditonton bareng itulah yang jadi tema percakapan mereka sampai saya bosan mendengarnya. 

Begitu juga dengan ponsel. Ada dua ponsel yang saya perbolehkan anak-anak memakainya bersama-sama, tadinya untuk main game online. Kalau kakaknya yang sudah besar untuk grup sekolah di whatsapp untuk mengetahui info-info terbaru kelasnya. Tadinya yang kedua barengan sama saya, tetapi akhirnya ayahnya memberi ponsel bekas. Adik-adiknya protes. Ternyata didengar oleh ayahnya dan malah dibelikan yang baru.

Lama kelamaan setelah semua memiliki ponsel sendiri (kecuali anak yang nomor 5 dan 6 ya) saya merasa ini tidak benar. Ini keputusan yang salah. 

Karena meskipun kami bersama, tapi jadi pada sibuk sendiri-sendiri. yang satu whatsapp dengan temannya, yang satu main games, yang satu foto-foto cekikikan sendiri. Saya pun capek sendiri di dapur, susah banget minta tolong sekadar untuk meminta mereka membawa piring kotor ke dapur. 

dekat tapi jauh (doc.lolamagazine.com)
Saya tercenung sendiri. Ini sudah salah. Kebersamaan kami sebelum adanya perangkat pintar itu di rumah telah direnggut dengan paksa di depan mata saya. Secara sadar! Saya pun berbicara dengan pak suami. Sepertinya memberikan ponsel kepada anak anak terlalu dini dan ini bukan keputusan yang benar! Saya beberkan alasan-alasan saya mengapa harus menghentikan kegiatan anak-anak sesegera mungkin. Sebab saya kuatir mereka keburu kecanduan.

Akhirnya saya membuat peraturan. Ponsel boleh dipergunakan pada weekend. Jadi mereka hanya boleh menggunakan ponsel pada hari Sabtu dan Minggu saja. Alhamdulillah dengan kesepakatan itu, akhirnya kami bisa bersama-sama kembali. 

Bercerita-cerita lagi sepulang sekolah dengan dibumbui berantem di sela-sela kumpul bareng. Pokoknya mah rame lagi hahaha dan saya suka moment begini.

Menurut sebuah penelitian, anak yang bahagia dan memiliki keterikatan dengan kedua ayah bunda dan saudaranya menjadikan anak-anak ini tumbuh bahagia, percaya diri, sehat fisik dan psikisnya, sistim imunitasnya kuat dan mudah berkonsentrasi.

Ponsel memang tidak ada salahnya diberikan kepada anak-anak tapi terjadwal, demikian kata Mbak Lizzy seorang psikolog yang menulis buku Raising Children in Digital Era. Tapi tentu saja harus dengan pendampingan dari orang tua. Sebab selain kekurangan juga banyak kebaikan dari gadget pintar ini. Apalagi dengan teknologi tinggi saat ini, anak-anak bisa belajar bersama-sama mengenal dunia dan alam semesta hanya lewat ujung jari.

Menghabiskan waktu bersama keluarga lebih penting dari segala-galanya, yay atau nay?

Kalau saya, yay dong!

Dari anak-anak kecil, saya dan suami berusaha menyempatkan untuk membersamai mereka. Seperti misalnya berjalan-jalan keluar rumah ke danau dekat kampus, memancing di pemancingan umum, dulu waktu saya tinggal di Malaysia, semingu sekali ayahnya anak-anak mengajak kami makan di luar. Suami saya dulu lumayan sibuk juga dia di kampus tempatnya mengajar, jadi dia berusaha untuk  membersamai saya dan anak anak dengan makan di luar. Suami saya tahu apa saja makanan favorit anak anak saya. Jadi terkadang setelah puas makan di kedai makan, ada yang dibawa pulang juga untuk anak anak. 

Suatu malam di tepi sungai Musi, Palembang (doc.pri)
Kalau di rumah, saya berusaha dekat dengan anak-anak dengan mengajak mereka bercerita masa kecil saya atau menceritakan masa-masa perkenalan saya dengan ayahnya. Meskipun tema itu sering banget mereka dengar, tapi mereka tidak pernah bosan mendengarnya. Dari tema itu, biasanya melebar ke keluarga besar. Cerita-cerita yang ringan tapi tentu saja saya ingin sekali mereka bisa mengenangnya dengan baik kenangan bersama.

Sementara suami saya membersamai anak lelaki kami dengan cara shalat subuh berjamaah ke surau atau shalat Isya berjamah, jika kebetulan pulang cepat.

Setiap pagi sehabis shalat Subuh terkadang saya mengecek hafalan Al Qur'an anak anak. Meskipun hanya satu jam atau malah kurang, kami berusaha untuk membuat waktu yang berkualitas bersama anak anak.

weekend main di luar (doc.pri)
Kumpul bersama anak-anak meskipun sebentar, kalau dilakukan dengan hal-hala yang berkualitas, insyaAllah akan menjadi moment tak terlupakan. Salah satu yang paling anak-anak  suka adalah saat kami  membuat kue atau masakan kesukaan mereka. Puas banget kalau bisa membuat dan makan bersama-sama.

Alhamdulillah dari kegiatan ini, anak anak saya bisa memasak sendiri masakan yang mudah, seperti ceplok telur. Menyalakan kompor dan mematikan kompor dan keterampilan lainnya yang diperlukan saat survival saat emaknya enggak ada di rumah hehe yah, minimal bikin mie rebus gitu atau spagheti hehe

ayah mengasuh anak anak (doc.pri)
Sebagai bagian dari keluarga, saya dan suami berusaha terus belajar menjadikan keluarga kecil kami keluarga yang bahagia dan harmonis. Meskipun ada riak-riak di dalam rumah tangga, tentu saja inti dari keutuhan di dalam keluarga adalah saling percaya dan tidak mengumbar masalah dalam negeri keluarga ke luar, seprti kepada ayah ibu, atau saudara. Karena kami memahami, bahwa tidak ada yang bisa memberikan solusi kecuali solusi itu datang dari diri kami masing masing untuk selalu sadar, bahwa keutuhan dan kebersamaan di dalam keluarga adalah segalanya.

Keluarga Harmonis = Keluarga Bahagia

"Menurut data BPS, dimensi keharmonisan keluarga memiliki pengaruh tertinggi dalam membentuk kebahagiaan seseorang, dengan indikator sebesar 80,5." demikian disampaikan oleh Ibu Elin Waty,  Presiden Direktur PT Sun Life pada pada Hari Pelanggan Nasional yang bertepatan dengan tanggal 4 September 2018 lalu. 

Ibu Elin Waty dan Shierly Ge, saat conference press (doc. sunlife)
"Sun Life memahami pentingnya keharmonisan keluarga dalam membantu meningkatkan kebahagiaan seseorang, karena sejalan dengan misi Sun Life untuk membantu keluarga Indonesia meraih kehidupan yang lebih baik. Bagi Sun Life, layaknya keluarga, nasabah adalah aset terpenting bagi perusahaan yang perlu dijaga dan dilindungi dengan baik. Karenanya, kami menginisiasi aktivitas Sundate, sebagai sarana menjalin keakraban antara anggota keluarga, sekaligus meningkatkan kebahagiaan dan kepuasan nasabah, khususnya di momen peringatan Hari Pelanggan Nasional”. demikian pungkas Ibu Elin Waty.

Sun Life Finansial Indonesia Mengajak Keluarga Indonesia Lebih Bahagia Melalui Aktifitas Sundate

Untuk mendukung peningkatan kebahagiaan keluarga Indonesia, PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life)  menginisiasi sebuah kegiatan Sundate yang diadakan untuk nasabah setianya. Acara ini untuk memberikan kesempatan kepada nasabah Sun Life untuk melakukan kegiatan bersama keluarga.

Sundate ini tidak hanya dilakukan di Jakarta, tetapi juga akan dilakukan di 5 kota besar Indonesia, antara lain, Jakarta, Jogjakarta, Surabaya, Bali dan Medan. Kegiatan Sundate ini melibatkan 3000 nasabah Sun Life dan keluarganya. 

Salah satu rangkaian acara Sundate ini juga terdapat sesi talkshow bersama Ibu Shierly Ge, Chief Marketing Officer Sun Life  Financial Indonesia dan Ibu Intan Erlita, psikolog dan juga penulis buku. Tema yang diangkat adalah Peningkatan Kebahagiaan Keluarga Indonesia. 

Ibu Shierly Ge dan Ibu Intan Erlita saat sesi Talkshow (doc. sunlife)
Sesi talkshow terkait kebahagiaan keluarga Indonesia ini adalah bagian kegiatan Sundate yang diadakan oleh Sun Life sebagai wujud apresiasi terhadap nasabah setia Sun Life, sekaligus ajakan bagi masyarakat Indonesia, untuk membangun hubungan yang berkualitas bersama keluarga dan orang terkasih melalui aktivitas bersama. Salah satunya dengan cara memanfaatkan momen akhir pekan. Ajakan ini sejalan dengan komitmen Sun Life dalam membantu masyarakat menikmati setiap momen dan tahap kehidupan dengan lebih nyaman. Dengan demikian diharapkan akan terwujud  keluarga sehat dan bahagia. #LebihBaik Sekarang!

Jadi, Moms, selain di Jakarta, Sundate masih akan dilakukan di  kota lain di Indonesia, yaitu Jogjakarta, Medan, Bali dan Surabaya. Jadi jangan sampai ketinggalan ya, Moms! Rayakan kebersamaan bersama keluarga di acara #Sundate2018 yang akan datang di kota terdekat!

Comments

  1. Sepakat waktu bersama keluarga lebih penting dan harus diperbanyak...

    Akan terasa dampaknya ketika anak2 semakin dewaasa dan makin mandiri, kalau komunikasi terjalin baik mereka akan selalu ingin kembali kerumahnya, bukan.

    ReplyDelete
  2. Wah, cerita keluarga dan handphonennya menarik, mbak! Terima kasih untuk tulisannya ✨

    ReplyDelete
  3. Memang penting ya kumpul bersama itu, minimal hari minggu harus diisi kegiatan keluarga. Kalau kami biasanya di rumah aja, makan bareng dlm satu nampan

    ReplyDelete
  4. Komunikasi langsung secara fisik memang tak tergantikan oleh apapun. Dulu ada orang tua yg khawatir anaknya lebih sering didongengkan televisi, kini oleh smartphone. Nice sharing mbak

    ReplyDelete
  5. Emang jadi dilema ya, dikasih hape masing-masing anteng sih ga berantem. Tapi ya gitu duduk bareng sambil pegang hape satu2. Makanya aku jg lg bikin siasat, gimana caranya anak bisa main hape tapi ketika diajak main tanpa gadget ga ngambeuk dan marah-marah.

    ReplyDelete
  6. wih.. aku lom pernah mba kayak gitu wkwkwk.. apa karena anak2 masih pada kecil ya, jadi mreka "nuntut" aku atau papinya buat main bersama mereka setiap saat :D

    ReplyDelete
  7. Sering banget mba suasana weekend disini pada asik masing-masing. Biasanya saya ajak main keluar aja jadi bisa quality time deh

    ReplyDelete
  8. Acaranya berfaedah banget ya, selain seru, bonding antara anak dan orang tua makin terjalin.

    ReplyDelete
  9. Iya tuh walau dekat seperti jauh sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Sebaiknya memanfaatkan waktu selagi bersama

    ReplyDelete
  10. Wah ramai pasti rumhnya mba dengan celoteh anak2, pantes aja mba merasa kesepian saat mereka sibuk dgn gadgetny masing2
    Pembatasan pemakaian gadget memang harus dilakukan, agar anak2 bisa bersosialisasi juga didunia nyata .

    ReplyDelete
  11. salah satu sisi negatif ponsel memang bisa mengurangi bahkan menghilangkan kebersamaan. Harus sering-serung we time, ya. Lebih bagus lagi kalau tanpa ponsel :)

    ReplyDelete
  12. Anak enam berarti lumayan rame kalau lebaran ya mbak 😁😁

    ReplyDelete
  13. Seru kalau punya anak banyak bisa kumpul bareng ya, rame dan bisa jadi moment terkesan

    ReplyDelete
  14. Aaiihhh jadi pengen sundatean juga gara2 baca ini.. hehe

    ReplyDelete
  15. sesibuk apapun, kita memang harus selalu meluangkan waktu untuk keluarga karena keharmonisan yang terjalin adalah rumah yang meneduhkan dan mendamaikan..

    ReplyDelete
  16. Saya jadi inget waktu jaman ngantor kalau setiap akhir pekan saya tidak mau diganggu gugat oleh apapun karena ini waktunya bersama dengan keluarga. Melakukan quality time bersama keluarga memang akan menjadi kita lebih memiliki kebahagiaan yang sesungguhnya

    ReplyDelete
  17. Semaksimal mungkin wKtu brsama kluarga dimanfaatkn yg mba sri biar boundin makin dekat dn lbh harmonis tentunya

    ReplyDelete
  18. Makanya agak berat kalau terima jobs di weekend. Kecuali suami ada urusan keluar. Baru saya ambil.. xixixi.. karena moment ngumpul keluarga semua komplit ya hari sabtu mgg itu. Baik keluarga besar ataupun keluarga kecil.

    ReplyDelete
  19. Kalau saya buah simalakamanya pas kayak gini, lagi harus nyelesein kerjaan ngadep laptop dan hp, anak jadi dicuekin. Akhirnya dia saya ajak nemenin saya tapi saya kasih hp. Kemudian jadilah kami asik sendiri-sendiri. Ngerti sih ini nggak bener. Tapi tiap nyoba, okelah ngerjain ngadep gadgetnya pas anak tidur. Yang ada kerjaan jadi berantakan karena kurang waktu.

    ReplyDelete
  20. Kalo orang dulu bilang "mangan ora mangan sing penting kumpul" itu bener banget ya.. kadang ada yang yang kurang kalo salah satu anggota keluarga ada yang ngga bisa makan bersama dirumah atau sekedar pergi bersama. Kegiatan SunDate dari sun life ini bangus banget sebagai budaya organisasi yanh baik

    ReplyDelete
  21. Bahagia itu kita yany ciptakan, minimal 1 kali dalam 1 minggu

    ReplyDelete
  22. Umi Saki pasti quality time nya Yahudi nih. Bisa mengatur waktu dengan 6 anak. Buktinya anak-anak berprestasi kan.

    ReplyDelete
  23. Sama mba.. ponsel di rmh juga dikasih pas weekend aja. Itupun kalau mau oergi. Kalau di rmh aja ga dikasih.

    Bener banget dengan adanya ponsel dekat tapi berasa jauh.

    ReplyDelete
  24. Acaranya seru banget mengusung tema quality time. Sundat bener benee mengembalikan keriaan keluarga.

    ReplyDelete
  25. Untung keburu menyadari ya Mba...sebelum anak adict sama gadget...Kalau udah tuh susah ngilanginnya.

    ReplyDelete
  26. Hari libur emang baiknya dihabiskan bersama keluarga ya mbak. Supaya keluarga punya quality time, khususnya anak2, jd bisa dekat terus sama ortu.

    ReplyDelete
  27. Betuk bangeeet *ngejawab pertanyaan di paragraf awal*. Memang keluarga itu harus sering main bareng yaa 😅😊

    ReplyDelete
  28. Penting banget ya mbak liburan bersama keluarga agar keharmonisan selalu terjaga. Saya harus bikin jadwal nih, soalnya udah jarang liburan. Hiks

    ReplyDelete
  29. Perlu banget nih interaksi yg lebih banyak dengan anggota keluarga. Penting menentukan waktunya, lapan bisa ngumpul bateng. Budaya seperti ini tidakmboleh hilang di telan jaman gadget

    ReplyDelete
  30. Nah anakku sering marah nih kalau bundanya terlalu aktif semingguan di luar rumah. Dan lupa memberikan waktu khusus buat si buah hati

    ReplyDelete
  31. Aku juga setuju nih menghabiskan waktu bersama keluarga itu penting banget.
    Makanya aku rada gemes kalau udah waktu ketemu anak sedikit, eh malah mereka memilih main sama temennya daripada mengobrol dengan orang tua.

    ReplyDelete
  32. sekarang kita memang bersaing ketat dengan hp ya mba. Sebeeel rasanya kalua liat anak-anak hanya mau main hp

    ReplyDelete
  33. Sayapun begitu selalu menantikan kebersamaan dgn keluarga tercinta.. Btw, pernah ke Palembang ya.. Foto dgn latar Jembatan Ampera..

    ReplyDelete
  34. Tantangan banget nih di era gadget begini untuk tetap bisa quality time dengan keluarga. Tapi, memang harus dilakukan meskipun sesekali. Biar semakin erat hubungan sesama keluarga

    ReplyDelete
  35. Kalau udah jumat sore tuh aura bakal kumpul dengan keluarga semua udah pada ngerasain ya terutama yang ngantor. Hal hal yang sederhana aja nikmatnya luar biasa.

    ReplyDelete
  36. Anakku punya hape udah usia belasan tahun. Itu pun boleh dipakai sekedar untuk nelpon. Eh tapi jaman anakku punya ponsel pertama kali, medsos belum sedahsyat sekarang. Hihiii

    ReplyDelete
  37. Keluarga memang tumpuan hidup semua anggotanya. Kalau satu sama lain sudah tidak ada kebersamaan maka akan terbayang betapa hambarnya. Terhadap anak apalagi, waktu sangat terbatas sementara waktu itu sendiri tidak bisa diulang. Selagi bisa, maka manfaatkan waktu bersama semaksimal mungkin ya.

    ReplyDelete
  38. Asyik menghabiskan waktu bersama keluarga, jadi moment terindah kelak pastinya

    ReplyDelete
  39. Kebersamaan dengan keluarga itu hal penting, yang sekarang sudah mulai tergerus dengan perkembangan zaman.

    ReplyDelete
  40. pokoknya kumpul sama keluarga itu penting banget kak, hampir sama pentingnya dengan hal yang paling penting sekaligus didunia ink

    ReplyDelete
  41. Masa anak-anak gak terulang lagi. Penggunaan gawai tidak bisa dihindarkan, tapi memang harus ada aturannya. Soalnya gimana pun kebersamaan keluarga adalah yang utama :D

    ReplyDelete
  42. di Jogja ada ga ya event ini? mau juga dong hadir kalau ada di Jogja. Aku seringnya ngobrol kalau habis maghrib sama anak2

    ReplyDelete
  43. Bener banget mba waktu buat keluarga harus ada minimal ngumpul ya mba. Apalagi melihat pertumbuhan anak so very fast ya...

    ReplyDelete
  44. waktu keluarga itu sangat penting! bonding sama anak-anak dan ortu bahkan menjadi bonding suami-istri. Kamipun dikeluarga menetapkan satu waktu untuk betul2 kualitas terhadap keluarga :))

    ReplyDelete
  45. Setuju lah. Quality time sama keluarga penting banget

    ReplyDelete
  46. Setuju! Bahagia itu ketika keluarga HADIR di tgh2 kita, bukan cuma "ada". Saya setuju, gadget time mesti jelas ya mbak..

    ReplyDelete
  47. Inisiasi Sun Life untuk keluarga agar bisa menikmati waktu we time semoga bermanfaat untuk keluarga Indonesia

    ReplyDelete
  48. Itu cerita tentang kasih gadget pada anak-anak ini memang harus tegas dan bila memang belum perlu sebaiknya tidak usah ya Mba, agar jangan sampai gadget merenggut kebersamaan menjadi asyik dengab dunia sendiri-sendiri, padahal usia anak-anak kehangatan berkumpul, bercanda, dab bermain bersama akan mengeratkan ikatan kekeluargaan dan menjadi cerita indah untuk mereka kelak.

    ReplyDelete
  49. Setuju banget jika kita harus membangun kehidupan keluarga yang lebih baik ya mba. Aku pun selalu curi curi kesempatan untuk bisa kumpul bersama keluarga

    ReplyDelete
  50. Boleh juga ide sundate memecah kebosanan konsep spending time bersama keluarga.bisa jadi solusi adiksi anak terhadap gawai.aktivitas luar ruang jawabannya

    ReplyDelete
  51. Bener ya keberadaan henpon jadi "memisahkan" keluarga kita. Harus ada disiplin momen waktu keluarga tanpa henpon

    ReplyDelete
  52. Yaah ketinggalan yg Jakarta. Paling droet dengan Serang parahal. Hiks

    ReplyDelete
  53. Iya ya mbak, suka sedih kalau barengan tapi semua sibuk gadget masing masing. Makasih alternatif aktivitasnya mba. Kudu dipraktekkan iniii

    ReplyDelete
  54. Setuju banget mbak..anak2ku juga kuterapkan begitu, ponsel hanya berlaku di weekend aja. Biar mereka tetap bisa berinteraksi dengan sesama anggota keluarga secara langsung.

    ReplyDelete
  55. Anak2ku boleh pegang gadget cuma hari jumat dan sabtu, minggu sudah harus disimpan karena waktunya senang2 keluarga, meski cuma keruntelan di kasur atau piknik2. Ibunya juga wajib konsisten menolak job event di hari minggu, itu yg kadang masih susah :)))

    ReplyDelete
  56. paling suka kalau ada event yang bisa ajak keluarga..jadi bisa seeng-senng bareng kaya gini

    ReplyDelete
  57. Saat teknologi menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh.
    disitulah emak dilema :(

    ReplyDelete
  58. Wah kalau aku lagi ngumpul semua pasti pergi ke suatu tempat or makan bareng sekeluarga di luar, kalau di rumah ya sibuk sama gadget masing masing

    ReplyDelete
  59. aku baca kisah ini jadi menerawang. dan sering banget kejadian kaya gitu. ada bocah ada ayahnya tapi semua sibuk dewe-dewe. sesekali mungkin gpp kalo emaknya lagi sakit. tapi kok jadi percuma ya pada di rumah badannya tapi pikirannya kemana-mana lihat hape mulu

    ReplyDelete
  60. Senang banget ya bisa kumpul dengan keluarga Karena maupun kumpulkan keluarga itu perlu berkualitas apalagi ada permainan kayak gini makin seru deh

    ReplyDelete
  61. aku juga lagi mencoba menerapkan di keluargaku, Mbak.. pengen ngasih alternatif kegiatan supaya pikirannya ngga ke gadget melulu..

    agak susah memang, karena kerjaan kita juga hubungannya sama gadget sih yaa.. :(

    ReplyDelete
  62. Penggunaan gadget untuk anak memang tidak direkomendasikan. Bahkan penemu iPhone, Steve Jobs, tidak memperbolehkan anak-anaknya menggunakan barang hasil temuannya tersebut, loh! Anak-anaknya tidak ada yang kecanduan gadget. Padahal ayahnya sang penemu.

    ReplyDelete
  63. Keren ya ide yang di bawa sundate. Keluarga memang harus jd yang utama karena itu ada yang mengatakan matikan gadget saat dekat dan selali hidupkan gadget saat jauh.

    ReplyDelete
  64. Seru ya mbak kalo bisa beraktifitas bareng keluarga, ga cuma sibuk dengan gadget aja. Keliatan banget asyik nih Sundatenya.

    ReplyDelete
  65. Bener mba, menghabiskan waktu saat libur bersama keluarga buat saya yang sehari-hari di rumah adalah hal baru yang merefreshkan. Jadi penasaran sama acaranya, menanti acara Sundate yang di Jogja.

    ReplyDelete
  66. Kebayang acaranya pasti seru.
    Mengajak keluarga beraktivitas bersama di hari libur.

    Esoknya, saat sekolah...tentu menjadi cerita tersendiri bagi anak-anak.

    ReplyDelete
  67. Sundate saya dan anak biasanya mandi di laut berdua, Mba. Walau setelahnya kulit menghitam, tapi rasanya bahagia banget deh 🤩

    ReplyDelete
  68. kayak tagline yg sempet viral dulu itu mak, menjauhkan yg dekat, mendekatkan yang jauh. Ugh, emang rame dan saling timpalan itu lbh ngangenin, barakallahu mak, salam kenal~

    ReplyDelete
  69. Aku pernah banget kayak gitu. Di rumah aku pake peraturan gadget boleh pas weekend. Tapi jadinya, pas weekend bener2 semua pada asyik sama gadget-nya masing2. Hiks. Semoga Sundate ada lagi di Jakarta. Aku ketinggalan infonya nih.

    ReplyDelete
  70. Aku sih yes mbak buat quality time sama keluarga. No hape kalo lagi beraktifitas bareng-bareng. Tapi ada kalanya juga leyeh-leh dan main hape berjamaah dengan waktu yang sudah ditentukan, hahaha

    ReplyDelete
  71. Aku juga lagi mau nerapin kayak gini Mba heheheh, pokoknya beberapa jam ga pake ponsel sama suami karena belum ada anak. Semoga bisa konsisten hihihi

    ReplyDelete
  72. waahh menarik ini... sepertinya saya perlu daftar acara sunlife di kota terdekat hehe.. semoga masih kebagian kuotanya..

    ReplyDelete
  73. luar biasa ya mom 6 anaknya deketan semua umurnya, smeoga bahaia dan sehat2 slelau kompak selalu juga

    ReplyDelete
  74. Halo mba. Aku selalu berusaha untuk menghabiskan waktu bersama keluarga mba. Biar hubungan keluarga selalu bagus

    ReplyDelete

Post a Comment

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @tutiarien

Popular posts from this blog

Haa...Hamil lagi?!!

Hamil dan melahirkan, merupakan anugerah terbesar dan terindah dari Allah bagi seorang wanita menikah. Semasa masih gadis dan menjelang menikah, aku merasa takut tidak bisa hamil dan memiliki anak. Rasanya aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan berumah tangga. Apalagi usiaku disaat menikah usia yang sudah hampir lewat masa subur, 27 tahun. Ketakutan yang sangat beralasan sekali menurutku.

Alhamdulillah ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Lepas pernikahan kami di bulan Januari 2001, bulan Februari aku dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah”. Itu kata pertama yang keluar dari mulutku saat itu ketika mengetahui test packmenunjukan 2 strip biru. Senang? Tentu saja!! Kalau tidak malu, mungkin saat itu aku akan meloncat-loncat seperti anak kecil mendapatkan balon. Begitu juga dengan suami, dia langsung mengabari kedua orangtuanya. Diusia pernikahan kami yang baru berumur sebulan, aku hamil. Dari mulai saat itu suamiku menjagaku bak seorang putri, bagaikan gelas yang mudah pecah. Rap…

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stress?

Hai Moms, apa kabar? Apa benar Mom, ibu rumah tangga lebih rentan stress? Kalau menurut Moms bagaimana?

Pertanyaan ini menggelayut terus di dalam benak saya. Pasalnya, beberapa minggu yang lalu, ada seorang kawan curhat. Begini curhatnya.
"Temenku itu sudah sering banget aku bantuin, Umm. Dari mulai ngasih nasehat, ngasih pinjem uang, ngasih motivasi biar dia ada kegiatan, biar dia punya penghasilan tapi ya gitu, deh. Mana utang dia dimana-mana. Jadi pernah pinjam uang dari aku, untuk membayar utang di tempat lain. Bener-bener gali lobang tutup loban Gimana enggak nyesek, coba!" katanya dengan wajah hampir menangis.
Saya mencoba memahami perasaaannya, meskipun saya jadi gundah juga mendengar curhatannya.
"Temenku itu stress. Pernah juga dia mencoba bunuh diri. Alhamdulillah bisa digagalkan. Makanya, aku takut, kalau enggak bantuin dia, dia berbuat nekat lagi kayak waktu itu."
Oh, My God! sampai mau bunuh diri?!
"Terus gimana? kamu akhirnya bantu apa?"  &…

Cara Manis Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga

Hai, Moms, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat yaa ...
Moms, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa, sekarang, makan bersama keluarga di meja makan itu sudah semakin ditinggalkan. Paling banter, kalau makan bersama pas buka puasa bersama, itu pun awal-awal aja. Habis itu, makan se-enjoynya aja gitu. Dimana-mana. Di depan tivi, di ruang tamu. atau di tempat yang anak-anak suka.

Lah, kok bener juga ya itu artikel. Sebab saya juga meraasakannya akhir-akhir ini, anak -anak abis makan, udahlah gak disimpen lagi di tempat cuci piring, eh dimana-mana ada piring, pula! grrr ...

Menurut artikel itu, dewasa ini, makan di meja makan menjadi pemandangan langka di dalam rumah. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa makan bersama di meja makan, salah satunya adalah mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Bagi anak, dia belajar memahami isyarat-isyarat sosial. Anak belajar melalui pengalaman makan bersama keluarga dan hal…