Amalan Wanita Haid Agar Memperoleh Malam Lailatul Qadar

by - May 22, 2020


“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Qadr. Dan tahukan kamu apa malam Qadr itu? (yaitu) malam Qadr itu lebih baik dari malam seribu bulan. Pada malam itu, turun para malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah malam itu hingga terbit fajar.” (QS: Al Qadr ayat 1-5)
Tak terasa bulan Ramadan sudah memasuki 10 malam terakhir. Malah sudah mendekati ujung dari bulan Ramadan. Adakah kita mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar?

Pixabay
Lailatul Qadar adalah malam yang dinanti-nantikan kehadirannya di bulan suci Ramadan oleh seluruh kaum muslimin. Malam yang sangat istimewa yang Allah turunkan di malam ganjil di 10 malam terakhir di bulan Ramadan. Malam yang juga dikenal dengan malam yang lebih baik dari seribu bulan, karena pahala beribadah pada malam ini lebih utama daripada malam-malam lainnya.

Ibnu Jarir At-Thabari mengatakan (pahala) beribadah pada malam tersebut lebih utama daripada malam-malam yang tidak bertepatan dengan lailatul qadar. Ini memberi arti bahwa amalan kebaikan-kebaikan yang akan diberikan pada malam itu. 

Di 10 malam terakhir, kita diperintahkan untuk senantiasa meningkatkan ibadah dan amal sholeh, melakukan i'tikaf, mendirikan shalat malam, berdzikir dan memperbanyak membaca al Quran.Betapa lezatnya beribadah selama sepuluh malam terakhir apalagi jika Allah takdirkan kita mendapatkan malam lailatul qadar. MasyaAllah.



Tetapi, bagaimana jika pada malam-malam penuh berkah itu, justru kita sedang  haid atau nifas? Ibadah apa yang bisa dilakukan oleh wanita yang sedang haid atau sedang nifas karena baru melahirkan?

Haid atau nifas adalah dua kondisi uzur syar'i yang merupakan fitrah bagi wanita. Haid dan nifas adalah sebuah ketetapan Allah bagi kaum wanita yang membedakan wanita dan laki-laki secara biologis. 

Apa saja amalan ibadah yang bisa dilakukan oleh wanita haid dan nifas?

5 amalan ibadah yang bisa dilakukan oleh wanita haid dan nifas

1. Berzikir dan Berdoa 

Berzikir atau mengingat Allah, adalah aktifitas yang bernilai ibadah yang bisa dikerjakan oleh wanita haid atau nifas. Ada beberapa zikir yang bisa dibaca  misalnya dengan melantunkan  tasbih (subhanallah 33x), tahmid (alhamdulillah 33x), takbir (Allahu Akbar 33), lalu dilanjutkan dengan membaca:

"La ilaha illallah wahdahu la syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumit, wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir"

“Tidak ada Tuhan Selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu”

Dalam hadis riwayat al-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa setelah shalat shubuh membaca, ‘La ilaha illallah wahdahu la syarika lahu lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumit, wa huwa ‘ala syai’in qadir’ (10 x), sementara kakinya masih terlipat (belum beranjak dari tempat shalat) dan belum berbicara, maka dicatat baginya sepuluh kebaikan, dihapus sepuluh kejahatannya, dan derajatnya ditinggikan. Selama hari itu dia akan terpelihara dari setiap sesuatu yang tidak diinginkan dan dijaga dari gangguan setan” (HR: al-Tirmidzi).

Zikir lainnya juga bisa membaca Al Matsurat pagi dan petang agar kita dijaga Allah dari pagi hingga malam hari. Dengan banyak mengingat Allah, maka hati menjadi tenang.


"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).
Lalu memperbanyak do'a

Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu'anni.
Artinya: "Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Pemurah, dan menyukai memberikan maaf, maafkanlah aku". 
Doa ini juga doa yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Saidatina Aisyah ra.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra ia berkata: Saya bertanya: "Wahai Rasulullah, Maukah engkau memberi tahu aku apa malam lailatul qadar itu dan apa yang harus aku baca pada malam itu? Rasulullah berkata: Ucapkanlah do’a, Allahuma innaka ‘afuwwun kariim tuhibbul-‘afwa fa’fu ‘anni, (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Pemurah, dan menyukai memberikan maaf, maafkanlah aku). Ia mengatakan ini adalah hadits hasan shahih." (HR At-Turmudzi)

2. Membaca Al Quran.

Pendapat Abu Hanifah dan pendapat yang terkenal dari As-Syafii dan Ahmad, wanita haid dan nifas boleh membaca al Quran (Abu Malik Kamal: 2013). 

Pendapat ini diperkuat oleh pernyataan Rasulullah SAW kepada Saidatina Ummul Mukminin Aisyah ra ketika beliau sedang haid. 

Dalam riwayat Bukhari (294) dan Muslim (1211) dari jalur ‘Abdurrahman bin Al Qosim, dari Al Qosim bin Muhammad, dari ‘Aisyah r.a, ia berkata, “Aku pernah keluar, aku tidak ingin melakukan kecuali haji. Namun ketika itu aku mendapati haid. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya mendatangiku sedangkan aku dalam keadaan menangis. Beliau bertanya, “Apakah engkau mendapati haid?” Aku menjawab, “Iya.” Beliau bersabda, “Ini sudah menjadi ketetapan Allah bagi kaum wanita. Lakukanlah segala sesuatu sebagaimana yang dilakukan orang yang berhaji kecuali thowaf keliling Ka’bah.”

Para ulama sepakat, bahwa membaca al Quran adalah salah satu yang dilakukan selama melaksanakan ibadah haji. Membaca al Quran, memegang mush-haf dan berzikir kepada Allah merupakan amalan baik, dianjurkan dan mendaptangkan pahala. 

3. Mencari ilmu. 

Haid tidak menghalangi seorang muslimah untuk menambah pengetahuannya. Apalagi di masa pandemi ini, di bulan Ramadan kita bisa mengikuti kajian ilmu dari rumah, bisa dengan melihat ceramah agama lewat televisi, youtube, facebook atau secara live lewat aplikasi Zoom. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya belajar ilmu karena Allah adalah suatu bentuk ketakwaan. Mencari ilmu adalah ibadah, menelaahnya adalah tasbih, dan mengkajinya adalah jihad.” (H.R. Ad-Dailami).

4. Bersedekah. 

Haid tidak menghalangi seorang muslimah untuk beraktivitas termasuk dalam kegiatan sosial. Misalnya di masa pandemi Covid-19 ini, banyak keluarga yang terdampak wabah corona, dari yang di PHK, tidak bisa berjualan sehingga penghasilan harian nol, banyak janda dan lansia yang membutuhkan perhatian, anak-anak yang terlantar, dll, maka seorang muslimah bisa beraktifitas dengan mengadakan penggalangan dana, lalu menyalurkan dananya untuk memberi sembako, memberi bantuan masker, bantuan keuangan dll.

Mencontoh Nabi Muhammad yang lebih dermawan ketika tiba bulan Ramadan, dapat dilakukan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas,

“Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, apalagi pada bulan Ramadan, ketika ditemui oleh Malaikat Jibril pada setiap malam pada bulan Ramadan, dan mengajaknya membaca dan mempelajari Alquran. Ketika ditemui Jibril, Rasulullah adalah lebih dermawan daripada angin yang ditiupkan.” [Muttafaq ‘Alaih].

5. Memberi makan orang yang berpuasa. 

Seorang muslimah yang sedang haid pun bisa mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa, salah satunya dengan memberi makan orang yang berpuasa.

Diriwayatkan, “Siapa memberi makan orang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga (H.R. Tirmizi)

Demikianlah 5 amalan wanita yang sedang haid dan nifas, agar tetap dapat memperoleh keberkahan malam lailatul qadar. Siang bagaikan singa yang lapar karena terus berusaha memanfaatkan waktu untuk melakukan kegiatan sosial,  sementara waktu malam seperti seorang rahib yang ingin terus dekat kepada Rabb-Nya dengan memperbanyak zikir dan membaca al Quran.

You May Also Like

0 comments

Hai, salam kenal. Terima kasih sudah membaca artikel di atas. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Meski demikian komentarnya yang bukan spam pasti muncul. sri.widiyastuti@gmail.com | IG: @tutiarien | twitter: @tutiarien