Sekolah di Sanggar Kegiatan Belajar

24 comments

 Finally, Abang, anak saya yang nomor 3 sekolah di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) negeri di Bogor. Ini gara-garanya, meski ada 2 sekolah negeri di dekat rumah, malah yang terdekat satu kelurahan, namun jaraknya tidak terjangkau dari rumah saya. Ya, sudahlah, rejekinya si abang. Mungkin di daerah saya, termasuk banyak siswa usia belajarnya, karena banyak pemukiman padat, sehingga tidak tertampung oleh sekolah negeri. Sebenarnya sih melihat kondisi seperti ini, dinas pendidikan harus mengevaluasi ketersediaan sekolah jika taglinenya, sekolah di mana saja. Kalau tidak ada sekolahnya, anak sekolah di mana kalau sekolah swasta tidak terjangkau dana pendidikannya? Jadi emosi tiap tahun nih haha ---exhale .. in hale tarik nafas biar lega --- 

Nah, alhamdulillah saya mendapatkan informasi tentang Sanggar Kegiatan Belajar ini ketika anak saya yang sulung bersekolah di PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Sampurna di Sempur Bogor tahun 2018. Waktu itu Abah (kepala sekolah PKBM) yang memberikan informasi ini. Gratis! katanya. Tapi jauh, di Cifor. Saya juga diberi flyer-nya, dan saya simpan sampai hari ini. Alhamdulillah tidak disangka, flyer itu kepake juga sekarang.

flyer SKB atau PKBM Negeri Bogor

Sanggar Kegiatan Belajar

Apa sih Sanggar Kegiatan Belajar itu? mungkin ada terbersit dalam hati moms ya, pertanyaan tersebut. Sanggar Kegiatan Belajar ini nama lain dari PKBM atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. Kedua istilah ini sama saja. Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan PKBM ini sama, yaitu sebagai tempat belajar anak-anak yang tidak berkesempatan belajar di SD, SMP dan SMA secara formal. Jadi Sanggar Kegiatan Belajar atau PKBM ini anak-anak yang belajar secara informal. Sederhananya, anak-anak mengikuti kegiatan belajar untuk Paket A, Paket B dan Paket C.

Lulusan Kegiatan Sanggar Belajar atau PKBM ini mendapatkan ijazah dari dinas pendidikan resmi sebagai bukti telah mengikuti pembelajaran berupa ijazah Paket A untuk SD, Paket B untuk SMP dan Paket C untuk SMA. 

Sanggar Kegiatan Belajar Negeri di Bogor

Nah, si Abang ini sudah 2 minggu ini belajar di Sanggar Kegiatan Belajar Negeri di Bogor. Alhamdulillah gagal PPDB SMA, si abang tidak berkecil hati. Gagalnya di sini cuma gak kebagian sekolah negeri saja, sih. Jadi dia sih santai, aja.  Dimulai dari tanggal 28 Juli 2021 lalu.  Awalnya saya agak ragu juga. apakah si Abang mau belajar di sana. Saya pun bertanya dulu ke Abang, kalau tidak masuk negeri, gimana, Bang? saya mencoba membuka diskusi dengannya. Jawaban si Abang, "Mau sekolah dengan Umi saja!" begitu katanya. Walah mau sekolah sama umi ceunah hihihi gak takut apa, umi galak? hihihi

Saya pernah menemukan postingan di FB yang lucu-lucuan, anak-anak gak mau belajar sama emaknya, karena emaknya lebih galak dari guru. Eh, ini si Abang malah pengen belajar sama umi ceunah. Saya agak-agak terhura sekaligus terharu. Ini challenge buat saya juga, kan. Artinya, saya harus menyiapkan diri menemani si Abang belajar selama di rumah. Sebenarnya saya sudah mempersiapkan diri sih jauh-jauh hari. Saya jadi ikutan kelasnya mbak Lala dan mas Aar, itu lho ayah ibu yang semua anaknya homeschooling dan berhasil. Saya sudah mengikuti keluarga mereka sejak saya tinggal di Jepang apa yaa? atau pas di Malaysia, lupa. Pokoknya sampai sekarang saya tertarik dengan konsep mereka mendidik anak-anaknya sendiri. 

Jadi saya putuskan mengikuti kelas Rumah Inspirasi dengan mengambil sub kelas Homeschooling untuk Remaja. Kalau moms mau ikutan juga boleh pakai kode pembelian kelas saya yaa. Nanti moms dapat diskon 50 ribu. Lumayan kan, dari harga 250ribu, cuma bayar 200 ribu untuk langganan setahun. Mom tinggal daftar saja di Daftar Kelas HS Remaja nanti masukan kode diskon SRI121. Mudah, kan.

Dengan mengikuti kelas homeschooling untuk remaja ini, saya menjadi punya bekal sebagai orang tua dalam mendampingi si abang sekolah di rumah. Konon masa adaptasi anak sekolahan berpindah ke kebiasaan anak homeschooling kurang lebih  6 bulan lah. Tergantung kesiapan anak dan orang tuanya tentu yaa. Saya juga masih berusaha meraba-raba apa yang bisa membuat si abang menjadi pembelajar mandiri. Agak susyah juga ini anak, karena udah kesemsem sama game online hadeuhh, jadi kudu kuat-kuatan menerapkan disiplin. Saya memberi dia jatah main game 2 jam setiap hari, kalau dilanggar, saya tidak bagi internet selama seharian, atau dikurangi jatahnya jadi 1 jam. 

Nah, ini anak teh pinter banget mengambil hati. Jadi, kalau sudah punya kesalahan, dia jadi rajin cuci piring. Gak disuruh juga semua piring kotor bersih. Jadi emaknya suka gampang luruh hihihi kadang juga dia bikin nasi tanpa disuruh. Kadang buatin mie kari ayam buat emaknya Gitu deh, anak cowok yaa, pinter banget ngerayu emaknya. 

Kembali lagi ke sekolah mandiri di  rumah ini, SKB negeri di Bogor ini alamatnya di Jl. H.M Syarifudin D/H Cifor 1 SBJ No. 143 Bubulak Kota Bogor. Telpon CS SKB +62 881-1704-135.

Sekolah di Sanggar Kegiatan BelajarNah, pertanyaan berikutnya mungkin moms bertanya bagaimana cara mendaftarkan diri anak-anak ke SKB? saya akan jelaskan di bawah ini yaa.

Cara Mendaftar ke Sekolah Sanggar Kegiatan Belajar

Caranya sama dengan mendaftar ke sekolah formal. Ada beberapa dokumen yang harus diserahkan ke Sanggar Kegiatan Belajar, yaitu:

  1. Salinan surat Kelulusan 
  2. Salinan Kartu Keluarga
  3. Salinan KTP ibu dan ayah

Itu beberapa dokumen yang harus disiapkan. Waktu itu saya mendaftarkan si abang lewat google form (online). Lalu berkas-berkasnya diserahkan kemudian langsung ke kantor SKB. Tidak perlu SKCK atau Surat Keterangan Catatan Kepolisian yang pernah dilakukan oleh kakak waktu PPDB karena kalau diminta pun si abang sudah punya surat kelakuan baik dari sekolah. 

Untuk anak homeschooling atau unschooling juga begini alur mendapatkan pendidikan di rumah. Anak harus terdaftar di dinas pendidikan, agar dia bisa mengikuti ujian Paket dan mendapatkan ijazah secara resmi dari dinas pendidikan setempat.

Bagaimana Cara Belajarnya?

Nah, mungkin ini juga salah satu yang dikepoin emak-emak ya, termasuk saya. Jadi anak-anak sementara ini masih sama lah dengan sekolah reguler lainnya, sekolah online. Jadi pembelajarannya dilakukan online. Bedanya mereka belum pernah melakukan kelas zoom atau gmeet. Semua pembelajaran dilakukan dengan share modul belajar untuk dibaca oleh siswa lalu diberi tugas mandiri berupa mengerjakan tugas harian, kemudian tugas itu dikirim ke gurunya langsung.

Jadi begini alur belajar anak-anak di Sanggar Kegiatan Belajar 

1. Siswa belajar lewat media whatsapp. 

Grup ini dimaksudkan untuk mengumpulkan siswa secara berkelompok, misalnya siswa kelas X, kelasnya si abang. Ada 23 siswa yang terdaftar, sementara ini setiap hari absen hanya 10 orang yang rajin absen setiap hari. Kemungkinan masih ada yang belum keluar data dapodiknya, sehingga belum dimasukan ke dalam grup belajar.

2. Guru mengirim modul pembelajaran lewat grup whatsaap kelas

Setiap hari, sesuai dengan jadwal belajarnya, guru bergiliran mengirimkan modul dan tugas harian. Selain itu guru juga mengirimkan daftar hadir yang harus diisi oleh siswa.

3. Siswa mengirim tugas harian lewat whatsapp secara pribadi langsung ke guru

Nah, tugas harian yang sudah dikerjakan dikirim langsung ke guru masing-masing. Caranya sama lah dengan sekolah reguler ya. Tugas difoto lalu dikirim japri ke gurunya masing-masing. Kalau ada tugas yang kurang dipahami bisa bertanya langsung ke guru yang bersangkutan.

Guru-gurunya juga insyaAllah guru berkompeten, berikut ini saya sampaikan jadwal pelajaran dan nama-nama guru yang terlibat dalam pembelajaran di SKB Negeri Bogor. Jadi persekolahan hanya 4 hari yaa, dari hari Senin hingga hari Kamis saja.

Nama guru di SKB Negeri Bogor

Selain mengikuti pembelajaran di SKB, si abang berlangganan Ruangguru untuk kelas X selama setahun. Lumayan ada diskon hingga 70 persen kan, waktu itu. Alhamdulillah membantu banget si abang selama belajar di rumah. Jadwal belajarnya setelah mengikuti kelas reguler di  SKB.

Lalu, untuk menambal kekurangannya di masalah diniyah, si abang mengikuti kelas tahsin dan tahfiz secara private setiap hari Jum'at malam dengan pengajar seorang ustaz yang masih aktif mengajar di SMPIT Al Bunyan dan pengajian pekanan remaja pada Sabtu sore. Alhamdulillah dia konsisten mengikuti dua kegiatan tersebut. Semoga ikhtiar mendidik anak laki-laki dari rumah ini mendapatkan ridlo dari Allah SWT, sehingga anak menjadi anak yang sholih dan bermanfaat untuk umat dan juga keluarga masa depannya. amiin.

Sebagaimana sekolah online lainnya, si abang dan teman temannya belum banyak berinteraksi sih. Tapi, semoga lambat laun, mereka akan berkomuniasi juga misalnya dengan berlajar berkelompok. Bedanya dengan sekolah reguler, sekolah di Sanggar Kegiatan Belajar ini enggak ada MPLSnya alias enggak ada perkenalan sekolahnya. Semoga saja nanti kedepannya, gurunya mengenalkan diri satu per satu juga. Sehingga diharapkan ada interaksi antara siswa dan SKB, sama dengan si Kakak dengan Abah dan Pak Roy, gurunya kakak di PKBM. Hingga hari ini kami masih berhubungan baik. Alhamdulillah. 

Demikian moms, cerita akhir pekan tentang pendidikan si abang. Anak ini menumpang lahir di Jepang, 7 bulan sebelum kami back for good ke tanah air pada tahun 2007. Waktu dia lahir, Abinya baru saja selesai studi doktoralnya dan mendapatkan grand postdoc, jadi kita  memperpanjang masa tinggal selama setahun dan lahirlah si abang.  Keinginan abang adalah kembali ke tanah kelahirannya untuk menimba ilmu di sana. Doakan semoga tercapai cita-citanya yaaa.

Selamat berakhir pekan di rumah saja,

Sri Widiyastuti

Sri Widiyastuti
Saya ibu rumah tangga dengan 6 orang anak. Pernah tinggal di Jepang dan Malaysia. Isi blog ini sebagian besar bercerita tentang lifestyle, parenting (pengasuhan anak) dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keluarga dan perempuan. Untuk kerjasama silakan hubungi saya melalui email: sri.widiyastuti@gmail.com

Related Posts

24 comments

  1. Cara mendaftar sekolah di sanggar kegiatan belajar cukup siapkan beberapa hal berikut ini:
    - Salinan surat Kelulusan
    - Salinan Kartu Keluarga
    - Salinan KTP ibu dan ayah

    ReplyDelete
  2. Ooooh, jadi cara belajar di Sanggar Kegiatan Belajar ini ga pakai Zoom maupun GMeet ya mbak? Melalui WA saja dan tugas dikumpulkan ke gurunya langsung? Tapi lucu juga ya sekolah ini belum ada perkenalannya hihihi... Belajar di kelas tahsin dan tahfiz, abang rajin banget. Semoga semakin soleh dan tercapai segala cita-citanya anak mamah Sri aamiin.

    ReplyDelete
  3. Aku juga ikutan Rumah Inspirasinya Mbak lala, mbak...hehehe. Kebetulan anakku masuk SD bertepatan dengan pandemi. Jadi kami putuskan untuk sekalian hs aja, dan daftar PKBM yang di salatiga. Memang banyak drama juga sih, apalagi saya harus berperan full jadi guru juga kan.. untungnya setelah setahunan udah mulai terbiasa nih dan lumayan fun juga

    ReplyDelete
  4. Wah, perlu kesiapan dari anak dan keluarga ya untuk menerapkan HS ini. Tapi bagus sih, malah bisa langsung fokus ke bakatnya juga ya ini? Jadi anak lebih terarah

    ReplyDelete
  5. MasyaALLAH kerennya Abang, udah punya cita2 kuliah di Jepang ya
    Semoga tercapai ya anak sholih.
    Btw, asyik nih Mak kalo pola belajarnya seperti Abang gini.

    cocok bgt dgn pandemic season gini kan.

    ReplyDelete
  6. Barakallah ya si abang dengan sekolah barunya. Sekolah bisa di mana aja ya Teh? Semoga abang bisa memanfaatkan ilmu yang diperoleh di SKB untuk kebermanfaatan banyak umat.

    ReplyDelete
  7. Jujur saya baru tau nih ada Sanggar Kegiatan Belajar begini. Jadi ini tuh di bawah kementerian Pendidikan juga atau gimana mbak? Kurikulum nya juga sama dengan sekolah formal ya?

    ReplyDelete
  8. Bagus banget konsep pembelajarannya
    melatih anak tak hanya belajar reguler tapi plus plus, dan suka dengan tambahan tahsin dan tahfiz, semoga sukses yaaa abang!

    ReplyDelete
  9. Saya salut dengan ortu yang bisa memutuskan HS untuk anak-anaknya..Anak saya juga gak diterima di negeri, tapi karena emaknya gak isa mendidik HS dan terlebih gak ada Sanggar Kegiatan Belajar dekat rumah ya terpaksa cari swasta. Padahal pengin ngerasain sekolah negeri pas SMA biar pergaulannya lebih luas gak kayak pas SD dan SMP di Islam Terpadu.

    Salut buat mamanya anak -anaknya pintar akademik dan ngajinya . Termasuk si kakak yang hafidzoh..

    ReplyDelete
  10. Abang ini kayak Amay, sulung saya. Walaupun mamanya galak, tapi dia lebih nyaman belajar sama saya. Makanya ketika teman-temannya rajin les di luar, matematika sih kebanyakan, dia ngga mau.

    Sekarang dia udah kelas 5. Ngga sampai 2 tahun lagi saya harus bergelut untuk cari SMP buat dia. Mau ke negeri kok KTP kami masih Purworejo, dan domisili kami saat ini masih di Karanganyar, jadi agak susah untuk masuk ke SMP Negeri di Solo. Mau ke swasta, uangnya itu... Hihi...

    Kemarin ngobrol-ngobrol sama suami sih, kalau HS gimana. Kayaknya sekarang makin banyak yang HS juga, yaa... Cuma ya itu, harus disiplin semua, ya, Mak..

    Btw, Mak Sri Bogornya di mana sih? Saya dulu tinggal di Cilebut dan ngajar di Ciomas. :D

    ReplyDelete
  11. Baru tahu sekarang SKB ada yang negeri. Metode pembelajaran memang berkembang pesat yaaa... Pilihannya makin banyak, bisa disesuaikan dengan karakter anak, kebutuhan dan jumlah uang di dompet. Makin seru sih. Semoga kebutuhan belajar anak-anak semakin mudah terpenuhi yaa...

    ReplyDelete
  12. Aminnnn semoga dimudahkan untuk mencapai cita-citanya ya.. sekolah macam ini sekarang jadi pilihan banget..Apalagi di daerah-daerah yang susah untuk dapet sekolah negeri... semangattt

    ReplyDelete
  13. Anak saya juga tahun ini gak keterima di sekolah negeri. Memang sempat kecewa. Tetapi, pendidikan harus tetap jalan. Tadinya mau memilih HS, tetapi karena ada satu hal jadinya ke swasta. Semoag sukses untuk Abang ya, Mbak. Aamiin Allahumma aamiin

    ReplyDelete
  14. Bagus juga ya konsep belajarnya. Saya salut dengan para orang tua yang memilih memberikan pendidikan HS untuk anak-anaknya. Saya sendiri masih banyak hal yang harus dipertimbangkan

    ReplyDelete
  15. berarti abang ini Homeschooling ya mbak, dengan ikut belajar di PKBM ya
    anakku kelas 3SD ini juga memilih homeschooling
    ikut pkbm juga

    ReplyDelete
  16. Nah ini juga pertanyaanku sejak lama mbak. Kalau memang sistem zonasi berdasarkan rumah, kenapa ga dievaluasi ketersediaan skolah vs jumlah anak didik nya? Apalagi kabarnya jumlah SMP dan SMA negeri lebih sedikit daripada jumlah SD negeri. Terus anak2 lainnya kemana dong lanjutin pendidikan nya? Untung ada SKB dan Ruangguru ya

    ReplyDelete
  17. Alhamdulillah ya Teh Abang bersemangat sekolahnya ditambah materi dari Ruang Guru insya Allah cukup untuk bekal belajarnya

    ReplyDelete
  18. Mbak luar biasa sekali, aku selalu takjub banget kalau ada orangtua yang anaknya HS. Ternyata belajarnya sama ya, masih online. Banyak materi tambahan juga diluar sekolah PKBM, belajar lewat ruangguru dan belajar diniyah, tahsin dll... semoga dilancarkan abang belajarnya ^^

    ReplyDelete
  19. Aku dulu, pernah terbesit homeschooling untuk anak pertamaku, mbak. Ternyataaa.. Aku tak sedisiplin dan sekuat itu untuk sekolahkan dia di rumah huhuhu..
    Semoga Abang jadi anak sholeh dan berguna ya..

    ReplyDelete
  20. Wah aku baru tahu dengan SKB ini. Kalo dilihat-lihat, sama aja ya dengan sekolah di sekolah biasa. Masih online dan banyak mengandalkan WA. Di mana pun sekolah, sama aja ya. Toh di masa online belum banyak bedanya. Semoga si abang konsisten ya.

    ReplyDelete
  21. alhamdulillah kalo si abang mau belajar di SKB, sama aja sih, pan ijazahnya nanti tteap bisa digunakan jika ingin kuliah, semoga ia gak minder ya Mak, jika dibandingkan dengan temannya yang lain. Tetap semangat belajar di masa pandemi ini. sama aja kok rasanya, hahaha

    ReplyDelete
  22. Semangat jadi guru bagi anak-anak ya Mbk, aku pun jadi kepo buat anakku kedua kelak. Dulu enggak percaya diri menjadikan anak HS aja. sejak pandemi lumayan banget kalau anak di rumah belajarnya, hemat biaya hahah

    ReplyDelete
  23. Wuah keren sekali, melihat kurikulum yang diterapkan di sanggar belajar ini apalagi kurukulum plusnya, ingin deh rasanya memasukkan anak-anak ke tempat belajar yang seperti ini.

    ReplyDelete
  24. Informasinya sangat berguna untuk ortu yang kebat-kebat perkara calon sekolah anak seperti saya. Iya, dua tahun lagi anak saya masuk SMP dan banyak faktor yang sedikit mempersulit karena kami hanya bisa mengandalkan jalur prestasi. Rumah jauh dari zona sekolah dan usia kurang, perpaduan yang mendebarkan bukan? Sejauh ini saya sudah ngonrol dengan anak, salah satu opsinya memang sekolah online lagi, cuma gak kepikiran beajar di PKBM. Next bisa jadi alternatif selain daftar di SMM.

    ReplyDelete

Post a Comment

iframe komentar