Habibie Sang Inspirator yang Merdeka

Sudah sejak lama saya mengidamkan ingin bertemu dengan inspirator bangsa yang satu ini. Bahkan sejak saya kecil. Seorang negarawan yang sederhana, cerdas dan memiliki kepribadian yang unik. Beliau menjadi buah bibir di antara kami – anak kecil itu di masa tahun 80an-  karena kepakarannya di bidang teknologi dirgantara. Membuat pesawat terbang. Ya, benar! Beliau adalah Presiden RI ke-3, Bapak BJ Habibie.

Dulu, seingat saya, anak-anak kecil seusia saya, jika ditanya, kelak kalau sudah besar mau jadi apa? Pasti jawabannya adalah, “INGIN JADI PAK HABIBIE!”

Sesi Pertama Bincang uku Habibie The Series


Ya … kenangan masa kecil itu, kemudian membawa saya menuju sebuah tempat di Jakarta, pada suatu Ahad, 7 Agustus 2016 yang lalu. Saya mengikuti sebuah acara Bincang Buku Habibie The Series dan Diskusi Publik, yang diselenggarakan di Museum Bank Mandiri, Jakarta. Tema besar diskusi public ini adalah “Menggali Inspirasi dari 80 Tahun Habibie”.

Dari tema besar tersebut diskusi publik ini kemudian dibagi ke dalam dua sesi. Sesi pertama mengangkat tema Kunci Sukses Eyang Bangsa. “Mengulik Kepribadian Eyang Habibie Dalam Meraih Sukses”. Dan sesi kedua mengangkat tema “Kepemimpinan BJ Habibie dalam Pengembangan SDM Indonesia.

Hadir sebagai pembicara di dalam diskusi ini Bapak Andi  M. Makka (Tim Habibie Center). Pak Andi Makka ini adalah orang dekat Eyang Habibie, menurut pengakuannya, setiap 10 tahun Eyang Habibie ulang tahun, beliau menghadiahkan sebuah buku yang berisi tentang kehidupan Eyang Habibie. Nah tahun ini, beliau terlupa kalau usia Eyang Habibie sudah 80 tahun, akhirnya dua bulan sebelum hari ulang tahun Eyang Habibie beliau menulis dibantu oleh tim penulis. Pak Andi Makka ini juga  mantan Pemred Harian Republika.

Bapak Sutanto Sastrareja, beliau menjadi Tim penulis buku Habibie The series dan dosen UNS Solo. Dan beberapa tokoh dan anak-anak intelektual Eyang Habibie, seperti Pak Nurmahmudi Ismail (Mantan Menteri Kehutanan dan mantan walikota Depok), Pak Bambang Setiadi, Pak Wendi.

Saya memang berminat ingin mengulik lebih dalam kepribadian yang unik Eyang Habibie. Alhamdulillah, di dalam diskusi ini, ada sesi bedah buku Habibie The Series yang isinya pembentangan utuh Eyang  Habibie, baik itu sebagai pribadi, sebagai kepala keluarga, sebagai suami, sebagai ayah, sebagai anggota masyarakat, sebagai teknokrat, sebagai atasan dan sebagai presiden.

Habibie The Series

Buku Habibie The Series ini terdiri dari 8 buku yang ditulis oleh Pak Andi Makka, Tim penulis dari penerbit Tiga Serangkai dan kumpulan surat dari masyarakat yang mencintai beliau.

Pada sesi pertama, Pak Andi memaparkan tentang isi dari masing-masing buku tersebut.

Buku kesatu: Jangan Pernah Berhenti (Jadi) Habibie. 

Buku ini ditulis oleh Bapak Sutanto Sastradireja. Berisi tentang pencapaian-pencapaian yang telah dilakukan oleh Eyang Habibie dalam berkhidmat kepada bangsa Indonesia, baik itu dalam masa kepeimpinannya yang singkat dan kejeniusannya di dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Buku ini diharapkan memberi inspirasi kepada para penerus bangsa khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya, merasa bangga memiliki asset bangsa seperti Eyang Habibie.

Buku kedua: Habibie Jejak Sang Penanda Kebangkitan.

Buku kedua ini berisi testimoni dari tokoh-tokoh yang dekat dengan Eyang Habibie.  Bagaimana rekam jejak seorang Habibie menjadi penanda kebangkitan bangsa Indonesia.

Diceritakan saat Eyang Habibie diminta oleh Presiden Indonesia kedua, Bapak H. Soeharto untuk mengabdi kepada negara. Padahal saat itu Eyang Habibie sudah bekerja di Messerschmintt Bolkow Blohn atau MBB di Hamburg dan menjadi vice president di MBB.

Dengan jabatan yang tinggi dan kecerdasan yang luar biasa, pemerintah Jerman pernah meminta beliau untuk menjadi warganegara Jerman, tetapi permintaan itu ditolak Eyang Habibie.

“Sekalipun menjadi warga negara Jerman, kalau suatu saat tanah air memanggil, maka paspor Jerman akan saya robek dan saya akan kembali ke tanah air,” demikian kutipan kata-kata Eyang Habibie di dalam buku “Habibie dan Ainun”.

Dan terbukti, hingga hari ini, Eyang Habibie lebih memilih setia menjadi Warga Negara Indonesia, meski pada tahun 2004 saat beliau menjabat sebagai Presiden RI ke-3, laporan pertanggungjawaban beliau selaku Presiden ditolak, beliau tidak mengganti kewarganegaraannya. Beliau tinggal di Jerman dengan tetap menjadi WNI.

Sebuah keikhlasan yang sungguh luar biasa. Setelah didzolimi, tetap mencintai tanah tumpah darahnya. Dan saya semakin kagum, karena beliau benar-benar  inspirator yang merdeka, tidak dalam pengaruh atau kekuasaan orang lain/ negara lain terhadap dirinya. 

Buku ketiga: Habibie Karya Nyata Untuk Indonesia

Buku series ketiga ini berisi tentang prestasi-prestasi Eyang Habibie baik itu sebagai pakar aeronautika terkemuka dan juga dalam bidang politik di Indonesia. Di buku ini juga diceritakan pesawat buatannya yang terbang untuk pertama kali.

Di dalam buku ini juga memuat visi, misi, pandangan dan gagasan-gagasan Eyang Habibie dalam memajukan Indonesia.

Buku keempat: Habibie Totalitas Sang Teknosof

Seri ini ditulis oleh Pak Andi M. Makka. Berisi tentang hal-hal terkini Eyang Habibie. Bahwa pernah pada tahun 1990, orang-orang bimbang, akan dimasukan ke ranah mana kepakaran Eyang Habibie, apakah ranah ekonom atau teknokrat. Akhirnya terjawablah bahwa sesungguhnya Eyang Habibie adalah seorang teknosof, yaitu seseorang yang mendalami filsafat teknologi.

Eyang BJ Habibie mendapat gelar Doktor Honoris Causa dalam Ilmu Filsafat dan Teknologi dari Universitas Indonesia pada tahun 2010.

Buku kelima: Habibie Musik, Film dan Kegemaran

Eyang Habibie sebagai pribadi yang unik juga memiliki kegemaran yang hamper sama dengan masyarakat pada umumnya. Beliau suka main music, mendengarkan music dan menonton film.

Saat ibu Ainun wafat, kegemaran yang selalu dilakukan berdua bersama dengan ibu Ainun terpaksa harus dilakukan sendiri. Begitu dalam rasa cintanya kepada  ibu Ainun yang telah wafat, Eyang Habibie pun meminta kepada  Ananda Sukarlan – seorang pianis kaliber Internasional- untuk menciptakan sebuah karya music untuk mengenang Ibu AInun Habibie.

Karya music mengenang ibu Ainun Habibie kemudian masuk di dalam deretan Rapsodia Nusantara dan dimainkan untuk pertama kalinya pada tanggal 11 Agustus 2014 bertepatan dengan hari lahir ibu Ainun Habibie. Rapsodia Nusantara ini adalah proyek music pribadi Ananda Sukarlan yang dikemas dengan music-music tradisional Indonesia yang telah dilaunching pada bulan Desember2014 .

Buku keenam; Habibie Makna Dibalik Lensa

Salah satu hobi dari Eyang Habibie adalah mengabadikan apa yang terlihat di depan matanya. Beliau hobi fotografi. Pak Andi Makka bercerita, bahwa Eyang Habibie pernah memotret awan ketika berada di dalam pesawat. Dan menurut Eyang, awan itu akan sangat indah ketika pertama kali dilihat.

Oleh itulah banyak peristiwa dan keindahan alam yang tertangkap oleh lensa kameranya dan dipamerkan di acara memperingati 80 tahun usia Eyang Habibie.

Buku ketujuh: Ainun Mata Cinta Habibie

Buku ini berisi tentang bagaimana mengispirasinya ibu Ainun Habibie. Hingga meski telah tiada, Eyang Habibie begitu terkesan kepadanya. Sampai Andi Sukarlan menggambarkan, bahwa romantisme cinta Eyang Habibie kepada Ibu Ainun mengalahkan kisah cinta Romeo dan Juliet. Saking indahnya.

Buku ini juga berkisah tentang kegemaran ibu AInun menonton sinetron Cinta Fitri. Hingga produser film tivi itu mengirimkan setiap episode baru kepada ibu AInun demi mengetahui sinetron itu digemari oleh Ibu Ainun.

Buku kedelapan: Habibie dalam Komik, Puisi dan Surat

Buku ini berisi apresiasi masyarakat kepada Eyang Habibie. Wujud dari masyarakat yang mencintai dan mengagumi  Eyang Habibie sebagai sosok inspirator bangsa  dengan jujur dan tulus.

Setelah Pak Andi Makka dan pak Sutanto memaparkan tentang isi dari 8 series buku Habibie ini, Mas Boim Lebon sebagai moderator mempersilakan peserta untuk bertanya. Setelah sesi Tanya jawab, acara ditutup untuk sementara untuk melakukan shalat dzuhur dan istirahat makan siang bersama.

Saya shalat di masjid yang terletak di dalam Museum Bank Indonesia. Masjidnya luas dan bersih terawat. Dihiasi dengan tanaman merambat di sekitar tembok di halaman museum dengan bunga yang indah berwarna-warni. Setelah shalat tak lupa saya mengabadikan momen di museum Bank Indonesia itu dengan berfoto bersama teman-teman. Bangunan kuno terawat itu sayang jika dilewati tanpa sebuah kenangan.

Setelah saya shalat, saya kembali ke gedung Museum Bank Mandiri. Di sana mbak Gesang – panitia dari FLP- tampak sibuk mengatur snack yang terdiri dari pisang rebus, ubi rebus, kacang rebus dan kerupuk gadung. Sementara makan siang telah disediakan dalam wadah steroform. Menu makan pada siang itu, nasi putih dengan lauk ayam bakar komplit dengan sambal yang enak banget. Dan makan siang serta snack siang itu semua mbak Gesang yang membuatnya sendiri. Wihhh … Hebat!

Pukul 2 siang, kembali acara dibuka. Sesi dua pun dimulai kembali.

Sesi kedua: Kesaksian dari anak-anak ideologis


Sesi kedua ini menampilkan anak-anak ideologis dari Eyang Habibie. Ada empat pembicara di depan, yaitu Pak Andi M. Makka, Pak Wendi, Pak Bambang Setiadi dan Pak Nurmahmudi Ismail.

Menarik menyimak cerita yang disampaikan oleh Pak Nurmahmudi Ismail tentang gaya kepemimpinan Eyang Habibie. Pak Nur Mahmudi adalah salah seorang anak ideologisnya Eyang Habibie. Bekerja di BPPT, kemudian menjadi Menteri Kehutanan dan Walikota Depok.

Seperti yang kita ketahui bahwa Presiden Ri ke-3 ini adalah pendiri dan kepala BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) periode 1974-1998. Pada masa kepemimpinan beliau, untuk pertama kalinya dikenal jam kerja mulai pukul 8 pagi hingga 5 petang dengan masa kerja lima hari, yaitu hari Senin hingga hari Jumat. Hari Sabtu dan Minggu libur.

Beliaulah yang menggagas untuk pertama kalinya pola kerja kantor perkotaan. Sehingga akhirnya jam kerja kantor yang digagasnya tersebut menasional.

Dalam sistem kepegawaian, Eyang Habibie  lebih mementingkan atau mengutamakan kinerja bukan absensi.

Yang lebih mengharukan seperti yang dikisahkan oleh Pak Nur, ketika pada suatu ketika Pak Nur dan Eyang Habibie bersebrangan partai politik (sebab pak Nur Mahmudi pada tahun 1999 menjadi Presiden Partai Keadilan), Eyang Habibie tetap bersikap baik dan berlaku seperti biasanya, malah mendukung setiap gerak langkah pak Nur Mahmudi dalam menuju perbaikan bangsa dan negara.

Lain kisah Pak Nur Mahmudi, lain pula kisah kesaksian dari Pak Bambang Setiadi.

Pak Bambang Setiadi menceritakan bahwa Eyang Habibie adalah seorang yang religious. Ketika beliau sedang berkunjung ke sebuah daerah, maka Eyang berpesan pada pak Bambang untuk mengagendakannya shalat di sebuah desa. Ini sesuai dengan apa yang sering beliau nasehatkan kepada anak-anak ideologisnya; “Bekerja harus, berdoa juga harus”.

Itulah hal pertama yang menjadi inspirasi pak Bambang dalam menapaki kesuksesan hidupnya. Kemudian di sesi kedua ini, Pak Bambang mengemukakan beberapa hal atau nasehat yang menjadikan dia selalu ingat akan pesan-pesan Eyang Habibie kepadanya.

-          Bekerja harus, berdoa juga harus.
-          Tanggungjawab professional, ilmuwan bukan pekerjaan tetapi sikap.
-          Teknokrat harus mengayomi.
-          Kerjsama internasional itu perlu.
-          Focus – lakukan – selesai – lapor.
-          Penghargaan itu akibat kerja keras.
-          Sederhanakan model masalahnya.
-          Perhatikan hubungan SDM – riset – industry.
-          Jangan berhenti berfikir, meskipun Anda pensiun.

Banyak hikmah yang bisa dipetik dari pemaparan dari kesaksian anak-anak ideologis Eyang Habibie. Sayang waktu juga yang akhirnya membatasi acara diskusi public dalam rangka ulang tahun Eyang Habibie ke 80 tahun.

Acara Bincang Buku Habibie The Series dan Diskusi Publik, “Menggali Inspirasi dari 80 Tahun Habibie” adalah salah satu rangkaian acara yang digelar oleh Friends of Mandiri Museum bersama dengan Pameran Foto #Habibie80 yang berlangsung dari tanggal 24 Juli hingga 21 Agustus di Museum Mandiri, Kota Tua, Jakarta Barat.

Pelaksana acara ini adalah Forum Lingkar Pena yang tergabung dalam Friend of Mandiri Museum. Bekerjasama dengan Habibie centre, Penerbit Tiga Serangkai, Museum Mandiri, Bank Mandiri dan Lembaga Kursus Bahasa Asing Euro Management.

Dan syukur alhamdulillah, jauh-jauh dari Bogor untuk mengikuti diskusi public ini, meski tidak bisa berfoto bersama dengan Eyang Habibie, cukup terhibur dengan  mendapatkan  voucher mengikuti kursus Bahasa asing dari euro Management.

Nah, bagi Anda yang belum sempat merapat ke Museum Mandiri, masih ada waktu hingga tanggal 21 Agustus nanti. Jangan sampai ketinggalan lagi ya. Banyak hal yang bisa Anda dapatkan di sana loh. Buat anak-anak juga ada lomba lomba yang menarik dengan hadiah menarik menanti. 




Main Layangan, Asyik!

Berbicara tentang permainan masa kecil, memang selalunya mengasyikan. Selain membuat saya menjadi asyik mengobrak abrik laci-laci memori, hal ini juga membuat perasaan saya bahagia. Jadi senyum-senyum sendiri mengingat betapa "bandel"nya saya dulu waktu masih kecil. 

Hm... sepertinya semua permainan tradisional sudah pernah saya mainkan. Sebut saja main karet, main layangan, main dampu, main gala asin, main cingboy, main petak umpet sampe ngumpet di pohon atau kandang kambing juga pernah, main beklen, main congklak, main ular naga, main ular tangga, main pasar-pasaran, sampai menggiring ban bekas pake tangan semuanya pernah.

Main layangan adalah salah satu permainan  favourite saya. Meski gagal terus menerbangkan layangan, tapi saya suka sekali dengan permainan ini. Apalagi kalau ada layangan putus, uh seneng banget ngejar-ngejarnya heuheu

Dulu, sepertinya semua permainan bisa dimainkan oleh anak perempuan dan anak laki-laki. Tidak terbatas gender. Jadi kita mainnya bareng-bareng gitu. Pokoknya seneng banget deh. Ga ada yang namanya bully si ini atau si itu. Semua mau main bareng. Dan hampir semua permainan sudah saya perkenalkan kepada anak-anak saya. 

Nah, tahun lalu, saya dan anak anak berkesempatan mudik ke Bogor, anak lakilaki saya merengek minta dibelikan layangan. Pasalnya dia melihat anak tetangga saya bermain layangan. Saya pun bertanya pada anak itu, membeli layangan di mana? Anak itu menjawab, layangan itu enggak beli tetapi dari hasil ngejar layangan.

Ya ampun, ternyata susah juga beli layangan pada zaman sekarang ya. Kalau dulu, tukang layangan itu ada di mana-mana. Semua orang menjual layang-layang. Apakah karena sekarang layang-layang kurang peminatnya? wallahu'alam.

Kata anak itu, ada penjual layangan tapi jauh. Saya berusaha menanyakan, jauhnya itu di mana? Dia malah enggak tau harus menerangkannya bagaimana. Ya sudahlah. Ayahnya sudah mencoba membuatkan dari kertas yang ada. Tapi sayang, layangan itu tidak bisa terbang. Mungkin karena kurang ringan atau bagaimana.

Alhamdulillah, setelah jalan-jalan ke Lampung, justru di sana saya menemukan penjual layangan. Tapi bukan layangan kertas. Layangan hias yang terbuat dari kain terpal. Betapa anak saya amat senang karenanya. Ia bisa bermain layangan.


layang-layang kelelawar.docpri


Si Abang dan adiknya bermain layng-layang bersama di rumah Aki. Senangnya amat sangat senang. Ayahnya mengajarkan mereka bagaimana menerbangkan layang-layang itu. Dalam permainan layang-layang mereka belajar tentang kerjasama, belajar tentang artinya menahan, menarik dan mengulur, sebuah proses yang perlu kesabaran tinggi agar tercapai tujuan, layang-layang terbang tinggi dan stabil di angkasa. 


Abang dan adik bermain layangan docpri

Setelah bermain layang-layang, si adik dengan bahagianya membuat sebuah gambar, tentang asyiknya bermain layang-layang di tanah lapang. Ini adalah pengalaman berharga mereka. Saat kembali ke Malaysia, layang-layang mereka pun dibawa serta. 

Senangnya main layang-layang dalam gambar. docpri

Karena layang-layang bahannya dari kain, layang-layang ini awet. Bisa dipakai sampai bila-bila masa :-) harganya pun cukup terjangkau, satu layang-layang IDR25000. Waktu itu saya beli tiga warna. Hitam. kuning dan merah. 


Layangan di Pantai Desaru. docpri

Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa




 


Hobi Kamu Apa?

Hobi kamu apa?

Dulu, waktu saya kecil, saat ditanya tentang hobi saya bingung banget. Yah, gimana enggak bingung. Hobi saya banyak! Hihihi ... Nih hobi saya waktu kecil, hobi makan es krim, hobi makan jambu di pohonnya, hobi nangkep belalang, hobi baca komik dan buku cerita, hobi nyanyi, hobi dengerin musik, hobi jalan (mirip-mirip si bolang deh) dan lain-lain. Tuh kan ...banyak banget kan? Kadang saya juga ngikutin trend yang ada saat itu. Temen ada yang jago buat setrimin, ikut-ikutan hobi bikin setrimin. Temen hobi nonton bola, ikut. Temen hobi berenang, ikut. Padahal mah enggak bisa berenang. Suka main airnya doang bahahaha. 

Nah tahun 80-90an lagi boomingnya tuh pada suka ngumpulin perangko, saya juga ikutan hehhe meskipun ga begitu mendalami banget. Soalnya hobi ini lumayan mihil. Kadang suka ada temen yang baik hati, ngasih perangko yang dia punya dobel ke saya. Tapi gak begitu telaten juga sih. Setelah itu gak diurus lagi. Dan salah satu hobi saya yang paling saya suka adalah menghayal di atas pohon jambu. Sambil bawa buku-buku cerita, sambil makan jambu, saya habiskan hari dengan menghayal di sana. Ih ... hobinya ga keren amat sih!

Nah, semakin saya gede, maksudnya baru-baru ini, saya baru engeh, hobi itu ternyata enggak sesederhana itu. Saya baca di sebuah artikel, hobi ternyata menentukan juga lho diterima atau tidaknya seseorang di dunia kerja. Sepertinya sepele ya? ternyata tidak juga. Dari hobi, seseorang bisa diketahui etos kerjanya. Kemandiriannya, kesungguhannya, kerjasamanya dll. Wih .... 

Dan baru saja saya ketahui bahwa hobi itu adalah sebuah ketertarikan, interes, minat atau bahasa kerennya mah "passion" yang membuat seseorang itu ketagihan, kecanduan dan akhirnya jadi expert

Alhamdulillah, ada salah satu hobi masa kecil saya yang akhirnya membuat saya beneran bisa mewujud menjadi sebuah buku. Ada yang bisa menjawab? Yah ... benar! Hobi menghayal! Hihihi
Anda berhak mendapat senyuman dari saya sepuluh kali (ikon smile 10x) 

Salah satu yang suka saya pikirkan di atas pohon jambu itu adalah benarkah di dunia ini ada "kalong wewe" yaitu makhluk yang suka bawa kabur anak-anak jelang maghrib? Di dalam hayalan itu, saya bisa menumpas si makhluk itu dengan penuh keberanian. Padahal mah jelang maghrib pasti takut banget hihihi

Akhirnya, dendam menumpas makhluk jelang maghrib itu aku tuntaskan dalam bentuk sebuah novel. Misteri Chiroptera Penculik. Novel ini bercerita tentang seorang anak kelas 5 SD, Sarah namanya. Ia bermaksud mengungkap misteri Chiroptera atau kalong yang menjadi TEROR buat anak-anak di kampung sebelah komplek rumahnya. Ketika mengungkap itu, ternyata Sarah justru terlibat dalam petualangan mengungkap children traficking yang dilakukan oleh seorang bapak yang berbudi tinggi dan berjasa bagi pembangunan kampung.

Ini dia penampakan novel itu. 

Misteri Chiroptera Penculik


Cerita dalam novel ini 10% kisah nyata saya waktu kecil dan 90%nya adalah hasil rekaan saya. Alhamdulillah, ternyata tidak ada yang sia-sia dengan hobi menghayal hehhe ada gunanya juga. Eit .. tapi menghayal enggak sekadar menghayal ya. Hobi yang satu ini juga dipengaruhi oleh buku-buku bacaan yang saya baca di masa itu. 

Nah itulah, sekarang saya juga hati-hati memberi buku bacaan kepada anak-anak saya, biasanya saya sortir dulu, takut ada yang aneh-aneh. Zaman sekarang kan beda ya dengan zaman dulu. Buku komik aja sekarang kudu dibaca dulu sama orang dewasa, takut kecolongan. Dulu saya suka baca komik grafis Tintin, Nina, Arad dan Maya,  Asterix, Smurf, majalah bobo dan majalah kuncung, Lima sekawan, trio detektif , Noni, dan wiro sableng. Suka baca juga suplemennya koran pos kota. Baca Ali oncom hihihi dan isi TTSnya, Pernah juga kirim TTS ngarep dapet duit bahaha

Okeh, saya mau bercerita sedikit tentang novel yang saya tulis ini. Eh sebenernya sih saya sudah menuliskannya panjang lebar proses kreatif menulis novel perdana ini di blog kumpulan porto folio saya.  Singkatnya aja ya, saya ingin berpesan kepada anak-anak yang membaca novel ini, bahwa tidak ada yang perlu ditakuti di dunia ini, karena semua makhluk adalah ciptaan Allah. Semua makhluk tunduk dan taat kepada Allah. Maka mintalah pertolongan hanya kepada Allah, maka hidup kita akan tenang. 

Novel ini tidak hanya bercerita tentang kengerian anak-anak dibawa oleh hantu kelelawar, tapi juga kengerian jauh dari orang tua karena children traficking. Selain kengerian, di dalam novel ini juga anak-anak diajak belajar berbahasa Malaysia, belajar tentang anatomi kelelawar dan belajar tentang kerjasama dan kesetiakawanan.

Ini dia daftar isinya

Novel dengan tebal 170 halaman ini sudah dibaca oleh anak saya berkali-kali, karena dengan sekali duduk novel ini sudah selesai dibacanya. Katanya, Ummi buat lagi dong lanjutannya. 

Novel ini juga mendapat apresiasi positif dari editor sebuah penerbitan besar di Malaysia, kata beliau, untuk ukuran novel perdana, novel Misteri Chiroptera Penculik ini adalah novel yang best dan grand! *cie ..cie... ada yang GR hihihi ..

Ini dia testimoni teman-teman yang sudah membaca novel ini:

Dengan cerdik, Penulis telah memasukkan beberapa ilmu baru kepada anak-anak, dengan menulis tentang chiroptera atau kelelawar. Penulis juga memberi kesadaran pada anak-anak tentang istilah mitos dan hantu, yang menjadi momok buat anak-anak usia beranjak remaja (Tanti Amelia)

Walaupun cerita ini bergenre petualangan misteri, tapi begitu banyak ilmu dan pengalaman baru yang kami dapat. Mengenal lebih dekat dengan Chiroptera dan beringin dengan akar gantungnya. Petualangan yang menyenangkan sekaligus bikin deg-degan. Semoga akan ada sekuel yang lebih seru, menantang dan penuh kejutan. (Idhayu Kusuma)

Kisah misteri yang sekaligus menegangkan ini menjadi cerita menarik untuk anak-anak. Hanya saja bagi pembaca remaja atau dewasa mungkin akan menemukan beberapa lubang yang harus ditutup. Terdapat beberapa logika seeting, alur dan percakapan yang harus diperdalam eksplorasinya. Seperti tokoh Sarah misalnya, dia baru kelas 5 SD, walau ikut latihan bela diri, rasanya akan tetap susah diterima 'seberani' dalam kisah ini. (Sinyo Egie)

Nah bagi teman-teman yang berminat ingin memiliki novel ini bisa memesan langsung kepada saya. InsyaAllah, ada potongan harga untuk teman-teman baikku. 

Harga novel Rp30.000 sahaja ^_^ 

Bolu Kukus Cokelat TiTOS

Beberapa waktu lalu, saya dan beberapa ibu-ibu geng pengajian di dekat rumah berguru membuat bolu kukus ke tetangga saya yang cantik dan baik hati, Bu Ary Nur Azizah. Bu Ary ini selain berbakat menulis juga pintar membuat segala rupa kue jajanan pasar. Sebut saja risoles, kue sus, lemper, bolu kukus, brownies dan lain-lain. Risoles dan kawan-kawannya itu baru ditulis aja bikin saya ngeces, apalagi kalau beneran disuguhin ... enyakk banget! Bikin kita-kita ketagihan pokoknya mah!

Nah, setelah sukses belajar bolu kukus dari bu Ary, saya pun mempraktekannya di rumah. Alhamdulillah cara membuatnya mudah dan gak ribeut. Anak-anak juga bolak-balik bikin sendiri ga kesulitan.

ini hasil praktek pertama, belum mekar semua 

Hasil praktek kedua kali, sudah mekar sempurna :-)


Nah, belakangan saya kepikiran, kalau bikin bolkus enggak pake telur, ga pake ovalet dan gak pake sprite bisa gak ya? akhirnya saya browsinglah beberapa resep yang banyak bertebaran di dunia maya. Alhamdulillah ada resep yang sesuai dengan kebutuhan saya. Tapi enggak mudah juga menerjemahkan resepnya itu. ga jelas gitu lho. Yah, daripada mikir kelamaan, saya coba modifikasi saja sesuai dengan pengalaman saya membuat bolkus selama ini.

Eksperimen pertama ini lumayan bikin deg-degan juga, karena kuatir enggak jadi juga. Saya coba positif thinking, kalau enggak jadi juga, misalnya enggak seperti bolu kukus, ya minimal ada kue buat ganjel perut :-) Bismillah ...

Saya dan anak-anak pun berjibaku di dapur. Ada yang nuang terigu, soda kue, susu, gula, minyak dan air. Saya bagian yang ngaduk, karena ini mungkin titik kritisnya. Tak puas dengan adukan dengan tangan, saya mixer selama 5 menit agar semua bahan tercampur dengan rata.

Saat mempersiapkan semua bahan hingga menjadi cairan adonan, kita panaskan dandang kukusan hingga saat kita mengukus, kukusan sudah siap untuk mengukus kue. Masukan adonan dalam cetakan bolkus  yang dilapisi kertas kue. Kukus selama 15 menit. Mungkin saat mengukus ketiga kali (saya cuman punya cetakan 11 biji, jadi 3 kali mengukus), kain untuk menutupi tutup pengukus basah, ganti kainnya agar air tidak menetes membasahi kue.

Saat mengangkat kue pun tiba. Alhamdulillah, ternyata berhasil!  Ini dia penampakannya yang mekar sempurna meski enggak pake sprite dan ovalet. Memang enggak begitu empuk sih, karena kan enggak pake telur dan ovalet. Tapi enggak keras kok. Pas kalau menurut saya sih. Anak saya semua suka bolu kukus, apalagi bolkus cokelat. Alhamdulillah, laris manis :-)

Hasil praktek bolkus tanpa ovalet, telur dan sprite. Mekar!



Agar tidak penasaran, ini saya share sekalian resepnya ya. Bolu Kukus Cokelat TiTOS (Tanpa telur, tanpa ovalet dan  tanpa sprite). Keren ya namanya heuheu :-)

Bolu Kukus Cokelat TiTOS

Bahan:
2 gelas tepung terigu
1 gelas air hangat
200 gr  susu kental manis cokelat
1 gelas gula pasir
8 sendok makan minyak sayur
2 sdt soda kue

Cara Membuatnya:
1. Panaskan dandang untuk mengukus dengan air yang cukup.
2. Campurkan tepung terigu, gula, susu kental manis, soda kue, air dan minyak dalam wadah.
3. Mixer hingga tercampur dengan rata kurang lebih 5 menit.
4. Masukan adonan dalam plastik dan ikat. Gunting sedikit ujung plastik sehingga menjadi corong kecil.
5. Masukan adonan dalam cetakan bolu kukus hingga hampir penuh.
6. Kukus lebih kurang 15 menit.

#untuk 26 buah 

Selamat mencoba!



[Resensi] Sayap-sayap Sakinah: Cintaku, Cintamu karena Cinta-Nya

sayap-sayap sakinah
Ikhtisar Buku:

Sayap-sayap Sakinah: Cintaku, Cintamu karena Cinta-Nya. Buku ini merupakan serial buku non fiksi yang berisi tentang segala hal yang harus diketahui oleh para calon pengantin yang hendak menyempurnakan setengah diennya. Para istri dan suami yang menginginkan pernikahan yang sakinah, mawadah dan penuh rahmah. Para pencari cinta yang menginginkan cinta sejati.

Jodoh dan perjodohan merupakan misteri Allah. Buku ini hadir untuk memenuhi pengetahuan calon pengantin  melaksanakan pernikahan dari mulai tahap persiapan, ketika menikah dan pasca menikah. Ibaratnya sebuah jalinan cinta yang sakral, maka cinta yang terikat dengan mitsaqun ghaliza ini mestilah tak luput dari berbagai ujian.

Buku ini memberikan tuntunan bagi calon pengantin maupun para pengantin yang sudah melayari bahtera kehidupan menuju cinta yang membahagiakan.

Resensi:

Sayap-sayap Sakinah: Cintaku, Cintamu karena Cinta-Nya. Sesorean tadi saya berusaha menghabiskan buku ini. Tak sengaja anak laki-laki saya membaca judulnya, "Sayap-sayap Sakinah!" ejanya. Dia memang selalu peduli dengan bacaan yang sedang saya baca. Dia pun bertanya:

"Ummi, sayap-sayap itu apa?" tanyanya. Saya melirik padanya. Dia sedang membolak-balik buku bersampul biru itu.
"Sayap itu kepak, yang buat burung bisa terbang," jelas saya pendek.
"Kalau sayap-sayap?" tanyanya lagi.
"Sayap-sayap, kan sayapnya ada dua, jadi disebut dua-duanya," jawab saya sekenanya.
Dia dan adiknya pun memeragakan menjadi burung.

Saya termenung melihat tingkah mereka. Mereka mengepak-kepakan kedua tangannya, seolah-olah burung yang sedang terbang bebas. Sayap yang kokoh. membawa pemilik sayap terbang dengan gesit, sehat, ceria dan bebas membawa kebahagiaan. Bagaimana jika sayap itu patah?
Sayap-sayap itu tentu ada penciptanya. Sang Maha Pencipta. Dengan cinta-Nya.

Sayap-sayap Sakinah, begitu menggelitik hati. Buku ini memang banyak membuat saya merenung. Hati saya bergetar saat membaca tentang Oh, mitsaaqon Gholiidzo ( halaman 143) atau tersenyum ketika teringat proses taaruf saya dengan suami. Begitu juga ketika membaca tulisan mbak Ria tentang walimah yang sederhana (halaman 149) dan disambung dengan tulisannya mbak Afra yang membahas tentang malam pertama ( halaman 155). Bahasan-bahasan yang membuat ingatan saya mengembara ke 15 tahun lalu saat seorang pria tak dikenal datang kepada ayah saya meminta saya menjadi pendampingnya dunia akhirat.

Di dalam buku ini saya temukan banyak mutiara hikmah yang meski saya sesali, kenapa baru sekarang saya membacanya, saya yakin buku ini akan berguna bagi saya dimasa depan. Masa di mana bahtera ini tidak akan pernah mulus berlayar, kecuali dengan kesadaran, bahwa kecintaan saya kepada suami saya atau sebaliknya tentulah atas dasar cinta kepada Allah. Begitu juga ketika datang badai yang menerpa keluarga kecil saya, bahwa kebencian tidak akan menyelesaikan masalah karena keluarga kecil saya kini didirikan atas dasar cinta kepada Allah. Bukan kepada yang lainnya.

Sayap-sayap Sakinah banyak mengajarkan saya untuk memberikan terbaik kepada keluarga saya, baik itu kepada suami, kepada anak dan kepada kedua orang tua, terutama mertua. Dengan bahasa yang cair mengalir hingga alirannya masuk ke dasar hati saya yang dalam. Saya memang termasuk orang yang melankolis, mudah sekali terbawa perasaan, tapi saya bersyukur dengan demikian saya mudah dipengaruhi oleh kebaikan.

Saya bersyukur bisa membaca buku duet keren ini antara mbak Afifah Afra dan mbak Riawati, meski saya sudah mengarungi bahtera pernikahan selama 15 tahun, buku ini memberikan angin segar dan ide-ide cemerlang dalam mempertahankan pernikahan yang harmonis dan bahagia. Seperti judul buku itu, sayap-sayap sakinah. Full ketenangan,  full cinta dan full kasih sayang.

Saya kira tidak ada keluarga yang tidak pernah dilanda masalah, maka kesadaran bahawa Cintaku, Cintamu karena ada kekuatan CintaNya harus terus ditumbuhkan.

Buku ini buku yang romantis yang pernah saya baca. Penuh dengan puisi-puisi yang membuat saya mabuk karena cinta. Yah, menghibur diri dengan puisi cinta membuat saya semakin percaya diri, bahwa  cinta membuat kita kuat meski topan badai menghantam hebat.

Kekurangan buku ini, hanya satu, prolog yang bertele-tele, itu saja sih, selebihnya saya suka penuturan kedua penulis yang smart dan cemerlang. Syabas!

Spesifikasi buku:
Judul: Sayap-sayap Sakinah
Penulis: Riawani Elyta dan Afifah Afra
Penerbit: Indiva
Tebal: 239 halaman

Life with XL: Bersamamu Kini dan Nanti

Saya mengenal XL setelah  menikah pada bulan Januari tahun 2001. Pada tahun itu, dua minggu setelah menikah, saya mengikuti sebuah aksi demontrasi mahasiswa. Saat itu saya pergi tidak ditemani suami, karena beliau  harus mengajar.

Saya pergi bersama dengan teman-teman. Selain membawa bekal makanan dan minuman dari rumah, suami juga membekali saya sebuah handphone  dengan antena di kepala sebelah kirinya. Waktu itu handphone belum sebagus sekarang. Fiturnya pun tidak sebanyak sekarang. Dulu bisa menelpon dan menerima telepon serta sms di perjalanan saja sudah cukup senang.

Sehari sebelumnya suami telah mengisi pulsa agar saya bisa menghubunginya di kantor. Dia berlangganan kartu perdana ProXL. Selain biayanya murah setiap kali dipakai untuk melakukan percakapan lewat telpon, juga bisa saling berbagi pulsa,

Tak lupa saya pun mencatat nomor telepon kantor suami agar bisa dihubungi. Saat itu Jakarta mencekam. Mahasiswa dan masyarakat berkumpul di sekitar istana negara dan HI.

Pulang dari demo, sudah hampir maghrib. Saya janjian dengan suami di sudut stasiun Bogor. Karena saya kelaparan, saya  memutuskan membeli donat di kedai yang berada di dalam stasiun. Saya makan sendirian sambil memandangi pintu masuk ke stasiun Bogor.

Entah sudah berapa lama saya duduk di sana. Seorang pemuda menghampiri saya dengan wajah cemas. Ternyata suami saya. Dengan tergopoh ia meminta saya mengeluarkan handphone dari dalam tas.

Saya pun mengeluarkan benda hitam kecil itu dari dalam tas ransel. Dan membukanya. Ya ampun, ternyata suami saya sudah menelpon berkali-kali dan saya tidak mendengarnya. Efek lapar kali ya heuheu

Alhamdulillah suami saya tidak marah, meski dia harus menunggu lama dalam cemas. Itulah manisnya pengantin baru. Eaaaa ...

Pengalaman kedua, saat saya harus berpisah sementara dengan suami. Saat itu, suami mendapat beasiswa S3 Mombusho. Beasiswa dari Kementrian Pendidikan dan kebudayaan Jepang. Bulan Oktober 2001 Suami  meninggalkan saya yang sedang hamil besar.

Handphone nokia jadulnya dengan nomor XL saya yang memakainya. Nomor itu cantik, mudah diingat. 0818191272.  Dari nomor itu, saya ingat dua orang yang dekat dengan saya. Suami saya lahir di tahun 1972 dan ayah mertua yang lahir pada 20 Desember. Beda satu angka dengan nomor yang tertera di nomor suami. Tapi itu berarti sekali.

Kemarin saya bertanya kepada suami, apakah nomor itu memang minta ke XL atau bagaimana? Jawab suami, tidak. Jadi saat itu, tahun 1996 saat suami pertama kali berlangganan XL memang masih banyak nomor yang seperti itu. Cantik-cantik dan mudah diingat.

Saya menggunakan kartu XL untuk menghubungi suami yang sedang di Jepang lewat sms. Suami menghubungi saya dari Jepang lewat hape. Kadang juga lewat telepon rumah.

Saat saya melahirkan, suami tidak menghubungi. Saya terus memandangi hape yang saya bawa. Sedih juga sih. Tapi ketika suami menceritakan hal yang sebenarnya, bahwa saat saya melahirkan suami naik ke puncak gunung. Dia naik ke puncak gunung bersama teman-temannya, untuk menghilangkan galau karena tidak bisa mendampingi istri melahirkan  dan anak pertama lahir. Saya malah jadi terharu.

Tahun 2002 saya mengikuti suami ke Jepang. Hape jadul bernomor XL itu pun kami bawa serta. Setiap bulan suami membeli pulsa untuk nomor hape tersebut. Dan tahun 2007 kami kembali lagi ke Indonesia.

Tahun 2007 saya dibelikan hape baru oleh suami berikut nomor XLnya. Suami memang pelanggan sejati dan tidak pernah pindah ke lain hati. Saya pernah bertanya kenapa pilih XL? jawabnya cukup sederhana. Bisa bagi pulsa. Itu saja.

Tahun 2010 saya dan keluarga diboyong suami ke Malaysia. Kedua nomor XL kami terus dipelihara suami. Setiap 3 bulan sekali beliau membeli pulsa untuk nomor XL saya dan suami.

Sayangnya pada tahun 2013, nomor XL saya hangus. Saya lupa tanggal ekspirednya. Padahal nomor itu pun mudah diingat dan sangat usefull untuk komunikasi dengan teman teman di Indonesia.

Pada bulan Juni 2015 yang lalu, kami pulang kampung. Mudik selama 3 minggu. Untuk komunikasi saya dan anak-anak, suami membelikan nomor XL untuk tiga anak saya yang sudah pandai menggunakan handphone. Masing-masing anak diberi handphone yang cukup untuk menerima telpon dan menerima sms. Karena saya dan suami kerap melakukan urusan di luar rumah dan anak-anak ditinggal di rumah dengan om dan tantenya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kami meninggalkan mereka dengan telpon. Ehmm ... kadang juga HP itu dipake anak main game juga sih hihihi game sederhana.

Sebagai pengguna XL dari masa ke masa, saya sepakat sekali dengan slogan XL dalam #19thBersama, "Setia merangkai cerita dengan penuh suka cita". Slogan itu mewakili saya juga.

Selama #19thBersama XL, suami saya tidak pernah ada keluhan. Saya juga. Palingan keluhannya, banyak amat sih iklannya XL Axiata hihihi kirain sms dari mana, ternyata dari XL Axiata. Ya sudahlah, namanya iklan produk kan gapapa kali ya, yang penting enggak ambilin pulsa aja. Itu doang.

Selamat Milad XL semoga kamu tambah maju dan berkah usianya. Menjadi pelopor kemajuan Indonesia di bidang telekomunikasi seluler! #19thBersama

diambil dari pathnya Mas Arie


*Pengalaman seru ini diikutkan dalam Lomba XL Live Blog Competition

Tempat Makan yang Bikin Meletop

Saya baru mendengar nama restoran ini sepekan yang lalu, saat diskusi bersama adik-adik FLP. Diskusinya tentang rencana mengajak makan malam Manini Pipiet Senja yang akan datang silaturahim pada tanggal 5 dan 6 Oktober yang lalu (Nanti saya ceritakan deh yang ini, banyak kisah seru dan cukup membuat perut kejang denger cerita manini wkwkwk) Sebenarnya saya merekomendasikan sebuah resto BBQ dan Asam Pedas yang letaknya tak jauh dari rumah saya, tapi demi Rindu hihihi akhirnya saya setuju.

nih dia peraturan yang keren banget itu


 Meletop. Cukup aneh kedengarannya di telinga saya.

Saya pun bertanya pada Rindu.
"Emang enak, Ndu?"
"Enak lah bu. Selain enak, murah pula. Kita bisa makan sekenyangnya hanya dengan bayar RM20."

Setelah diskusi diskusi diskusiiii .... saya pun setuju. Kebetulan anak anak saya memang suka kuliner steamboat. Mungkin samalah dengan apa yang sering saya buat di rumah. Odeng! Meletop .... berharap ga bener-bener meletop!

Oiya, mungkin teman-teman di Indonesia bingung. Meletop apaan sih? Meletop or meletup adalah jika kita masak air dan air di dalam panci rebusan mendidih kepanasan, maka akan terjadilah meletup atau melotop kata orang Malaysia mah hihihihi puanas, pedasss! *huahhh saya jadi grogi. Secara perut saya suka berontak kalau dikasih pedes pedes nehhh :p

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun datanglah. Saya meluncur ke tempat tujuan setelah shalat isya. Bener-bener blank, ga ada bayangan apa apa tentang restoran ini. Saya kira tempatnya di sebelah Mom and Bakery tempat saya memesan kue. Ternyata kita salah jalan. Waktu terus berjalan. Saya dan suami sudah muter muter di tempat yang sama. Akhirnya saya berinisiatif membuka google map.Langsung search Meletop. Ternyata cukup terkenal juga resto ini. karena dengan hanya mengetik kata kunci "Meletop" itu udah berjejer aja review resto ini. Nama Restonya ada di halaman pertama google berikut alamat lengkapnya plus kalau diklik mapnya tertera jelas koordinat di mana letak resto ini, ada  fanpage di Fesbuk dan beberapa review dari para pengunjung. 

Saya pun segera mencatat koordinat resto di GPS dan alhamdulillah berbekal GPS dalam waktu lima menit kami sudah sampai di resto itu. 

Resto itu sudah ramai orang. Jalan mobil di depan resto itu sebagiannya sudah diisi dengan bangku-bangku dan meja dengan pengunjung yang duduk bersama keluarganya. Tempat parkir tampaknya juga sudah penuh. Akhirnya suami menyuruh saya dan anak-anak duluan masuk ke dalam resto dan berkumpul dengan teman-teman FLP dan beliau mencari tempat parkir.




diambil dari blog orang


Resto ini ada tiga tingkat. Tingkat pertama tempat buffet yang diklaim resto terdapat 100 menu yang akan menyelerakan pengunjung. Tingkat dua tempat makan pengunjung dan tingkat ketiga surau.

Di resto ini isi buffetnya mulai segala jenis ikan yang sudah dibumbui dengan berbagai bumbu, daging ayam dan daging sapi yang sudah dibumbui dengan segala macam bumbu. Ada bumbu sate, bumbu rendang, bumbu percik dll yang nanti dicelupkan pada kuah tom yam atau dipanggang. Ada segala macam bahan steamboat. dari mulai Tahu, kani, bakso, udang, kepiting, kerang dll ada juga sayur-sayuran yang siap di masukan dalam campuran kuah tomyam, seperti brokoli, jagung, wortel dll. 

diambil dari blog orang


Ada segala jenis mie, mie keriting, mie bihun, mie soun, mie lurus hihihi plus spagheti yang sudah tinggal am ... nyam ... nyam ...

selain itu ada ais campur batu atau es campur, es sirup, es krim dll yang semuanya adalah layan sendiri. Self service. 

diambil dari blog orang


Spesial menu hari Senin dan Rabu tambahannya adalah nasi goreng kampung, nasi briyani dan nasi goreng entah namanya. Ada tiga jenis nasi goreng.  

Semua boleh dimakan sekenyangnya, sepuasnya. Tapi jangan mubazir. Karena jika Anda melakukan permubaziran Anda akan dikenakan denda RM5/100 gram.

Heemm ... awas kalau mubazir!

Suami saya berseloroh, katanya bagus juga nih diterapkan di rumah, kalau ada yang tidak menghabiskan makanan atau ada makanan hari ini yang tidak habis, semua anggota keluarga kena membayar denda RM5. Eh, anak saya yang kecil, yang belum sekolah nangis. Katanya,

"Sarah kan belum sekolah, mana punya uang, huhuhu," 

Anak yang lain juga protes tapi tidak seserius Sarah yang langsung menangis. Abinya segera menghibur, tidak akan diterapkan secepatnya, dan yang membayar kalau ada makanan sisa di resto itu Abi yang bertanggungjawab. 

"Uangnya dari dompet Umi, tenang aja," katanya. Eleuhh ... ternyata ya heuheu

Pertama kali masuk ke resto itu, bingung juga. Begitu banyak makanan dan begitu banyak orang. Bingung, ambil piringnya di mana, ambil sendok, panci dll hahhaa Akhirnya saya mengamati lalu lalang orang-orang itu. Saya pelajari ceilahhh kebiasaan dan kearah mana mereka berjalan :D

Piring, sendok, garpu, panci, sendok sayur mangkuk ada di pojok paling belakang resto. Sejajar dengan tempat es krim dan minuman. Semua peralatan itu dari bahan stainless steel, jadi kalau makan kuah steamboatnya hati-hati ya.

Di jajaran ini juga ada es krim, dan segala jenis minuman. Ada minuman bersoda dan minum sirup plus es batu yang menggunung di wadah es. Ada alat untuk menghancurkan es untuk teman es batu campur.

Di sebelah kiri pintu masuk adalah tempat ikan yang dibumbui di sebelah, sejajar dengan segala macam sayuran dan steamboat tahu, kani, udang dan teman temannya, segala macam mie, kemudian bagian paling ujung adalah ayam dan sapi yang sudah dibumbui.

Di tengah ruangan ada bahan-bahan membuat ais batu campur, nasi goreng dan nasi briyani, spagheti dan nugget.

Di sebelah kanan pintu masuk adalah tempat kasir.

Di lantai dua tempat makan pun ada tempat minuman teh, kopi dan minuman sirup. Ada es krim juga. Letaknya di sebelah kiri pintu masuk. Di lantai ini juga terdapat dua tandas atau kamar mandi yang cukup bersih. di depannya ada dua wastafel.

Panci dengan kuah steamboat disiapkan oleh pelayan. Begitu juga saat menghidupkan kompor listrik dilakukan oleh pelayan. Kita hanya mengambil menu yang kita inginkan untuk mengisi panci steamboat dan panggangan.

Akhirnya setelah mempersiapkan segala sesuatunya agar anak dan suami nyaman makan steamboat dan semua menu yang ingin dicicipi sudah lengkap, tiba saat makan!

Makanan yang pertama kali saya makan adalah buah jeruk sunkist. Manisss ... setelah itu saya mencicipi daging ayam dengan bumbu sate. Rasanya lumayan!

Setelah itu saya makan nasi yang sengaja saya ambil sedikit-sedikit. Nasi briyani, nasi goreng kampung dan nasi goreng teri. Giliran nasi goreng kampung, pedasss! Gak tahan saya, akhirnya saya simpan dulu dan mengambil steamboat.

Wihh ... enak kuahnya, tapii pedasss! Huahh ... huah ... tapi pengen lagi hahhaa 
Untuk mengimbangi rasa pedas, saya banyak minum air sirup. Duh, untung badan saya kurus kering, moga jadi daging aja deh wkwkwk

diambil dari blog orang by google


Di meja sebelah, tempat adik adik FLP dan Manini berkumpul pun tak kalah seru. Alhamdulillah, semua bahagia bisa makan dengan puas di resto itu. Sebelum kembali ke rumah amsing-masing kami berphoto bersama penulis pujaan hati. Manini Pipiet Senja. Moga sehat selalu ya Manini. Anak-anak senang diphoto bersama nenek. Anak-anak saya dari bayi udah ditinggal dua neneknya, jadi ga punya kenangan manis sama nenek hikss

namanya anak muda, makannya banyak mpe kuah pedas sepanci habis :D

Waktu sudah menunjukan pukul 11. kurang dikit, saya dan keluarga pamit pulang duluan. Di perjalanan pulang, kata suami, sayang kalau makan "Tabehodai" bawa istri yang ga doyan makan. Makannya sedikit. Rugi! Hadeuuhh ... bukan ga doyan makan, Pak. Tapinya ini perut ga semelar perut bapak! Dan terjadilah perang cubitan. 

Nah bagi yang rencana jalan-jalan ke Johor dan memiliki selera makan jumbo seperti suami saya, silakan merapat ke Resto Meletop dan Tumpah Ruah ini heuheu

Kalau kata saya sih, kuah steamboatnya enak, segar dan pedas! KAlau kata anak-anak, yang memang ga doyan pedas, kecuali si kakak ya, lebih enak odeng buatan umi. Sedaaapp hehhe ...

By the way, bas way, resto ini ada di dalam kota Johor, 5 menit dari kampus UTM dan kurang lebih 30-45 menit dari Bandar Johor atau Check poin. Tergantung yang anterin tau atau enggak tempatnya hihihi

Jam bukanya dari jam 5 petang hingga jam 12 malam.
Harga: Anak-anak dibawah 6 tahun free, anak usia 6-12 tahun RM 9.90, dewasa RM 19.90 harga hari libur beda ya, dewasa RM 22.90

diambil dari fanpagenya Meletop


Selamat berwisata kuliner, moga bermanfaat ya ^_^


Pindang Patin

Akhir bulan Mei yang lalu, saya dan keluarga kecil saya berkesempatan untuk pulang mudik ke Indonesia. Keluarga besar senang dengan kabar ini, tapi juga bertanya, "Sampai lebaran?"

Sayangnya kami tidak berlibur hingga lebaran tiba. Bukannya tidak ingin. Tetapi namanya kerja, suami tidak bisa ambil cuti panjang. Sementara anak-anak pada waktu itu sedang ada kesempatan libur sekolah dua minggu. Lumayan panjang dibandingkan libur untuk hari Raya yang hanya cuti seminggu. Liburan sekolah cuti tengah semester pertama selama dua minggu. Itupun diperpanjang hingga seminggu, karena tiket pesawat yang murah waktunya melebihi jadwal cuti anak-anak. Jadi total kami berlibur selama 3 minggu di Indonesia.

Kami memesan tiket pesawat sebelum cuti sekolah dimulai. Karena pasukan saya banyak, dua dewasa dan lima anak yang kesemuanya bayar penuh, suami mencari tiket pesawat yang murah dan fasilitas yang nyaman. Alhamdulillah, kami mendapatkan tiket pesawat yang murah meriah.

Pulang ke Indonesia setelah lama memendam rindu pada orang tua dan saudara, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Kepulangan kami ke Indonesia selain bersilaturahim juga mengenalkan anak-anak kepada kakak dan adik kakek neneknya. Apalagi setelah kedua orang tua meninggal, tinggal uwa, paman dan bibi yang kami punya.

Kami pun silaturahim ke beberapa tempat di mana uwa, paman dan bibi tinggal. Tempat yang dituju adalah Bandung, Bogor, Lampung dan Palembang.

Di Bandung kami tinggal selama tiga hari, di Bogor seminggu dan di Lampung dan di Palembang selama tiga hari.

Ketika di Palembang, kami sempatkan silaturahim ke rumah seorang sahabat saya di Johor yang telah kembali ke Palembang. Kemudian kami berjalan-jalan ke Jembatan Ampera. Jembatan yang menjadi kebanggaan warga Palembang.

Setelah itu, kami mencari kuliner khas Palembang. Sahabat saya merekomendasikan sebuah restoran yang berada tidak jauh dari jembatan Ampera. Restoran Sri Melayu namanya. Belakangan, saya baru tahu ada Restoran Sri Melayu Palembang di Jakarta. Ini gara-gara saya buka-buka directory resto di Indonesia dan Asia

Ini adalah pengalaman pertama saya mencicipi masakan khas Palembang. Sahabat saya memesan Pindang Ikan dan Pindang tulang. Katanya itulah masakan khas Palembang. Saya ragu.  Nah, karena pindang-pindangan ini menu yang baru saya dengar. Saya  sama sekali  tidak makan pindang. Saya lebih menikmati makan nasi putih ditemani ikan gurame bakar. Selain itu kami memesan udang goreng tepung dan ayam goreng. Selain menu ikan-ikanan, di sini juga disediakan nasi goreng dan segala jenis sambal untuk menemani makan.

Ada sambal teri, sambal pete, sambal remis, sambal ikan, sambal tempoyak, sambal telur ikan dan sambal buah. Sayangnya saya dan anak anak bukan pemakan sambal, jadi menu sambal kami abaikan.

Ketika pesanan sampai, saya pun melihat penampakan pindang ikan patin. Ternyata berbeda dengan pindang yang saya bayangkan. Nyesel selalunya belakangan ya. Setelah sampai di rumah Paman kami, saya cerita tentang pengalaman makan di restoran Sri Melayu.

Keesokan harinya Bibi memasak Pindang Patin untuk menyenangkan hati saya. Ternyata cara membuatnya mudah saja. Bumbunya diiris, mirip dengan bumbu Tom Yum, masakan Thailand yang banyak dijual di Malaysia.  Memasak pindang patin tidak memerlukan waktu yang lama. Sekejab saja, pindang patin sudah bisa disajikan.

Saya dan anak-anak makan siang dengan pindang patin. Ya Allah, rasanya mantapp! Kuahnya segar sementara daging ikan patin itu lembut dan berlemak. Anak-anak pun yang tadinya ragu makan pindang patin, makan dengan lahap.

Sampai di Johor, suami terbayang-bayang sedapnya pindang patin buatan Bibi yang asli Palembang. Katanya semua orang Palembang pintar memasak pindang ikan patin.

Demi memenuhi keinginan suami, saya pun mencoba membuatnya meski pun yang pertama sempat gagal membuat pindang patin. Kelamaan merebus ikannya :p

pindang patin gagal (doc.pri)


 Alhamdulillah, setelah eksperimen kedua, saya pun berhasil membuat pindang patin. Yipiiii!
pindang patin oishi (doc.pri)



Kata suami, pindang patin yang saya buat lumayan sudah mendekati rasa aslinya, cuma kurang pedas, kurang daun kemangi dan kurang garam heuheu

Selain itu, di Malaysia tidak ada tomat yang menambah rasa khas Pindang Patin asli Palembang, yaitu tomat cung kediro atau tomat ceri. Warnanya hijau bikin segar. Saya memakai tomat besar, yah, lumayan deh menambah rasa sedap dipadukan dengan nanas yang segar.

Ini resep Pindang Ikan Patin, mungkin ada yang ingin mencobanya juga di rumah.

Bahan:
Ikan Patin satu ekor, bersihkan dan potong-potong menjadi empat bagian.
Jeruk nipis satu sendok makan untuk melumuri ikan
sisihkan

bumbu:
Bawang merah 10butir, iris
Bawang putih 3 siung, iris
2 batang serai, digeprek
2 buah cabe merah, iris
10 buah cabe rawit kampung, biarkan utuh
1 ruas jari jahe, lengkuas dan kunyit, iris
Setengah buah nanas, potong sesuai selera
daun bawang, iris
Tomat ceri
1 ikat daun kemangi
garam dan gula secukupnya
Air satu liter

Cara membuatnya:
Rebus air hingga mendidih, kemudian masukan semua bumbu dan ikan kecuali tomat, daun bawang dan daun kemangi. setelah matang, masukan tomat, daun bawang dan daun kemangi. siap dihidangkan.

Selamat mencoba ^_^
 


Catatan Bagi Perindu Haji

Kemarin seperti biasa saya berkumpul bersama ibu-ibu pengajian di lingkungan kampus. Pengajian yang sudah ada sebelum saya tinggal di Johor ini, dikelola oleh ibu-ibu warga Indonesia yang tinggal di dekat lingkungan kampus UTM. Baik itu istri dosen, mahasiswa, dosen yang jadi mahasiswa, istri mahasiswa, maupun dosen di UTM. Semua berkumpul dalam rajutan ukhuwwah yang indah.

Nah, kemarin isi dari pengajian itu membahas tentang keutamaan orang yang berhaji. Sedikit saya bagikan ya di sini, agar saya bisa mengingatnya terus dan bagi yang ikut membacanya jadi sama-sama termotivasi untuk mengejar pahala berhaji.

Ibadah haji adalah salah satu rukun dalam rukun Islam. Sampai Rasulullah SAW menyampaikan dalam sabdanya yang mulia, bahwa bangunan Islam ditegakkan oleh lima perkara, bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah, menegakan shalat, membayar zakat, menunaikan haji dan berpuasa di bulan Ramadhan. (hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Catatan untuk hadits di atas, agar tidak terjadi perdebatan, Imam Nawawi dalam syarah haditsnya menyampaikan, dalam riwayat ini disebutkan haji dahulu baru puasa Ramadhan, hal ini sekadar tertib dalam menyebutkan urut-urutan, bukan dalam hal hukumnya, karena puasa Ramadhan diwajibkan terlebih dahulu sebelum kewajiban haji. dalam riwayat lain, puasa disebutkan terlebih dahulu daripada haji. (Syarah Muslim, I/178,179).

Yang namanya bangunan, maka semua elemen bangunan harus ditegakan sempurna, tidak boleh ada satu tiang yang ditinggalkan. Jika hal itu terjadi, maka bangunan yang sedianya didirikan untuk tegak, akan berdiri tak sempurna. Bisa miring, timpang atau malah ambruk. Karena apa? karena bangunan itu tidak memiliki tiang penyangga yang sempurna.

Begitu juga dengan bangunan Islam, tidak akan berdiri sempurna, ketika penganutnya hanya menegakan satu tonggaknya saja atau bahkan hampir semua tonggaknya tidak ditegakan. Maka tunggulah kehancuran bangunan Islam karena ulah kita sendiri.

Haji, adalah ibadah fardhu 'ain, ibadah yang mengenai hukumnya kepada semua Islam secara individu. Sebagaimana mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat, puasa dan zakat.

Sungguh salah kaprah orang yang mengatakan bahwa ibadah haji hanya untuk orang "the have". Tidak! Ibadah haji adalah ibadah yang diperintahkan merata kepada semua pemeluk agama Islam. Bagaimana mungkin? makan saja susah, apalagi mau naik haji?

Berarti yang ngomong begitu gak inget, bahwa rezeki itu milik Allah.

Kalau tidak percaya browsing deh, betapa banyak orang yang benar-benar niatnya naik haji dimudahkan oleh Allah. Ada seorang nenek dan kakek pedagang singkong goreng yang akhirnya naik haji dengan menabung hasil jualannya selama bertahun-tahun. Pemulung yang naik haji. Kisah-kisah inspiratif yang masyaAllah membuat hati ini jadi penuh rindu kepada Baitullah.

Rasulullah SAW menyampaikan keutamaan orang beribadah haji, bahwa ibadah haji lebih utama dari berjihad. Karena sesungguhnya orang yang beribadah haji sedang berperang melawan hawa nafsunya sendiri. Orang yang beribadah haji agar menjadi haji mabrur dia harus benar-benar melepaskan semua hal keduniawian, harus mau melepaskan semua hal-hal buruk, hal maksiat dan menjadi hamba Allah yang muslih. Ia juga berjihad dengan jiwa dan hartanya.

Makanya keutamaan pahala bagi orang yang beribadah haji tidak cukup hanya dihapuskan dosanya saja, tetapi juga dia akan diberi pahala surga. Orang yang meninggal dalam melaksanakan ibadah haji, akan bersama dengan para syuhada sebagai orang yang mati syahid.

Sabda Rasulullah SAW, "Walhajjal mabruru laysa lahu jazaa'u illaljannah." Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga. (HR Bukhari n0.1773 dan muslim no.1349)

Haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah. Haji yang dilakukan ikhlas karena Allah SWT, tidak tercampuri perasaan riya', atau sekadar ingin disebut "bu hajjah" atau "pak haji". Uang yang dipergunakan untuk pergi haji juga dari pekerjaan yang halal, bukan hasil curang dsb. Ibadah yang benar harus dilakukan dengan benar, di awal, di tengah dan diakhirnya. Semoga menjadi haji yang mabrur.

Ibnu Rajab menyampaikan, tanda diterimanya sebuah amal kebaikan adalah amal kebaikan tersebut dilanjutkan dengan kebaikan. Tanda amal kebaikan tidak diterima, adalah amal kebaikan yang baik dilanjutkan dengan amal kemaksiatan.

Al Hasan Bashri berkata, bahwa balasan untuk orang yang beribadah haji adalah surga. Tanda diterimanya haji (haji mabruron) adalah ketika seseorang kembali dari beribadah haji, ia dalam keadaan zuhud dalam hal dunia dan bersemangat menggapai akhirat.

Inilah doa yang disunahkan oleh Rasulullah SAW untuk para haji yang telah melaksanakan ibadah haji.

"Allahummaj'al hajjan mabruron, wa sa'yan masykuron, wa dzanban maghfuron." Ya Allah anugerahkanlah haji yang mabrur, usaha yang disyukuri dan dosa yang diampuni.

Pada hari itu, kami melepas keberangkatan seorang sahabat kami, Mbak Weni dan suaminya Pak Iyan, untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Semoga dimudahkan segala urusannya mbak Weni dan keluarga. Teriring doa semua menjadi haji mabrur, mendapatkan usaha yang disyukuri dan dosa yang diampuni. Aamiin ya Rabbal Alamin.
 

ibu ibu pengajian muslimah PPI UTM-JB (doc.pri)





Onigiri

Sudah lama ingin menuliskan segala macam resep dapur yang kerap saya buat di rumah. Sekadar berbagi, beberapa masakan yang mudah cara pembuatannya dan disukai oleh anak-anak.
Terus terang, jika saya ditanya soal masak-memasak yang berbumbu lengkap, saya nyerah. Saya akan menyerahkan mandat sebagai juru masak kepada suami saya tercinta. Yah, kalau dia mau saya bujuk dan rayu buat masak. Kalau dia lagi pengen masakan berbumbu lengkap buatan saya, terpaksa saya masak juga. Sambil grogi dengan rasa dan penampilan masakan hihihi ampun pokoknya mah. Alhamdulillah sih suami ga pernah sampai meringis selama makan :D palingan yang dikeluhkannya, "kurang garam" sambil ambil garam sendiri.

onigiri buatan OmaSri


Hari ini saya ingin berbagi tentang betapa mudahnya membuat onigiri. Dulu, waktu saya kecil juga suka dibuatkan nasi kepal sama nenek. Zaman dulu, nenek masak nasi memakai aseupan, jenis penanak nasi berbentuk kerucut. Nah, diujung penanak nasi itu, nenek akan memberikannya kepada saya dengan cara memberikannya begitu saja atau diberi garam dulu kemudian dikepal-kepal lagi supaya padat membentuk segitiga atau lonjong. Kemudian nenek melapisinya dengan daun pisang. Wangi!

ini dia penampakan aseupan (credit google)


Nah, balik lagi ke onogiri, apa sih yang disebut onigiri ini? Onigiri nasi kepal ala Jepang. Kalau kata orang bule, onigiri are Japanese rice balls. Yah, jangan dibayangin nasi yang dibulet-bulet ya. Itu cuma istilah aja. Onigiri yang biasa saya lihat sih penampakannya itu segitiga dengan ujung yang tidak runcing. Di kenal dalam bahasa Jepang dengan istilah omusubi. Orang Jepang ini kreatif, sampai jenis onigiri ini juga jadi tokoh dalam film anpaman, yaitu Omusubiman.

credit.hummingbird

Onigiri adalah nasi putih yang dikepal, kemudian diberi isi berbagai macam isi sesuai selera (orang jepang mah ga pake oncom ya isinya, itu mah buras heuheu), setelah itu dibungkus dengan nori, bisa seluruhnya dibungkus nori atau hanya dikasih hiasan nori saja.

Orang Jepang biasanya membawa onigiri untuk bekal (bentou). Cara membuatnya mudah dan tidak memerlukan waktu yang lama. Kadang onigiri juga tidak memerlukan isi atau toping. Plain aja gitu. Tapi kita juga bisa memberikan toping atau mengisi onigiri apa saja, tergantung selera kita. Kalau orang Jepang biasanya mengisi onigiri dengan tuna mayones, tuna goreng, umeboshi, dll.

Onigiri dan segala macam sushi ini memang disukai anak-anak saya. Untuk menyenangkan hati mereka, kadang saya turuti keinginan mereka, sekali-kali saya belikan.  Itu pun menunggu pukul 9 malam baru belanja, karena harga sushi sudah didiskon 30-50%, jadi lumayan kalau mau ngeborong. Lha, anak saya lima orang, dengan selera yang bermacam-macam pula. Kalau menuruti keinginan mereka terus, bisa jebol dompet saya yang imut ini. Sudahlah imut, isinya hanya kartu-kartu dan bon-bon bekas belanja :) Lha, anak-anak saya kalau makan sushi atau onigiri, bisa tambah berkali-kali. Apalagi kalau ada furikake (jenis abon kering ala Jepang) mereka nambah berpiring-piring. Seneng sih, tapi kalau furikakenya habis, mau beli di mana coba? di Aeon/Jusco deket rumah kadang ada kadang ga ada (yang halal). #halahjadicurcol

Mengikuti selera makan mereka, saya pun mencoba membuatnya sendiri. Pernah anak-anak bertanya, :"Ummi bisa buat sushi?" saya pun menjawab mantap, "BISA!" heuheu. Halah cuma nasi kepal aja, kan? sambut hati saya, pede.

Beberapa kali saya membuatkan anak-anak saya. Nasi kepal/onigiri, nasi dikepal kemudian dikasih tuna mayo atau sosis, setelah itu saya bungkus dengan nori. Selesai.

Nah, belum lama ini, saat teman saya hendak pergi berhaji, dia memberikan bumbu-bumbu dapurnya. Ketika saya membuka plastik yang diberikannya kepada saya. Ya ampun, dasar alumni jepang juga, yang dikasihin ke saya pun bumbu-bumbu cair, seperti cuka yang dipakai bumbui nasi untuk sushi, soyu, dan olahan ikan untuk steamboat.

Bagai mendapat durian runtuh, saya dan anak-anak saya bersorak. Sebelum pulang saya tak lupa meminta resep sushi yang biasa dia buat. Dan sampai di rumah saya pun membuatnya bersama anak-anak. Onigiri dengan bumbu cuka jepang ini lebih mirip rasa aslinya. Tak sekadar nasi kepal, tapi onigiri.

Inilah resepnya dan beberapa bahan yang perlu dipersiapkan untuk membuat Onigiri Tuna Mayo.

Nasi yang diperlukan adalah nasi yang pulen. Ambil dalam wadah dan dinginkan.
Nori panjang. Gunting sesuai selera.
Cuka untuk membuat sushi.
Satu kaleng tuna mayo.

Cara membuatnya:
Bubuhi nasi dengan cuka sushi. aduk-aduk hingga rata. Basahi tangan dengan air. Kemudian ambil nasi, kepal-kepal dengan kedua telapak tangan. Untuk memasukan tuna mayo sebagai isi onigiri, bolongi tengah onigiri dan masukan tuna mayo. Kepal-kepal lagi. setelah itu, tutup onigiri dengan nori sesuai selera.

Onigiri Tuna Mayo by OmaSri


Untuk lebih jelasnya, silakan layari link ini ya how to make onigiri dan segala hal tentang onigiri.

Eh...tapii ... waktu saya mudik ke Bogor, karena bahan baku terbatas. Saya ajak aja anak-anak jalan-jalan sambil kangen-kangenan sama makanan khas orang Jepang. Sejak ada directory kuliner yang bisa tinggal diklik, alhamdulillah saya bisa menyenangkan hati orang-orang tersayang dengan lebih mudah :-)

Mangga atuh ....

Buku Baru

Buku Baru
Mengenal Lebih Dekat Ilmuwan Muslim

KEB

KEB

Fun Page

Zona Anak Muslim Cerdas

My Lovely Friend's