Menjelajahi Pokojang Land Bagaikan Menjejakan Kaki di Negeri Penuh Cinta dan Kelembutan

Hari Kamis tanggal 22 September  yang lalu, saya berkesempatan hadir di dalam acara pembukaan “MamyPoko Berbagi Pelukan Cinta Untuk Kulit Lembut Balita Indonesia.” Acara yang disponsori oleh Unicharm Jepang ini ingin mengajak keluarga Indonesia untuk berbagi pelukan dengan si kecil setiap saat.

dokpri


Di dalam acara pembukaan ini, diadakan takshow  yang menghadirkan narasumber-narasumber yang membuka wawasan saya mengenai betapa pentingnya sentuhan dan pelukan bagi si kecil. Narasumber tersebut di antaranya adalah Ibu Irma Dwi Oktaviani, Senior Brand Manager PT Unicharm Indonesia, Ibu dr. Titi Lestari Sugito Sp.KK (K) penasihat Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia (Perdoksi), Laura Basuki, seorang ibu muda inspiratif dan juga aktris sekaligus model dan Ria Miranda seorang fashion Designer.

dokpri


Sebuah fakta berdasarkan study penelitian dari Unicharm Jepang berkolaborasi dengan Profesor Hideki Ohira dari Nagoya University Jepang terhadap ibu dan bayi usia tiga hingga lima bulan, menunjukan bahwa sentuhan dan pelukan orang tua kepada anaknya akan berefek luar biasa kepada anaknya. Anak menjadi nyaman dan lebih tenang. Ini juga akan berdampak kepada kecerdasan intelektual dan emosionalnya kelak di waktu dia besar nanti.

Saya jadi teringat, saat saya usai melahirkan bayi saya, bidan dengan sigap meletakan bayi saya ke dada dan saya memeluk dan mengusap badan bayi saya skin to skin, merasakan kelembutan bayi saya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bayi pun mencari putting susu, sebagai salah satu cara mengetahui bayi saya normal dalam proses IMD ini. Saat itu saya merasa nyaman sekali, rasa sakit dan lelah selepas melahirkan hilang begitu saja. Yang ada hanya  rasa syukur saat melihat bayi saya lahir dalam keadaan normal dan kemampuan fitrah yang luar biasa yaitu mengisap putting susu untuk pertama kalinya. Sampai saat ini juga anak-anak saya mudah sekali memeluk saya dan saya mudah memeluk mereka. Karena kami merasakan kenyamanan yang sama.

Saat acara berlangsung, tak henti-hentinya saya terharu membayangkan saat anak-anak saya masih balita. Saya pun teringat, dulu masa mereka kecil, saya juga memakaikan popok sekali pakai MamyPoko. Selain karena kelembutannya juga, karena waktu itu, satu-satunya produk pospak yang punya produk popok toilet training, yah hanya MamyPoko.

InsyaAllah saat ini, saya sedang hamil 5 bulan, setelah mendengar penjelasan dari narasumber, terutama dari dokter ahli kulit dan hasil tes laboratorium di tempat acara, saya semakin yakin untuk memberikan popok yang terbaik bagi bayi saya kelak, yaitu pospak yang memiliki daya serap tinggi dan kelembutan di kulit selembut kasih sayang ibu.

Setelah acara talkshow berakhir, kami diajak untuk berkeliling  melihat-lihat arena Pokojang Land. Karena arena ini ditujukan untuk keluarga dengan balita di bawah usia 5 tahun, semua perlengkapan permainan yang disediakan permainan yang aman untuk balita. Perosotannya terbuat dari gelembung plastic, kolam renang dengan busa berbentuk cinta yang lembut dan tempat berlari-lari yang super aman untuk balita bergerak bebas dan ceria. 



Selain itu juga tersedia tempat ganti popok bayi dan tempat parkir stroller bagi yang membawa stroller bayi. Jadi arena ini memang benar-benar ramah anak!

kamar ganti popok
parkir stroller


Ini dia rangkaian kegiatan di Pokojang Land:

Berbagi pelukan Cinta dengan Memeluk Pokojang Hug Meter. Nah setiap pelukan cinta pada Pokojang Hug Me ini dikonversikan menjadi 1 popok Mamypoko yang akan disumbangkan ke panti asuhan yatim piatu Sayap Ibu.

1 pelukan = 1 donasi popok tuk bayi yatim piatu

Pertunjukan Boneka Pokojang.
Menari bersama Pokojang
Permainan seru mandi bola-bola awan lembut
Jembatan music Pokojang Lucu
Lomba Mewarnai Pokojang
Lomba Model “Mom and Me Love Toich Hunt”

Dan promosi spesialnya, setiap pembelian MamyPoko minimal Rp150.000 do counter atau Carefour Central Park pada 22-25 September 2016 bisa ditukarkan dengan gratis Pokojang 3D Phot Art dan Gratis Cotton candy

Rundown Agenda di Pokojang Land:

Lomba Foto Model Balita di Pokojang Land
Mom & Me Love Touch Hunt
Kategori A (Usia anak 0-2 tahun)
Sabtu, 24 September 2016
Pukul: 11:00 – 12:00

Kategori B (Usia anak 2-4 tahun)
Sabtu, 24 September 2016
Pukul: 14:00 – 15:00

Lomba Mewarnai di Pokojang Land
Usia anak 2-4 tahun
Minggu, 25 September 2016
(Membawa peralatan sendiri)

Kegiatan Online
Share foto pelukan cinta di #mamypokolovetouch
Informasi lengkapnya bisa dibuka di www.mamypokolovetouch.com

Asyik ya … dapat popoknya, dapat keseruan mainnya dengan si kecil. Jangan lupa, acara ini diadakan di Atrium Laguna Mall Central Park Jakarta, dari hari Kamis, tanggal 22 September hingga hari Minggu,  tanggal 25 September 2016. Berarti hari ini. Jangan sampai ketinggalan yaaa 

Jangan lupakan tata tertibnya


Akses ke Atrium Laguna Mall Central Park:

Dari Bogor naik KRL jurusan Kota, turun di stasiun Cawang. Dari stasiun Cawang, jalan keluar ke sebelah kanan, menyusuri lorong di bawah terowongan stasiun. Setelah itu ada tangga, naik ke atas menuju jembatan ke tempat perhentian busway Trans Jakarta. Naik busway jurusan grogol, berhenti di halte Central Park.




Grand Whiz Hotel Kelapa Gading, Kenyamanan Berkelas dengan Harga Terjangkau

Akhir-akhir ini saya sering jalan-jalan sendiri ke Jakarta. Sebenarnya capek juga karena naik Comutter Line, meski praktis tapi namanya angkutan umum kan pasti berdesak-desakan dan ada kalanya enggak dapat tempat duduk. 

Dalam kondisi hamil seperti ini, ingin sekali-kali mengajak anak dan suami untuk ikut serta dalam kegiatan saya yang kadang-kadang diundang event tertentu sebagai penulis dan blogger. Jadi saya coba mencari hotel yang nyaman dengan harga terjangkau sesuai kebutuhan saya yang memiliki keluarga besar. Dengan anak lima orang ingin sekali saya memberikan penginapan yang nyaman dengan harga yang terjangkau. Dan, alhamdulillah dapet juga nih!


Sumber: google maps

Saya menemukan yang ini. Yuk, kita intip salah satu hotel yang berada di kota Jakarta khususnya bilangan Kelapa Gading. Dengan menggunakan salah satu aplikasi dari jasa reservasi hotel Traveloka, saya mendapatkan temuan hotel dengan harga termurah untuk kelas bintang 4, yaitu Grand Whiz Hotel Kelapa Gading. Dan hal ini pun  diamini lho oleh beberapa jasa reservasi hotel lainnya dengan harga yang  membuat senyum saya sumringah.

Konon, Grand Whiz Hotel Kelapa Gading merupakan salah satu dari sekian banyaknya hotel yang didirikan oleh perusahaan properti tingkat Internasional, Intiwhiz Hospitality Management. Perusahaan tersebut sudah banyak mendirikan hotel – hotel di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Bogor, Malang, Bali, Manado, Bandung, Pekanbaru, Lampung, Semarang dan Makassar. Visi yang dituju adalah untuk menjadikan jaringan hotel yang diminati dan bertumbuh pesat di Indonesia.

Intiwhiz Hospitality Management membagikan klasifikasi hotel menjadi 3 tipe, salah satunya adalah dengan brand hotel bintang 4 yang hadir dengan kemewahan modern bernuansa alami. Termasuk juga dengan Grand Whiz Hotel Kelapa Gading ciptaan mereka. 

Berlokasi di Jalan Bukit Raya Kav. 1, Kelapa Gading, Jakarta Utara, membuat hotel ini memiliki lokasi yang strategis untuk kemudahan akses. Hanya berjarak 12,6 km untuk akses via udara melalui Bandara Halim Perdanakusuma Internasional.

Lalu untuk akses via darat, hotel ini memiliki akses transportasi umum seperti bus Transjakarta dan kereta Commuter Line. Cukup perjalanan selama 20 menit dari hotel, kita akan mendapatkan salah satu akses bus Transjakarta melalui halte Sunter Boulevard Barat, untuk koridor 12 (Penjaringan – Tanjung Priok). Dan untuk Commuter Line melalui stasiun Tanjung Priok yang berjarak 4,9 km.

Selain akses yang begitu mudah, Grand Whiz Hotel Kelapa Gading juga memiliki beberapa tempat menarik yang berada di sekitarnya. Untuk belanja kebutuhan sahari – hari, terdapat beberapa pusat perbelanjaan besar seperti Mall Kelapa Gading (1,32 km) dan Mall of Indonesia (1,5 km). Yang semua tempat tersebut merupakan pusat perbelanjaan terlengkap di Jakarta.

Kemudian untuk kebutuhan jasmani, kita juga bisa olahraga di Sport Mall Kelapa Gading yang berisikan basket field, biasanya digunakan untuk pertandingan – pertandingan besar seperti liga IBL. Untuk kesana, kita hanya menghabiskan waktu perjalanan selama 16 menit. Selain itu, ada fasilitas bagi penggemar olahraga golf, disekitar sini juga terdapat The Club Gading Mas yang hanya berjarak 1,8 kam dari Grand Whiz Kelapa Gading.


Sumber: Google maps

Dengan segala fasilitas yang disebutkan di atas, tentu hotel ini jadi hotel idaman dong. Apalagi dengan kemudahan  akses ke sana dan ke beberapa tempat yang menarik.

Eit .. tunggu dulu, selain fasilitas yang disebutkan di atas, ternyata harga kamar yang ditawarkan juga membuat dompet tersenyum lho.. Grand Whiz Kelapa Gading memiliki jumlah kamar sebanyak 322 yang dibagi menjadi beberapa kelas, antara lain:


1    1.   Superior Room Only
Ini merupakan kamar dengan harga termurah yang disediakan oleh pihak pengelola, yaitu dengan tarif Rp. 453.174,- untuk permalam.

Sumber: Traveloka


1    2. Deluxe Room
Cukup dengan biaya Rp. 611.785,- untuk permalamnya, kita sudah bisa menikmati fasilitas dalam kamar ini.

Sumber: Traveloka


1    3. Premier Room
Nah yang ini nih, untuk yang memerlukan ruangan yang lebih luas namanya Premier Room. Kamar ini disewakan dengan harga Rp. 693.356,- per malam. Murah bingit kan!

Sumber: Traveloka


Itulah beberapa kamar murah di Grand Whiz Kelapa Gading, yang harganya di bawah satu juta. Selain juga terdapat kamar lain yang disesuaikan dengan kebutuhan para pengunjungnya, seperti junior suite, executive suite dan family suite.

Dengan gedung berjumlah 26 lantai, hotel ini menyediakan beberapa fasilitas yang akan memanjakan kita saat bermalam disini. Di antaranya:

-          - Aula Serbaguna
-         - Meeting Room
-         - Fasilitas Bisnis
-          - Ruang Keluarga
-         - Resto, dengan menu khas ala hotel
-          - Kafe
-          - Bar
-          - Sauna
-          - Spa
-          - Kolam renang outdoor
-         -  Akses Wifi di seluruh area

Dengan segala fasilitas yang diberikan, harapannya moga bisa memanjakan saya yang memang sedang ingin dimanja heuheu ... bumil gitu lho :-)

Sumber: Google Maps


Nah, itulah hotel Grand Whiz Kelapa Gading. Sudah saya buat catatannya, agar suatu saat ketika ke Jakarta enggak susah susah lagi mencari tempat penginapan yang nyaman, berkelas tetapi dengan harga terjangkau di Jakarta.  Kalau ada yang mau bareng, yuk barengan menginap di  Grand Whiz Hotel Kelapa Gading rasakan kenyamanannya!

Ibu Hamil Flying Fox, Aman Tidak?

Ibu hamil main flying fox?

Ah yang bener aja lagi? Enggak takut keguguran apa? Itu bayinya apa enggak kepencet tali? Terus ... terus ... karabinernya kuat enggak? Entar emak jatuh lagi? Emang bisa berenang kalau jatuh ke air?

Itulah bisikan-bisikan hati saat saya membayangkan ibu hamil mencoba permainan flying fox. Biasa kan, kita itu selalu aja was-was dalam situasi-situasi tertentu.

Ceritanya, pada tanggal 17 Agustus yang lalu, saya dan anak-anak diajak mengikuti kegiatan outbound di sebuah  Taman Wisata Sekolah, Outbound Pelita Desa di daerah Ciseeng Kabupaten Bogor.

Sumber: Google


Outbound ini tidak sekadar outbound biasa, tetapi kegiatan yang diprakarsai oleh alumni SMA 1 Bogor angkatannya suami saya yang kebetulan satu angkatan dengan Pak Walikota Bogor ini dalam rangka memberikan kebahagiaan kepada anak-anak yatim yang tinggal di wilayah Bogor.  Ada sekitar 75 orang anak yatim yang mengikuti kegiatan ini. Dari mulai tinkat SD hingga SMP kelas 3.

Anak-anak saya senang sekali bisa bergabung dengan mereka. Banyak permainan yang bisa dimainkan di tempat wisata tersebut yang memang khusus untuk wisata sekolah. Anak-anak bermain beregu, sehingga masing-masing regu harus kompak untuk memenangkan permainan tersebut. Bagus juga untuk menstimulasi kecerdasan anak-anak dalam bekerjasama dalam sebuah tim.

Saya sebagai tim sorak dan penggembira, mengikuti anak yang usia SD. Sebab si kecil ikutan dalam kelompok SD, padahal dia masih TK. Saya menjadi mamarazi buat anak-anak. Sibuk potret sana potret sini. Ikut bersorak saat permainan dan ikut cemas saat anak menyebrangi jembatan tali, naik flying fox, nyebrang danau dan permainan yang lainnya hihihi

Sarah dan Pie meniti jembatan (docpri)


Nah, suatu ketika saya tergoda juga ingin ikut menyebrang dengan menggunakan perahu yang terbuat dari bambu yang disusun sedemikian rupa. Ada 4 orang penumpang lain, para ibu panitia, temannya suami. Eh, suami saya juga entah dimana dia, jadi paparazi menguntit anak-anak yang sedang asyik bermain.

Saya ikut menyebrang. Lumayan juga sensasinya bikin jantung deg-degan hihihi malah saya sempat menjerit kaget sebab perahu seperti hendak tenggelam ketika berada di tengah danau. Ah, dasar emak panikkan heuheu ...

Dan saya tidak tahu, ternyata kita bukannya dibawa ke tepi danau di mana anak-anak yang lebih besar berkumpul, ternyata perahu merapat di tempat  flying fox. Tempatnya seperti pulau tersendiri dan kita enggak bisa ke mana-mana lagi kecuali menyebrang naik flying fox itu.

Duh ... duh ... saya grogi. Saya tidak siap flying fox. Saya membawa tas ransel lumayan banyak isinya. Pake sepatu fantopel dan sedang hamil hampir 4 bulan. Saya pun bertanya kepada ibu petugas. Dan jawabanya: "Tidak apa-apa Bu. Aman insyaAllah. Barang bawaan Ibu enggak akan jatuh dan kandungan Ibu dan baik-baik saja."

Bismillah ... saya pun melipat kacamata, memasukannya dalam tas, mengatur tas ransel agar nempel di badan, mengenakan sarung tangan yang disediakan petugas dan helm keselamatan. Duduk dengan hati-hati di tali, memegang tali dengan erat dan syutttt ... saya meluncur dengan deras ke bawah.

Meluncur dengan bahagianya (docpri)



Dan ternyata saya menikmatinya heuheu di ujung perhentian flying fox suami saya sudah siap memotret momen saya meluncur dari sana. Duh ... hahhaha ... jadi mati gaya deh. Ternyata diam-diam dia sudah memotret saya dari kejauhan. Memotret saat saya dialog dengan bu petugas, memakai tali dan saat meluncur ... untung engga ada adegan nangis-nangis dulu wkwkkw

Siap-siap meluncur (docpri)


Alhamdulillah ... saya selamat sampai disebrang. Disambut oleh dua gadis saya. Ummi hebat! puji mereka. Hahahha saya tersipu. Saya mengelus perut saya, moga adik bayi enggak kaget saat saya meluncur naik flying fox hihihi

Tips dari saya untuk permainan flying fox untuk ibu hamil:
1. Biasanya ibu yang paling tahu kondisinya sendiri ya. Jadi kalau tidak yakin bisa menyelesaikan permainan tidak usah dipaksakan.
2. Gunakan peralatan yang diberikan petugas sebaik-baiknya. Sarungkan sarung tangan dengan benar, kenakan helm pas di kepala dan kaitkan tali pengaman helm dengan baik.
3. Pastikan posisi duduk nyaman, kita bisa mengira-ngira dulu sebelum meluncur.
4. Yakin bahwa ibu dan janin akan baik-baik saja. Jangan lupa baca bismillah ya.
5. Meluncurlah dengan yakin akan selamat sampai di seberang. Buka dan mata dan kembangkan senyuman selebar-lebarnya. Biar kalau difoto hasilnya bagus hihihi

Oiya, saat saya ikut outbound saya memakai celana rok dan atasan kaos yang menyerap keringat. Alhamdulillah gerak saya jadi lebih leluasa dan lebih fleksibel. Cuma waktu itu karena saya enggak niat mau ikut permainan, jadi salah memakai sepatu. Harusnya memakai sepatu olahraga, bukan sepatu fantopel.

Nah, jadi bumil sebenernya enggak ada pantangan bumil untuk ikut kegiatan-kegiatan menantang di dalam outbound. Cuma, yaitu deh, harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi bumil ya.

Setelah hari itu, saya juga tidak lupa mencek kondisi rahim dan kondisi adik bayi. Alhamdulillah adik bayi sehat dan malah lebih lincah dari sebelumnya. Saat dilihat lewat USG 2D, dia sedang berenang renang bahagia :-)

Jadi .. selamat bersenang-senang bumil ^_^

Oiya, saya ada oleh-oleh videonya, sok atuh kalau mau melihat aksi saya meluncur hehhe
)

Perpustakaan Sampah

Perpustakaan Sampah. Begitulah nama perpustakaan yang terdapat di desa Nagrog Pamoyanan Bogor ini. Unik namanya. Saya sengaja mendatangi perpustakaan ini sebab penasaran  dengan namanya. Kenapa disebut perpustakaan sampah?

Perpustakaan Sampah (dokpri)

Nah, demi menuntaskan rasa penasaran saya, akhirnya saya mengajak sulung saya yang kebetulan tidak bersekolah formal, untuk mengeksplorasi apa itu Perpustakaan Sampah.

Saya dan si kakak keluar dari rumah pukul 9.30 pagi. Dari rumah, kami naik angkutan umum (angkot) nomor 12, mobil hijau menuju PLN di daerah Merdeka. PLN ini kalau dari stasiun Bogor hanya berjalan sekitar 100 meteran saja. Di PLN kami ganti naik angkot nomor 02 (mobil hijau) jurusan Sukasari - Bubulak. Kami turun di pertigaan Batu Tulis. Di sana kami ganti lagi angkot nomor 04A biru. Sebenarnya bisa turun di Gang Aut, tapi saya lupa, jadi kami terus menuju Sukasari dan ternyata terjebak macet. Di gang Aut memang tidak macet tapi mungkin angkotnya ngetem untuk mencari penumpang.

Oiya, jangan lupa tanyakan apakah angkot melewati desa Nagrog sebab ada dua jurusan angkot di jalur itu. Jangan salah naik angkot ya :-)

Setelah harap harap cemas, sebab takut tersesat, akhirnya sampai juga ditujuan. Ternyata di angkot itu banyak temannya yang mau turun di Nagrog. Malah salah satu ibu yang sama sama menumpang angkot itu menyapa saya dan dengan sukarela mengantar saya ke Perpustakaan Sampah.

Kami turun tepat di depan gang tempat Perpustakaan Sampah itu berada. Dari mulut gang kita berjalan kaki ke dalam kurang lebih 100 Meter saja.

Jalanan kecil yang hanya cukup satu mobil itu lumayan asri dan bersih. Sampah-sampah dikumpulkan dalam wadah di pojokan dekat Masjid. Di sampingnya, entah mata air atau solokan yang ditampung sedemikian rupa. Hanya saja airnya tidak bening, keruh. Tapi lumayan untuk menyiram tanaman.

Berjalan menuju Perpustakaan Sampah, di sebelah kiri jalan kita disuguhi dengan tanaman yang ditanam dalam pipa-pipa yang ditata dengan rapi. Ada sayur kangkung tertanam di dalamnya.

Tanaman Kangkung dalam Pipa (dokpri)


Di depan Perpustakaan Sampah ada pos ojek atau pos ronda yang terbuat dari botol-botol bekas air mineral. Sungguh menarik perhatian.

Pos ronda botol bekas (dokpri)


Dan, sampailah saya di Perpustakaan Sampah. Sayangnya, saya datang tidak janjian dulu dengan Pak Elan, pemilik Perpustakaan Sampah ini. Jadi saya tidak bertemu dengan siapa-siapa di sana, kecuali seorang tetangga yang menerima saya dan menginformasikan tidak ada orang di rumah.

Tukar sampah jadi anggota perpus (dokpri)


Saya sempat duduk di teras depan rumahnya yang asri. Perpustakaan itu terbuka dan tidak dijaga oleh siapa pun dengan buku-buku bacaan di rak yang terbuat dari bekas detergen cair atau pengharum pakaian. 

Rak buku unik (dokpri)


Uniknya, di Perpustakaan ini, anak-anak yang meminjam buku cukup membawa sampah non organik atau sampah plastik yang ada di rumah dan siap menikmati bacaan yang bisa dipinjam di sana. Ah, saya jadi mengerti mengapa perpustakaan ini dinamakan Perpustakaan Sampah. Keren ya idenya!

Oiya, sampah-sampah yang dibawa oleh anak-anak juga bisa ditukarkan dengan jajanan juga lho, Menarik ya! Jadi anak-anak dengan sadar tidak akan membuang sampah sembarang. Sebab sampah-sampah itu menjadi barang yang berharga.

Ingin jajan, cukup tukarkan sampah di rumah (dokpri)


InsyaAllah saya ingin datang lagi ke sana untuk menyaksikan sendiri keceriaan anak-anak membaca buku di Perpustakaan Sampah ini. Ehmm ... mungkin bawa rombongan krucil juga agar mereka bisa belajar dari Perpustakaan Sampah.

Oiya, kemarin sengaja saya membawa beberapa eksemplar buku hasil karya saya yang ada di rumah untuk disimpan di Perpustakaan Sampah. Berharap semoga memberikan manfaat dan keceriaan untuk anak-anak di Desa Nagrog. 

Buku-buku cerita anak hasil karyaku (dokpri)


Nah, jika teman-teman ada yang ingin menyumbangkan buku-bukunya, baik baru maupun bekas bisa silakan datang atau kirimkan ke alamat Perpustakaan Sampah di bawah ini.

Perpustakaan Sampah (Bapak Elan Jaelani)
Kp. Nagrog RT.002 RW.012 Kelurahan Pamoyanan
Kecamatan Bogor Selatan, Bogor, Jawa Barat 16136 Telp: 0858-6030-7777





Habibie Sang Inspirator yang Merdeka

Sudah sejak lama saya mengidamkan ingin bertemu dengan inspirator bangsa yang satu ini. Bahkan sejak saya kecil. Seorang negarawan yang sederhana, cerdas dan memiliki kepribadian yang unik. Beliau menjadi buah bibir di antara kami – anak kecil itu di masa tahun 80an-  karena kepakarannya di bidang teknologi dirgantara. Membuat pesawat terbang. Ya, benar! Beliau adalah Presiden RI ke-3, Bapak BJ Habibie.

Dulu, seingat saya, anak-anak kecil seusia saya, jika ditanya, kelak kalau sudah besar mau jadi apa? Pasti jawabannya adalah, “INGIN JADI PAK HABIBIE!”

Sesi Pertama Bincang uku Habibie The Series


Ya … kenangan masa kecil itu, kemudian membawa saya menuju sebuah tempat di Jakarta, pada suatu Ahad, 7 Agustus 2016 yang lalu. Saya mengikuti sebuah acara Bincang Buku Habibie The Series dan Diskusi Publik, yang diselenggarakan di Museum Bank Mandiri, Jakarta. Tema besar diskusi public ini adalah “Menggali Inspirasi dari 80 Tahun Habibie”.

Dari tema besar tersebut diskusi publik ini kemudian dibagi ke dalam dua sesi. Sesi pertama mengangkat tema Kunci Sukses Eyang Bangsa. “Mengulik Kepribadian Eyang Habibie Dalam Meraih Sukses”. Dan sesi kedua mengangkat tema “Kepemimpinan BJ Habibie dalam Pengembangan SDM Indonesia.

Hadir sebagai pembicara di dalam diskusi ini Bapak Andi  M. Makka (Tim Habibie Center). Pak Andi Makka ini adalah orang dekat Eyang Habibie, menurut pengakuannya, setiap 10 tahun Eyang Habibie ulang tahun, beliau menghadiahkan sebuah buku yang berisi tentang kehidupan Eyang Habibie. Nah tahun ini, beliau terlupa kalau usia Eyang Habibie sudah 80 tahun, akhirnya dua bulan sebelum hari ulang tahun Eyang Habibie beliau menulis dibantu oleh tim penulis. Pak Andi Makka ini juga  mantan Pemred Harian Republika.

Bapak Sutanto Sastrareja, beliau menjadi Tim penulis buku Habibie The series dan dosen UNS Solo. Dan beberapa tokoh dan anak-anak intelektual Eyang Habibie, seperti Pak Nurmahmudi Ismail (Mantan Menteri Kehutanan dan mantan walikota Depok), Pak Bambang Setiadi, Pak Wendi.

Saya memang berminat ingin mengulik lebih dalam kepribadian yang unik Eyang Habibie. Alhamdulillah, di dalam diskusi ini, ada sesi bedah buku Habibie The Series yang isinya pembentangan utuh Eyang  Habibie, baik itu sebagai pribadi, sebagai kepala keluarga, sebagai suami, sebagai ayah, sebagai anggota masyarakat, sebagai teknokrat, sebagai atasan dan sebagai presiden.

Habibie The Series

Buku Habibie The Series ini terdiri dari 8 buku yang ditulis oleh Pak Andi Makka, Tim penulis dari penerbit Tiga Serangkai dan kumpulan surat dari masyarakat yang mencintai beliau.

Pada sesi pertama, Pak Andi memaparkan tentang isi dari masing-masing buku tersebut.

Buku kesatu: Jangan Pernah Berhenti (Jadi) Habibie. 

Buku ini ditulis oleh Bapak Sutanto Sastradireja. Berisi tentang pencapaian-pencapaian yang telah dilakukan oleh Eyang Habibie dalam berkhidmat kepada bangsa Indonesia, baik itu dalam masa kepeimpinannya yang singkat dan kejeniusannya di dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Buku ini diharapkan memberi inspirasi kepada para penerus bangsa khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya, merasa bangga memiliki asset bangsa seperti Eyang Habibie.

Buku kedua: Habibie Jejak Sang Penanda Kebangkitan.

Buku kedua ini berisi testimoni dari tokoh-tokoh yang dekat dengan Eyang Habibie.  Bagaimana rekam jejak seorang Habibie menjadi penanda kebangkitan bangsa Indonesia.

Diceritakan saat Eyang Habibie diminta oleh Presiden Indonesia kedua, Bapak H. Soeharto untuk mengabdi kepada negara. Padahal saat itu Eyang Habibie sudah bekerja di Messerschmintt Bolkow Blohn atau MBB di Hamburg dan menjadi vice president di MBB.

Dengan jabatan yang tinggi dan kecerdasan yang luar biasa, pemerintah Jerman pernah meminta beliau untuk menjadi warganegara Jerman, tetapi permintaan itu ditolak Eyang Habibie.

“Sekalipun menjadi warga negara Jerman, kalau suatu saat tanah air memanggil, maka paspor Jerman akan saya robek dan saya akan kembali ke tanah air,” demikian kutipan kata-kata Eyang Habibie di dalam buku “Habibie dan Ainun”.

Dan terbukti, hingga hari ini, Eyang Habibie lebih memilih setia menjadi Warga Negara Indonesia, meski pada tahun 2004 saat beliau menjabat sebagai Presiden RI ke-3, laporan pertanggungjawaban beliau selaku Presiden ditolak, beliau tidak mengganti kewarganegaraannya. Beliau tinggal di Jerman dengan tetap menjadi WNI.

Sebuah keikhlasan yang sungguh luar biasa. Setelah didzolimi, tetap mencintai tanah tumpah darahnya. Dan saya semakin kagum, karena beliau benar-benar  inspirator yang merdeka, tidak dalam pengaruh atau kekuasaan orang lain/ negara lain terhadap dirinya. 

Buku ketiga: Habibie Karya Nyata Untuk Indonesia

Buku series ketiga ini berisi tentang prestasi-prestasi Eyang Habibie baik itu sebagai pakar aeronautika terkemuka dan juga dalam bidang politik di Indonesia. Di buku ini juga diceritakan pesawat buatannya yang terbang untuk pertama kali.

Di dalam buku ini juga memuat visi, misi, pandangan dan gagasan-gagasan Eyang Habibie dalam memajukan Indonesia.

Buku keempat: Habibie Totalitas Sang Teknosof

Seri ini ditulis oleh Pak Andi M. Makka. Berisi tentang hal-hal terkini Eyang Habibie. Bahwa pernah pada tahun 1990, orang-orang bimbang, akan dimasukan ke ranah mana kepakaran Eyang Habibie, apakah ranah ekonom atau teknokrat. Akhirnya terjawablah bahwa sesungguhnya Eyang Habibie adalah seorang teknosof, yaitu seseorang yang mendalami filsafat teknologi.

Eyang BJ Habibie mendapat gelar Doktor Honoris Causa dalam Ilmu Filsafat dan Teknologi dari Universitas Indonesia pada tahun 2010.

Buku kelima: Habibie Musik, Film dan Kegemaran

Eyang Habibie sebagai pribadi yang unik juga memiliki kegemaran yang hamper sama dengan masyarakat pada umumnya. Beliau suka main music, mendengarkan music dan menonton film.

Saat ibu Ainun wafat, kegemaran yang selalu dilakukan berdua bersama dengan ibu Ainun terpaksa harus dilakukan sendiri. Begitu dalam rasa cintanya kepada  ibu Ainun yang telah wafat, Eyang Habibie pun meminta kepada  Ananda Sukarlan – seorang pianis kaliber Internasional- untuk menciptakan sebuah karya music untuk mengenang Ibu AInun Habibie.

Karya music mengenang ibu Ainun Habibie kemudian masuk di dalam deretan Rapsodia Nusantara dan dimainkan untuk pertama kalinya pada tanggal 11 Agustus 2014 bertepatan dengan hari lahir ibu Ainun Habibie. Rapsodia Nusantara ini adalah proyek music pribadi Ananda Sukarlan yang dikemas dengan music-music tradisional Indonesia yang telah dilaunching pada bulan Desember2014 .

Buku keenam; Habibie Makna Dibalik Lensa

Salah satu hobi dari Eyang Habibie adalah mengabadikan apa yang terlihat di depan matanya. Beliau hobi fotografi. Pak Andi Makka bercerita, bahwa Eyang Habibie pernah memotret awan ketika berada di dalam pesawat. Dan menurut Eyang, awan itu akan sangat indah ketika pertama kali dilihat.

Oleh itulah banyak peristiwa dan keindahan alam yang tertangkap oleh lensa kameranya dan dipamerkan di acara memperingati 80 tahun usia Eyang Habibie.

Buku ketujuh: Ainun Mata Cinta Habibie

Buku ini berisi tentang bagaimana mengispirasinya ibu Ainun Habibie. Hingga meski telah tiada, Eyang Habibie begitu terkesan kepadanya. Sampai Andi Sukarlan menggambarkan, bahwa romantisme cinta Eyang Habibie kepada Ibu Ainun mengalahkan kisah cinta Romeo dan Juliet. Saking indahnya.

Buku ini juga berkisah tentang kegemaran ibu AInun menonton sinetron Cinta Fitri. Hingga produser film tivi itu mengirimkan setiap episode baru kepada ibu AInun demi mengetahui sinetron itu digemari oleh Ibu Ainun.

Buku kedelapan: Habibie dalam Komik, Puisi dan Surat

Buku ini berisi apresiasi masyarakat kepada Eyang Habibie. Wujud dari masyarakat yang mencintai dan mengagumi  Eyang Habibie sebagai sosok inspirator bangsa  dengan jujur dan tulus.

Setelah Pak Andi Makka dan pak Sutanto memaparkan tentang isi dari 8 series buku Habibie ini, Mas Boim Lebon sebagai moderator mempersilakan peserta untuk bertanya. Setelah sesi Tanya jawab, acara ditutup untuk sementara untuk melakukan shalat dzuhur dan istirahat makan siang bersama.

Saya shalat di masjid yang terletak di dalam Museum Bank Indonesia. Masjidnya luas dan bersih terawat. Dihiasi dengan tanaman merambat di sekitar tembok di halaman museum dengan bunga yang indah berwarna-warni. Setelah shalat tak lupa saya mengabadikan momen di museum Bank Indonesia itu dengan berfoto bersama teman-teman. Bangunan kuno terawat itu sayang jika dilewati tanpa sebuah kenangan.

Setelah saya shalat, saya kembali ke gedung Museum Bank Mandiri. Di sana mbak Gesang – panitia dari FLP- tampak sibuk mengatur snack yang terdiri dari pisang rebus, ubi rebus, kacang rebus dan kerupuk gadung. Sementara makan siang telah disediakan dalam wadah steroform. Menu makan pada siang itu, nasi putih dengan lauk ayam bakar komplit dengan sambal yang enak banget. Dan makan siang serta snack siang itu semua mbak Gesang yang membuatnya sendiri. Wihhh … Hebat!

Pukul 2 siang, kembali acara dibuka. Sesi dua pun dimulai kembali.

Sesi kedua: Kesaksian dari anak-anak ideologis


Sesi kedua ini menampilkan anak-anak ideologis dari Eyang Habibie. Ada empat pembicara di depan, yaitu Pak Andi M. Makka, Pak Wendi, Pak Bambang Setiadi dan Pak Nurmahmudi Ismail.

Menarik menyimak cerita yang disampaikan oleh Pak Nurmahmudi Ismail tentang gaya kepemimpinan Eyang Habibie. Pak Nur Mahmudi adalah salah seorang anak ideologisnya Eyang Habibie. Bekerja di BPPT, kemudian menjadi Menteri Kehutanan dan Walikota Depok.

Seperti yang kita ketahui bahwa Presiden Ri ke-3 ini adalah pendiri dan kepala BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) periode 1974-1998. Pada masa kepemimpinan beliau, untuk pertama kalinya dikenal jam kerja mulai pukul 8 pagi hingga 5 petang dengan masa kerja lima hari, yaitu hari Senin hingga hari Jumat. Hari Sabtu dan Minggu libur.

Beliaulah yang menggagas untuk pertama kalinya pola kerja kantor perkotaan. Sehingga akhirnya jam kerja kantor yang digagasnya tersebut menasional.

Dalam sistem kepegawaian, Eyang Habibie  lebih mementingkan atau mengutamakan kinerja bukan absensi.

Yang lebih mengharukan seperti yang dikisahkan oleh Pak Nur, ketika pada suatu ketika Pak Nur dan Eyang Habibie bersebrangan partai politik (sebab pak Nur Mahmudi pada tahun 1999 menjadi Presiden Partai Keadilan), Eyang Habibie tetap bersikap baik dan berlaku seperti biasanya, malah mendukung setiap gerak langkah pak Nur Mahmudi dalam menuju perbaikan bangsa dan negara.

Lain kisah Pak Nur Mahmudi, lain pula kisah kesaksian dari Pak Bambang Setiadi.

Pak Bambang Setiadi menceritakan bahwa Eyang Habibie adalah seorang yang religious. Ketika beliau sedang berkunjung ke sebuah daerah, maka Eyang berpesan pada pak Bambang untuk mengagendakannya shalat di sebuah desa. Ini sesuai dengan apa yang sering beliau nasehatkan kepada anak-anak ideologisnya; “Bekerja harus, berdoa juga harus”.

Itulah hal pertama yang menjadi inspirasi pak Bambang dalam menapaki kesuksesan hidupnya. Kemudian di sesi kedua ini, Pak Bambang mengemukakan beberapa hal atau nasehat yang menjadikan dia selalu ingat akan pesan-pesan Eyang Habibie kepadanya.

-          Bekerja harus, berdoa juga harus.
-          Tanggungjawab professional, ilmuwan bukan pekerjaan tetapi sikap.
-          Teknokrat harus mengayomi.
-          Kerjsama internasional itu perlu.
-          Focus – lakukan – selesai – lapor.
-          Penghargaan itu akibat kerja keras.
-          Sederhanakan model masalahnya.
-          Perhatikan hubungan SDM – riset – industry.
-          Jangan berhenti berfikir, meskipun Anda pensiun.

Banyak hikmah yang bisa dipetik dari pemaparan dari kesaksian anak-anak ideologis Eyang Habibie. Sayang waktu juga yang akhirnya membatasi acara diskusi public dalam rangka ulang tahun Eyang Habibie ke 80 tahun.

Acara Bincang Buku Habibie The Series dan Diskusi Publik, “Menggali Inspirasi dari 80 Tahun Habibie” adalah salah satu rangkaian acara yang digelar oleh Friends of Mandiri Museum bersama dengan Pameran Foto #Habibie80 yang berlangsung dari tanggal 24 Juli hingga 21 Agustus di Museum Mandiri, Kota Tua, Jakarta Barat.

Pelaksana acara ini adalah Forum Lingkar Pena yang tergabung dalam Friend of Mandiri Museum. Bekerjasama dengan Habibie centre, Penerbit Tiga Serangkai, Museum Mandiri, Bank Mandiri dan Lembaga Kursus Bahasa Asing Euro Management.

Dan syukur alhamdulillah, jauh-jauh dari Bogor untuk mengikuti diskusi public ini, meski tidak bisa berfoto bersama dengan Eyang Habibie, cukup terhibur dengan  mendapatkan  voucher mengikuti kursus Bahasa asing dari euro Management.

Nah, bagi Anda yang belum sempat merapat ke Museum Mandiri, masih ada waktu hingga tanggal 21 Agustus nanti. Jangan sampai ketinggalan lagi ya. Banyak hal yang bisa Anda dapatkan di sana loh. Buat anak-anak juga ada lomba lomba yang menarik dengan hadiah menarik menanti. 




Main Layangan, Asyik!

Berbicara tentang permainan masa kecil, memang selalunya mengasyikan. Selain membuat saya menjadi asyik mengobrak abrik laci-laci memori, hal ini juga membuat perasaan saya bahagia. Jadi senyum-senyum sendiri mengingat betapa "bandel"nya saya dulu waktu masih kecil. 

Hm... sepertinya semua permainan tradisional sudah pernah saya mainkan. Sebut saja main karet, main layangan, main dampu, main gala asin, main cingboy, main petak umpet sampe ngumpet di pohon atau kandang kambing juga pernah, main beklen, main congklak, main ular naga, main ular tangga, main pasar-pasaran, sampai menggiring ban bekas pake tangan semuanya pernah.

Main layangan adalah salah satu permainan  favourite saya. Meski gagal terus menerbangkan layangan, tapi saya suka sekali dengan permainan ini. Apalagi kalau ada layangan putus, uh seneng banget ngejar-ngejarnya heuheu

Dulu, sepertinya semua permainan bisa dimainkan oleh anak perempuan dan anak laki-laki. Tidak terbatas gender. Jadi kita mainnya bareng-bareng gitu. Pokoknya seneng banget deh. Ga ada yang namanya bully si ini atau si itu. Semua mau main bareng. Dan hampir semua permainan sudah saya perkenalkan kepada anak-anak saya. 

Nah, tahun lalu, saya dan anak anak berkesempatan mudik ke Bogor, anak lakilaki saya merengek minta dibelikan layangan. Pasalnya dia melihat anak tetangga saya bermain layangan. Saya pun bertanya pada anak itu, membeli layangan di mana? Anak itu menjawab, layangan itu enggak beli tetapi dari hasil ngejar layangan.

Ya ampun, ternyata susah juga beli layangan pada zaman sekarang ya. Kalau dulu, tukang layangan itu ada di mana-mana. Semua orang menjual layang-layang. Apakah karena sekarang layang-layang kurang peminatnya? wallahu'alam.

Kata anak itu, ada penjual layangan tapi jauh. Saya berusaha menanyakan, jauhnya itu di mana? Dia malah enggak tau harus menerangkannya bagaimana. Ya sudahlah. Ayahnya sudah mencoba membuatkan dari kertas yang ada. Tapi sayang, layangan itu tidak bisa terbang. Mungkin karena kurang ringan atau bagaimana.

Alhamdulillah, setelah jalan-jalan ke Lampung, justru di sana saya menemukan penjual layangan. Tapi bukan layangan kertas. Layangan hias yang terbuat dari kain terpal. Betapa anak saya amat senang karenanya. Ia bisa bermain layangan.


layang-layang kelelawar.docpri


Si Abang dan adiknya bermain layng-layang bersama di rumah Aki. Senangnya amat sangat senang. Ayahnya mengajarkan mereka bagaimana menerbangkan layang-layang itu. Dalam permainan layang-layang mereka belajar tentang kerjasama, belajar tentang artinya menahan, menarik dan mengulur, sebuah proses yang perlu kesabaran tinggi agar tercapai tujuan, layang-layang terbang tinggi dan stabil di angkasa. 


Abang dan adik bermain layangan docpri

Setelah bermain layang-layang, si adik dengan bahagianya membuat sebuah gambar, tentang asyiknya bermain layang-layang di tanah lapang. Ini adalah pengalaman berharga mereka. Saat kembali ke Malaysia, layang-layang mereka pun dibawa serta. 

Senangnya main layang-layang dalam gambar. docpri

Karena layang-layang bahannya dari kain, layang-layang ini awet. Bisa dipakai sampai bila-bila masa :-) harganya pun cukup terjangkau, satu layang-layang IDR25000. Waktu itu saya beli tiga warna. Hitam. kuning dan merah. 


Layangan di Pantai Desaru. docpri

Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa




 


Hobi Kamu Apa?

Hobi kamu apa?

Dulu, waktu saya kecil, saat ditanya tentang hobi saya bingung banget. Yah, gimana enggak bingung. Hobi saya banyak! Hihihi ... Nih hobi saya waktu kecil, hobi makan es krim, hobi makan jambu di pohonnya, hobi nangkep belalang, hobi baca komik dan buku cerita, hobi nyanyi, hobi dengerin musik, hobi jalan (mirip-mirip si bolang deh) dan lain-lain. Tuh kan ...banyak banget kan? Kadang saya juga ngikutin trend yang ada saat itu. Temen ada yang jago buat setrimin, ikut-ikutan hobi bikin setrimin. Temen hobi nonton bola, ikut. Temen hobi berenang, ikut. Padahal mah enggak bisa berenang. Suka main airnya doang bahahaha. 

Nah tahun 80-90an lagi boomingnya tuh pada suka ngumpulin perangko, saya juga ikutan hehhe meskipun ga begitu mendalami banget. Soalnya hobi ini lumayan mihil. Kadang suka ada temen yang baik hati, ngasih perangko yang dia punya dobel ke saya. Tapi gak begitu telaten juga sih. Setelah itu gak diurus lagi. Dan salah satu hobi saya yang paling saya suka adalah menghayal di atas pohon jambu. Sambil bawa buku-buku cerita, sambil makan jambu, saya habiskan hari dengan menghayal di sana. Ih ... hobinya ga keren amat sih!

Nah, semakin saya gede, maksudnya baru-baru ini, saya baru engeh, hobi itu ternyata enggak sesederhana itu. Saya baca di sebuah artikel, hobi ternyata menentukan juga lho diterima atau tidaknya seseorang di dunia kerja. Sepertinya sepele ya? ternyata tidak juga. Dari hobi, seseorang bisa diketahui etos kerjanya. Kemandiriannya, kesungguhannya, kerjasamanya dll. Wih .... 

Dan baru saja saya ketahui bahwa hobi itu adalah sebuah ketertarikan, interes, minat atau bahasa kerennya mah "passion" yang membuat seseorang itu ketagihan, kecanduan dan akhirnya jadi expert

Alhamdulillah, ada salah satu hobi masa kecil saya yang akhirnya membuat saya beneran bisa mewujud menjadi sebuah buku. Ada yang bisa menjawab? Yah ... benar! Hobi menghayal! Hihihi
Anda berhak mendapat senyuman dari saya sepuluh kali (ikon smile 10x) 

Salah satu yang suka saya pikirkan di atas pohon jambu itu adalah benarkah di dunia ini ada "kalong wewe" yaitu makhluk yang suka bawa kabur anak-anak jelang maghrib? Di dalam hayalan itu, saya bisa menumpas si makhluk itu dengan penuh keberanian. Padahal mah jelang maghrib pasti takut banget hihihi

Akhirnya, dendam menumpas makhluk jelang maghrib itu aku tuntaskan dalam bentuk sebuah novel. Misteri Chiroptera Penculik. Novel ini bercerita tentang seorang anak kelas 5 SD, Sarah namanya. Ia bermaksud mengungkap misteri Chiroptera atau kalong yang menjadi TEROR buat anak-anak di kampung sebelah komplek rumahnya. Ketika mengungkap itu, ternyata Sarah justru terlibat dalam petualangan mengungkap children traficking yang dilakukan oleh seorang bapak yang berbudi tinggi dan berjasa bagi pembangunan kampung.

Ini dia penampakan novel itu. 

Misteri Chiroptera Penculik


Cerita dalam novel ini 10% kisah nyata saya waktu kecil dan 90%nya adalah hasil rekaan saya. Alhamdulillah, ternyata tidak ada yang sia-sia dengan hobi menghayal hehhe ada gunanya juga. Eit .. tapi menghayal enggak sekadar menghayal ya. Hobi yang satu ini juga dipengaruhi oleh buku-buku bacaan yang saya baca di masa itu. 

Nah itulah, sekarang saya juga hati-hati memberi buku bacaan kepada anak-anak saya, biasanya saya sortir dulu, takut ada yang aneh-aneh. Zaman sekarang kan beda ya dengan zaman dulu. Buku komik aja sekarang kudu dibaca dulu sama orang dewasa, takut kecolongan. Dulu saya suka baca komik grafis Tintin, Nina, Arad dan Maya,  Asterix, Smurf, majalah bobo dan majalah kuncung, Lima sekawan, trio detektif , Noni, dan wiro sableng. Suka baca juga suplemennya koran pos kota. Baca Ali oncom hihihi dan isi TTSnya, Pernah juga kirim TTS ngarep dapet duit bahaha

Okeh, saya mau bercerita sedikit tentang novel yang saya tulis ini. Eh sebenernya sih saya sudah menuliskannya panjang lebar proses kreatif menulis novel perdana ini di blog kumpulan porto folio saya.  Singkatnya aja ya, saya ingin berpesan kepada anak-anak yang membaca novel ini, bahwa tidak ada yang perlu ditakuti di dunia ini, karena semua makhluk adalah ciptaan Allah. Semua makhluk tunduk dan taat kepada Allah. Maka mintalah pertolongan hanya kepada Allah, maka hidup kita akan tenang. 

Novel ini tidak hanya bercerita tentang kengerian anak-anak dibawa oleh hantu kelelawar, tapi juga kengerian jauh dari orang tua karena children traficking. Selain kengerian, di dalam novel ini juga anak-anak diajak belajar berbahasa Malaysia, belajar tentang anatomi kelelawar dan belajar tentang kerjasama dan kesetiakawanan.

Ini dia daftar isinya

Novel dengan tebal 170 halaman ini sudah dibaca oleh anak saya berkali-kali, karena dengan sekali duduk novel ini sudah selesai dibacanya. Katanya, Ummi buat lagi dong lanjutannya. 

Novel ini juga mendapat apresiasi positif dari editor sebuah penerbitan besar di Malaysia, kata beliau, untuk ukuran novel perdana, novel Misteri Chiroptera Penculik ini adalah novel yang best dan grand! *cie ..cie... ada yang GR hihihi ..

Ini dia testimoni teman-teman yang sudah membaca novel ini:

Dengan cerdik, Penulis telah memasukkan beberapa ilmu baru kepada anak-anak, dengan menulis tentang chiroptera atau kelelawar. Penulis juga memberi kesadaran pada anak-anak tentang istilah mitos dan hantu, yang menjadi momok buat anak-anak usia beranjak remaja (Tanti Amelia)

Walaupun cerita ini bergenre petualangan misteri, tapi begitu banyak ilmu dan pengalaman baru yang kami dapat. Mengenal lebih dekat dengan Chiroptera dan beringin dengan akar gantungnya. Petualangan yang menyenangkan sekaligus bikin deg-degan. Semoga akan ada sekuel yang lebih seru, menantang dan penuh kejutan. (Idhayu Kusuma)

Kisah misteri yang sekaligus menegangkan ini menjadi cerita menarik untuk anak-anak. Hanya saja bagi pembaca remaja atau dewasa mungkin akan menemukan beberapa lubang yang harus ditutup. Terdapat beberapa logika seeting, alur dan percakapan yang harus diperdalam eksplorasinya. Seperti tokoh Sarah misalnya, dia baru kelas 5 SD, walau ikut latihan bela diri, rasanya akan tetap susah diterima 'seberani' dalam kisah ini. (Sinyo Egie)

Nah bagi teman-teman yang berminat ingin memiliki novel ini bisa memesan langsung kepada saya. InsyaAllah, ada potongan harga untuk teman-teman baikku. 

Harga novel Rp30.000 sahaja ^_^ 

My Lovely Friend's

Buku-bukuku