October 15, 2017

INTERLAC Menjaga Kesehatan Pencernaan Bayi dan Keluargaku

October 15, 2017 13 Comments

Hai, Bunda, menjadi seorang ibu, tentu saja kita memiliki peranan penting yang banyak sekali di dalam keluarga kita, ya, kan. Dan peranan ini jika dihitung dan disetarakan dengan gaji orang yang bekerja harian selama 24 jam, seorang ibu bisa menjadi seorang milyoner dalam beberapa tahun ke depan. Yah ... tentu saja, karena peranan yang banyak sekali itu.

Peranan ibu dalam keluarga itu, ya, sebagai Manajer Utama keluarga, Manajer keuangan juga, sebagai desain interior, sebagai chef juga, sebagai guru, sebagai motivator, sebagai dokter dan juga sebagai perawat. Tuh, banyak banget kan keahlian seorang ibu. Dan tentu saja semua keahlian ini tidak berdasarkan pengalaman belaka, tetapi juga diperlukan ilmu dan ketrampilan yang setiap hari senantiasa harus di upgrade. 

Dan sebagai ibu dengan peranannya yang banyak itu pengen dong jadi milyoner saya belum pernah mendengar ada seorang ibu yang ingin digaji dengan gaji berjuta-juta untuk peranannya di dalam rumahnya. Enggak kepengen jadi jutawan tapi rumah ancur lebur. Enggak mau jadi milyoner tapi anak sakit-sakitan. Enggak akan mauu, pasti! Seorang ibu akan merasa bahagia, bahagia, bahagia, jika keluarga bahagia, sejahtera, anak-anak sehat dan tumbuh berkembang secara optimal, jauh dari penyakit. Bahagiaaaa banget. Betul tidak?

Yah, bagaimana tidak, jika anak sakit saja, ibu sudah tentu orang pertama yang bersedih. Ibu akan mengerahkan semua kemampuannya agar buah hatinya sembuh dari sakit dan ceria lagi.

Saya jadi teringat ketika anak saya yang nomor dua sakit perut. Iya, baru-baru ini, anak saya yang nomor dua, Shafa, mengeluh sakit perut. Dia bukan balita lagi, sudah usia 13 tahun. Kalau sakit, ndusel-dusel manjanya tetap ke ibunya. Saya juga termasuk ibu yang rada panikan juga sih hahhaa jadi kalau anak sakit, suka ikut ngerasain sakitnya dia. Sedih aja lihatnya. Pengen cepet-cepet dia sembuh.

Pagi itu, seharusnya dia bersiap-siap  ke sekolah, tapi melihatnya meringis terus dan guling-guling di tempat tidur dalam posisi kaki menekuk, saya tahu, sakitnya itu luar biasa. Akhirnya saya sarankan istirahat di rumah. Setelah mempersiapkan adik-adiknya ke sekolah, saya coba memijat perutnya agar rileks otot-otot perutnya. Tapi ternyata dengan terapi itu, tidak juga berkurang sakitnya. Saya ajak ngobrol si Teteh. Apa yang menyebabkannya sakit perut.  Ternyata dia kesulitan BAB. Perutnya melilit, tapi tidak dapat mengeluarkan kotoran. 

Saya teringat, saya memiliki persediaan INTERLAC. Duhhh ... alhamdulillah banget saya memiliki persediaan INTERLAC di rumah. Suplemen probiotik INTERLAC ini saya dapatkan di acara Kampanye INTERLAC Probiotics - dengan tema "Healthy Tummy Happy Baby" pada tanggal 30 September yang lalu.  Meski INTERLAC bukan obat pencahar, tapi menurut dr.Intan Diana Sari, Head of Medical PT Interbat, beliau memberikan materi tentang kesehatan pencernaan, Interlac memiliki manfaat dapat mengatasi konstipasi dan menaikkan/mengembalikan keseimbangan sistem imunitas tubuh.

(Foto ini keren banget.) Suplemen Probiotik INTERLAC
Saya yang motret lho, berasa keren deh jadi emak heuheu

"Teh, coba makan INTERLAC," bujuk saya kepada putri saya yang sudah kelas 2 SMP ini. Badannya besar, tapi tetap saja masih manja sama ibunya.

"Apa itu?" tanyanya ingin tahu.

"INTERLAC ini suplemen makanan untuk menjaga kesehatan pencernaan. Semoga dengan memakan ini, sakitnya berkurang dengan makan ini. Cuma sekali sehari kok!" saya keluarkan INTERLAC dari dalam dusnya.

"Tablet, Mi?" tanyanya dengan wajah ngeri.

"Iya. Tablet hisap kok. Tidak perlu ditelan langsung. Boleh dihisap atau dikunyah. Rasa stawberry." saya sorongkan tabletnya di depan wajahnya. Dia mengambil dengan ragu. Kemudian memasukan dalam mulutnya setelah komat-kamit membaca bismillah.

"Hmm ... bolehlah. Tabletnya dihisap, kan, Mi?" setelah membaca basmallah, dia pun menghisap-hisap tablet INTERLAC itu.

Saya biarkan dia di kamar untuk istirahat. Dan saya sibuk dengan adik bayi dan pekerjaan rumah. Tak lama kemudian, dia sudah tidak berguling-guling lagi di atas tempat tidur.

"Gimana, Teh? Masih sakit perutnya?"

"Udah enggak. Tadi udah bisa keluar." katanya dengan sumringah.

"Alhamdulillah ..."

Alhamdulillah, itulah gunanya selalu mengupgrade ilmu buat ibu-ibu rempong seperti kita-kita ini ya. Ketika anak-anak sakit, kita sudah punya solusinya. Ibu itu menurut saya seperti doraemon lho, punya kantong yang serba ada heuheu Malah pernah baca, di sebuah komik Korea, katanya, tangan ibu itu obat. Saking mujarabnya elusan dan pijatan ibu, anak yang sakit akan berkurang sakitnya sebab ada ibu yang selalu siap merawatnya.

Dan seperti harapan saya, jauh-jauh datang dari Bogor ke Jakarta membawa bayi kecil usia 7 bulan, berpagi-pagi naik kereta, alhamdulillah, banyakkkkk sekali ilmu baru yang bisa saya serap dalam acara ini. Alhamdulillah... 

Saya memegang suplemen probiotik INTERLAC Drops
Cakep ya, (saya) produknya ^_^

Nah, agar ilmunya jadi ilmu yang bermanfaat, saya bagi lagi nih ilmunya yang saya dapat hari itu. InsyaAllah berguna untuk Bunda semuanya yaaa ^_^

Healthy Tummy Happy Baby

Tahukah, Bunda? Bahwa sistem imun kita itu ternyata 80% itu terletak di dalam saluran pencernaan kita. Makanya, kenapa saya sering mendengar, bahwa kesehatan saluran pencernaan kita adalah cerminan kesehatan tubuh kita secara umum. Pernah juga mendengar, you are what you eat. Iya, ternyata kesehatan kita itu tergantung sehat atau tidaknya saluran pencernaan kita lho. Kebayang kan, kalau kita makan sembarangan, makan ini makan itu tidak mengindahkan sehat atau tidaknya, apalagi kalau lingkungan rumah tidak sehat, pola hidup juga tidak sehat. Pasti kita mudah sakit. Dan mungkin akan berakibat fatal hingga kematian.

Jika sistem pencernaan kita sehat, maka sudah dapat dipastikan, tubuh kita pun akan sehat. Sebab sistim imunitas kita pun menjadi kuat.

Di antara pembunuh nomor satu yang dialami oleh anak-anak adalah diare yang sampai ke tahap dehidrasi. Faktor pencetus diare itu banyak. Terutama diare yang menyerang bayi dan balita kebanyakan adalah faktor makanan dan kurangnya higinitas lingkungan sekitar dan tempat makannya. Apalagi jika bayi itu mulai makan M-PASI dan minum susu botol. Kemungkinan terkena diare itu besar sekali.

Menurut riset, rata-rata bayi berusia  0-2 tahun terkena diare lebih dari 3x setahun. Penyebab utama diare antara lain infeksi Rotavirus, infeksi bakteri jahat dari benda kotor di sekitarnya, alergi, susu formula yang salah penyajiannya, keracunan makanan, flu dan mengkonsumsi obat antibiotik.

Melindungi bayi dan keluarga kita bisa dilakukan dengan menjaga dan melindungi saluran pencernaan dari bakteri jahat. Saluran pencernaan yang sehat dapat dipelihara dengan cara memberikan probiotik kepada si kecil dan anggota keluarga lainnya.

Jenis-jenis gangguan saluran pencernaan

Apa sih Probiotic itu?


Probiotic berasal dari Bahasa Yunani. Pro yang berarti untuk dan bios yang berarti kehidupan. Probiotic jika dirangkai menjadi satu kata, memiliki makna; for life  yang artinya untuk kehidupan. 

Probiotic bukan obat. Probiotic adalah suplemen makanan untuk memelihara kesehatan saluran pencernaan secara efektif dan aman karena terbukti secara klinis dan diakui oleh BPOM dan memenuhi syarat probiotic sehat dari WHO.

Ini beberapa syarat probiotic yang baik menurut WHO;

  • Berasal dari manusia
  • Dapat bertahan hidup di saluran pencernaan
  • Tahan terhadap asam lambung dan cairan empedu
  • Menghasilkan zat antimikroba
  • Mampu melawan bakteri jahat
  • Terdokumentasi penelitian klinis yang baik
Dan Probiotic yang memenuhi syarat-syarat di atas itu adalah INTERLAC. Probiotic INTERLAC ini direkomendasikan oleh lebih dari 90 dokter di seluruh dunia sebagai Live and True Probiotic.


Probiotic INTERLAC

Bunda, jenis probiotic di pasaran banyak jenisnya. Dari yang generik hingga yang paten. Namun perlu diingat, Bun, bahwa memilih probiotik juga penting untuk kesehatan pencernaan kita.

Ini dia Logo resmi INTERLAC clinically Proven Probiotics



Menurut dr. Intan Diana Sari, Head of Medical PT Interbat, setiap jenis probiotik berbeda-beda. Ada probiotik yang sudah teruji manfaatnya, ada juga yang belum memiliki dukungan scientifik untuk klaim kesehatannya. Dalam pemilihan probiotik untuk manfaat kesehatan, penting untuk melihat bukti uji klinis sampai tingkat strain. Lactobacillus Reuteri Proctetis, salah satu probiotik yang paling banyak diteliti di dunia mengenai manfaat dan keamanaannya.

dokter Intan dan Bapak Hadi sedang mempresentasikan materi

Nah, probiotik yang paling menonjol kelebihannya adalah probiotic strain Lactobacillus reuteri Proctetis yang dipatenkan oleh BioGaia, perusahaan bioteknologi Swedia yang dikenal sebagai World Leader in Probiotics. Probiotic ini terkenal dengan brand INTERLAC. Di Indonesia INTERLAC dipasarkan lewat kerjasama antara BioGaia dan PT. Interbat.


"Melalui kerjasama BioGaia dengan PT Interbat, INTERLAC dipasarkan di Indonesia sebagai satu-satunya produk suplemen probiotik di Indonesia yang mengandung Lactobacillus reuteri Protectis, solusi aman dan efektif untuk berbagai macam gangguan saluran cerna," jelas Mohammad Nurhadi, selaku Brand Manager INTERLAC.

Logo resmi PT. INTERBAT

Ini Kelebihan INTERLAC dibanding probiotik yang lain, Bunda;
  1. Satu-satunya probiotik Lactobacillus reuteri Protectis di Indonesia, probiotik rekomendasi dokter di lebih dari 90 negara.
  2. Produk impor dari BioGaia, perusahaan Swedia yang dikenal sebagai World Leader in Probiotics
  3. Sediaan lengkap untuk bayi, anak-anak dan dewasa (Oral Drops, Sachet dan Tablet Kunyah.
  4. Keamanan yang terjamin – aman dikonsumsi bayi lahir prematur, bayi baru lahir sampai dewasa dan lansia.
  5. Manfaat yang teruji di lebih dari 13.000 individu pada 160 uji klinis

INTERLAC ini dijamin keamanannya untuk semua usia dan sudah mendapatkan predikat keamanan tertinggi, Generally Recognized as Safe (GRAS) dari FDA Amerika Serikat. Memilih INTERLAC berarti memilih probiotik yang teruji klinis, aman dan efektif sesuai rekomendasi dokter di lebih dari 90 negara. 

Nah, oke banget ya, Bunda ^_^

Terus bagaimana cara mengatasi kalau anak-anak dan kita sendiri diare, konstipasi, atau sakit pencernaan yang lainnya?

Cara mengatasinya dengan cara memberikan suplemen probiotik yang aman dan direkomendasikan oleh dokter.

Varian INTERLAC tersedia dalam bentuk oral drops (untuk bayi baru lahir sampai usia 1 tahun), sachet (untuk bayi usia 0 tahun hingga balita usia 3 tahun) dan tablet kunyah (untuk usia 4 tahun hingga dewasa) tersedia dalam dua varian rasa, lemon dan strawberry. 

Berikut ini saya share cara mempergunakan suplemen probiotik INTERLAC untuk berbagai usia ya, Bunda.

Untuk Bayi Usia 0-3 Tahun, 

Rekomendasi INTERLAC;
  • Diare: 5 hari pemakaian 
  • Konstipasi: 2 minggu pemakaian
  • gumoh/regurgitasi: 4 minggu pemakaian
  • Kolik: 3 minggu pemakaian
  • Imunitas: Pemakaian jangka panjang.
Pemberian INTERLAC terbukti klinis mempercepat penyembuhan diare (19-32 jam lebih cepat) dari probiotik lainnya.

Untuk bayi yang baru lahir, ada tipsnya nih, Bunda, untuk meningkatkan sistem imunitasnya;
  • Membantu mencegah dermatitis atopik
  • Membantu mencegah infeksi (demam, influenza dan diare)
  • Menaikan imunitas bayi terhadap alergi
Nah, ini nih penting banget. Bayi alergi. Bayi saya, Sakina (8 bulan), pernah terkena alergi dan memang anak dari ayah dan ibu pengidap alergi. Kalau ingat saat dia muncul alergi saat awal M-PASI ingin nangis rasanya. Makanya saya ikhtiar dengan memberikannya INTERLAC drops. Ikhtiar agar sistem imunitasnya stabil dan tidak gampang sakit. Tidak muncul lagi alerginya, sehingga dia bisa menikmati makan pertama M-PASInya dengan bahagia dan riang gembira. 

Di tempat berlangsungnya acara, setelah makan siang, saya menyempatkan diri bertanya kepada Pak Mohammad Nurhadi, terkait alergi yang dialami putri saya, Saki (7 bulan), menurut beliau probiotik INTERLAC mungkin tidak dapat mengobati alergi, karena jika anak alergi sudah tentu harus ditelusuri sumber pencetus alerginya, yang dapat dilakukan oleh probiotik INTERLAC secara efeketif adalah menaikan sistem imunitas bayi terhadap alergi. 

Dan alhamdulillah, setelah saya rutin memberikannya 1x sehari, Sakina tidak gampang sakit. Malah sekarang ketrampilan motoriknya semakin bagus. Saki sedang belajar berdiri. Kalau berdiri di depan jendela, bawaannya dia mau naik-naik terus. Emak yang lebay dan gembira ini jadi sering menjerit melihat dia berusaha manjat-manjat jendela heuheu


Cara memberikannya INTERLAC drops, sangat mudah. Begini caranya, Bunda:
  1. Aturan pakai: 1x sehari
  2. Kocok dahulu sebelum digunakan
  3. Teteskan 5 tetes ke dalam sendok
  4. Rasanya plain/netral untuk bayi dan anak
  5. INTERLAC drops ini untuk 25x pemberian dalam satu botol
  6. setelah dibuka, simpan INTERLAC drops ke dalam lemari pendingin.
INTERLAC Drops untuk bayi dan anak

Cara memberikan INTERLAC Sachet, begini caranya, ya Bunda:
  • Aturan pakai: 1x sehari
  • Larutkan 1 sachet dalam sedikit air
  • Dianjurkan untuk menggunakan sendok
  • Rasanya plain/netral untuk bayi dan anak
  • Simpan di bawah suhu 25 derajat celcius
INTERLAC Sachet rasa plain untuk bayi dan anak


INTERLAC untuk Anak-anak dan Dewasa

Rekomendasi INTERLAC;
  • Diare: 5 hari pemakaian
  • Konstipasi: 2 minggu pemakaian
  • Konstipasi kronis pada dewasa: 1 bulan pemakaian
  • Menaikan sistem imunitas: pemakaian jangka panjang
  • Pendampingan Konsumsi antibiotik
Tahukah Bunda? Antibiotik bekerja dengan membunuh bakteri di dalam tubuh, termasuk bakteri yang baik dan jahat. Karena itu, suplemen probiotik INTERLAC sangat dianjurkan sebagai pendamping antibiotik untuk mengembalikan keseimbangan bakteri baik di dalam saluran cerna dan mengurangi efek samping antibiotik.

Untuk Anak dan Dewasa dapat mengkonsumsi INTERLAC Tablet kunyah. Ada dua varian rasa, strawberry dan lemon. Cara mengkonsumsinya dengan cara dikunyah. Aturan pemakaiannya 1 x sehari. Setelah itu simpan tablet di bawah suhu 25 derajat celcius.

INTERLAC Tablet Kunyah rasa Strawberry

INTERLAC Tablet Kunyah rasa Lemon


Jika ingin mengenal lebih jauh suplemen probiotik INTERLAC, Bunda bisa cuss aja ke alamat-alamat sosial media INTERLAC, ya Bunda.

Website: www.interlac-probiotics.com
Instagram: @interlacprobiotics
Facebook: interlacprobiotics

Suplemen probiotik INTERLAC pun bisa dibeli melalui toko online Bunda. Ini alamatnya: http://www.lazada.co.id/interlac/

Bunda juga bisa membeli suplemen probiotik INTERLAC di Guardian, apotek terdekat dengan rumah bunda, Halodoc dan Go-Med App.

Nah, sekian sharing pengalaman dari saya. Selamat berakhir pekan bersama keluarga, Bunda. Moga sehat selalu yaaa  ^_^



October 03, 2017

Suka Duka Menjadi Mama Anak Lintas Budaya

October 03, 2017 7 Comments

Saya itu keluarga nomaden. Pindah-pindah terus ke mana-mana (eh baru tiga kali deng). Pernah terbersit sih ingin menetap di sebuah negara, di sebuah perkampungan yang indah dan permai, memiliki pertanian yang luas dan memiliki peternakan dengan hewan sapi dan kambing yang gemuk dan sehat. Seperti di film Shaun The Sheep tea. Ah saya mah beneran hidup teh terlalu banyak bermimpi hehhe

Pindah dari satu negara ke negara lain menjadikan saya ibu dari anak-anak yang mempunyai karakter tiga peradaban budaya. Mungkin malah lebih, karena saya berbahasa Sunda, suami berbahasa Indonesia dan anak-anak menggunakan Bahasa Melayu dan  kadang kalau masih ingat Bahasa Jepang.
Dari sejak pulang dari Jepang (suami saya studi di Jepang selama 5 tahun, ambil doktor) tahun 2007, dan merantau ke Malaysia tahun 2010, lalu saya dan keluarga kembali lagi ke Indonesia, anak-anak lumayan juga masa adaptasinya. Alhamdulillah tidak ada bullying, meski mereka kadang risih dengan panggilan, Kak Shafa dari Malaysia lahir di Jepang. Atau mata terbelalak, saat putra saya mengatakan, "Saya lahir di Jepang!" dan teriakan nakal dari mulut usil kawannya, "Bohong, Lu, masuk neraka!" (Ya ampun!)
Ini cerita saya ketika awal kembali ke Indonesia sepulang dari Jepang, sungguh menjadi masa yang sangat sulit sekali bagi dua anak saya. Kakak  S1 (saat itu berusia 5 tahun) dan Teteh S2 (saat itu berusia 3 tahun). Mereka berdua benar-benar tidak bisa berbahasa Indonesia dan hanya paham jika bercakap dengan ummi dan abinya saja.

Dua anak yang lahir di Jepang, kok mirip orang sana ya? heuheu
Walhasil, mereka sangat sedih sekali harus meninggalkan Negeri Sakura yang disangkanya kampung halamannya. Harus meninggalkan teman-teman sekolahnya, meninggalkan  sensei yang dicintainya, dan meninggalkan semua kenangan indah di sana.
Belum lagi ditambah perubahan cuaca yang mendadak dari dingin ke panas, perubahan budaya yang baru bagi mereka dan perubahan bahasa yang membuat mereka menjadi orang asing di negara asal kedua orangtuanya.
Suatu ketika, si kecil Teteh S2  bertanya kepada saya,
“Ummi chan, doushitano koko ni iru no? Nihon kaeritai!” (Ummi, kenapa kita ada di sini? Ingin pulang ke Jepang!) katanya lugu sambil mengipas-ngipas badannya dengan kipas dari plastik.  Matanya yang bulat dengan bulu mata lentik, wajahnya yang putih lucu dengan rambut ikal seperti Nancy dalam The Little House.
Setiap berjalan keluar rumah, tetangga mengerubunginya bagai artis cilik sebab anak-anak saya jadi terkenal karena pulang dari Jepang dan tidak bisa berbahasa Indonesia. Semakin hari dia  menjadi seorang anak yang gugup dan merasa dirinya aneh di antara banyak orang. 
S2 tidak ingin berbicara kecuali dengan saya. S2 yang riang kini murung dan lebih pendiam. Dia hanya mau bermain dengan kakak dan umminya. Setiap ditanya orang lain, dia lebih  suka menyingkir dan bersembunyi dibalik lebarnya gamis saya.
Suaranya semakin hari semakin mengecil dan tidak terdengar lagi. Lagu-lagu anak Jepang terdengar seperti gumaman lirih dalam mulut kecilnya. Dia merasa malu berbeda bahasa dengan orang-orang disekitarnya. Setiap hari  saya beri dia semangat dan menguatkannya juga menemaninya bermain agar tidak tambah bersedih.

Saya, S2 dan S1 di Ueno Eki (Haru Yasumi)
Hari lain dia menjadi anak yang gampang marah melihat kakaknya menyerobot kamar mandi yang hendak dipakainya.
“Junban!” (gantian!) katanya dengan ketus.
Dia sangat marah sekali dengan ulah kakaknya. Tetapi kakaknya santai saja. 
S2 memang berbeda dengan kakaknya. Walaupun sama-sama besar di Jepang, tetapi S2 lebih terlihat Jepang banget.Dia sangat disiplin, cinta kebersihan dan halus sekali perasaannya.
Suatu hari, saya pernah mengajaknya melihat-lihat TPA di dekat rumah. Kami berjalan dengan riang. Sampai di TPA, dia antusias melihat anak-anak bermain di sana. Sempat berlari, tetapi langkahnya terhenti, dia urungkan niatnya mendekati mereka. Mungkin dia ingat tidak bisa bercakap dengan Bahasa Indonesia. Kuraih tangannya dan kuajak bermain di dalam halaman TPA itu. Kebetulan ada ibu guru yang sedang berdiri di luar kelas dan saya menyengajakan mengajak ibu guru berbincang, saya ingin memasukan anak-anak ke TPA.
Sore yang cerah itu tiba-tiba berubah menjadi sore yang tidak menyenangkan karena S2 menolak sekolah di TPA. Pasalnya dia melihat ada anak laki-laki yang membuang bekas minuman dan makanannya persis di depan mukanya dan menendang-nendangnya seperti bola.
“Gomi bako aru dayo ne, Ummi chan. Ko no ko ga dai kiraiiii.” (Tempat sampah ada kan, ya, Ummi. Benci (melihat) anak laki laki itu!)  katanya sambil manyun.
Urung memasukan anak-anak ke TPA saya tetap berikhtiar. Akhirnya saya bulatkan tekad memasukkan mereka ke TK Islam Terpadu yang masih di dekat rumah.
Awalnya saya agak ragu juga memasukan mereka langsung di TK, tetapi karena tuntutan kebutuhan, mereka harus bersosialisasi dengan anak-anak yang lain. Maka bismillah ... insyaAllah mereka bisa!
Saya banyak membincangkan masalah keterbatasan bahasa anak-anak kepada kepala sekolah dan calon guru mereka. Alhamdulillah mereka malah merasa tertantang untuk menangani anak-anak dengan third culture. Meskipun agak berdebar, saya pun bisa bernafas lega menitipkan mereka di sekolah itu.
Suasana houkoen di Jepang (KK S1 coba tebak ada di mana?)
Akhirnya, tibalah hari pertama ke sekolah. Kakak S1 lebih enjoy dengan kelas barunya, tetapi  tidak begitu dengan S2. Dia  menarik-narik tangan saya dan seperti biasa bersembunyi di balik gamis saya. Dia menangis tidak ingin ditinggalkan di sekolah. Akhirnya selama seminggu saya ikut duduk manis di dalam kelasnya sampai dia merasa nyaman dengan ibu guru barunya.

Baca juga: 123 Tobemashita!
Pesan saya pada ibu gurunya; tidak memaksa S2 belajar, cukup menjadi teman bermain  dan mengajarkan berteman dengan teman-temannya. Lagipula usia S2 waktu itu baru 3 tahun tidak wajib belajar, toh?!
Setiap hari saya pantau perkembangan bahasa mereka selama di sekolah dan di rumah. Nah, pas saat ini saat yang paling sulit banget bagi saya. Antara ingin melestarikan bahasa Jepang yang sudah terlanjur menempel pada anak-anak, juga keinginan anak-anak bisa berbahasa Indonesia. Dua keinginan yang bertolak belakang itu memang mengesalkan, ya heuheu
Alhamdulillah dalam waktu satu bulan bersekolah, Kakak S1 cepat sekali beradaptasi dan mengerti apa yang dibicangkan oleh guru TK-nya. Sementara S2 seperti yang saya duga masih lambat, selama 6 bulan bersekolah dia hanya duduk diam dan hanya ceria ketika waktunya bermain.
ummi jadi guru tamu (kebaya cokelat)
Cerita ibu gurunya di TK, Shafa hanya mau berbicara padanya saja. Dalam ceritanya S2 sering menyatakan sayang kepada ibu gurunya (Sensi daisuki!). Dia banyak bercerita tentang Hasegawa Sensei, sensei idolanya sewaktu di Jepang. Mengajarkan ibu gurunya berhitung 1 sampai 10 dalam bahasa Jepang dan bernyanyi dalam bahasa Jepang.
Begitulah Teteh S2, ketika hatinya mulai terbeli, maka dia akan sayang sekali. Persis karakter kebanyakan orang Jepang.
Tak lama setelah itu S2 mulai percaya diri dan percaya pada orang lain. S2 juga sudah bisa menyatakan sangat sayang pada guru TKnya dan merasa nyaman berada di dekatnya. Perkembangan yang sangat bagus sekali. Lambat laun perkembangan bahasanya pun mulai membaik, walaupun masih sering terbalik-balik.
Untuk melestarikan kemampuan Bahasa Jepang mereka, ikhtiar saya dengan tetap memakai Bahasa Jepang dalam percakapan harian kami dan menonton film-film animasi Jepang di waktu senggang. Khusus untuk kakak S1, agar kemampuan membaca hiragananya tidak hilang, saya memberikan buku-buku cerita berhuruf hiragana yang saya beli di Daisho. Alhamdulillah sampai hari ini dia masih bisa membacanya hurup-hurup keren itu hehhe

Baca juga: Surat Kakak Untuk Abi, Nenek dan Kakeknya
Dulu dan sekarang S2 tetap kekeuh ingin ke Jepang. Beberapa waktu lalu, katanya mau kuliah di Inggris biar bisa ajak ummi jalan-jalan jelajah Eropa (aamiinn), eh tak lama kemudian, dia bilang lagi, "Ummi, Shafa mau kuliah di Jepang aja ah!" eleuh si Eneng teh. Jadi ingat kata-kata dia waktu kecil dulu, “Ummi chan, itcu demo nihon iku!” (Sampai kapan pun, akan pergi ke Jepang!). 

Sebenarnya, tidak hanya kalian Nak, yang ingin kembali ke Jepang. Ummi juga mau ^_^
Ah ... semoga mimpimu menjadi kenyataan ya, Nak. Aamiin ya Rabbal alamin ...

*Tulisan ini diikutsertakan dalam program ODOP Blogger Muslimah Indonesia
#ODOPOKT2

October 02, 2017

Sejarah Masa Lalu, Bukan Untuk Dilupakan

October 02, 2017 17 Comments

Tahukah Bunda, pada tanggal 2 Oktober tahun 2001, pada tanggal itu pernah menjadi Hari Tersedih bagi saya .

Eh, bukankah tanggal 2 Oktober itu Hari Batik?

Ehiya sih ... waktu itu mah saya belum begitu engeh, Hari Batik atau bukan. Yang pasti mah saya teh sedih pisan.

Apa pasal?

Sebab pada hari itu bertepatan dengan hari dimana suami saya pergi meninggalkan saya.

Selama-lamanya? 

Engga sih, untuk sementara aja. Studi S3 di Jepang.

Wah seneng dong. Entar pasti boyongan ke sana!

Iya, sih. Tapiiii... Pada saat itu, saya sedang menunggu hari kelahiran putri saya yang pertama. 

Yah .. Gimana engga sedih coba. Putri pertama. Melahirkan pengalaman pertama. Bayangan ditemani suami. Dihibur. Dibelai. Disayang. Dielus-elus kayak di sinetron atau di film-film (lebay) hancur sudah! 

Alhamdulillah Allah masih memberi saya kewarasan waktu itu. Simple aja sih. Saya tidak berjuang sendiri. Ada putri saya yang memberi saya kekuatan superwoman. Dan Allah Maha Rahman dan Rahim tak akan meninggalkan saya sekejab pun. Setelah berdamai dengan keadaan dan situasi. Saya pun lebih menikmati hidup. Menunggu dengan penuh kesadaran dan kebahagiaan akan lahirnya seorang anak dari rahim saya. Ditinggal suami, saya lebih banyak.menghabiskan waktu dengan membaca literatur tentang persiapan melahirkan dan cara merawat bayi baru lahir. Lebih fokus pada persiapan lahir dan batin sebagai calon ibu. Alhamdulillah ketika melahirkan, saya didampingi oleh ibu mertua dan kakak perempuan saya.

Baca juga: Hah, Hamil lagi?!

Dan perjuangan pun tak sia-sia sekarang bayi mungil itu pun tumbuh menjadi gadis remaja usia 16 tahun yang sehat dan kuat. Sekarang sedang menuntaskan sekolah tahfiznya di sebuah rumah Tahfiz di kota Hujan. Alhamdulillah ala kulli hal. 

Kakak di sekolah tahfiz
Sejarah, senantiasa memberi jejak yang berarti dan penuh makna dalam kehidupan. Saya setiap hari menceritakan sejarah kehidupan di rumah kecil kami kepada anak-anak saya. Sejarah masa kecil saya. Sejarah masa kecil ayahnya. Sejarah masa kecil anak-anak. Juga tentang sejarah Rasulullah SAW.

Ih, si Ummi teh mau nulis apa sih sebenarnya? 

Ini, si Ummi teh mau cerita tentang sejarah. Ceritanya, lagi Ummi lagi ikutan ODOP (One Day One Post) Blogger Muslimah Indonesia. Hari pertama passs temanya tentang Jangan Melupakan Sejarah.

Jas merah! Demikian kata Bung Karno pada saat dilengserkan dari jabatan Presiden RI pertama. Jangan melupakan sejarah!

Ya ... Sejarah tak untuk dilupakan. Sejarah diulang-ulang agar kita dapat memetik hikmah dari sebuah sejarah dan juga waspada pada kejadian yang mungkin akan menimbulkan petaka. Saya membuka postingan ini dengan cerita pengalaman saya waktu pertama kali melahirkan, sendiri tanpa didampingi suami, bagi saya itu juga sejarah. Sejarah keluarga kecil kami. Hingga suami pun sampai sekarang masih ingat betapa dia galau di bumi sakura mengenang perjuangan saya melewati saat-saat kritis sebagai seorang ibu. Alhamdulillah saya bisa melewatinya berkat kasih sayang Allah. Itu sejarah keluarga saya ya. Bagaimana dengan sejarah negera kita tercinta?

Nah, jelang tanggal 30 September yang lalu. Sebuah jaringan televisi menayangkan film G30SPKI dan masyarakat pun berinisiatif untuk nobar (nonton bareng) film tersebut baik di lingkungan RT, RW, dan sekolah.

Alasan ditayangkannya film tersebut rata-rata untuk mengingatkan kembali pada masyarakat betapa berbahayanya ideologis PKI yang pernah ada di Indonesia. Bagaimana PKI mengkhianati perjuangan bangsa ini dengan menumpahkan darah dari saudara sebangsanya sendiri.

Saya masih ingat waktu SD sampai SMP saya dan seluruh teman-teman sekolah menonton bareng film G30SPKI di gedung Kemuning Gading. Malamnya, saya engga bisa tidur! Syerem! Ngeri jika diceritakan detail kejadian pengkhianatan yang dilakukan PKI kepada para jendral dan keluarganya . Dan sejarah akan berulang jika kita lengah dan menganggap biasa perlakuan PKI pada saat itu. Kewaspadaan penting untuk menghidupkan ghirah dalam.menjaga keluarga dan bangsa dari ronrongan ideologi yang bertentangan dengan agama dan juga pancasila.

Nah, setelah nobar di sekolahnya. Putri saya yang ke-2 berdiskusi tentang film tersebut. Putri saya ini duduk di kelas 8. Kalimat pertama yang saya dengar dari mulutnya adalah "Mi, kalau kejadian itu ada lagi di Indonesia, kita harus bagaimana?"

Pertanyaan yang menohok sekali. Sebab waktu saya menonton film itu waktu SD hingga SMP tidak pernah terpikir PKI akan hidup lagi dan membuat kekacauan seperti yang pernah mereka lakukan bertahun lampau.  (waduh ummi waktu itu lagi ngapain ya? nonton atau tidur tuh, ya hihihi)

Anak saya jeli. Atau mungkin, sebelum menonton dia sudah menerima informasi dari guru atau temannya, hinnga dia bisa mendapatkan dua informasi. Visual dan bahasa. 

Saya yang belum mengerti arah pembicaraannya pun bertanya ulang. "Kejadian apa, Teh?"

"G30SPKI."

Sebelum saya menjawab pertanyaannya, saya meminta pendapatnya tentang film tersebut. 

Jawab si teteh saya masukan dalam beberapa kata kunci, syerem, ngeri, kok bisa jahat kepada sesama orang Indonesia, kenapa bisa begitu, PKI tidak percaya pada Allah, menghalalkan segala cara. 

Dan saya pun menjawab apa keresahannya. Jika kejadian itu berulang kembali, Nak, maka yang harus dipersiapkan adalah mental pejuang. Jika kita berperang melawan kezaliman, kekufuran dan kemaksiatan pada Allah, membela tanah air dan ketinggiam agama Allah dan sebab itu kemudian kita ditakdirkan mati, insyaAllah kita mati syahid. 

Tidak ada yang sia-sia di mata Allah, maka dari sekarang niatkan selalu hidup kita sebaik-baik mungkin. Selalu berpegang pada tali agama Allah dan berperilaku mengikuti sunnah Rasulullah Saw. Yang bisa kita lakukan sekarang hanya berdoa kepada Allah agar negeri ini senantiasa dilindungi dari kejahatan manusia. (Emak bukan lagi ceramah, ye hehe)

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang nenek berusia 80 tahun. Perawakannya memang sudah tua tapi masih sehat dan ingatannya juga masih kuat. Saya pun bertanya kepadanya soal keraguan beberapa orang yang mengatakan bahwa peristiwa G30SPKI itu hoax. Film buatan orba yang memelintir kejadian yang sebenarnya. 

Nenek usia 80 thn cerita PKI
Dalam Bahasa Sunda yang kental, nenek itu menceritakan ulang apa yang diingatnya. Bahwa banyak Gerwani yang ditangkap dan dieksekusi. Di eksekusi karena membunuh para jendral.

Dulu, nenek saya pun menceritakan hal yang sama dengan apa yang diceritakan oleh nenek itu. Zaman susah saat itu dan semua orang tidak menyangka akan ada kejadian mengerikan justru setelah kemerdekaan.

Pembicaraan tentang sejarah selalu menarik jika mendengarkan langsung dari.pelaku sejarah. Meski demikian harus senantiasa melihat track record dari orang yang menjadi narasumber. Sebagaimana para perawi hadits, tentu kita harus mencari hadits yang shahih dari orang-orang yang sangat menjaga keaslian dan keshahihan hhadis yang disampaikan Rasulullah SAW. Misalnya shahih Bukhari dan Muslim. 

Begitu juga dengan sejarah tanah air kita, tentu kita harus berpegang pada pengumpul sejarah dari orang-orang yang terbukti paling loyal kepada tanah airnya dan takut kepada Rabb-Nya jika berkata bohong.

Berbicara tentang sejarah memang mengasyikan. Apalagi sekarang ditambah dengan sejarah tak melulu buku-buku tebal yang menjemukan. Buku-buku sejarah sekarang hadir lebih menarik, berupa komik dan novel sejarah yang mungkin bisa dituntaskan sekali duduk. Eh siapa tahu ada lho hehhe

Intinya, sejarah masa lalu tentu bukan untuk dilupakan. Iya, enggak? Dengan mengingat, menceritakan berulang-ulang agar jika baik dapat memberikan motivasi positif. Jika buruk akan menambah kewaspadaan agar tidak terulang kembali. Sebagaimana Allah SWT  mengulang-ulang ayat tentang kekufuran Fir'aun, peperangan, kesombongan Qorun dan juga ayat-ayat janji dan ancaman, agar menjadi pengingat hamba-Nya agar menjadi peringatan dan kembali kepada jalan yang lurus yang diridloi oleh Allah SWT.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia .
#ODOPOKT1

September 28, 2017

Ketika Sulit Mengendalikan Emosi Anak, Yuk, Kenali Perilaku Anak Usia Pra-Sekolah

September 28, 2017 0 Comments

Anak adalah anugerah yang indah titipan Allah SWT. Sebagai orang tua, tentu saja ada kewajiban kepada anak yang harus ditunaikan sebagai pertanggungjawaban kita kepada Allah. Benda titipan, tentu harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Begitu juga dengan anak. Anak adalah titipan yang paling berharga yang harus dijaga penuh amanah.
Saya dan keluarga kecil saya 
Alhamdulillah saya dikaruniai 6 orang anak. Terkadang hal ini mengundang decak tak percaya dari orang-orang yang saya kenal atau tidak kenal dalam sebuah kesempatan. Ada beberapa komentar teman-teman yang sungguh membuat saya bersyukur, seperti misalnya;

“Wah, anaknya banyak, ya. Tapi awet muda!”

“Anaknya anteng-anteng ya. Manis-manis enggak kayak anak saya. Anak dua aja rempong banget, ihh .. apalagi anak banyak. Hebat mbak bisa punya anak banyak…”

“Hah .. anaknya enam? Saya satu aja capek banget, Mbak!”

Yah … begitulah pandangan sekilas teman-teman atau orang yang baru mengenal saya. Saya ucapkan, Alhamdulillah. Kerempongan saya enggak kelihatan hehhee. Aslinya nih, Bun, saya juga ibu yang normal yang setiap hari jungkir balik dalam mengasuh anak. Saya juga pernah menangani anak yang tantrum sebab enggak mau diajak pergi, sementara ayah dan bundanya harus pergi juga, waktu sudah mepet banget. Telat pokoknya mah. Sementara si kecil masih nangis guling-guling sekitar satu jam. Suami sudah tidak sabar. Mood kami diaduk-aduk. Kami diuji dengan hal seperti itu hampir setiap kali akan pergi bersama-sama.

Ada juga anak yang di kendaraan menjadi “trouble maker”. Tidak tenang dan tidak suka diusik. Ingin legaaaaa. Sementara kendaraan kami waktu itu hanyalah sebuah mobil sedan yang cukup untuk 5 orang. Sementara yang naik 7 orang. Dua dewasa dan 5 orang anak. Ya Allah, sungguh perjalanan santai yang diharapkan, alih-alih jadi tegang terus hahahaha … Terutama kalau ayah sudah mulai marah, biasanya perasaan saya juga suka ikut terbawa emosi. Antara anak enggak boleh dimarahin sama ayahnya, dan ingin marah juga sama anak. Gimana coba itu, Bundaaa … jadinya baper deh!

Alhamdulillah, setelah melewati fase-fase tersebut, anak-anak pun bisa menjadi anak yang manis, menjadi anak yang anteng, penurut, gemar berbagi, santun, dan menjadi anak yang saling sayang.

Ya .. semakin bertambah usia anak-anak, mereka pun akan sampai pada fase dimana emosi mereka mudah diarahan. Fase dimana mereka mulai mengenali diri mereka. Mulai dapat bekerjasama dengan orang lain. Dan hal itu membutuhkan stimulasi dan bimbingan yang panjang dari kami orang tuanya, terutama saya ibunya yang setiap hari di rumah bersama mereka. 

Proses mengawal emosi anak-anak tidak berhenti pada saat si anak sudah mulai bisa dikontrol emosinya, tapi berlaku jangka panjang. Sebab anak-anak itu memiliki karakter yang unik dan berbeda satu sama lain. Meski satu kandung, 6 orang anak saya tidak ada yang sama karakter dan kebiasaannya. Sehingga harus senantiasa terus diperhatikan tingkah laku mereka, dengan cara mengenali mereka dengan sebaik-baiknya.

Dan, Alhamdulillah, saya mendapatkan tambahan ilmu parenting dari hasil belajar saya bersama Parenting Club. Pada tanggal 14 September 2017 yang lalu, saya berkesempatan hadir dalam acara Smart Parenting Workshop yang diselenggarakan oleh Parenting Club bekerjasama dengan Clozette. Bertempat di sebuah restoran yang ramah anak, Harlequin Bisro, para Smart Mom mengikuti Talkshow dengan tema “Kenali Perilaku Anak Di Usia Pra Sekolah”.

Hadir dalam talkshow yang sarat ilmu ini ibu DR. dr. Rini Sekartini. Seorang dokter pakar lulusan UI yang sangat memperhatikan tumbuh kembang anak dan pediatri social. Selain dokter Rini, hadir juga Bunda Ayudia, seorang public figure, artis juga, cucu dari pelawak legendaris Bing Slamet dan ibunda daripada Dia Sekala Bumi. Mereka berdua memaparkan bagaimana mengenali anak dari sisi keilmuwan dan dari pengalaman. 

Alhamdulillah sungguh bagi saya, seperti mendapat durian runtuh mendapat ilmu dari dokter Rini dan Bunda Ayu ini. Secara saya masih punya bayi usia 7 bulan dan pasti tetap harus terus belajar.. belajar dan belajar ilmu parenting.
Saya dan Bunda Ayudia
Sesi pertama diawali dengan pemaparan dari dokter  Rini, memaparkan tentang pentingnya 1000 hari pertama kehidupan, pentingnya pemberian nutrisi dan stimulasi.
Suasana tempat belajar. Seru!
Beliau menyampaikan bahwa penting memperhatikan tumbuh kembang anak, baik dari segi akal, fisik dan sosialnya. Dapat memberikan dukungan yang terbaik bagi proses tumbuh kembang si kecil tentu harus diniatkan dari sejak si kecil dalam kandungan. Dalam hal kepintaran, dukungan tersebut bisa diwujudkan melalui stimulasi yang sesuai dengan tahap tumbuh kembangnya dan dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. 

Selain itu, hal yang sangat penting lagi adalah memberikan asupan nutrisi yang baik untuk mengoptimalkan tumbuh kembang si kecil selama 1000 hari pertama kehidupannya. Penuhi kebutuhan dasar untuk tumbuh kembangnya. Stimulasi dan beri nutrisi yang harus diberikan secara seimbang dan pantau perkembangannya secara teratur setiap bulan.

Dalam sesi pertama ini, Bunda Ayu sharing tentang pengalamannya menstimulasi tiga kepintaran (akal, fisik dan social) kepada putranya, Sekala.

Sesi kedua DR. dr Rini memaparkan tentang Pentingnya Mengenali Perilaku Anak Usia Pra-Sekolah. Hal ini untuk memudahkan orang tua mengendalikan emosi anak.

Perilaku anak menurut orang tua adalah salah satu aspek kemampuan anak yang paling didambakan orang tua . Orang tua mengartikan perilaku dalam bentuk yang beragam dan bermacam-macam.
Sementara menurut para ahli, bahwa semakin komplek sirkuit otak, semakin besar pula kapasitas belajar berbagai respon baru, semakin berkembang perilaku anak.  Perilaku merupakan suatu produk dari hasil kerja dan aktivitas otak.

Rentang usia pra-sekolah berkisar usia 3 tahun hingga 6 tahun. Pada usia ini ada beberapa hal yang menjadi tanda bahaya dan perlu penanganan ahli jika terjadi kepada si kecil.

11. Tanda Bahaya pada Akal, jika si kecil;
  • Belum bisa memegang pensil dengan ibu jari dan jari telunjuk
  • Sangat kesulitan untuk coret-coret
  • Belum bisa membuat kalimat dari tiga kata
  • Belum bisa meniru gambar lingkaran
  • Sangat mudah distraksi dan tidak dapat konsentrasi pada sebuah aktivitas dalam waktu lebih dari 5 menit
  • Tidak dapat menceritakan tentang aktivitas sehari-hari

2.Tanda Bahaya pada Fisik, jika si kecil;
  • Seringkali jatuh dan kesulitan naik tangga
  • Meneteskan air liur terus menerus
  • Belum bisa melempar bola ke atas kepala
  • Belum dapat melompat di tempat
  • Menunjukan kepasifan fisik yang tidak wajar

3. Tanda Bahaya pada segi Sosialnya, jika si kecil;
  • Sangat tidak mempunyai ketertarikan bermain dengan anak yang lain
  • Sangat tidak tertarik permainan interaktif
  • Tidak menampakan kesukaan terlibat dalam permainan “pura-pura”
  • Seringkali meronta-ronta tanpa control bila marah dan kesal
  • Sangat penakut dan pemalu
  • Sangat agresif
  • Nampak sangat tidak bahagia dan sedih sepanjang waktu

Dr Rini menyampaikan, jika terjadi hal-hal tersebut di atas kepada si kecil, maka segera hubungi dokter anak untuk mendapatkan penanganan serius.  Jangan lupa orang tua untuk terus memberikan stimulasi tiga hal tersebut di atas, akal, fisik dan sosialnya sehingga bersinergi dengan baik ketiga kemampuan tersebut sehingga tumbuh kembang si kecil menjadi optimal.

Dengan mengetahui tanda bahaya ketiga hal penting dalam tumbuh kembang si kecil, maka ketika ada perilaku anak yang aneh dan tidak dapat dikendalikan, orang tua akan dapat segera mengetahui terapi apa yang cocok diberikan kepada si kecil atas rekomendasi dokter.

Alhamdulillah selama saya belajar, Parenting Club id sudah mempersiapkan tempat bermain untuk anak-anak. Sehingga ketika para mami belajar, anak pun belajar sambil bermain. Hadir juga menemani anak-anak, Kak Budi, seorang pendongeng nasional yang mengajak anak-anak bermain dengan ceria mendengarkan dongeng dari Kak Budi.
Foto bersama peserta dan narasumber
Menurut Kak Budi, penting mendongeng untuk menstimulasi tumbuh kembang si kecil, baik akalnya, fisiknya dan sosialnya. Jadi, orang tua harus memiliki kemampuan mendongeng agar kecerdasan si kecil dapat semakin optimal. Yuk, rutinkan mendongeng!
Kak Budi berbatik oranye
Sekilas tentang Harlequin Bisro. Harlequin Bisro ini berada di jalan Kemang. Kelihatan kecil dari luar, tapi luas di dalam. Bisro ini tempat yang layak dijadikan tempat makan atau hang out keluarga, sebab ramah anak. 

Ada playground di bagian belakang Bisro yang aman untuk anak. Sementara ayah bunda dating atau meeting dengan klien misalnya, sementara anak tidak bisa ditinggal, anak bisa diajak dan bermain di playground. 
Playground yang ramah anak difoto dari ruanh shalat

Ada mainan perosotan, mainan bola dan permainan yang lainnya. Selain itu di bagian atas playground juga ada musholla kecil terbuka yang wangi. InsyaAllah tetap khusyu beribadah meski bukan di rumah atau di masjid.


September 25, 2017

Dapur di Ruang Depan, Kenapa Tidak?

September 25, 2017 12 Comments
Dulu, saya pernah tinggal di Jepang. Saat itu tahun 2002. Saya baru dikaruniai seorang anak. Anak pertama saya waktu diboyong ke sana baru berusia 7 bulan. Waktu itu, saya tinggal di sebuah apartemen. Riri Haitsu namanya, di kota Utsunomiya. Sempat kaget juga mendapati dapur di apartemenku itu berada di ruangan depan. Begitu membuka pintu, lho, dapur kok di ruang depan? Kalau ada tamu, gimana coba? 

My hubby dan S1 di dapur tahun 2002
Ahaahaha suami saya nyengir lihat ke-ndesoan saya. 

Yah, gimana enggak kaget. Lha, biasanya di Indonesia kan, dapur di belakang, tersembunyi di pojokan ruangan. Tidak terlihat dari depan rumah. Saru atau tabu, katanya. Dulu dapur nenek saya, dapur mamah saya, dapur tetangga saya, dapur rumah kost saya, semuanya ada di belakang. Kalau ada yang mau ke dapur, pasti pamitnya, "Maaf ya, saya mau ke belakang dulu." Nah! Kann ...

Dapur kita di belakang, kann? Coba deh periksa rumahnya, dapur ada di mana? Belakang, toh? Jadi kesannya, dapur itu tempat yang perlu disembunyikan dari pandangan mata orang lain. Tempat yang kotor.Tempat yang kalau perlu jangan sampai orang masuk ke dapur kita. Iya, ga? hihii sampai ada istilah, jangan biarkan orang masuk ke dapur kita! eh itu mah beda makna ya hihihi

Yah, selama ini kesannya, dapur itu tempat yang rahasia sekali, hingga penempatannya juga diletakkan di bagian belakang rumah. Iya, kalau ada halaman belakang yang lapang dan indah. Kalau tidak ada bagaimana? Oh betapa menderitanya orang yang masak di dapur. Sudahlah tidak ada jendela, masak menghadap ke tembok pula. Udara panas membara, bikin sambel terasi. yo wes, mabok dah hahhaa


Dulu, saya kalau nyari rumah kost-kostan zamannya kuliah dulu, pasti saya lihat dulu dapur dan kamar mandinya. Kalau kotor, ogah! Katanya, dua hal itu jadi patokan standar kesehatan rumah. Jadi bener-bener banget nyari sampai akhirnya dapat juga rumah kost yang jadi idaman.

Nah, saat sampai di negeri si Oshin saya malah mendapatkan pengalaman yang amazing banget! Ga cuma kamar mandi yang keren banget tapi juga dapur yang diletakan di depan ruangan.

Waktu saya tinggal di Jepang, saya tinggal di sebuah apartemen dua lantai dengan 8 unit rumah. Saya kebetulan tinggal di bagian atas, di pinggir dekat tangga. Rumah itu berkamar 2, kedua kamar itu beroshire semua. Oshire tempat meletakan futon/alas tidur dan segala macam barang kita. Ada kamar mandi bersebelahan dengan WC. Kamar mandinya kecil tapi ada bath tub di dalamnya. Lumayan untuk mandi berendam air hangat jika musim dingin tiba. Dan sebuah dapur yang luas tepat di depan pintu masuk. Jadi kalau kita membuka pintu, taraaa ... dapur langsung kelihatan dari luar. 



dapur di jepang
Dapur itu berjendela geser yang besar dan berkipas angin di atasnya. Saya jarang membuka jendela selama memasak, malas memakai kerudung di dalam rumah hehhe Tenang saja, saya tidak pernah masak yang aneh-aneh kok, semacam sambal terasi, ikan asin dan sebangsanya yang mengundang bau yang sedap sekali. Jadi amanlah 

Setelah saya membiasakan diri memasak di dapur yang terletak di ruangan depan itu, saya pun sampai kepada kesimpulan bahwa dapur di ruangan depan akan memberikan dampak yang sangat baik sekali.


Pertama, jika biasanya kita tidak peduli dengan keadaan dapur yang acak-acakan, maka sekarang kita akan berusaha membuat keadaan dapur aman terkendali. Bersih dan kinclong setiap saat. Yah, meskipun ga sampai segitunya sih. yang penting mah habis masak rapi lagi (meski kadang harus menunggu yayang bebeb pulang dari kampus, minta bantuan, sebab si Kk sedang caper banget)



penampakan kamar dengan oshire di dalamnya
Kedua, membalikan paradigma bahwa dapur pun layak berada di ruangan depan. Dalam sebuah situs online tentang apartemen, saya menemukan, bahwa sekarang, di Indonesia pun konsep dapur digabungkan dengan ruangan depan mulai berjamur. Terutama di apartemen yang menginginkan sebuah rumah modern yang memiliki lahan kecil tapi minimalis. Selain juga memberikan hawa/ventilasi yang lebih luas bagi dapur dan saluran air yang lebih baik. Biasanya kan kondisi dapur yang jadi keluhan saluran air mampet, ventilasi yang tidak cukup dll. Hal itu tidak akan terjadi lagi jika dapur berada di depan ruang utama. Jadi saluran air akan ikut juga ke dalam saluran utama.

Dan yang terpenting, bye bye dapur kotor. Malu dong, ruang tamu bersih, dapur kok kayak kapal pecah hehhee



area dapur terlihat dari dalam kamar
Ketiga, memberikan warna baru dan pengalaman baru dalam proses berumah tangga. Bahwa, dapur yang identik milik perempuan/wanita/ibu/istri, akhirnya menjadi milik perempuan dan laki-laki, ayah dan ibu, nanti juga anak. Kita saling bekerjasama dalam menyiapkan makanan di dapur. Karena dapur tidak menjadi tempat yang "private" hanya khusus kalangan perempuan sahaja, tetapi sudah menjadi milik bersama.

Keempat, mengusir rasa takut saat sendirian di dapur. Kalau malam-malam masih nguplek di wingking/pawon sendirian kan takut ya. Coba kalau di ruangan depan, kan takut juga wkwkwk

Enggak dong, kalau dapurnya ada di depan, kita malah bisa masak terus ya di rumah. Kerasa lapar, masak. Enggak ada cemilan masak. Asyik, kan? Malah mungkin bisa memberikan kontribusi financial keluarga gara-gara dapur yang menyenangkan jadi seneng masak. Jadi deh katering 





ofuro/kamar mandi di apato kami


Kelima, saya bisa lebih rileks saat masak. Anak saya waktu itu baru berusia 1,5 tahun. Sedang ekplorasi kemana-mana. Jadi saat masak, bisa sambil memperhatikan si kecil. Kadang saya biarkan dia mengeluarkan semua alat masak dari dalam lemari. Agar dia anteng, jadi saya juga bisa anteng masak. Kebetulan di Jepang, tabung gasnya di luar rumah. Diletakan di bawah tangga. Jadi lebih tenang, karena tidak ada tabung gas di dalam rumah.



kakak main selama umi di dapur

Keenam, saat ada tamu, saya bisa langsung menghidangkan teh atau cemilan yang ada di rumah. Kita juga bisa lebih santai mengobrol di dekat dapur. Tapi saya jarang sih menerima tamu di dapur. Biasanya saya ajak ke salah satu kamar di dalam rumah. Enaknya di Jepang itu, kasurnya bisa dilipat. Lunak gitu. Habis dipakai bisa di jemur di beranda, terus dimasukan ke dalam oshire. Setelah itu kan kamar sudah tidak ada barang-barang, palingan pajangan. Jadi bisa menerima tamu di kamar. Kamar itu juga berfungsi sebagai ruang tamu. Tapi ... gawatnya kalau pas lagi enggak ada apa-apa nih ya hehhe Tapi orang Jepang atau teman-teman yang tinggal di Jepang kalau mau singgah ke rumah biasanya mereka membuat janji dulu kok, jadi aman. 

Hmm.. itulah kira-kira kesimpulan saya memiliki dapur di depan ruangan. Saya suka konsep seperti ini dibandingkan dapur yang ada di belakang rumah.



saya, suami, kk S1 dan teteh S2 bersama Komori obaachan
InsyaAllah kalau ada rejeki, saya ingin membuat rumah yang konsep dapurnya seperti di Jepang ini, yah, minimal ada di tengah ruangan deh. Tapi aman tidak ya dengan tabung gas yang dikabarkan sering meledak itu? Atau kita kembali ke konsep alam aja? bikin api unggun di dalam rumah? 

Wallahu'alam 

Follow Us @tutiarien