Dukungan Mental Health Remaja

 Moms, berbicara tentang dukungan mental health remaja akhir-akhir ini menjadi topik yang sering kali dibicarakan di forum-forum formal maupun informal. Apalagi di masa pandemi ini ya, di mana anak-anak udah gak pernah ketemu teman-temannya, gak pernah main keluar, gak ketemu saudara sepupunya, gak bisa melakukan aktifitas kesukaannya sebelum pandemi seperti bersepeda atau berenang. Ditingkahi lagi pembelajaran juga masih dilakukan jarak jauh, sehingga klop, gak cuma anak yang harus dijaga kesehatan mentalnya namun juga ibu, ayah dan semua anggota keluarga.

Mental Health Remaja

Salah satu healing yang saya lakukan agar tetap waras mendampingi anak-anak di rumah adalah duduk manis mengikuti kelas webinar parenting. Seperti bulan lalu, saya mengikuti webinar tentang dukungan mental health untuk remaja bersama SMA Pintar Lazuardi. Alhamdulillah hadir pada webinar tersebut mbak Alia Mufida psikolog terkenal itu lho,  mbak Dyaloretta dan Mbak Zatta.

Dalam kesempatan itu, mbak Alia, mbak Dilo dan mbak Zatta sharing tentang bagaimana mendukung kesehatan mental anak-anak selama di rumah saja. 

Apa sih Mental Health itu?

dukungan mental health remaja

Menurut mbak Alia, menjaga kesehatan mental atau mental health anak-anak remaja menjadi penting. Mengapa demikian? karena kesehetan mental dan kesehatan fisik saling berkaitan untuk over all kesehatan kita. Mental health problem stress yang berdampak panjang, depresi akan beresiko jantung, diabetes gagal jantung, mental problem. Mind and body itu related.

Definisi Mental Health

Mental health atau kesehatan jiwa adalah tingkatan kesejahteraan psikologis atau ketiadaan gangguan jiwa. Nah, kesehatan jiwa ini secara umum terdiri dari empat kategori, yaitu kondisi sehat, gangguan kecemasan, stress dan depresi. 

Setiap orang, baik secara kasat mata kelihatan bahagia tentu pernah merasakan kesedihan, stress dan gangguan kecemasan. Namun tentu saja ada orang yang bisa mengendalikan kondisi-kondisi "buruk" yang terjadi pada dirinya ada yang tidak mampu alias mudah stress dan depresi. Oleh karena itu, penting sekali untuk menjaga kesehatan mental agar bisa mengendalikan emosi saat "sesuatu" yang buruk terjadi pada kehidupan kita.

Piramida Mental Health

Mbak Alia menggambarkan mental health dengan menggunakan piramida mental health. Nah cara membaca piramida mental health ini secara terbalik ya moms. 

Piramida Mental Health

Ada 4 kondisi mental health dalam piramida di atas.

1. Mental No Distress, problem or disorder

Moms, menurut mbak Alia, kondisi ini banyak orang yang mengalami.  Mental distress ini bisa menjadi warning buat kita,  agar kita bisa mengembangkan keterampilan kita dalam mengatasi kondisi-kondisi jiwa/ emosi jiwa saat terjadi hal buruk kepada kita, sehingga kita bisa beradaptasi kepada stress-stress yang ada disekitar kita. Misalnya, kondisi sulit tidur, moodnya di bawah dan membutuhkan waktu.

2. Mental disorder. 

Ini sudah masuk tahap klinis. Kita pernah cemas tapi bisa mengatasinya. Namun ada juga yang akhirnya masuk ke mental disorder.

3. Mental Health Probem

Piramida bukan bersifat continue, kita bisa berada di 4 level itu sekaligus, sedang punya masalah pekerjaan, ban mobil pecah, lupa akan permasalahannya dan bisa tidur. Ini adalah yang harus kita pahami. 

4. Good Health

Good health itu bukan berarti ga boleh sedih, gak boleh marah. Namun, kondisi ini biasanya setelah kita mengalami bad mood,  kita bisa sampai ke titik normal lagi ketika abis sedih atau marah. Kondisi kejiwaan kita sehat dan bisa beraktivitas normal setelah terjadi peristiwa yang buruk terjadi.

Mental Health pada Remaja

Mental Health pada Remaja
Nah, Moms bagaimana kaitannya dengan remaja? Menurut mbak Alia, masa remaja adalah masa yang beresiko pada masalah kesehatan mental. Pada usia remaja, mudah sekali terjadi mental health problem karena pada usia remaja ini terjadi banyak sekali perubahan pada remaja seperti perubahan fisik, banyak perubahan pada hidupnya, sosialnya dan mereka mendaparkan banyak tekanan dari remaja lain juga sekitarnya termasuk dari orang tua. Menurut mbak Alia, pada masa remaja, otak remaja dalam masa underreparation/lagi dibenerin. Lagi di shutdown agar dapat menambah energy yang lebih besar. Makanya anak remaja itu sering banget membuat orang tuanya terkejut yaa. Ada saja tingkahnya yang membuat deg-degan. Oleh karena itu ortu harus bisa melihat dari sudut pandangan remaja. Sehingga anak remaja memiliki good mental.

Nah, gimana sih kita bisa mendeteksi Remaja Good Mental Health itu?

Menurut mbak Alia, ada 4 ciri remaja yang memiliki good mental health, yaitu:
  1. Merasa bahagia dan positif thinking pada dirinya sendiri.
  2. Punya banyak aktivitas
  3. Terlihat punya sense of achieving pada sesuatu
  4. Bisa relaks dan beristirahat

Usaha Pola Hidup Sehat

Beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk menjaga kesehatan mental ananda adalah sebagai berikut: 

Usaha pola hidup sehat

1. Perlihatkan rasa sayang kita pada anak. Koneksi dulu diperbaiki, baru kita mulai melakukan koreksi.

2. Tunjukkan ketertarikan kita pada kesukaan anak, seperti game kesukaan anak, sosmed yang sering diikuti anak, buku-buku kesukaannya, drakor yang sering ditontonnya dll. Dan ini memang memerlukan effort dan hal ini worth it banget dilakukan agar anak menjadi happy melihat ibu ayah  mendukung mereka sehingga anak akan mudah sharing apa saja kepada kita, share apa yang dia rasakan, apa yang menjadi cita-citanya dan segalanya. Kalau sudah begitu kan, kita gak perlu stalking lagi kan dan no worries. 

3. Usahakan ada waktu bersama anak. One on one, satu per satu. Spending time dengan mereka dan bersama keluarga. Hal ini penting banget dilakukan dan ketika berdiskusi dengan anak, turunkan level obrolan kita, jadilah pendengar yang setia.

4. Penting mengobrol soal perasaan anak sehingga mereka tidak merasa sendiri karena ada ayah bunda yang mau mendengarkannya.

5. Orang tua harus mau menjadi pendengar setia. listen, listen dan listen, jangan terlalu banyak nasehat.

6. Tidak membesar-besarkan yang kecil dan mengecilkan yang besar. Sampaikan perasaan kita dengan cara yang baik sehingga anak tidak patah semangat sebelum mengatakan problemnya.

Moms, di atas sudah disebutkan bahwa kesehatan fisik related dengan kesehatan mental, ya. Maka remaja diusahakan mereka aktif berolahraga, mengembangkan pola hidup sehat, tidurnya terjaga, jangan begadang karena hal ini akan memicu stress. Tak hanya penting untuk remaja kalau menurut saya sih, namun juga penting untuk ayah ibunya juga yaa, karena kalau terlalu capek, plus begadang pula, bisa gampang stress, akhirnya anak-anak jadi korban deh. Naudzubillah. 

Cara Mengelola Stress pada Remaja

Cara mengelola stress remaja
Nah, Moms, jika remaja kita ternyata dia sudah mengalami stress gimana cara mengatasinya? Mbak Alia memberikan beberapa tips yang bisa dilakukan oleh Moms di rumah, ya. 

1. Monitor dan peka

Jadi orang tua itu harus peka terhadap apa saja yang terjadi pada anak-anak dan memonitor stress level pada remaja. Mengetahui dari awal akan lebih bagus lagi, karena semua penyakit juga kalau diketahui lebih awal mudah penangannya. Demikian juga jika remaja mulai stress, biasanya kelihatan dari sering marah-marah, tidak konsentrasi belajar dll.

2. Stress management. Belajar bersama dengan remaja kita bagaimana cara mengelola stress. Orang tua tentu saja harus menjadi role model pertama yang dilihat oleh anak sehingga mereka bisa melakukan hal yang sama ketika mereka stress. 

3. Rutin Melakukan peregangan/excercise. Ajak anak untuk senantiasa rutin berolahraga agar mereka sehat lahir dan batin. Rutin olahraga akan menjaga level stress anak.

Ketika anak siap sekolah

Pasti anak menghadapi kecemasan sekolah di masa pandemic. Jadi beda sekolah di masa pandemic dan sekolah di masa normal. Mengontrol kecemasan pada anak.

Stress pada orang dewasa, gara gara di masa lalu kita tidak terbiasa untuk menyampaikan perasaan sehingga kita tidak mampu mengontrol emosi. Nah jika anak anak dilatih mengekpresikan emosinya sehingga mereka bisa mengontrol emosi anak sehingga menjadi orang dewasa yang mampu mengekspresikan perasaan dan mengontrol emosinya.

Kapan waktu tepat mengobrol dengan anak?

Awali dengan observasi lalu akan diketahui moment ngobrol dengan anak. Setiap anak punya waktu yang beda beda. Pasti ad acara dan jalan, semakins sering mengobrol anak akan terbuka kepada anak. Awalnya tidak dengan pertanyaan, bercerita dulu, maka akan terbuka obrolan.

Nah, Moms, ternyata penting banget ya mendukung mental health remaja ini. Jika anak-anak lepas dari pengamatan kita dan mereka terlanjur stress dan mengarah pada depresi kan kasihan, yaa. Oleh karena itu penting banget menjaganya kesehatan mental remaja agar mereka bisa menikmati masa remajanya dengan penuh kebahagiaan dan menatap masa depan dengan ceria.

Bagaimana cara terbaik untuk menjaga kesehatan mental anak-anak remaja kita? Tentu saja dimulai dari menjaga kesehatan mental ayah dan ibunya dahulu.

Siap menjaga kesehatan mental ke tahap good mental health? Yuk kita mulai dari diri sendiri, kini dan nanti.

Salam Sehat,

Sri Widiyastuti

Sri Widiyastuti
Saya ibu rumah tangga dengan 6 orang anak. Pernah tinggal di Jepang dan Malaysia sebagai diaspora.Isi blog ini sebagian besar bercerita tentang lifestyle, parenting (pengasuhan anak) dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keluarga dan perempuan. Untuk kerjasama silakan hubungi saya melalui email: sri.widiyastuti@gmail.com

Related Posts

50 comments

  1. Gak remaja gak orang tua masa pandemi emang kurang kurangnya kuat iman kita ini bisa bikin stress dan sakit beneran...
    Adanya perhatian lebih awal seperti ini terhadap remaja semoga bisa mengurangi permasalahan remaja, dan ikut meringankan beban orang tua juga ya...

    ReplyDelete
  2. Yuuuk, bener dimulai dari diri sendiri dulu, baru bisa mendampingi dan mendukung anak remaja. Hiks, kebettulan aku pun punya anak remaja putri.
    Ngeri banget Mak merhatiin anak2 remaja jaman now yaak, kebanyakan mentalnya terganggu, aplagi dengan PJJ dan dunia onlen yang marak makin menjadi-jadi. melihat sisi hidup seseorang hanya berdasarkan sosmed pastinya banyak yang insecure.
    Pengalaman menangani pasien remaja yg mentalnya terganggu, rasanya syedih banget, rata2 broken home dan faktor lingkungan.
    Makasih sudah reminder.

    ReplyDelete
  3. bener bangeet mba. aku juga punya 3 ABG di rumah, anakku dan juga keponakan, Duuuh memang harus diperhatikan banget karena banyak tantangan yang dihadapi dan perubahan jaman yang tidak selalu bawa manfaat or perubahan yang baik

    ReplyDelete
  4. Terima kasih infonya mbak. Harus tingkatkan komunikasi yang baik dan jadi sahabat untuk mereka ya intinya

    ReplyDelete
  5. bener banget mbak, apalagi jaman PJJ gini, jarang ketemu orang, semua serba online pasti berpengaruh sama psikisnya ya :(

    ReplyDelete
  6. Di masa sekarang mental health harus jadi perhatian. Isu-isunya juga kian kencang diperbincangkan. Mental health itu nyata dan harus peka ya kita pada orang terdekat kita juga, apalagi bagi remaja ya butuh perhatian ekstra

    ReplyDelete
  7. karena pandemi, aktivitas jadi terbatas ya, padahal banyak beraktivitaa positif ini biza menjaga mental health juga ya

    ReplyDelete
  8. Kalau dipikir-pikir, kayanya pas remaja dulu aku mudah stres dan gak pernah tahu. Lha belajar tentang kesehatan mental aja baru-baru ini. Sekarang harus lebih peduli soalnya aku ada keponakan remaja juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya Jiaah..
      Jaman dulu kita ga ngeeh, kalo jaman sekarang justru no 1 penyakit mental yang marak dikalangan remaja, hiks.
      Moga bisa spending time terus bersama anakku dan juga ponakan remajanya.
      Makasih Mak udah reminder lagi

      Delete
  9. Setuju mba, mental health remaja yang baik itu berawal dari mental orangtuanya dahulu, saat pandemi ini memang menguji segalanya, terima kasih atas informasinya ya mba

    ReplyDelete
  10. cakep nih mba artikelnya, kebetulan anakku masuk usia pra remaja, jadi mendapat insight baru, TFS...

    ReplyDelete
  11. Temen anakku ada nih yang punya kendala mental health gini, jadi gak bisa kena masalah sepele aja dia udh uring-uringan. Padahal masalahnya bisa dibilang biasa bgt perihal nilai ujian gak sesuai yang dia harapkan seolah hari itu juga dia gak punya harapan hidup merasa gagal dll. Sampai akhirnya anakku jadi support system dia bahwa kita harus bawa santai, tetep bahagia dan harus percaya diri. Positif thingking untuk melihat sesuatu atas apa yang terjadi penting bgt memang. Kalau masalah kecil aja udh bikin dia stress gimana kesandung masalah besar.

    ReplyDelete
  12. setuju banget nih, dimulai dari diri sendiri dulu, kalo diri sendiri mentalnya sehat, orang orang terkasih disekeliling kita juga bisa terjaga kesehatan mentalnya yaaa

    ReplyDelete
  13. Masa remaja butuh sekali pendampingan anak secara maksimal ya. Kita juga harus terbuka dan komunikasi harus baik ke anak

    ReplyDelete
  14. ngobrol sama remaja memang harus telaten ya, mbak.
    orang tua memang harus mengawalinya dengan banyak mendengar.

    ReplyDelete
  15. Sering-sering ajak ngobrol termasuk mental healthy juga ternyata ya. Tapi bener lho perubahan anak remaja memang banyak banget Mbak mulai dari fisik hingga mental terutama mood. Ini yang susah..

    ReplyDelete
  16. masalah ini nih yang selama ini aku pikirin banget kak, kebetulan anak sulung udah mulai masuk masa remaja. kita aja yang udah dewasa mayan kewalahan ngadepin semua perubahan di masa pandemi ini, apalagi mereka yaa, hiks.

    ReplyDelete
  17. Emang terasa banget bagi orangtua dalam menghadapi remaja di masa pandemi sekarang. Kalau ortu ga bagus kesehatan mentalnya, bakal berimbas pada remaja. Orangtua dulu yg mentalnya harus sehat, tantangan anak remaja sekarang jauh lebih berat daripada yg dihadapi orangtuanya saat dulu remaja. Semoga kita semua sehat2 ya, mba.

    ReplyDelete
  18. Beruntungnya saya bisa baca isi seminarnya. Jujur saja anak saya 10 dan 13 tahun ini memang ada tantangan tersendiri jadi benar banget penyampaian rasa sayang kita ke anak lebih dulu ya, komunikasikan dengan benar.

    ReplyDelete
  19. wah kalo baca dari 4 ciri remaja yg punya good mental health, anakku ga masuk nih :D dia lebih seneng di rumah daripada main di luar, di komplek pun ga ada temen yg deket sama dia :D haduuuuu bikin pening ini bacanya maaakkk :(((

    ReplyDelete
  20. Semalam, saya baru aja diskusi dengan suami tentang mental health. Menurut kami pun remaja termasuk yang rentan terkena masalah ini. Lagi masa mencari jati diri, pengaruh pergaulan, tuntutan pendidikan. Eh, sekarang pandemi pula.

    ReplyDelete
  21. Kebetulan anak-anakku usia remaja, mungkin si sulung sudah menginjak masa dewasa awal. Yang saya rasakan sih yang menjadikan kita sehat mental itu adalah dekat dengan Allah SWT. Karena janji Allah juga kan gitu Berzikirlah maka hatimu tentram, makanya kalau aku biar keluargaku sehat semua selalu berusaha agar keluargaku selalu menjalankan aturan dan perintah agama..

    ReplyDelete
  22. Iya kasihan juga sih mereka ga bisa bersosialisasi secara langsung. Aku kadang sesekali bawa anak-anak ketemu sepupunya untuk main di sana, selebihnya di rumah lagi gak pernah main sama temannya.Menjaga mental anak perlu dilakukan setelah mental orangtuanya juga terjaga dengan baik betul banget ya mbak

    ReplyDelete
  23. Banyak yang bilang sebagai orangtua kita harus mampu menjadi teman dekatnya. saat dia curhat larinya ke kita. ternyata pas aku baca ulasan diatas, aku jadi punya kesimpulan hal itu benar jadinya.

    ReplyDelete
  24. Penting banget memantau mental health remaja yah apalagi di masa ini mereka mengalami masa transisi

    ReplyDelete
  25. Iya nih remaja kan waktunya eksplorasi, hang out sama teman dll ya mbak. Kalau pandemi gini ya emang agak susah gtu ya?Anak2 remaja pun bisa stress sama stressnya kek org tua krn ruang gerak yg terbatas. Makanya nih kudu sering diajak ngobrol jg

    ReplyDelete
  26. Wah aku jadi tertampar ini. Aku merasa mental.health aku bermasalah. Kemungkinan aku bisa salah mendidik anakku nih

    ReplyDelete
  27. Zaman sekarang justru anak muda lebih mudah terkena mental health yaa..karena aksesnya sudah dunia maya yang gak ada batasnya. Yang menentukan batas tentu dari kontrol diri.
    Semoga orangtua tetap bisa mendampingi dengan doa dan usaha sebaik-baiknya. Plus perbanyak baca mengenai artikel parenting bagini. Jadi melihat dengan mata terbuka fenomena yang sesungguhnya terjadi.

    ReplyDelete
  28. Bener banget ini apalagi kondisi pandemi ini ada yang lose dalam diri remaja seperti hubungan sosial, kesehatan mental mereka harus kita perhatikan dengan baik

    ReplyDelete
  29. AKu pernah dampingin adikku sendiri, adik kandung yang cowo
    dia waktu itu sempat depresi, dan benar dampaknya ingin suicide :(

    Aku harus terus monitor kondisi mentalnya - jagain kawan kawannya - kasih tau orang sekitar untuk be nice (tidak memberitahu kasus dan tidak memberitahu siapa siapa apa yang dia rasa juga) - dan terpenting diskusi sama ortu - especially my mom

    Berat emang Tuty dan itu dampaknya seumur hidup :(

    ReplyDelete
  30. Tak mudah mengasuh anak remaja di masa sekarang. Penuh tantangan tapi sepakat dengan yang mba sampaikan juga di tulisan. Dan kita juga harus tahu ciri anak remaja bahagia seperti banyaknya kegiatan mereka

    ReplyDelete
  31. Relate banget sama abegeku yg akhir2 ni suka uring2an. Kadang betr ga jelas setelah aku ajak ngobrol katanya bosen dan kangen sama sekolah juga temen².sedih si dengernya akhirnya skr banyak aku libatkan dalam aktivitas hari2 untungnya dia hobi masak jd kita sering coba2 resep baru gtu biar dia ada aktivitas. Alhamdhulilah mulai berkurang betenya

    ReplyDelete
  32. Masalah mental health ini engga boleh disepelekan ya Mba soalnya bisa berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari. Apalagi remaja ini pasti butuh dukungan atau bimbingan lebih dari orang tuanya.

    ReplyDelete
  33. wah mak, makasi banget buat tulisannya, karena tulisan seperti ini mengenai parenting remaja dan kesehatan mentalnya mereka adalah informasi yang aku butuhkan saat ini

    ReplyDelete
  34. mba ulasannya lengkap bangeeet...
    anak remaja sekarang menurut aku memang lebih rentan untuk mengalami mental health problem karena persoalan yg dihadapi baik internal maupun eksternal makin challenging sih salah satunya kondisi pandemi ini yg banyak bgt pengaruhnya ke mrk

    ReplyDelete
  35. Masalah mental health remaja emang penting banget buat dapet perhatian serius..Biar para remaja gak terjebak di masalah mental berkepanjangan ya..

    ReplyDelete
  36. Kesehatan mentaol anak zaman sekarang memang agak mengkhawatirkan. Mereka mudah meledak oleh hal sederhana. Beruntungnya sih cepat pulih kembali seakan tidak ada apa-apa.
    Atau ada apa-apa?

    ReplyDelete
  37. Sejak pandemi kesulitan nih buat ngajak si kakak berolahraga bareng, kalo adiknya suka ikutan senam ala emaknya, hahaha. Karena semua anak saya tipenya suka diungkapkan kasih sayangnya. Jadi tiap hari harus banyak ungkapan dan sikap penuh cinta, hehhehe

    ReplyDelete
  38. Saya setuju mam. Ngga hanya orang dewasa, remaja juga seberulnya rentan dengam masalah kesehatan mental. Apalagi hormonnya masih bergejolak dan masih labil. Sangat membutuhkan pendampingan agar mencapai fisik dan mental yang sehat.

    ReplyDelete
  39. Aku simak benar nih, mbak....reminder buatku mengingat di rumah ada 2 anak remaja. Setuju jika menjaga kesehatan mental anak-anak remaja kita perlu dimulai dari menjaga kesehatan mental ayah dan ibunya. Sehingga sekeluarga sehat jiwa raga

    ReplyDelete
  40. Terima kasih mbaa tulisannya aku noted poin2ny penting smua. Walau usia anak aku blum remaja. Perlu terus belajar untuk menghadapi masa itu yg pasti tibaa.. smoga bisa melaluinya dengan baik lancar, mentalnya sehat semua. Amiin

    ReplyDelete
  41. Thank you sharingnya Mbak.
    Anak pertama saya sudah masa pra-remaja nih.
    So far, bonding kami cukup kuat. Mudah2an masuk masa remaja, bondingnya tetap kuat, bahkan bisa lebih kuat. Memang butuh effort banget untuk bisa jadi orangtua yang bertanggung-jawab dalam semua aspek ya...

    ReplyDelete
  42. seneng deh dimasa sekarang makin banyak yang peduli tentang kesehatan mental. Terutama untuk remaja nih, harus diperhatikan juga kesehatan mentalnya yaaa

    ReplyDelete
  43. Iya nih harus meluangkan waktu ngobrol bareng anak-anak, terutama saat pandemi gini. Mereka terbatas geraknya, gak ketemu teman. Kalo anakku udah dewasa semua tapi tetep juga diajakin ngobrol. Gimana dengan kuliah online nya, ketemu teman kan kadang masih dilakukan karena ngerjain tugas kelompok gak bisa via online

    ReplyDelete
  44. Jadi deg-degan nih punya anak menjelang remaja, hehehe...
    Semangat menjaga kesehatan mental anak dan diri sendiri juga pastinya...

    ReplyDelete
  45. Waw Mbak Alia Mufida ini salah satu psikolog di klinik psikologi tempat anakku terapi sensori integrasi, nih. Aku suka banget deh kalau orang tua semangat mencari jalan supaya bisa memiliki hubungan yang baik dengan anak-anak. Kalau anak merasa dekat dan diperhatikan, pasti mereka akan selalu terbuka sama kita, ya, Mbak. Dan kondisi gangguan kesehatan mental seperti stress dan depresi bisa terhindarkan.

    ReplyDelete
  46. Katanya remaja memang masa paling rawan ya. Ibuku penrah bilang pas aku remaja itu jauh lebih melelahkan daripada mendidik di masa balita. karena emosi juga lagi tinggi tingginya, kalau nggak dengan benar dikasih tau cara kontrol dan manajemen emosi bisa berbahaya.

    ReplyDelete
  47. Bila kesehatan mental kita sebagai orang tua baik, maka baik pula kesehatan mental anak. Ini hal penting, jangan sampai nanti anak yang kenapa-kenapa, nyalahin anak, padahal dari orang tuanya yang udah ga sehat mentalnya. Dan aku setuju, koneksi dulu baru koreksi. Karena biasanya orang tua lebih sibuk menuntut agar anaknya begini begitu tanpa membaguskan hubungan lebih dahulu ke anak. Semoga kita dan anak-anak kita memiliki kesehatan mental yang baik ya mbak. Aamiin.

    ReplyDelete
  48. Sekarang tantangan mengasuh anak remaja semakin besar. Apalagi tekanan gaya hidup dan juga lingkungan semakin besar. Kudu punya ilmunya

    ReplyDelete
  49. Tunjukkan ketertarikan kita pada kesukaan anak. Hiks merasa tertampar. Aku malah sering "apa siiiiihh dek ngomongin game mlulu" "ngapain sih mbaaaa joget2 mulu"

    ReplyDelete

Post a Comment